Ava Serenity Williams, putri bungsu Axton Brave Williams, jatuh cinta pada seorang pria bernama Ryan Dome. Ia mencintainya sejak berada di bangku sekolah. Ava bahkan rela menjadi seseorang yang bukan dirinya karena Ryan seakan menuntut bahwa yang akan menjadi kekasih dan istrinya nanti adalah seorang wanita sempurna. Ryan Dome, putra Freddy Dome, salah satu rekan bisnis Axton Williams. Freddy berencana menjodohkan Ryan dengan Ava, hingga menjadikan Ava sebagai sekretaris putranya sendiri. Namun, siapa yang menyangka jika Ryan terus memperlakukan Ava layaknya seorang sekretaris, bahkan pembantunya. Ia menganggap Ava tak pantas untuk dirinya. Ryan bahkan memiliki kekasih saat dirinya dalam status tunangan dengan Ava. Hingga akhirnya Ava memilih mundur dari kehidupan Ryan. Ia mencari ketenangan dan jati dirinya yang hilang, hingga akhirnya ia bisa jatuh cinta sekali lagi. Apakah cinta itu untuk Ryan yang berharap Ava kembali? Ataukah ada pria lain yang siap mencintai Ava drngan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PimCherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INGIN ANAK, TANPA MENIKAH
Geoff yang baru saja keluar dari ruang kerja Ryan, berpapasan dengan seorang wanita yang langsung masuk begitu saja ke ruang kerja Ryan. Geoff tak menahan wanita itu karena baginya hal itu tak penting. Ia bahkan sangat yakin akan ada drama besar yang terjadi dan membuatnya ingin menonton.
“Sepertinya ini akan seru,” batin Geoff. Ia bahkan mengeluarkan ponselnya untuk mulai merekam.
Brakkk
Imelda yang sedang kesal karena Ryan tak pernah menghubunginya, langsung masuk dengan mendorong pintu. Matanya kembali membola ketika melihat Ryan sedang bercummbu dengan seorang wanita di sofa.
“Ryan!!” teriak Imelda.
Ryan yang mendengar teriakan Imelda, langsung menghentikan interaksinya dengan Tamara. Ia menoleh ke belakang dan melihat Imelda yang menatapnya dengan tajam.
“Apa yang kamu lakukan dengan wanita itu?!” tanya Imelda dengan suara kencang dan kedua tangan di pinggang.
Saat melihat Imelda, ntah mengapa perasaan Ryan tak lagi seperti dulu. Ia seakan tak peduli dengan apa yang Imelda lihat antara dirinya dengan Tamara.
“Siapa dia, honey?” tanya Tamara dengan suara yang begitu manja.
“Dia? Aku tak mengenalnya. Ia selalu saja mengejarku, tapi sayang sekali aku lebih memilihmu,” ucap Ryan kemudian kembali menciumm bibir Tamara.
“Whattt?!!!” Imelda merasa dirinya kini dipandang begitu rendah oleh Ryan, dan tentu saja ia tak terima.
Imelda melangkah mendekati Ryan, “Jadi sekarang kamu sudah tak mengenalku, hmm? Setelah kamu mendapatkan kehangatan dariku, kamu mencampakkanku begitu saja.”
“Wow, woww, ini semakin menegangkan,” batin Geoff.
“Ahhhh!!!” tiba tiba saja Tamara berteriak dengan kencang karena tangan Imelda begitu cepat menarik rambut ikalnya yang tergerai.
“Rasakan itu wanita jal lang!!” teriak Imelda dengan tatapan sinis.
Plakkk
Sebuah tamparan mendarat di pipi Tamara hingga kepala wanita itu membentur pinggir meja.
“Imel!” teriak Ryan.
Imelda tertawa dengan sangat kencang, “akhirnya kamu mengenaliku juga.”
“Keluar kamu!! Dan jangan pernah lagi kamu datang ke sini,” ucap Ryan.
“Ooouuu jadi begini kelakuanmu. Aku tak menyangka bahwa semua kata cinta yang kamu katakan padaku ternyata hanya sebuah kebohongan. Baiklah, tak masalah … lagipula kamu sebagai pria juga tidak ada bagus bagusnya di hadapanku. Aku beritahu kamu sesuatu, milikmu itu terlalu kecil, tidak nikmat dan tidak puas sama sekali saat bermain denganmu. Sangat mengecewakan!!!” Dan Imelda kembali tertawa sambil menunjuk milik Ryan yang baginya tak bisa dibandingkan dengan milik Vigor, teman tidurnya di Paris.
“Imel!!” Ryan kembali meneriakkan nama Imelda dengan kencang karena apa yang dikatakan oleh wanita itu. Ia sendiri kini hanya bisa berdiri sambil menatap tajam ke arah Imelda yang akhirnya beranjak pergi dari sana.
Tamara yang merasakan sakit di bagian kepalanya juga merasa sakit hati karena ternyata Ryan menduakannya. Namun ia berusaha menyembunyikan semua rasa itu. Tamara bahkan mulai mengeluarkan isak tangisnya.
“Haishhh dia mulai drama,” batin Geoff yang kini keluar dari tempat ia bersembunyi untuk melihat kelanjutannya, setelah ia bersembunyi saat Imelda tadi keluar dari ruangan Ryan.
“Honey baby, maafkan aku atas kejadian ini,” ucap Ryan yang akhirnya mendekati Tamara saat mendengar isak tangis wanita itu, “kita ke rumah sakit sekarang.”
“Geoff!!”
“Saya di sini, Tuan,” ucap Geoff yang memang berada di depan ruang kerja Ryan.
“Siapkan mobil, kita ke rumah sakit,” perintah Ryan yang kemudian membantu Tamara.
Ryan sendiri sebenarnya tak terlalu peduli dengan Tamara, hanya saja ia tak ingin kehilangan penghangat ranjangnya. Selain dari pada itu, ia juga tak ingin kehilangan kerja sama dengan Perusahaan Phillips.
Geoff pun tak banyak bicara. Ia segera pergi keluar dan mengambil mobil Ryan di area parkir dan menjemput keduanya di lobby.
“Sakit sekali,” ucap Tamara dengan nada manja. Ia menggenggam lengan Ryan, tapi matanya melirik ke arah spion, berharap Geoff melihat ke arahnya.
“Kita akan segera sampai, tenanglah,” ucap Ryan yang berusaha menenangkan Tamara.
*****
“Nona!”
“Tuan Mario.”
Mario memejamkan matanya ketika ia kembali teringat perintah Ava untuk memanggil gadis itu langsung dengan namanya. Jika tidak, maka ia akan memanggil Mario dengan panggilan tuan.
“Maaf, Va. aku belum terbiasa,” ucap Mario.
“Tidak apa, Kak. Kakak boleh pulang sekarang,” ucap Ava yang masih fokus dengan beberapa dokumen di hadapannya. Saat melihat semua itu pertama kali, Ava tahu bahwa ia memiliki banyak kekurangan, jadi ia harus banyak belajar.
“Aku akan menemanimu di sini,” ucap Mario yang merasa bertanggung jawab.
“Tidak perlu, itu akan memakan waktu. Aku akan pulang sebentar lagi. Kakak pulanglah terlebih dahulu.”
Mario menghela nafasnya pelan kemudian mengangguk, “baiklah.”
Hari ini, Mario akan membawa kedua orang tuanya pulang karena keduanya kini boleh melakukan rawat jalan. Ia merasa senang sekali. Mario pun bergegas pulang untuk menjemput kedua orang tuanya.
Setelah melihat kepergian Mario, Ava merapikan semua dokumen yang tadi ia baca. Ia berencana pergi ke suaru tempat untuk menemui seseorang.
*****
“Kita pulang sekarang,” ucap Mario mendorong kursi roda ibunya, sementara seorang perawat pria membantunya mendorong kursi roda milik ayahnya.
Menyusuri koridor rumah sakit, mereka melewati beberapa ruang praktek dokter sebelum sampai ke lift. Mata Mario menangkap sesuatu, yakni sosok seseorang yang membuatnya penuh rasa ingin tahu.
“Apa yang ia lakukan di rumah sakit? Apakah ia sakit?” Timbul pertanyaan dalam batin Mario.
Mario ingin menghampiri tapi saat ini ia sedang bersama kedua orang tuanya. Ia merasa tak menjalankan tugasnya dengan baik jika Ava sampai mengalami sesuatu, terlebih Mario sudah berjanji pada Nala.
“Dad, Mom, tunggu sebentar di sini. Aku akan menemui dokter,” ucap Mario, lalu meminta perawat pria yang menemaninya untuk menjaga kedua orang tuanya.
Mario kembali melangkah menuju lokasi praktek dokter di mana tadi ia melihat Ava. Namun, ia tak menemukan gadis itu. Ia juga tidak tahu di ruang praktek mana Ava masuk karena di sana ada beberapa ruang dokter.
Ia ingin menunggu, tapi ia tak tahu berapa lama nantinya ia harus menunggu, sementara kedua orang tuanya sedang menantinya.
Sementara itu di dalam salah satu ruang praktek dokter,
“Kamu Ava?” tanya seorang dokter wanita bernama Leticia.
“Ya.”
“Jadi kamu sahabat Nia?”
“Ya,” jawab Ava lagi dengan singkat.
“Bolehkah aku tahu alasanmu ingin melakukan ini?” tanya Dokter Leti.
“Apa tidak boleh?” tanya Ava.
“Boleh saja, tidak masalah.”
“Kalau begitu aku tidak perlu menjelaskan alasannya. Aku hanya ingin memiliki anak, tanpa harus menikah.”
🧡🧡🧡
terima kasih Thor dengan ceritanya yang keren
terima kasih kakak Author 🙏🙏
semoga kakak Author selalu sehat, selalu semangat dan selalu sukses dalam berkarya aamiin...
ditunggu karya berikutnya ❤️🙏💪💪💪
semangat tour semoga sehat selalu ditunggu up karya yang baru💪💪💪🥰
trimadong Nia jangan sia sialan kesempatan yg ada di depan mata