Di Benua Langit Sembilan, Xiao Yuan adalah jenius tak tertandingi yang memegang Sumsum Naga Suci. Namun, di malam pernikahannya, ia dikhianati oleh tunangannya, Ling’er, yang meracuninya dan membedah tulang naganya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya. Xiao Yuan dibuang ke Jurang Keputusasaan dalam kondisi cacat.
Namun, takdir tidak berhenti. Roh Naga Kuno yang tertidur di dasar jurang menyatu dengan jiwanya yang hancur. Dengan bantuan Yun’er, gadis misterius dari klan terbuang, Xiao Yuan merangkak naik dari neraka. Kali ini, ia tidak akan menjadi pelindung dunia, melainkan Dewa Naga yang akan menghancurkan siapa pun yang pernah menginjaknya. "Jika langit menghalangi jalanku, aku akan merobek langit!".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Warisan Sang Kaisar Naga
Rasa sakit itu datang lagi, namun kali ini seribu kali lebih intens daripada saat tulang punggungnya dicabut paksa. Di dalam pelukan Yun’er, tubuh Xiao Yuan mengejang hebat. Suhu tubuhnya berganti-ganti secara ekstrem; satu detik ia sepanas lahar gunung berapi, detik berikutnya ia sedingin es abadi dari puncak utara.
"Ahhh! Panas... Dingin... Bunuh aku!" Xiao Yuan mengerang, kukunya mencengkeram tanah hingga berdarah.
Yun’er panik. Ia bisa melihat cahaya hitam keemasan memancar dari balik perban di punggung Xiao Yuan. Cahaya itu seolah mencoba menjahit kembali daging yang robek, namun prosesnya terlihat sangat kasar dan brutal. Jaringan otot baru terbentuk dengan kecepatan kasat mata, melilit tulang punggung baru yang mulai mengeras.
"Xiao Yuan, bertahanlah! Kau harus sadar!" Yun’er memegang wajah Xiao Yuan, berusaha menyalurkan sedikit kehangatan.
Tiba-tiba, dari dalam dada Xiao Yuan, sebuah proyeksi bayangan naga hitam raksasa muncul. Naga itu tidak memiliki bentuk fisik, hanya berupa gumpalan asap kegelapan dengan mata merah darah yang menyala. Naga itu melayang di atas mereka, menatap Yun’er dengan tatapan yang penuh otoritas purba.
Gadis kecil dari klan Phoenix... berikan setetes darah jantungmu padanya, atau tubuhnya akan meledak karena energi Naga Hitamku terlalu murni untuk wadah manusianya yang hancur! Suara naga itu mengguncang dinding gua.
Yun’er tersentak. Matanya membelalak. "K-kau... kau bisa melihat garis keturunanku?"
Gadis itu ragu sejenak. Darah jantung adalah esensi kehidupan bagi seorang kultivator; memberikannya berarti memangkas umur atau bahkan merusak masa depan kultivasinya sendiri. Namun, melihat Xiao Yuan yang menderita pria yang baru saja mempertaruhkan nyawanya untuk melindunginya dari monster tadi hati Yun’er luluh.
"Jika ini takdir kita... biarlah," bisik Yun’er.
Ia membentuk segel tangan dengan cepat. Sebuah jarum es kecil muncul di ujung jarinya, dan dengan sekali tusuk, ia melukai dadanya sendiri. Setetes darah berwarna biru jernih yang memancarkan hawa dingin yang luar biasa keluar. Darah itu melayang dan jatuh tepat di dahi Xiao Yuan.
BOOM!
Pertemuan antara darah Phoenix Es milik Yun’er dan energi Naga Hitam di dalam tubuh Xiao Yuan menciptakan ledakan energi yang menyapu seluruh isi gua. Yun’er terpental ke dinding, batuk darah, namun matanya tetap tertuju pada Xiao Yuan.
Di tengah badai energi itu, Xiao Yuan merasa jiwanya ditarik ke sebuah ruang hampa yang luas. Di sana, ia berdiri di depan sebuah singgasana tulang naga yang tingginya mencapai langit. Seorang pria paruh baya dengan baju zirah hitam legam duduk di sana, matanya adalah galaksi yang berputar.
"Keturunanku yang malang," pria itu berbicara. "Aku adalah kaisar naga pertama yang dikhianati oleh langit. Kau telah mencicipi pahitnya pengkhianatan dari orang yang paling kau cintai. Katakan padaku, apa yang paling kau inginkan saat ini?"
Xiao Yuan menatap sang kaisar naga tanpa rasa takut. "Aku ingin kekuatan untuk merobek topeng keadilan dunia ini. Aku ingin mereka yang di atas sana merasakan jatuh ke lumpur yang lebih dalam dariku!"
Sang Kaisar Naga tertawa terbahak-bahak, suaranya seperti petir. "Bagus! Dendam adalah bahan bakar terbaik untuk Seni Kultivasi Sembilan Transformasi Naga Suci. Hari ini, aku akan memberikanmu 'Tulang Naga Pembalik Takdir'. Tapi ingat, setiap kali kau menggunakan kekuatan ini, kau akan selangkah lebih dekat menjadi iblis yang dibenci dunia. Apakah kau siap?"
"Aku sudah mati sekali di tangan 'Kebaikan'. Menjadi iblis demi kebenaran versiku sendiri... adalah pilihan yang mudah!" jawab Xiao Yuan tegas.
"Terimalah!"
Cahaya hitam masuk ke dalam jiwa Xiao Yuan. Di dunia nyata, tubuh Xiao Yuan perlahan tenang. Luka-luka di punggungnya menutup sempurna, tidak menyisakan bekas luka sedikit pun. Kulitnya kini memiliki kilauan sehat, dan di lengan kanannya, muncul tato naga hitam kecil yang melilit hingga ke pergelangan tangan.
Xiao Yuan membuka matanya. Matanya kini memiliki pupil vertikal tipis seperti reptil sebelum kembali normal. Ia berdiri, merasakan kekuatan yang jauh lebih padat dan lebih ganas daripada sebelumnya. Meskipun tingkat kultivasinya saat ini hanya berada di Ranah Pengumpulan Energi Tahap 1, namun kualitas energinya setara dengan Ranah Bumi.
Ia melihat ke arah Yun’er yang tergeletak lemah di sudut gua.
"Yun’er!" Xiao Yuan berlari dan mengangkat tubuh gadis itu. Wajah Yun’er pucat pasi karena kehilangan darah jantung.
"Kau... kau sudah bangun?" Yun’er tersenyum lemah, tangannya yang dingin menyentuh pipi Xiao Yuan. "Syukurlah... kau tidak berubah menjadi monster..."
"Kenapa kau melakukannya? Kau bisa mati, Yun’er!" suara Xiao Yuan bergetar karena emosi. Ini adalah pertama kalinya ia merasakan ketulusan yang murni setelah dikhianati oleh Ling’er.
"Karena... kau adalah satu-satunya orang yang memanggilku dengan namaku, bukan dengan sebutan 'Anak Pembawa Sial'," bisik Yun'er sebelum jatuh pingsan.
Xiao Yuan memeluk Yun’er erat. Rasa hangat menjalar di hatinya, namun di saat yang sama, api dendam di jiwanya berkobar semakin hebat. Ia menatap ke arah langit jurang yang tertutup kabut tebal.
"Ling’er, Lu Chen... kalian mengambil tulang nagaku, tapi kalian justru memberiku kesempatan untuk mendapatkan warisan Kaisar Naga Purba," desis Xiao Yuan dengan nada dingin yang membekukan udara sekitarnya.
"Tunggu aku. Aku akan merayap naik dari neraka ini, dan saat aku kembali, seluruh Sekte Awan Langit akan menjadi lautan api!"
Tiba-tiba, getaran hebat kembali melanda jurang. Kali ini bukan monster, melainkan sebuah pintu gerbang batu raksasa di ujung gua yang telah tertutup selama jutaan tahun mulai terbuka perlahan karena reaksi energi naga Xiao Yuan. Di balik pintu itu, tercium aroma obat-obatan kuno dan senjata-senjata pusaka yang memanggil.
Xiao Yuan membawa Yun’er masuk ke dalam gerbang raksasa tersebut untuk mencari cara menyembuhkannya. Namun, mereka tidak sadar bahwa gerbang itu adalah pintu menuju 'Makam Pedang Terlarang'. Di dalam sana, Xiao Yuan akan menemukan sebuah pedang yang nantinya akan menjadi ketakutan terbesar bagi seluruh Benua Langit Sembilan. Sementara itu, di dunia atas, Ling’er mulai merasakan kegelisahan aneh seolah-olah ada sepasang mata naga yang selalu mengawasinya dari kegelapan. Mampukah Xiao Yuan menguasai pedang itu sebelum musuhnya menyadari dia masih hidup?
Xiao Yuan melangkah masuk ke dalam celah gerbang yang terbuka, memapah tubuh Yun’er yang kian mendingin. Setiap langkah yang ia ambil memicu dentuman di dalam dadanya, seolah-olah tulang naga barunya sedang beresonansi dengan sesuatu yang terkubur di kedalaman gua ini. Bau karat dan aura kematian yang menyesakkan mulai menyengat indra penciumannya, namun ia tidak berhenti. Di depannya, sebuah altar yang dikelilingi oleh ribuan pedang patah berdiri dengan angkuh.
Di puncak altar itu, tertancap sebilah pedang hitam tanpa pelindung tangan. Pedang itu tidak memantulkan cahaya, seolah-olah ia menelan segala bentuk kehidupan di sekitarnya. Saat Xiao Yuan mendekat, bisikan-bisikan jahat mulai memenuhi pikirannya, memintanya untuk menyerah pada kegelapan. Namun, Xiao Yuan justru menggenggam hulu pedang itu dengan tangan yang gemetar bukan karena takut, melainkan karena amarah yang tertahan.
"Jika kau ingin memakan jiwaku, maka makanlah dendamku terlebih dahulu!" teriak Xiao Yuan.
Saat jemarinya menyentuh logam dingin itu, segel pada pedang tersebut hancur berkeping-keping. Energi hitam meluap keluar, membentuk pusaran raksasa yang menyedot kabut beracun di seluruh jurang. Xiao Yuan merasa seolah jiwanya ditarik paksa, namun ia bertahan demi Yun’er. Ia menyadari bahwa pedang ini bukan sekadar senjata, melainkan kunci untuk menghancurkan belenggu takdirnya. Di kejauhan, raungan monster-monster kuno yang selama ini merajai Jurang Keputusasaan tiba-tiba membisu, seolah-olah mereka baru saja merasakan kehadiran predator yang jauh lebih haus darah daripada mereka semua. Xiao Yuan kini bukan lagi mangsa yang terbuang; ia adalah bencana yang sedang menunggu waktu untuk meledak ke permukaan.
Bersambung.....
perjuangan suamiku:istriku surgaku😍
perjuangan suamiku:istriku Surgaku😍