NovelToon NovelToon
Mas Kapten, Ayo Bercerai!

Mas Kapten, Ayo Bercerai!

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Lima tahun lalu, malam hujan hampir merenggut nyawa Kapten Shaka Wirantara.
Seorang wanita misterius berhelm hitam menyelamatkannya, lalu menghilang tanpa jejak. Sejak malam itu, Shaka tak pernah berhenti mencari sosok tanpa nama yang ia sebut penjaga takdirnya.

Sebulan kemudian, Shaka dijodohkan dengan Amara, wanita yang ternyata adalah penyelamatnya malam itu. Namun Amara menyembunyikan identitasnya, tak ingin Shaka menikah karena rasa balas budi.
Lima tahun pernikahan mereka berjalan dingin dan penuh jarak.

Ketika cinta mulai tumbuh perlahan, kehadiran Karina, gadis adopsi keluarga wirantara, yang mirip dengan sosok penyelamat di masa lalu, kembali mengguncang perasaan Shaka.
Dan Amara pun sadar, cinta yang dipertahankannya mungkin tak pernah benar-benar ada.

“Mas Kapten,” ucap Amara pelan.
“Ayo kita bercerai.”

Akankah, Shaka dan Amara bercerai? atau Shaka memilih Amara untuk mempertahankan pernikahannya, di mana cinta mungkin mulai tumbuh.

Yuk, simak kisah ini di sini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

05. menjaga jarak itu penting dari orang yang membuat luka.

Pagi itu, ruang keberangkatan Bandara Soekarno–Hatta dipenuhi awak penerbangan dari berbagai maskapai. Sorotan kamera media tampak di mana-mana, ada peluncuran armada baru milik Grup Wirantara Air.

Sebagai salah satu pilot senior, Kapten Shaka Wirantara berdiri di depan, mengenakan seragam putih dengan epaulet emas, tegap dan berwibawa seperti biasa. Namun, pikirannya tak berada di tempat yang sama.

Sejak tadi, matanya terus saja mencari sosok berambut hitam yang selalu mampu menahan badai di dadanya, yaitu Amara. Wanita itu sedang berdiri di sisi lain ruangan, mengenakan seragam pramugarinya.

Rambutnya disanggul rapi, wajahnya datar, dan senyumnya tipis tapi tenang. Senyum yang dulu menenangkan Shaka, tapi kini justru membuat dadanya sesak, karena senyum itu bukan lagi untuknya.

“Mas Shaka!”

Suara lembut namun nyaring itu datang lagi, Karina melangkah ke arahnya, mengenakan seragam pramugari dengan badge bertuliskan Karina Wirantara. Ia tersenyum cerah, tak peduli pada pandangan orang di sekitarnya.

“Mas, aku tadi diminta menemani tamu investor dari Singapura. Boleh aku berdiri di samping Mas aja? Biar gampang koordinasinya.”

Shaka menegakkan tubuh, mencoba menahan ekspresi jengah.

“Karina, ada banyak petugas lain...”

“Tapi aku kan bagian dari tim Mas,” potong Karina dengan nada manja, lalu menyenggol lengannya kecil. Gerakannya ringan, tapi cukup untuk menarik perhatian beberapa orang di sekitar. Beberapa pilot muda saling berbisik, sebagian pramugari menatap dengan tatapan ingin tahu. Dan di antara mereka semua, mata Amara sempat menoleh sepersekian detik. Lalu ia kembali menatap lurus ke depan, melanjutkan percakapan formal dengan direktur maskapai.

Tak ada kemarahan, tak ada kecemburuan. Justru ketenangan yang menusuk jauh lebih dalam. Shaka menatapnya lama. Ia merasa kehilangan kendali bukan karena Amara marah, tapi karena Amara tidak marah sama sekali. Diamnya Amara terasa lebih tajam daripada seribu protes.

Karina dengan ringan menggandeng lengan Shaka ketika mereka berjalan menuju area parkir awak penerbangan.

“Mas, aku boleh nebeng mobil Mas aja, kan?” ucapnya tanpa malu.

Shaka menarik lengannya pelan. “Kau naik mobil dinas saja, aku ada urusan.”

“Urusan sama Mbak Amara, ya?” Karina tersenyum setengah mengejek.

“Masih aja dingin ke dia. Padahal semua orang tahu, dia nggak pernah nunjukin rasa punya suami.”

Kalimat itu membuat Shaka berhenti melangkah. Rahangnya mengeras.

“Jaga bicaramu, Karina. Dia tetap istri sahku.”

“Tapi Mas sendiri kayaknya nggak yakin dengan itu.”

Karina tertawa kecil, lalu berlalu meninggalkan Shaka yang diam membeku. Kata-kata itu menancap seperti duri di dada. Ia tahu Karina benar, bukan karena ia tidak mencintai Amara, tapi karena ia baru sadar betapa dalam perasaan itu setelah Amara benar-benar mulai menjauh.

Malamnya, Shaka berdiri di depan jendela ruang istirahat pilot. Cahaya kota Jakarta memantul di kaca, dan di sana ia melihat bayangan dirinya, seorang pria yang tampak kokoh, tapi hancur perlahan dari dalam.

Ia ingat bagaimana Amara dulu menemaninya di masa-masa awal pernikahan mereka, diam, lembut, dan selalu mengerti meski tak pernah ditanya. Ia ingat senyum samar wanita itu setiap kali Shaka pulang larut malam, walau tanpa satu pun pelukan. Dan kini, semua itu lenyap diganti dengan formalitas dan jarak. Shaka menunduk, mengusap wajahnya lelah.

Keesokan harinya, Amara melewati ruangannya tanpa menatap sedikit pun. Langkahnya ringan, tapi sikapnya tegas. Dan entah kenapa, di dada Shaka, ada rasa sesak yang aneh. Sampai Karina kembali datang dengan senyum manis dan segelas kopi. Namun kali ini, Shaka hanya menatap gelas itu lama sebelum berkata pelan,

“Jangan lakukan ini lagi, Karina. Aku tidak butuh pengganti.”

Wajah Karina berubah. “Maksud Mas?”

Shaka menatap lurus ke depan.

“Satu Amara saja sudah cukup membuat aku kehilangan diriku sendiri.”

Dan Karina pun diam, sementara Shaka, di balik ketegasan seorang kapten, perlahan kehilangan arah dalam hidupnya sendiri.

Sudah tiga hari Amara tak berbicara banyak dengan Shaka. Ia tetap datang tepat waktu, menjalankan penerbangan sesuai jadwal, bersikap profesional, dan tersenyum secukupnya.

Bagi rekan kerja, Amara hanyalah Pramugari teladan yang anggun dan tenang. Tapi di balik ketenangan itu, ada badai yang sudah lama ia tahan agar tak meledak di tempat yang salah. Setiap kali melihat Shaka berjalan berdampingan dengan Karina, entah dalam rapat singkat atau sekadar di ruang briefing, dadanya terasa sesak.

Namun, anehnya, kini bukan lagi karena cemburu. Lebih kepada kelelahan, lelah mencintai sendirian.

Siang itu, setelah menyelesaikan penerbangan Jakarta–Denpasar, Amara duduk di ruang tunggu awak. Ia membuka tablet, mengecek jadwalnya minggu depan.

Ada tiga rute internasional yang menunggu, dan sejujurnya, ia mulai berpikir untuk mengambil cuti panjang setelah semua selesai.

“Amara.”

Sebuah suara berat datang dari belakang. Ia menoleh, ternyata Shaka berdiri di ambang pintu, masih dengan seragam lengkap. Tatapannya tajam, tapi wajahnya tampak letih.

Mungkin sama letihnya seperti dirinya.

“Aku ingin bicara,” ucap Shaka pelan.

“Tidak di sini, Kapten.”

Nada Amara formal, kaku, dingin, dia sengaja menekankan kata Kapten.

Shaka menarik napas panjang. “Berhentilah memanggilku begitu, Amara.”

Amara menatap lurus ke depan. “Kalau bukan di tempat kerja, Mas ingin aku memanggil apa? Suami? Padahal, sejak awal aku tidak pernah benar-benar punya seorang suami.”

Shaka terdiam, dan untuk pertama kalinya, ia tak punya kata untuk membantah.

Malamnya, di apartemen dinasnya, Amara berdiri di depan jendela besar yang menampakkan pemandangan kota. Lampu-lampu Jakarta tampak berpendar seperti ribuan kenangan yang berputar di kepalanya. Ia meneguk air putih perlahan, mencoba menenangkan detak jantung yang tak juga stabil.

Lalu, ponselnya bergetar di meja. Sebuah nama muncul di layar, Armand, asisten Keluarga Marvionne. Jari Amara berhenti sejenak sebelum menekan tombol accept.

“Ya, Pak Armand. Ada apa?”

Suara pria itu terdengar dalam dan berwibawa.

[Nona Amara, kami mendapat kabar bahwa ada tamu penting dari luar negeri akan tiba di Jakarta pekan depan. Dewan Marvionne meminta Anda yang mengawal beliau secara pribadi. Ini misi berprioritas tinggi.]

Amara menutup matanya sesaat. Sudah lama ia tidak mendengar kata misi dari keluarga besarnya itu, keluarga yang membesarkannya dan melatihnya menjadi agen rahasia di usia muda, jauh sebelum dunia mengenalnya sebagai istri seorang kapten pilot.

[Apakah Nona bersedia menerima tugas ini?] lanjut Armand.

Amara menarik napas panjang.

“Untuk saat ini … tidak, Pak Armand.”

Suaranya lembut tapi tegas. "Kondisiku tidak sehat. Aku butuh istirahat dulu."

Ada jeda di seberang sana.

[Baik, kami akan mencari agen pengganti. Namun, Dewan akan tetap menunggu jika Anda berubah pikiran.]

“Terima kasih,” jawab Amara singkat sebelum menutup panggilan.

Ia menatap layar ponsel yang kini gelap, lalu tersenyum pahit. Kembali menjadi agen berarti kembali menanggalkan segalanya termasuk sisa-sisa hidupnya di samping Shaka.

Dan meski hatinya hancur, ia tahu ia belum siap benar-benar pergi. Masih ada urusan yang belum selesai. Masih ada luka yang harus ia tutup dengan tenang. Angin malam berembus pelan melalui jendela yang sedikit terbuka.

Amara menatap langit yang hitam tanpa bintang, dan di bawah sinar lampu kota, ia berbisik pada dirinya sendiri.

“Tenang dulu, Amara. Setelah semua urusan ini selesai … kau akan kembali. Tapi kali ini, bukan sebagai istri siapa pun ... melainkan sebagai dirimu sendiri.”

1
Ning Suswati
jgn sampai karinanya dibunuh, biar tau rasanya disiksa lahir dan bathin, dan biarkan dia memohon untuk dibunuh,
Ning Suswati
siapa lagi dirga,
Ning Suswati
ada2 saja kaya gk ada laki2 lagi di dunia ini, dasar kunti laknat, semoga amara selalu didepan🤭
Ning Suswati
emangnya saka bisa apa, waktu ada gangguan di perusahaan wirantara aja amara yg segera bertindak, laupun dia sdh memutuskan untuk bercerai, tapi tetap peduli dg shaka, dan shaka tetap tdk mengakui, boro percaya apa yg sdh dilakukan amara pada perusahaannya, yg dufikirannya cuma nek kunti
Ning Suswati
ya begitulah sakitnya perempuan, bibir bisa memafkan tapi sulit untuk bisa melupakan, bayangkan karena hasutan nek kunti, sampai tdk mengakui anak yg dikandung amara dan banyak lagi, kata2, prilaku yg menyakitkan, lebih percaya orang lain daripada menggunakan otaknya sendiri, aq jadi curhat nih, karena itu aq merasakan
Ning Suswati
ya terserah amara lah, dia yg merasakan, orang lain hanya bisa menasehati dan memberi masukan, tapi gk pernah merasakan pada posisi amara selama 5 thn di sia2kan suami dan berjuang sendiri.
Ning Suswati
ya tuhan semoga amara segera selamat, amara hukan orang biasa kan, paati ada cara untuk bertindak dan menyelamatkan diri
Ning Suswati
semua nya yergantung taqdir, kalau memang bukan jodoh ya paling tidak jgn masuk ke lobang yg sama
Bulan Hampa
sengaja langsung lihat bab ahir kirain benar cerai, gajadi deh.
Ning Suswati
aq suka keputusan amara, laki2 tdk akan pernah berubah total, kalau ada maunya, ber baik2, tapi akan mengulanginya lagi
Ning Suswati
semua kehancuran keluarga saka, ortunya sendiri yg membuat nasib rumah tangga anaknya se hancur2nya, sdh tau ada kunti di dln rumah tapi diam selama ber thn2,
Ning Suswati
sama dong kayanya plan plin plen, sdh basi, emang masih ingin disakiti kembali, laki2 gk akan berubah, kecuali apa y🤔
Ning Suswati
kok zico yg jadi pelampiasan, emangnya ciuaman belum tuntas, sok2an merasa gagah, tapi dikadali laki2 dodol masih aja nyosor.
Ning Suswati
woooiiiii sdh pisah masih aja bikin masalah, selama ini kemana aja gk pernah membela dan percaya sama isteri sendiri, sekarang didekati laki2 lain sewot aja lho, sinting gila miring🤭
Fitri Guntoro
lanjut thor gantung banget deh
Ning Suswati
keegoisan ortu selalu dg nafsu tanpa perasaan, apa imbas dari keegoisan mereka
Ning Suswati
gk malu apa keluarga wirantara masih menyebut cucuku, selama ini kemana aja, membiarkan ular menyebarkan racun dlm rumah tapi tetap diam, pengausaha apa, pengusaha kotoran kali y🤔, biasanya pengusaha itu selalu berfikir dan bertindak, bukan diam seribu kata
Ning Suswati
seringkali kejadian ceritanya seperti ini, terus katanya tdk ingin lagi ketemu, masih ada rasa peduli, tapi apa lukanya amara sdh sembuh, terlalu baik juga jgn
Ning Suswati
terus siapa perempuan dan suaminya yg membela anak dan isterinya, tanpa tau masalah
Ning Suswati
yah kalamaan sampe 5 thn lagi2 5 thn, gk ada kata lain apa y, dan td siapa wanita yg ingin memukul azril, apakah nek kunti
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!