Georgio Cassano adalah antagonis paling menyedihkan yang pernah Selin baca. Dimana sedari kecil dia tidak pernah mendapat perhatian keluarganya,cinta pertamanya malah menikah dengan rivalnya, dan istrinya berselingkuh. Sang Antagonis mendapat akhir trangis, Perusahaan yang dibangun dengan hasil kerja kerasnya sendiri bangkrut, dan dia meninggal dibunuh protagonis pria.
"Andai saja aku yang menjadi istri antagonis. Pasti aku akan membuat dia bahagia." Kata-kata yang diucapkan Selin malah membuatnya memasuki tubuh Cassandra, istri antagonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana dibali rembulan
Tidak terasa tiga bulan pun berlalu. Perusahaan Jordan kini sudah semakin membaik berkat bantuan Georgio. Georgio duduk di sofa kantornya yang luas, menikmati pemandangan kota. Di sampingnya, Cassandra sedang menelusuri majalah dengan santai.
Pintu terbuka. Albert masuk, meletakkan berkas di atas.
"Permisi pak, laporan keuntungan triwulan SkyLine Corp sudah selesai. Jordan telah mencapai target yang Anda tetapkan. Bahkan melampauinya sepuluh persen." lapor Albert, suaranya mengandung nada kekaguman yang tersembunyi.
Skyline corp adalah nama perusahaan Jordan yang diberikan oleh Georgio. Jordan tidak bisa membantah apa pun, dia hanya menurut apa kata Georgio, Karana dari awal memang Georgio yang memegang kendali.
Georgio hanya tersenyum tipis, tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela. Ia memutar kursinya, menatap Albert dan Cassandra bergantian. "Waktunya sudah tiba, Sayang."
Cassandra meletakkan majalahnya, matanya berbinar. "Waktu untuk apa, Gio?"
"Waktu untuk perayaan," jawab Georgio, menekankan kata itu. "Seperti rencana awal, kita akan menggelar pesta besar. Pesta atas bangkitnya Jordan. Kita harus memastikan semua orang tau, bahwa Jordan bangkit berkat belas kasihan Cassano corp."
Albert mengangguk mengerti. "Sebuah pengumuman tidak resmi, juga sebuah panggung untuk mempertunjukkan boneka Anda?"
"Tepat," kata Georgio. "Hari paling bahagia dia, menjadi hari yang tidak akan pernah dia lupakan."
Georgio mengambil tabletnya, mengetuk beberapa kali, dan memutar sebuah video. Di layar, muncul rekaman buram dan kasar dari tahun-tahun silam. Sosok seorang wanita dan pria muda.
Cassandra menatap layar, tersenyum miring. "Jika ini terungkap..."
"Jika ini terungkap, kehancuran Jordan akan sempurna," potong Georgio, matanya berkilat penuh kemenangan. "Bukan hanya Jordan, Adrian dan Sonia juga akan hancur."
Ia menoleh pada Cassandra, senyumnya melengkung. "Ini adalah pukulan terakhir, Sayang. Pastikan pesta itu menjadi berita utama. Undang semua rival, semua media, dan setiap orang penting yang pernah mereka kenal."
Cassandra mendekat, menyentuh rahang Georgio. "Pasti sayang... Aku suka sekali dengan permainan ini."
"Kamu memang mengerikan." Gumam Georgio tersenyum tipis. Georgio meraih tangan Cassandra, mencium punggung tangannya. "Kamu akan menjadi bintang utama. Kamu yang akan memastikan video ini diputar."
Albert yang mendengarkan, merasa kedinginan. "Mereka berdua sama-sama mengerikan."gumam Albert tanpa sadar.
Georgio dan Cassandra yang sedikit mendengar gumaman Albert serempak menatap Albert dingin, refleks Albert tersenyum cengengesan."Sepertinya saya masih ada pekerjaan, saya permisi."ujar Albert dan berlalu keluar dari ruangan Georgio.
Cassandra beralih menatap Georgio. "Kamu yakin rencana ini akan berhasil?"tanya Cassandra tampak ragu.
Georgio mencolek hidung Cassandra gemas."Dari awal ini rencana mu, kenapa kamu ragu, hm?"
"Takutnya Jordan memiliki persiapan lain." Georgio menggeleng.
"Dia tidak bisa apa-apa, semua kariawan yang ada di perusahaan dia sudah dibawah kendaliku."mendengar itu Cassandra tersenyum lebar.
"Suamiku memang cerdas."Georgio yang dipuji seperti itu menatap lekat Cassandra.
"Kamu baru menyadarinya?"Cassandra menggeleng.
"Tidak juga. Tapi setelah semuanya selesai, apa kita masih tetap bisa bersama?"Georgio mengerutkan keningnya. Merasa aneh dengan pertanyaan Cassandra.
"Tentu kita selamanya bersama, kenapa bertanya seperti itu?"Cassandra menatap dalam Georgio. Rasanya mereka tidak akan selamanya bersama. Tugas Cassandra disini hanya untuk merubah nasib Georgio. Setelah semua ini selesai pasti dia akan kembali ke dunia asalnya.
Cassandra memaksakan senyumnya. "Tidak, maksudku setelah kamu semakin sukses, kamu melirik perempuan lain."
Georgio memegang dagu Cassandra, menatapnya kali ini dengan kelembutan. "Tidak ada perempuan lain, hanya ada kamu dihatiku."
"Tapi hati seseorang bisa berubah kan?"
"Hatiku tidak semurahan itu untuk berubah-ubah."Cassandra mengangguk.
"Baiklah baiklah, aku harap ucapan mu benar."
★★★
Cassandra baru saja sampai dirumah nya setelah dari kantor Georgio, saat hendak melangkah masuk, tiba-tiba sebuah mobil masuk ke pekarangan rumahnya dan berhenti di lobby. Cassandra yang kenal mobil itu mengerutkan dahinya, berdiri didepan pintu menunggu orang itu keluar dari dalam mobil.
Seorang pria dengan setelan formal melangkah mendekati Cassandra. "Ada apa? Tumben kesini."tanya Cassandra heran.
Pria itu berdiri dihadapan Cassandra."Papa minta kamu pulang."ucapnya.
"Mau ngapain?"
"Papa sama mama pengen mengajak kita liburan, saya tidak tau pasti, yang jelas kamu pulang dulu biar tau." Cassandra menatap saudara tirinya mengintimidasi.
"Kamu serius?"
Bara berdecak. "Ngapain saya bohong?"
Cassandra mengangguk mengerti dan berlalu melangkah menuju mobil Bara, dia menatap Bara yang masih terbengong melihat Cassandra yang dengan santai membuka pintu penumpang mobilnya.
"Aku malas nyetir."ucap Cassandra dan langsung masuk ke dalam mobil Bara. Bara hanya mengangguk dan menyusul Cassandra.
Tidak lama setelahnya, mereka sampai dikediaman Edward ayah Cassandra
Gerbang besi yang menjulang tinggi terbuka secara otomatis, menampakkan pekarangan luas yang asri. Rumah bergaya klasik itu terasa hangat.
Cassandra melangkahkan kaki keluar dari mobil Bara. Hembusan napasnya terdengar. Meskipun ia jarang pulang, suasana di sini selalu terasa damai.
Saat masuk Cassandra sudah disambut oleh ibu tirinya Karina, membimbing Cassandra untuk duduk diruang keluarga, sudah ada Edward disana duduk sambil membaca koran.
"Kamu sudah datang? Silahkan duduk dulu."ucap Edward yang di turuti Cassandra.
"Papa kenapa minta aku kesini?"tanya Cassandra menatap Edward penuh tanya.
Edward meletakkan korannya di atas meja, lalu beralih menatap Cassandra serius.
"Sejak kamu kecil, papa mau pun mama kandung kamu tidak pernah memberikan perhatian penuh sama kamu. Papa selalu dihantui rasa bersalah. Jadi mama Karina menyusulkan kita untuk pergi liburan, apa kamu mau?"jelas Edward yang sangat dipahami Cassandra.
"Memangnya papa ada rencana mau liburan ke mana?"
"Rencananya ke pulau milik kita, kamu bawa suamimu juga."ucap Edward
Cassandra tampak berfikir, tidak ada salahnya juga dia menyetujui keinginan Edward. Selama disini mau pun di dunia aslinya dia tidak pernah liburan. Ditambah lagi dia pasti akan meninggalkan dunia ini, tidak ada salahnya bersenang-senang walau hanya sekali.
"Baiklah," ucap Cassandra. "Aku setuju."
Wajah Edward langsung terlihat lega. Karina tersenyum tulus. Sedangkan Bara hanya duduk diam sibuk dengan ponselnya.
Cassandra beralih menatap Bara. "Bara, kamu membawa pacar?" Bara mengalihkan fokusnya pada ponselnya ke Cassandra. Dia hanya mengedipkan bahunya.
"Tidak, nanti kamu kalau saing."jawabnya acuh.
Cassandra menganga mendengar ucapan Bara. Yang benar saja seorang Cassandra bisa kalah saing. Dengan kesal Cassandra memukul Bara tepat didadanya menggunakan tasnya.
Bara yang melihat wajah kesal Cassandra langsung tergelak sekaligus meringis kecil.
"Sajak kapan kamu memiliki ekspresi seperti itu?" Bara sangat ingat, dulu dia juga sering menggoda Cassandra. Tapi yang di goda hanya diam dengan tatapan dingin, seperti monster yang mengerikan.
Cassandra tidak menjawab hanya memutar bola matanya. Karina yang melihat wajah kesal Cassandra tersenyum kecil.
"Selain keluarga tentu orang lain tidak ikut, nanti jadi tidak seru"Cassandra mengangguk membenarkan.
"Baiklah, karena kita sudah sepakat." ujar Edward. "Kita berangkat dua hari lagi. Papa sudah siapkan penerbangan privat. Sekarang, bisakah kamu pastikan Georgio ikut?"
Cassandra mengangguk yakin. Georgio sudah pernah mengatakan kepadanya, apa pun yang menyangkut Cassandra itu yang paling penting. Bahkan dia rela meninggalkan proyek seharga miliyaran demi Cassandra.
Mengingat itu Cassandra tersenyum bangga. Andai semua ini nyata, pasti dia teramat sangat bahagia.
Seketika raut wajah Cassandra berubah, dia teringat sesuatu, masih ada hal yang belum dia selesaikan dengan Georgio. Cassandra menatap tiga orang di hadapannya bergantian, lalu terfokus pada Edward.
"Pa, bisa tidak keberangkatan di undur dulu? Aku dan Gio masih ada masalah yang harus diselesaikan."ucap Cassandra, kini suaranya berubah lebih lunak.
"Masalah apa? Kalau kesulitan biar papa bantu."Cassandra menggeleng cepat.
"Tidak perlu pa, aku dan Gio sudah merencanakan matang-matang masalah ini. Beri kami waktu dua minggu, setelah itu baru kita pergi liburan."Edward mengangguk pasrah.
"Baiklah kalau begitu."ucapnya.
"Kamu yakin gak butuh bantuan, saya juga bisa bantu."ujar Bara, tatapannya kali ini terlihat lebih serius.
Cassandra tersenyum kecil. "Untuk melawan serangga tidak perlu bantuan, cukup ditangkap dan injak. Mati deh."ucap Cassandra sambil tergelak kecil.
Edward dan Karina saling pandang, tidak mengenali sifat anaknya kali ini. Seperti bukan Cassandra yang mereka kenal. Tidak mau ambil pusing, mereka memilih diam tidak mau terlalu ikut campur, mungkin masalahnya benar-benar tidak boleh ada yang tau, ataupun menganggu.