NovelToon NovelToon
Dahaga Sang Tuan

Dahaga Sang Tuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cerai / CEO / Duda / Pengasuh / Ibu susu
Popularitas:17.4k
Nilai: 5
Nama Author: your grace

Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.

Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.

Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Sisa Amarah dan Penyesalan

Lorong rumah sakit yang putih bersih itu terasa begitu dingin dan sunyi. Amara duduk meringkuk di kursi besi panjang, menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangan yang masih gemetar. Isak tangisnya sudah reda, menyisakan napas yang tersengal dan mata yang bengkak. Ia merasa sangat kecil, sangat hina, dan sangat sendirian. Kata-kata Arlan di dalam mobil tadi terus bergema di kepalanya seperti kaset rusak: “Kau terlalu sibuk mêñÐê§åh di bawah tubuhku sampai kau lupa tugas utamamu!”

Tak jauh dari sana, Arlan berdiri tegak di depan pintu ruang observasi. Rahangnya masih mengeras, namun sorot matanya yang tajam mulai meredup, digantikan oleh kecemasan yang mendalam.

Pintu terbuka. Seorang dokter keluar sambil melepas maskernya, menampakkan wajah yang tenang. Arlan langsung menyongsongnya. "Bagaimana putra saya, Dok?"

Dokter itu tersenyum tipis, mencoba menenangkan. "Tuan Arlan, Anda bisa bernapas lega. Ini hanya demam biasa, kemungkinan besar karena reaksi pertumbuhan atau kelelahan ringan. Suhu tubuhnya sudah mulai turun setelah kami beri kompres dan penurun panas cair. Bayi usia tiga bulan memang rentan mengalami lonjakan suhu mendadak, tapi Kenzo kuat. Dia hanya perlu istirahat dan asupan ASI yang cukup."

Arlan membuang napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya. Bahunya yang tegang seketika merosot. "Jadi... dia tidak apa-apa?"

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan secara serius. Setelah observasi singkat ini, Anda boleh membawanya pulang."

Setelah dokter pergi, Arlan terdiam sejenak. Kelegaan yang luar biasa menyapu dirinya, namun sesaat kemudian, rasa sesak yang berbeda mulai menghimpit dadanya. Ia teringat bagaimana ia membentak Amara, bagaimana ia menghina harga diri gadis itu di saat Amara sendiri sedang ketakutan setengah mati.

Arlan membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah lorong. Di sana, di bawah lampu neon yang pucat, Amara masih duduk mematung. Bahunya yang kecil nampak rapuh, daster batiknya yang lusuh terlihat kontras di lingkungan rumah sakit yang modern. Amara tidak berani mendekat, ia bahkan tidak berani menatap Arlan, seolah ia sedang menunggu vonis hukuman mati.

Arlan melangkah mendekat. Suara pantofelnya yang beradu dengan lantai keramik membuat Amara tersentak kecil, namun gadis itu justru semakin menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya dengan rambut yang berantakan.

"Amara..." suara Arlan kini rendah, hilang sudah nada dingin dan menggelegar yang tadi ia gunakan.

Amara tidak menjawab. Ia hanya terisak kecil, bahunya kembali berguncang. "M-maafkan saya, Tuan... saya pantas dihukum. Saya memang bukan pengasuh yang baik... hiks... saya..."

Arlan tidak melanjutkan kata-katanya. Ia berlutut di depan Amara, mengabaikan statusnya sebagai Tuan Besar di tempat umum. Ia meraih kedua tangan Amara yang dingin dan menggenggamnya erat.

"Dengarkan aku," ucap Arlan serak. "Dokter bilang Kenzo baik-baik saja. Hanya demam biasa."

Amara mendongak, matanya yang sembap menatap Arlan dengan tidak percaya. "Benarkah? Kenzo... Kenzo tidak apa-apa?"

"Iya, dia tidak apa-apa," Arlan menarik napas panjang, matanya menatap lebam merah di leher Amara yang merupakan hasil perbuatannya semalam—jejak yang kini membuatnya merasa sangat bersalah. "Amara... maafkan aku. Kata-kataku tadi... aku hanya terlalu takut kehilangan dia. Aku tidak bermaksud menghinamu seperti itu."

Amara menggeleng pelan, air matanya kembali jatuh. "Tapi Tuan benar... saya lalai... saya..."

"Tidak," potong Arlan tegas. Ia membawa tangan Amara ke bibirnya, mengecup jemari gadis itu dengan lembut. "Aku yang bersalah. Aku yang memaksamu, aku yang membawamu ke dalam gairahku sampai kita berdua lupa segalanya. Jangan salahkan dirimu sendiri."

Arlan menarik Amara ke dalam pelukannya, mendekap gadis itu erat di tengah lorong rumah sakit. Untuk pertama kalinya, tidak ada nafsu dalam pelukan itu. Hanya ada penyesalan yang mendalam dan keinginan untuk melindungi. Amara menangis sejadi-jadinya di dada Arlan, melepaskan segala beban ketakutan yang menghimpitnya sejak fajar tadi.

***

Mobil mewah itu meluncur membelah jalanan kota yang mulai ramai, namun di dalam kabin, suasana terasa sangat sunyi dan intim. Kenzo sudah berada kembali di pelukan Amara. Bayi mungil itu nampak jauh lebih tenang, meskipun suhu tubuhnya masih menyisakan kehangatan sisa demam tadi.

Sesuai saran dokter agar Kenzo terus mendapatkan asupan cairan, Amara memberikan dadanya. Kenzo menghisap dengan sangat kuat, seolah mencari kenyamanan setelah melewati rasa sakit. þµ†ïñg Amara yang masih sensitif akibat permainan Arlan semalam kini harus bekerja keras memenuhi kebutuhan putra tuannya.

Arlan duduk di kursi kemudi, matanya fokus ke jalanan, namun sesekali ia melirik ke arah sebelah. Dari samping, ia bisa melihat Amara yang sedang sedikit menyandarkan kepalanya ke jendela, sementara daster bagian depannya terbuka cukup lebar untuk memudahkan Kenzo menyusu.

"Dia sudah tidur?" tanya Arlan lirih, suaranya terdengar jauh lebih tenang dan hangat dibandingkan saat mereka berangkat tadi.

"Sudah, Tuan," bisik Amara. Ia mencoba menarik sedikit kain dasternya untuk menutupi dadanya karena merasa malu diperhatikan Arlan. Namun, begitu þµ†ïñg itu terlepas sedikit saja dari mulut Kenzo, bayi itu langsung mengerang dan mulai bergerak gelisah.

"Ssshh... sayang, ini... ini," Amara kembali membiarkan Kenzo mengunci þµ†ïñgñɏå. Kenzo kembali tenang, menghisap dengan irama yang lambat namun dalam.

Melihat pemandangan itu, Arlan merasakan sesuatu yang aneh bergejolak di dalam dirinya. Di satu sisi, ia merasa sangat bersyukur melihat kedekatan pengasuhnya dengan putranya. Namun di sisi lain, melihat bagaimana þåɏµÐårå Amara yang besar dan penuh itu dipermainkan oleh mulut kecil Kenzo, Arlan tidak bisa menahan reaksi tubuhnya.

Ia menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya naik turun saat melihat kilatan sisa ASI dan air liur bayi yang membasahi kulit putih Amara yang berkilau di bawah sinar matahari. Ingatan tentang bagaimana rasanya mulutnya sendiri berada di sana, mêñghï§åþ dengan rakus seperti yang dilakukan Kenzo sekarang, membuat kêjåñ†åñåñ Arlan kembali berdenyut di balik celana kainnya.

"Kenzo sepertinya sangat haus," gumam Arlan, suaranya sedikit serak. Ia memegang kemudi lebih erat, mencoba mengalihkan pikirannya yang mulai liar.

"Iya, Tuan... dia tidak mau melepaskannya. Kalau dilepas, dia langsung bangun," jawab Amara polos. Wajahnya yang memerah dan rambutnya yang sedikit berantakan justru membuatnya nampak sangat cantik di mata Arlan—seperti seorang ibu muda yang sedang memancarkan aura keibuan sekaligus §êñ§µålï†å§ yang mematikan.

Arlan berdeham, mencoba menenangkan debaran jantungnya. "Bersabarlah sebentar lagi. Sesampainya di rumah, kau harus beristirahat. Aku akan memastikan tidak ada yang mengganggumu... kecuali aku."

Amara menunduk, merasakan tatapan lapar Arlan yang tak di tutup-tutupi. Ia menyadari bahwa meski mereka baru saja melewati drama rumah sakit, gåïråh sang tuan tidak pernah benar-benar padam. Di sela-sela isapan Kenzo yang menenangkan, Amara merasakan perutnya ikut bergejolak, membayangkan apa yang akan dilakukan Arlan begitu mereka sampai di balik pintu tertutup mansion nanti.

***

Begitu mesin mobil mati di garasi mansion yang sunyi, Amara merasa dunianya seolah kembali berputar pada poros gåïråh dan kewajiban. Dengan sangat perlahan dan hati-hati, ia melepaskan hisapan Kenzo. Beruntung, bayi itu sudah benar-benar pulas karena kelelahan setelah demamnya turun. Amara segera merapikan dasternya, meski sisa-sisa ASI nampak membasahi kain di area dadanya, menciptakan noda transparan yang sangat menggoda.

Mereka berjalan masuk melewati lorong sunyi menuju kamar bayi. Arlan berjalan tepat di belakang Amara, menjaga punggung gadis itu seolah ia adalah harta paling berharga yang tak boleh lecet sedikit pun.

Begitu sampai di samping boks bayi, Amara membungkuk untuk meletakkan Kenzo. Namun, baru saja punggung kecil itu menyentuh alas kasur, Kenzo langsung meronta. Wajahnya berkerut, dan tangisan pendek yang serak mulai pecah.

"Ssshh... sayang, anak pintar, bobo ya," bisik Amara panik. Ia kembali mengangkat Kenzo ke pelukannya, menimang-nimang dengan gerakan ritmis. Kenzo kembali tenang hanya saat ia merasakan kehangatan kulit Amara.

Amara menghela napas pasrah, ia berjalan menuju kursi goyang di sudut ruangan untuk mulai menyusui kembali. Namun, langkahnya terhenti saat tangan Arlan mencekal lengannya dengan lembut.

"Jangan di kursi itu. Duduklah di ranjangku, Amara. Aku ingin kalian berdua nyaman," ujar Arlan dengan nada yang tak bisa dibantah.

Amara bingung, namun ia menurut. Ia berjalan menuju ranjang besar Arlan yang aromanya masih sangat kental dengan wangi tubuh pria itu. Amara duduk bersandar di tumpukan bantal empuk, membuka kembali kancing dasternya, dan membiarkan Kenzo kembali menemukan þµ†ïñg kirinya. Bayi itu langsung menghisap dengan lahap, tangan mungilnya meremas pelan þåɏµÐårå Amara.

Arlan tidak pergi. Ia justru ikut naik ke atas ranjang, berlutut tepat di samping Amara. Matanya yang gelap menatap tajam ke arah þåɏµÐårå kanan Amara yang bebas, yang kini nampak sangat kencang karena produksi ASI yang melimpah.

"T-Tuan... apa yang Tuan lakukan?" bisik Amara gugup.

"Kenzo sudah mendapatkan bagiannya, Amara. Sekarang giliranku," geram Arlan serak.

Tanpa menunggu izin, Arlan merunduk. Ia menangkap þµ†ïñg kanan Amara dengan bibirnya, menghisapnya dengan tarikan yang jauh lebih kuat dan menuntut daripada Kenzo. Amara tersentak, tubuhnya melengkung ke belakang.

Kini, Amara berada dalam posisi yang sangat luar biasa gila. Di lengan kirinya, ada seorang bayi yang sedang mencari kesembuhan dan kenyamanan dari air susunya, sementara di sisi kanannya, ada seorang pria dewasa—sang penguasa mansion—yang menghisap dengan rakus penuh ñ壧µ.

"Nngghhh... T-Tuan... pelan-pelan," rïñ†ïh Amara. Ia memejamkan mata rapat-rapat. Sensasi hisapan di kedua sisinya menciptakan aliran listrik yang menjalar ke seluruh sarafnya.

Arlan tidak peduli. Ia terus menyesap ASI manis itu, tangannya merayap masuk ke balik daster Amara, meremas þïñggµl gadis itu untuk membawanya lebih rapat. Suara kecipak basah dari dua mulut yang berbeda—satu polos dan satu penuh dosa—memenuhi keheningan kamar itu.

Amara merasa seperti wadah kenikmatan bagi dua generasi Aditama. Ia harus menahan Ðê§åhåññɏå agar tidak mengejutkan Kenzo, sementara lidah Arlan terus mempermainkan þµ†ïñgñɏå, menariknya masuk lebih dalam seolah-olah Arlan pun ingin kembali menjadi bayi dalam pelukan Amara. Di atas ranjang mewah itu, Amara menyerah sepenuhnya pada dua kepala yang kini sangat bergantung pada tubuhnya.

1
Naila Saputri
ini Amara seperti g ad harga diri y ,bus d bentak dan di hina oleh arlan ,mau aja d gituin
Bedjho
si Arlan minta di sapih 😭
your grace: nyebelin ya kakk 🤣
total 1 replies
Vicky Aulia
agak menyebalkan sih episode ini huhu
Linda Ayu Tong-Tong
thor kok arlan jahat banget..udah kamu kanir aja amara...biar arlan nyesel...
Linda Ayu Tong-Tong
kasihan amara...adih arlan..kamu jadiin amara pelacurmu..jahat banget...lebih jahat dari peran arya🥵🥵🥵
Linda Ayu Tong-Tong
double 🤣🤣🤣
Linda Ayu Tong-Tong
you crazy arlan🤣🤣🤣
Naila Saputri
arlan udh gila 🤣🤣🤣
Achom
laah si Arlan dia yg salah godain Amara mlulu tp dia yg marah² hadeuhh 😑
Ikaculeng
tulisan terrtata dengan baik
Uthie
menarik ceritanya 👍👍👍
Uthie
mampir 👍
Linda Ayu Tong-Tong
thorrr gerah geraah thor🥵🤣
Linda Ayu Tong-Tong
thor kok kyak diperlakukan kyak binatang
Linda Ayu Tong-Tong
oooohhh🥵🥵🥵
Linda Ayu Tong-Tong
waaaow panaasss,🥵🥵
Linda Ayu Tong-Tong
next
Linda Ayu Tong-Tong
wakakaka panas dingin aq thor🤣
afaj
kwkwkwk untuk u g nenek bareng anak u arlan
Linda Ayu Tong-Tong
ohh arlan kamu ketagihan nenennya amara🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!