Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Kepergian Arlan meninggalkan kesunyian yang berat di dalam kamar mewah itu. Amara masih bersandar pada tumpukan bantal sutra, mendekap Kenzo yang sedang menyusu dengan sangat rakus. Bayi itu seolah tahu bahwa pengasuhnya sedang lelah, maka ia menghisap dengan irama yang menenangkan, memberikan stimulasi alami yang membuat rahim Amara sedikit berkontraksi—mengingatkan kembali pada jejak-jejak tajam penetrasi Arlan beberapa jam lalu.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu depan terbuka. Amara menegang. Suara langkah kaki yang ringan namun teratur mendekat. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya berkebangsaan Inggris masuk ke dalam area ruang tengah yang terhubung samar dengan kamar melalui pintu yang terbuka sedikit.
Wanita itu mengenakan seragam pelayan berwarna abu-abu gelap dengan celemek putih yang sangat kaku dan bersih. Wajahnya datar, ekspresinya sangat profesional dan disiplin, khas pelayan kelas atas London.
"Selamat pagi, Nona. Nama saya Mrs. Higgins. Tuan Aditama mengirim saya untuk membereskan tempat ini," ucap wanita itu dalam bahasa Inggris yang kaku. Meski Amara tidak mengerti setiap katanya, ia menangkap maksud dari gerakan sopan wanita itu.
Amara hanya bisa meringkuk di balik selimut tebalnya, merasa sangat telanjang dan terekspos. Dari celah pintu, Amara bisa melihat Mrs. Higgins mulai bekerja. Jantung Amara berdegup kencang saat melihat Mrs. Higgins berjalan menuju dinding kaca besar—tempat di mana Arlan mêñgågåhïñɏå semalam.
Wajah Amara memerah hebat hingga ke telinga saat Mrs. Higgins berlutut di atas lantai marmer dingin itu. Dengan sangat tenang dan tanpa ekspresi, pelayan itu mulai menyemprotkan cairan pembersih ke atas noda-noda yang tertinggal di sana. Amara tahu betul noda apa itu: campuran antara cairan asmaranya yang memancar deras, keringat, dan sedikit urin saat ia terkencing-kencing karena syok kenikmatan semalam.
Srak... srak...
Suara kain pel yang menggosok marmer itu terdengar seperti sindiran di telinga Amara. Ia melihat Mrs. Higgins juga mengelap sisa embun dan bekas telapak tangan Amara yang menempel kencang di kaca jendela. Pelayan itu bekerja dengan sangat detail, seolah sedang menghapus jejak-jejak "pertempuran" lïår yang terjadi di sana.
"Ya Tuhan... memalukan sekali," bisik Amara, menyembunyikan wajahnya di puncak kepala Kenzo.
Ia merasa sangat rendah. Wanita Inggris itu pasti tahu apa yang terjadi semalam hanya dengan melihat pola noda di lantai dan kaca tersebut. Namun, Mrs. Higgins tetap diam, tidak menoleh sedikit pun ke arah kamar, menunjukkan profesionalitas tingkat tinggi yang diperintahkan Arlan.
Setelah area jendela bersih, Mrs. Higgins beralih memunguti pakaian Amara yang berserakan di lantai—dress yang robek di bagian ritsleting dan pakaian dalam yang terlempar entah ke mana. Amara semakin mengeratkan pelukannya pada Kenzo saat melihat pakaian pribadinya dikumpulkan oleh orang asing.
Kenzo, yang tidak peduli dengan rasa malu pengasuhnya, terus menghisap dengan suara cup-cup yang keras, sesekali melepaskan puting Amara hanya untuk mengeluarkan suara tawa kecil yang menggemaskan, seolah mengejek pengasuhnya yang kini terjebak dalam rasa canggung luar biasa.
"Kenzo, jangan keras-keras sayang..." bisik Amara pelan, mencoba menutupi suara isapan bayinya agar tidak terdengar hingga ke luar.
Beberapa saat kemudian, Mrs. Higgins mengetuk pintu kamar dengan pelan tanpa melihat ke dalam. "Nona, sarapan Anda sudah siap di meja kecil. Saya akan pergi sekarang dan kembali sore nanti untuk menyiapkan makan malam."
Setelah suara pintu depan tertutup tanda pelayan itu pergi, Amara baru bisa membuang napas lega yang panjang. Ia menatap ke arah ruang tengah yang kini sudah kembali berkilau bersih, seolah-olah kegilaan semalam tidak pernah terjadi. Namun, rasa nyeri di antara kedua pahanya tetap menjadi saksi bisu bahwa ia adalah milik Arlan Aditama, jiwa dan raga.
***
Di sebuah ruang pertemuan eksklusif di kawasan The City of London, aroma cerutu mahal dan kopi arabika menyeruak di antara setelan jas custom-made para petinggi perusahaan finansial. Arlan Aditama duduk di kursi kebesarannya dengan posisi tubuh yang santai namun tetap memancarkan dominasi yang tak tergoyahkan. Presentasi bisnis yang ia bawakan baru saja berakhir dengan kesuksesan mutlak—sebuah akuisisi besar yang akan memperluas gurita bisnis Aditama Group di tanah Eropa.
Namun, ada yang berbeda dari Arlan hari ini. Biasanya, ia adalah sosok yang dingin, kaku, dan penuh perhitungan yang mengerikan. Tapi hari ini, wajahnya nampak sangat cerah. Matanya berkilat penuh kepuasan, dan ada aura "segar" yang sangat terpancar dari setiap gerakannya.
"Tuan Aditama, saya harus jujur," ucap Sir William, salah satu rekan bisnis senior asal Inggris sambil terkekeh ringan. "Anda terlihat sangat berenergi hari ini. Bahkan lebih cerah dari sinar matahari London pagi ini. Apakah Anda baru saja mendapatkan suntikan penyemangat rahasia?"
Rekan-rekan bisnis yang lain ikut tertawa dan menyahut, menggoda pria yang biasanya dikenal sedingin es tersebut. Mereka melihat Arlan bukan lagi seperti mesin bisnis, melainkan seperti pria yang baru saja menaklukkan puncak dunia.
Arlan menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti. Ia teringat bagaimana Amara tadi pagi merintih lemas di bawah kuasanya, dan bagaimana ia meninggalkan bekas-bekas kemerahan di seluruh kulit putih gadis itu.
"Memang benar, Sir William," jawab Arlan dengan suara baritonnya yang mantap. "Saya baru saja mendapatkan suntikan energi yang luar biasa sebelum datang ke sini. Tapi..." Arlan menjeda kalimatnya, menyesap wiski di gelas kristalnya sejenak. "Bukan saya yang menyuntik, melainkan seseorang yang 'menyuntikkan' gairah hidup ke dalam diri saya."
Mendengar jawaban yang sangat implisit namun berani itu, ruangan tersebut seketika pecah oleh seruan dan tawa para pria dewasa tersebut. Mereka semua tahu betul apa yang dimaksud oleh "suntikan" bagi pria seperti Arlan.
"Ah, jadi itu rahasianya! Sepertinya Tuan Aditama membawa mainan yang sangat spesial dari Indonesia," goda seorang investor muda dari Perancis sambil mengerling nakal.
Setelah pertemuan resmi dinyatakan ditutup dan obrolan berubah menjadi lebih santai, salah satu rekan bisnis lokal mengusulkan rencana untuk merayakan kesuksesan mereka.
"Arlan, karena pekerjaan kita sudah selesai dengan sempurna, bagaimana kalau malam ini kita mampir ke sebuah klub eksklusif di Mayfair? Saya punya akses ke sana. Ada wanita-wanita limited edition yang sangat cantik, seksi, dan mahir dalam segala hal. Mereka berasal dari berbagai belahan dunia, pilihan terbaik untuk merayakan kemenangan kita," tawar Sir William dengan nada persuasif.
Para pria di sana berseru setuju, membayangkan hiburan malam kelas atas yang ditawarkan kota London. Namun, Arlan justru bangkit dari kursinya, merapikan jas trench coat-nya yang tergeletak di meja dengan gerakan yang elegan.
"Terima kasih atas tawarannya, Sir William. Tapi saya harus menolak," ucap Arlan dengan nada yang tegas namun terdengar sangat puas.
"Kenapa? Apa Anda punya janji lain?" tanya mereka heran.
Arlan menatap mereka satu per satu, lalu menyeringai lebar—sebuah ekspresi yang jarang ia tunjukkan kepada siapa pun. "Sederhananya, wanita-wanita limited edition di klub itu tidak akan pernah bisa menandingi apa yang saya miliki di penthouse. Wanitaku jauh lebih cantik, jauh lebih seksi, dan jauh lebih memuaskan daripada siapapun yang ada di London ini. Dan saya tidak ingin membuang waktu sedetik pun jauh darinya."
Seruan kekaguman dan tawa kembali memenuhi ruangan. Rekan-rekan bisnisnya benar-benar terkejut melihat Arlan yang begitu "tergila-gila" pada wanita yang ia bawa. Mereka membayangkan betapa hebatnya wanita yang bisa membuat seorang Arlan Aditama menolak godaan para model papan atas di London.
"Kalau begitu, kami tidak berani menahan Anda lebih lama. Pergilah dan nikmati 'hadiah' Anda, Arlan!" seru Sir William sambil menjabat tangan Arlan dengan erat.
Arlan mengangguk singkat, lalu melangkah keluar dari ruang pertemuan dengan langkah yang cepat dan penuh tekad. Pikirannya sudah melayang jauh, membayangkan Amara yang mungkin saat ini sedang menunggunya di ranjang dengan tubuh yang masih nyeri namun tetap pasrah. Ia ingin segera sampai di rumah, ingin kembali menghirup aroma ASI dan keringat manis dari tubuh pengasuh anaknya yang telah menjadi candu paling mematikan bagi sang Tuan Besar.