Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.
Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.
Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.
Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.
Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Tahu Apa-apa
Aula besar itu mendadak bergemuruh, bukan oleh sorak sorai, melainkan oleh bisik-bisik yang saling bertabrakan seperti gelombang pasang yang kehilangan arah. Wajah-wajah muda yang datang dari berbagai penjuru wilayah—dari sekolah-sekolah kedokteran di Jakarta dan sekitarnya—saling berpandangan dengan mata membelalak, seolah baru saja menyaksikan sesuatu yang menyalahi hukum alam.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” seseorang berbisik lirih namun tajam.
“Siapa pemuda itu? Mengapa ia duduk di meja para penguji?” sahut yang lain, tak kalah bingung.
“Bukankah itu Fauzan Arfariza? Bukankah dia juga peserta ujian?”
Nama itu bergaung seperti kilat yang menyambar langit siang. Fauzan Arfariza—seorang mahasiswa yang seharusnya duduk rapi di bangku peserta—kini justru bertengger di kursi kehormatan, tepat di tengah meja penilai. Kursi pusat. Kursi yang menandakan otoritas. Kursi yang menjadi poros keputusan.
Kebingungan menjalar cepat. Mereka yang berasal dari Universitas Kedokteran Jakarta mengenali wajah itu dengan jelas. Tak mungkin salah. Itulah Fauzan, mahasiswa biasa yang selama ini dikenal pendiam, bahkan cenderung diremehkan. Bagaimana mungkin ia kini duduk sejajar dengan para Dokter senior, bahkan memimpin penilaian?
Herlambang Ahda, yang berdiri di barisan belakang, tertegun seolah tubuhnya dipaku ke lantai. Ponsel di tangannya berhenti bergetar; pesan yang hendak dikirimkan pun terhenti di udara. Otaknya menolak menerima kenyataan di hadapannya. Ia menatap ke depan, menatap Fauzan, lalu menatap lagi, seolah berharap pandangannya kabur dan semua ini hanyalah ilusi.
Di sisi lain, Ronny Sasongko terdiam membatu. Mulutnya sedikit terbuka, napasnya tercekat. Ada apa dengan adik ketigaku ini? batinnya bergolak. Apakah ia benar-benar mengira dirinya seorang penguji? Namun jauh di lubuk hatinya, muncul getaran aneh—getaran antara ketakutan dan keyakinan yang belum berani ia akui.
“Diam!”
Suara itu menggelegar, memotong riuh rendah aula dengan satu tebasan kata. Otoritatif. Tegas. Tak terbantahkan. Semua kepala serentak menunduk.
Yang berbicara adalah Ahmad Sudrajat Hutapea, Dekan Rumah Sakit Pengobatan Tradisional. Sosoknya berdiri seperti tiang agung di tengah badai. Begitu namanya terucap, keheningan langsung menguasai ruangan.
“Saya Ahmad Sudrajat Hutapea,” ucapnya lantang, suaranya mengalir penuh wibawa. “Saya menyambut para mahasiswa yang hadir dalam ujian Dokter magang hari ini. Selanjutnya, saya akan memperkenalkan jajaran penguji.”
Tangannya terangkat, menunjuk satu per satu.
“Ini adalah Dokter Sofyan Drajat.” Tepuk tangan sopan mengalir.
“Ini adalah Sanro Maega, maestro Pengobatan Tradisional dari Kota Jakarta.” Tepuk tangan lebih meriah, penuh hormat.
Lalu, dengan jeda yang terasa seperti tarikan napas panjang takdir, ia melanjutkan,
“Dan ini… adalah Dokter Fauzan Arfariza, ketua tim penilai hari ini.”
Dunia seakan berhenti berputar.
Tepuk tangan terhenti di udara. Beberapa mahasiswa membeku dengan telapak tangan setengah terangkat. Ronny Sasongko nyaris menjatuhkan rahangnya. Dia benar-benar penguji… pikirnya, nyaris tak percaya. Semua yang ia katakan… nyata.
Natasya Dermawan—yang beberapa saat lalu masih menyunggingkan senyum sinis—kini pucat pasi. Jantungnya berdegup kacau. Barusan, ia dan rekannya menertawakan Fauzan, menyebutnya tak layak bahkan untuk mengikuti ujian. Mereka mencoba menyingkirkannya dengan jalur belakang. Namun kini, lelaki yang mereka hina justru berdiri di puncak, memegang palu keputusan.
Herlambang Ahda mencubit pahanya keras-keras. Rasa nyeri menjalar, membuatnya meringis. Air matanya hampir keluar. Ini nyata, batinnya bergetar. Bukan mimpi.
“Baik,” lanjut Ahmad Sudrajat Hutapea dengan nada resmi. “Ujian wawancara dimulai. Peserta pertama, Natasya Dermawan, silakan maju.”
Tiga posisi magang tersedia. Semula, Herlambang Ahda telah mengatur segalanya—berbicara dengan Sofyan Drajat agar Natasya maju pertama dan diluluskan tanpa hambatan. Namun siapa sangka, sang Dekan turun tangan langsung, dan poros penilaian berpindah ke tangan Fauzan Arfariza.
Dengan langkah berat, Natasya maju. Ia membungkuk hormat di hadapan meja penguji. Namun keringat dingin membasahi telapak tangannya.
Sanro Maega membuka suara, suaranya serak namun berisi kebijaksanaan tua.
“Mahasiswi, pertanyaan pertama. Bagaimana engkau memahami makna ‘mengolah dan memurnikan diri, meski tak terlihat manusia, namun diketahui langit oleh hati’?”
Sebagai tabib tua yang menjunjung tinggi etika, Sanro Maega menempatkan kebajikan sebagai akar ilmu. Itulah sebabnya kalimat itu terpampang di depan Restoran miliknya—sebuah pengingat akan sumpah hati.
“Aku… aku…”
Natasya tergagap. Wajahnya memerah. Ia tak pernah mendengar ajaran itu. Ujian ini, baginya, hanyalah formalitas.
Sofyan Drajat menghela napas pelan, lalu berkata, “Sanro Maega, mungkin etika medis belum banyak diajarkan. Bagaimana jika pertanyaan diganti?”
Fauzan menangkap maksud itu seketika. Jadi koneksinya ada di sini, batinnya tenang.
Sanro Maega mengangguk kaku. “Baik. Jelaskan perbedaan antara Tapak Darah Merah dan Tapak Darah Putih.”
Pertanyaan sederhana bagi mereka yang sungguh belajar. Namun bagi Natasya, itu seperti bahasa asing.
“Ini…”
Ia kembali terdiam.
Di bawah panggung, Herlambang Ahda memberi isyarat gelisah. Sofyan Drajat pun kembali mencoba menyelamatkan.
“Sanro Maega, ini terlalu khusus. Bagaimana jika yang lebih mudah?”
Kening Sanro Maega berkerut. Wajahnya menggelap.
Saat itulah Fauzan berbicara, suaranya tenang namun menusuk.
“Dokter Sofyan, menurut Anda apa yang paling mudah?”
Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis.
“Bagaimana jika Tang Tou Ge? Seorang calon Dokter seharusnya menghafalnya.”
Sofyan Drajat terdiam. “Baik.”
Fauzan menatap Natasya. “Silakan lantunkan Tang Tou Ge.”
Ia mengenalnya terlalu baik. Dulu, Fauzan berkali-kali memintanya menghafal. Namun Natasya lebih memilih kesenangan sesaat. Kini, kelalaian itu menuntut balas.
“Aku… aku tidak bisa…”
Kata-kata itu keluar lirih, penuh getir.
Sanro Maega menghentakkan meja.
“Tidak bisa ini, tidak tahu itu. Apa yang kau pelajari selama ini? Dari mana keberanianmu datang ke sini?”
Ia menutup dengan vonis tegas, “Engkau gagal.”
Sofyan Drajat mencoba bertahan, menyebut citra dan penampilan. Namun kemarahan Sanro Maega dan dinginnya suara Ahmad Sudrajat Hutapea menghantamnya tanpa ampun.
“Ini bukan kontes kecantikan!”
“Mulai sekarang, Dokter Sofyan tidak lagi menjadi penguji.”
Kata-kata itu jatuh seperti palu pengadilan.
Fauzan menatap Natasya dengan senyum samar.
“Hasilmu tidak memuaskan. Silakan pergi.”
Amarah meledak.
“Ini semua ulahmu!” teriak Natasya.
Namun Sanro Maega menukas dingin, “Ketidaktahuanmu sendiri yang menjatuhkanmu.”
Saat itulah Herlambang Ahda berdiri, kehilangan kendali.
“Dia hanya mahasiswa biasa! Apa haknya menjadi penguji?!”
Pertanyaan itu menggantung di udara, seperti panah yang dilepaskan—namun belum tahu akan menancap di mana.
Wajah Ahmad Sudrajat Hutapea mengeras seketika ketika ada seseorang yang berani mempertanyakan identitas Fauzan Arfariza. Tatapannya menjadi setajam bilah Pedang Dao yang baru diasah, lalu dengan suara berat dan penuh wibawa ia berkata,
“Dokter Fauzan adalah pewaris Sembilan Jarum Kebangkitan, Dekan Kehormatan Rumah Sakit Pengobatan Tradisional Kota Jakarta, sekaligus Kakak Seperguruan dari Sanro Maega, Guru Tua Restoran Tapak Darah. Menurutmu, apakah dia tidak pantas duduk di sini?”
Kata-kata itu meluncur seperti guntur di siang bolong.
“
Aku…”
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT