Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.
Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.
Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.
Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?
Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?
Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Safira
Setelah Ustadz Hasyim dan Bagas pergi dengan wajah penuh kekhawatiran, Arga duduk sendirian di ruang tamu yang gelap. Ia tidak menyalakan lampu. Hanya duduk dalam kegelapan dengan kepala tertunduk, tangan terkepal di atas paha.
Kata-kata Ustadz Hasyim terus berputar di kepalanya.
Ikatan yang tidak seharusnya terjadi.
Nikah dua alam.
Tersedot energi hidup.
Mati muda.
Terjebak di alam gaib selamanya.
Arga tertawa pahit. Tertawa yang terdengar menyedihkan di ruangan yang sunyi itu.
"Mati muda," gumamnya pelan. "Terjebak selamanya. Kenapa itu terdengar lebih baik daripada hidup sendirian di dunia ini?"
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Lelah. Sangat lelah.
Kenapa hidupnya jadi sekacau ini? Kenapa setiap kali ia mencoba bahagia, selalu ada yang salah? Dulu Ratih. Sekarang Safira.
Bedanya, Ratih mengkhianatinya. Sementara Safira... Safira justru satu-satunya yang memberinya kehangatan.
"Arga?"
Suara lembut itu membuatnya mengangkat kepala. Dan di sudut ruangan, Safira berdiri dengan gaun putihnya yang berkibar pelan. Wajahnya terlihat sangat sedih. Matanya merah, seperti habis menangis.
"Safira..." Arga berdiri cepat.
"Aku... aku dengar semuanya," Safira bersuara pelan, suaranya bergetar. "Aku dengar apa yang ustadz itu bilang. Aku dengar apa yang Bagas bilang. Dan aku... aku dengar apa yang kamu bilang."
Hening.
Mereka saling menatap dalam kegelapan. Hanya cahaya bulan dari jendela yang menerangi wajah Safira yang pucat.
"Kamu bilang... kamu jatuh cinta padaku," Safira melanjutkan dengan air mata yang mulai mengalir. "Apa... apa itu benar?"
Arga tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Safira dengan tatapan yang dalam. Tatapan yang penuh dengan perasaan yang sudah tidak bisa ia sembunyikan lagi.
Lalu ia mengangguk pelan. "Ya. Aku jatuh cinta padamu, Safira."
Safira menangis. Tubuhnya gemetar hebat. Tangannya menutup mulutnya, berusaha menahan isak tangis yang pecah.
"Kenapa?" tanyanya dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Kenapa kamu bisa jatuh cinta pada sosok seperti aku? Aku... aku bukan manusia, Arga. Aku jin. Aku yang sudah mati lima puluh tahun lalu. Aku yang terjebak di rumah ini tanpa bisa pergi. Kenapa kamu bisa mencintai seseorang seperti aku?"
Arga melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Sampai ia berdiri tepat di depan Safira. Menatapnya dari dekat.
"Karena kamu yang ada di sampingku saat aku hancur," jawab Arga dengan suara yang bergetar. "Kamu yang mendengarkanku saat aku menangis. Kamu yang tidak menghakimiku saat aku lemah. Kamu yang membuat aku merasa... merasa berharga lagi."
"Tapi Arga..." Safira menggeleng dengan air mata yang mengalir deras. "Aku tidak bisa memberikanmu apa-apa. Aku tidak bisa menikah denganmu dengan cara yang benar. Aku tidak bisa memberimu anak. Aku tidak bisa menua bersamamu. Aku... aku hanya bisa ada di malam hari. Hanya bisa muncul saat dunia gelap. Apa itu cukup untukmu?"
"Itu lebih dari cukup," Arga menjawab tegas. Air matanya ikut mengalir sekarang. "Aku tidak butuh pernikahan yang megah. Aku tidak butuh anak kalau harganya adalah hidup tanpa kamu. Aku tidak butuh menua kalau aku harus menua sendirian. Yang aku butuh... yang aku butuh hanya kamu, Safira."
Safira menangis lebih keras. Ia mundur selangkah, menggelengkan kepala. "Tidak... tidak, Arga. Kamu tidak mengerti. Kamu tidak tahu siapa aku sebenarnya. Kamu tidak tahu kenapa aku di sini. Kenapa aku terjebak."
"Lalu ceritakan padaku," Arga melangkah maju lagi, menutup jarak yang dicoba Safira buat. "Ceritakan semuanya. Aku mau tahu. Aku mau mengerti."
Safira menatap Arga dengan mata yang penuh kesedihan. Kesedihan yang sudah terakumulasi selama puluhan tahun. Lalu dengan suara yang bergetar hebat, ia mulai bercerita.
"Aku... aku memang bukan manusia, Arga. Aku jin muslimah. Aku dilahirkan di alam gaib, tapi sejak muda aku sering turun ke dunia manusia. Dan di dunia manusia inilah aku bertemu Arjuna."
Arga mendengarkan dengan seksama, dadanya terasa sesak.
"Aku jatuh cinta padanya," Safira melanjutkan sambil menangis. "Sangat jatuh cinta. Aku bahkan rela meninggalkan alam gaibku, rela menjadi manusia untuknya. Dan Allah mengabulkan. Aku diberi kesempatan hidup sebagai manusia. Aku menikah dengan Arjuna. Kami bahagia. Sangat bahagia."
"Lalu... lalu kebakaran itu?"
Safira mengangguk. "Kebakaran itu datang tiba-tiba. Aku terjebak di dalam rumah. Api membakar tubuhku. Aku mati sebagai manusia. Tapi karena asalku adalah jin, rohku tidak bisa pergi sepenuhnya. Aku terjebak di antara dua dunia. Tidak bisa ke surga karena tubuh manusiaku sudah mati. Tidak bisa kembali ke alam gaib karena aku sudah melepaskan identitasku sebagai jin."
Arga merasakan dadanya semakin sesak. "Dan Arjuna?"
"Arjuna tidak tahu aku sebenarnya jin," Safira tersenyum sedih. "Dia pikir aku manusia biasa. Dan saat aku mati, dia... dia tidak sanggup hidup tanpaku. Seminggu kemudian dia menyusul. Tapi dia pergi ke alam baka. Ke surga. Sementara aku... aku terjebak di sini."
Air mata Arga mengalir semakin deras. Ia tidak bisa membayangkan betapa menyakitkannya posisi Safira. Terjebak sendirian selama puluhan tahun, tidak bisa bertemu dengan orang yang ia cintai.
"Aku terjebak karena ada janji yang belum terpenuhi," Safira melanjutkan dengan suara yang semakin pelan. "Sebelum menikah, Arjuna berjanji akan mencintaiku selamanya. Akan menjagaku sampai akhir hayat. Tapi akhir hayat kami datang terlalu cepat. Janji itu belum sempurna. Dan karena itu... karena itu aku tidak bisa pergi."
"Lalu... lalu kenapa kamu mendekati aku?" Arga bertanya dengan suara yang bergetar. "Kenapa kamu muncul di hadapanku? Kenapa kamu bicara padaku?"
Safira menatap Arga dengan tatapan yang penuh rasa bersalah. "Awalnya... awalnya karena kamu mengingatkanku pada Arjuna. Cara kamu bicara. Cara kamu tertawa. Cara kamu sedih. Semuanya mirip dia. Dan aku... aku kesepian, Arga. Sangat kesepian. Jadi saat kamu datang, saat aku merasakan kesedihanmu yang mirip dengan kesedihanku, aku tertarik. Aku ingin mendekatimu. Ingin bicara padamu."
Arga terdiam. Dadanya sakit mendengar itu. Jadi awalnya Safira hanya mendekatinya karena ia mirip dengan Arjuna?
Tapi Safira langsung melangkah maju, memegang tangan Arga dengan tangan dinginnya. "Tapi dengarkan aku sampai selesai, Arga. Awalnya memang begitu. Tapi semakin lama... semakin aku mengenalmu, semakin aku mendengar ceritamu, semakin aku melihat siapa dirimu yang sebenarnya... aku menyadari sesuatu."
"Apa?" Arga menatap matanya yang berkaca-kaca.
"Aku mencintaimu," Safira berbisik dengan air mata yang mengalir deras. "Aku mencintaimu, Arga. Bukan karena kamu mirip Arjuna. Bukan karena kamu mengingatkanku padanya. Tapi karena kamu adalah kamu. Karena kamu yang mendengarkan aku dengan tulus. Karena kamu yang tidak takut padaku. Karena kamu yang mau menemani aku meski kamu tahu aku bukan dari duniamu."
Arga merasakan jantungnya seperti mau meledak. Safira mencintainya. Wanita yang bukan dari dunianya ini mencintainya.
"Tapi aku takut, Arga," Safira menangis di depan Arga dengan tubuh yang gemetar. "Aku takut aku akan menyakitimu. Aku takut kedekatanmu denganku akan membawamu ke bahaya. Ustadz itu benar. Kalau kita terlalu dekat, kalau ikatan kita terlalu kuat, kamu bisa... kamu bisa mati. Atau terseret ke alam gaibku. Dan aku tidak mau itu terjadi. Aku tidak mau kamu menderita karena aku."
Arga memegang wajah Safira dengan kedua tangannya. Wajah yang dingin tapi terasa sangat berharga di tangannya. "Dengarkan aku, Safira. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi. Aku tidak peduli kalau aku harus mati muda. Aku tidak peduli kalau aku harus terjebak di alam gaib. Yang aku peduli adalah... aku tidak mau kehilanganmu."
"Arga..."
"Ratih meninggalkanku dan aku hampir mati karenanya," Arga berbicara dengan suara yang penuh kesedihan dan kemarahan sekaligus. "Tapi kamu... kamu datang dan menyelamatkanku. Kamu yang membuat aku bisa bernapas lagi. Kamu yang membuat aku merasa hidup. Dan sekarang kamu mau aku melepasmu? Tidak. Tidak, Safira. Aku tidak akan melepasmu. Bahkan kalau dunia bilang ini salah, aku tidak peduli."
Safira menangis sejadi-jadinya sekarang. Ia memeluk Arga dengan erat, tubuhnya yang dingin gemetar di pelukan Arga. "Maafkan aku... maafkan aku, Arga... Aku egois. Aku tahu aku egois tapi aku... aku tidak sanggup melepasmu juga. Aku sudah sendirian terlalu lama. Dan saat aku menemukan kamu, rasanya seperti... seperti aku menemukan alasan untuk tetap ada."
Arga memeluknya lebih erat. Tidak peduli tubuhnya yang dingin seperti es. Tidak peduli hawa yang menyeramkan yang menyelimutinya. Yang ia rasakan hanya kehangatan di dadanya. Kehangatan yang datang dari perasaan ini. Perasaan yang mungkin salah. Mungkin terlarang. Tapi sangat nyata.
"Aku mencintaimu, Safira," bisik Arga di telinga Safira. "Aku tidak peduli kamu jin atau manusia. Aku tidak peduli kamu dari alam mana. Kamu satu-satunya yang membuat hatiku hangat lagi setelah sekian lama membeku."
Safira mengangkat wajahnya, menatap Arga dengan mata yang penuh air mata tapi juga penuh cinta. "Aku juga mencintaimu, Arga. Lebih dari yang pernah aku rasakan. Bahkan lebih dari... lebih dari perasaanku dulu pada Arjuna."
Dan di bawah cahaya bulan yang menerangi ruang tamu yang gelap itu, mereka berpelukan. Dua jiwa yang terluka. Dua hati yang kesepian. Satu dari dunia manusia, satu dari alam gaib.
Berpelukan dalam kehangatan yang paradoks. Tubuh Safira yang dingin tapi membawa kehangatan ke hati Arga. Tubuh Arga yang hangat tapi merasakan dingin yang menenangkan dari Safira.
Dan tanpa mereka sadari, di langit malam itu, bintang-bintang seolah bergerak. Angin bertiup lebih kencang. Daun-daun berguguran.
Alam semesta mencatat.
Mencatat ikatan yang mulai terbentuk.
Ikatan antara dua alam yang seharusnya tidak pernah bersatu.
Ikatan yang akan membawa konsekuensi besar.
Tapi di saat itu, Arga dan Safira tidak peduli. Mereka hanya peduli pada perasaan yang mengalir di antara mereka. Pada cinta yang terlarang tapi sangat nyata ini.
Mereka tetap berpelukan sampai fajar mulai menyingsing. Dan saat cahaya pertama matahari mulai muncul di ufuk timur, Safira perlahan melepaskan pelukannya.
"Aku harus pergi," bisiknya dengan suara yang penuh penyesalan.
"Aku tahu," Arga mengusap air mata di pipi Safira dengan lembut. "Tapi kamu akan kembali malam ini kan?"
Safira tersenyum. Senyum yang meski sedih, tapi penuh cinta. "Ya. Aku akan selalu kembali. Selama kamu masih menungguku, aku akan selalu kembali."
"Aku akan menunggu," Arga berjanji. "Setiap malam. Sampai kapanpun."
Safira mencium kening Arga. Ciuman yang dingin tapi penuh kasih sayang. "Aku mencintaimu, Arga Maheswara."
"Aku mencintaimu, Safira Aluna."
Dan Safira perlahan memudar. Menghilang bersama kabut pagi yang mulai menipis.
Meninggalkan Arga yang berdiri sendirian di ruang tamu dengan air mata yang masih mengalir, tapi dengan senyum di bibirnya.
Senyum seorang pria yang sudah menemukan cinta. Meski cinta itu datang dari tempat yang salah. Dari sosok yang salah. Dari dunia yang salah.
Tapi cinta tetaplah cinta.
Dan Arga sudah memilih.
Ia memilih Safira.
Apapun konsekuensinya.