NovelToon NovelToon
Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Kontras Takdir / Anak Genius / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Mata Batin / Fantasi Wanita
Popularitas:16.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.

Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.

Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.

Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beneran di Situ

Ayam jantan baru berkokok satu kali, langit masih remang-remang biru.

Bu Imah sudah bangun, menanak nasi dan menggoreng tempe untuk bekal.

Saat dia baru selesai membungkus nasi, seisi rumah sudah bangun.

Anak-anak membantu memandikan Mbah Hamid, sementara Pak Halim pergi meminjam gerobak sapi tetangga karena Mbah Hamid tidak kuat jalan jauh ke pasar kecamatan.

Tak lama, rombongan keluarga Pak Halim berangkat menembus kabut pagi.

Di sisi lain, hari baru juga dimulai bagi keluarga Hidayat.

Abah Kosasih sedang menata dagangan di atas punggung kuda tua bernama Jantur.

Kinar menatap kuda pincang itu dengan iba.

"Tur, Jantur... maaf ya, bawaan hari ini agak berat."

"Nduk, sini Ibu gendong saja ya?" Kinar menoleh pada Tari, tak tega membiarkan putrinya naik ke punggung kuda yang sudah penuh muatan kerupuk dan adonan baso ikan.

Kuda itu mendengus pelan, seolah berkata dia masih kuat.

Tapi Abah Kosasih keburu memotong.

"Biar Abah yang gendong."

Pria paruh baya itu berjongkok sambil melambaikan tangan.

"Ayo Tari, naik ke punggung Abah Kung."

Tari terkekeh girang, langsung memanjat punggung kakeknya.

Meski Jantur itu kuat, punggung Abah Kosasih yang hangat jauh lebih nyaman.

Aroma tembakau lintingan dan kasih sayang menguar dari tubuh lelaki tua itu.

"Kamu tuntun Jantur, Nar. Ayo jalan," kata Abah Kosasih pada Kinar.

Mereka pun berangkat.

Di rumah, Mak Sari, Kang Jaka, dan Mira juga sudah sibuk dengan urusan ladang.

Sesampainya di lapak pasar, sudut strategis di bawah pohon beringin, mereka menggelar dagangan.

Aroma minyak panas segera merebak saat Kinar mulai menggoreng sate baso ikan.

Abah Kosasih, dengan senyum misterius, mengeluarkan sesuatu dari tas anyamannya.

"Tari, ini buat kamu."

Itu bukan kain, tapi anyaman janur yang dikeringkan.

Di atasnya tertulis huruf-huruf menggunakan cat hitam.

Tulisan itu agak kaku tapi jelas terbaca. Abah membuatnya semalaman suntuk. Tulisan itu jelas berbunyi:

JASA TERAWANG & SOLUSI

Mahar Pertama: Rp 9.900

Mahar Kedua: Rp 99.000

Mahar Ketiga: Rp 990.000

Papan nama itu sederhana, disangga kayu yang bisa ditancapkan ke tanah.

"Waaah, bagus banget! Makasih Abah Kung!" Tari bersorak, matanya berbinar.

Akhirnya, prakteknya punya plang resmi.

Abah Kosasih tersenyum bangga, lalu menoleh pada Kinar yang sibuk membalik gorengan.

"Nar, nanti malam Abah buatkan juga spanduk buat daganganmu. Kamu pikirkan namanya ya, biar orang gampang ingat."

"Iya, Bah. Nanti kita rembukan lagi," sahut Kinar sambil menyeka keringat.

Dia setuju, dagangan yang enak harus punya nama biar langgeng.

Baru saja dua pembeli pergi membawa bungkus sate baso, serombongan orang datang dengan wajah tegang.

"Mana yang katanya tukang ramal?"

Suara berat Pak Halim memecah keramaian.

Dia berdiri di depan wajan penggorengan Kinar, matanya menyapu tajam, menatap sinis pada Kinar lalu beralih ke Abah Kosasih.

Kinar dan Abah Kosasih saling pandang, bingung.

"Saya. Saya yang bisa melihat nasib," suara kecil yang renyah terdengar.

Tari melangkah keluar dari balik punggung Abah Kosasih.

Wajahnya polos, senyumnya manis, seolah tak terintimidasi sama sekali.

Pak Halim mengernyit.

Edan, batinnya. Istrinya benar-benar ditipu anak bau kencur!

"Saya nggak peduli gimana caranya kalian ngibulin istri saya kemarin. Sekarang, balikin uangnya! Kalau sudah dibalikin, urusan selesai. Kalau nggak, saya teriak maling biar diseret Hansip ke kelurahan!" ancam Pak Halim, napasnya memburu.

"Iya, balikin duit Bapak!" anak sulung Pak Halim ikut menimpali, lagaknya sok jagoan.

Ini sudah direncanakan.

Tadi Mbah Hamid mendadak ingin buang air kecil, jadi Bu Imah mengurusnya dulu di toilet umum pasar.

Pak Halim memanfaatkan momen itu untuk melabrak duluan. Pikirnya, kalau uang sudah balik, istrinya tak perlu malu ketahuan ditipu.

"Sabar, Pak, sabar. Bapak mau uangnya kembali? Baik, saya kembalikan sekarang..." Kinar yang tak mau ribut-ribut di depan lapak dagangannya, buru-buru merogoh tas pinggang.

Tapi tangan kecil Tari menahan lengan ibunya.

Wajah bocah itu berubah serius, aura main-mainnya lenyap.

"Nggak bisa, Bu. Kalau mau dikembalikan, Tari cuma mau kasih ke Ibu Imah yang kemarin ngasih uangnya. Siapa yang bayar, dia yang terima."

"Betul kata Cucu saya. Akadnya sama Ibunya, baliknya ke Ibunya," Abah Kosasih pasang badan, berdiri tegap melindungi cucunya.

Wajah Pak Halim memerah padam.

"Heh, katanya dukun sakti. Masa nggak bisa nerawang kalau saya ini suaminya?" sindir Pak Halim pedas.

Orang-orang pasar mulai berkrumun.

Tontonan gratis di pagi hari.

Tari menatap Pak Halim lurus-lurus.

Tatapannya aneh, membuat bulu kuduk Pak Halim meremang.

"Tari tahu Bapak ini suaminya. Identitas Bapak asli. Tapi kalau Tari kasih uangnya ke Bapak sekarang, nanti sampai rumah Bapak pasti marahin Ibu, bilang Ibu gampang ditipu. Ibu bakal sedih, terus kalian berantem. Tari nggak mau itu kejadian."

Pak Halim terdiam, skakmat.

Apa yang dibilang bocah itu persis seperti isi kepalanya.

Bisik-bisik tetangga mulai terdengar.

"Wah, pinter banget anak ini. Masuk akal omongannya."

"Laki-laki kok gitu, duit segitu aja diminta lagi. Pasti pelit sama bini."

"Jangan-jangan bininya nggak dibolehin ke sini, biar dia bisa nilep duitnya buat beli rokok."

Wajah Pak Halim panas dingin.

Harga dirinya tercabik-cabik.

"Istriku lagi di jalan, sebentar lagi sampai!" sergah Pak Halim dengan suara tercekat.

Pak Halim merasa serba salah.

Dia memang berniat menggunakan kejadian ini untuk menekan istrinya agar tidak boros lagi, dia merasa benar.

Tapi kenapa sekarang dia malah terlihat seperti suami jahat di mata orang-orang pasar?

Untunglah, kerumunan mulai tenang setelah dia menjelaskan istrinya akan datang.

Tapi Pak Halim merasa aneh.

Orang-orang ini sepertinya percaya pada bocah kecil itu. Tidak ada yang mencemooh si "dukun cilik". Aneh sekali.

Tak lama kemudian, Bu Imah datang menuntun Mbah Hamid yang berjalan tertatih.

Melihat suaminya sudah berdiri tegang di depan lapak Kinar, perasaannya tidak enak.

"Pak? Katanya mau nunggu bareng?" tanya Bu Imah kecewa.

Pak Halim menunduk, tak berani menatap mata istrinya.

Rasa bersalah mulai menjalar.

"Bu, itu lho suaminya tadi ngelabrak minta duit balik," celetuk seorang pedagang sayur di sebelah lapak.

Bu Imah menghela napas panjang.

Kecewa, tapi dia wanita yang tahu tempat.

Dia tidak akan memarahi suaminya di depan umum.

Dia menuntun mertuanya mendekati Tari.

"Nduk, Nduk Tari... ini mertua saya, kakek yang kemarin saya ceritakan. Tolong diterawang, di mana dia nyelipin barang itu."

Pak Halim mendengus kasar.

Masih saja! Dia mengawasi dengan mata elang, siap menyemprot kalau bocah itu mulai ngawur.

Rumah mereka itu rumah berdinding anyaman bambu dan setengah tembok, lantainya tanah keras. Sudah digali pun tak ada!

Mbah Hamid yang pikun melihat tumpukan sate baso ikan di nampan Kinar.

Matanya berbinar, tangan keriputnya langsung menyambar.

"Eh, Mbah, jangan!" Bu Imah sigap menahan tangan mertuanya.

"Ini dagangan orang, Mbah. Nanti Imah belikan, ya."

Bu Imah buru-buru mengeluarkan permen gula asem dari saku daster dan menyuapkannya ke mulut Mbah Hamid.

Orang tua itu pun tenang kembali, mengemut permen dengan nikmat.

Tari menatap Mbah Hamid.

Seketika, kilasan memori berputar di matanya, bukan sihir yang terlihat mata biasa, tapi Tari melihat jejak energi.

Dia memberi isyarat tangan.

"Ibu, sini telinganya."

Bu Imah mendekat, penuh harap.

Tari berbisik membocorkan lokasi rahasia itu.

Mata Bu Imah membelalak lebar.

"Demi Allah? Beneran di situ, Nduk?"

Tari mengangguk mantap.

Pak Halim mendengus sinis.

"Halah, paling ngarang."

Bu Imah menatap suaminya tajam, lalu berkata pada Tari,

"Makasih ya, Nduk. Kami pulang dulu."

"Lho? Kok pulang? Duitnya gimana?" Pak Halim panik.

"Dia ngomong apa? Kamu jangan mau dibego-begoin! Dia cuma anak kecil, Mah! Kita rugi sembilan ribu sembilan ratus!"

"Pak, sudah! Malu dilihat orang!" bisik Bu Imah menahan emosi.

"Nggak bisa! Kalau ternyata di rumah nggak ada, besok uang ini hangus!" Pak Halim ngotot.

Tatapannya pada Tari dan keluarganya mulai nyalang.

Abah Kosasih dan Kinar sudah siap pasang badan.

Tiba-tiba Tari berkata lantang, suaranya tenang tapi berwibawa.

"Bapak nggak percaya kan? Makanya Bapak mau uangnya balik."

"Begini saja. Uangnya Tari balikin sekarang. Tapi... ada syaratnya. Kalau nanti sampai rumah ternyata uangnya ketemu di tempat yang Tari bilang, besok Bapak dan Ibu harus balik lagi ke sini. Bayar mahar tingkat kedua: Sembilan puluh sembilan ribu rupiah. Kalau nggak bayar, rezeki keluarga Bapak bakal seret setahun. Gimana? Berani?"

Tari menengadahkan tangan pada Ibunya.

"Bu, mana uang Ibu kemarin."

Kinar, meski ragu, menyerahkan uang itu.

Tari menyodorkan lembaran uang itu ke Pak Halim.

"Nih. Kalau Bapak terima uang ini, berarti Bapak sepakat sama perjanjiannya."

"Pak, jangan Pak..." Bu Imah memegang lengan suaminya, memohon.

"Kalau beneran ketemu, kita malah rugi banyak. Percaya saja kenapa sih?"

Tapi ego Pak Halim sudah di ujung tanduk.

Dia menyambar uang itu dari tangan Tari.

"Oke! Siapa takut? Orang nipu kok nyumpahin sial."

"Maafin suami saya ya, Nduk, Pak, Bu..." Bu Imah menangkupkan tangan meminta maaf pada keluarga Hidayat, matanya berkaca-kaca.

Tari hanya tersenyum tipis, melambaikan tangan.

"Hati-hati di jalan, Ibu."

Rombongan Pak Halim pun pulang.

Perjalanan pulang terasa sangat panjang.

Pak Halim mencoba mengajak ngobrol, tapi Bu Imah berjalan cepat di depan, wajahnya mendung.

Anak-anak mereka pun diam seribu bahasa.

Begitu sampai di rumah, Bu Imah tidak ganti baju.

Dia langsung pergi ke dapur, mengambil linggis kecil dan serok abu.

Dia menuju luweng di pojok dapur.

Pak Halim yang baru masuk rumah kaget.

"Ngapain kamu ngudak-ngudak tungku? Itu kan tembok solid, Mah! Nggak mungkin Bapak nyimpen di situ, panas!"

Bu Imah diam saja.

Dia mengetuk-ngetuk dinding bagian bawah tungku yang tertutup abu tebal.

Tuk. Tuk.

Dung.

Suaranya beda.

Ada rongga.

Jantung Bu Imah berdegup kencang.

Dia mulai mencongkel batu bata yang terlihat longgar itu.

"MALING! ADA MALING!"

Tiba-tiba Mbah Hamid berteriak histeris dari kursi rotannya.

Dia menyambar sapu lidi, hendak memukul Bu Imah.

Wajahnya panik luar biasa, seolah hartanya mau dirampok.

"Bapak! Sabar Pak! Ini Imah, menantu Bapak!" Pak Halim kewalahan memegangi ayahnya yang mengamuk.

"Maling! Jangan ambil! Jangan ambil!" Mbah Hamid meronta-ronta.

Reaksi ayahnya itu membuat lutut Pak Halim lemas.

Jangan-jangan...

Krak.

Batu bata itu terlepas.

Bu Imah merogoh ke dalam rongga gelap yang penuh jelaga itu.

Tangannya menyentuh sesuatu yang dingin dan keras.

Dia menariknya keluar.

Sebuah kaleng biskuit Khong Guan bekas yang sudah karatan dan hitam kena asap.

Berat.

"Ya Allah..." Bu Imah terduduk lemas di lantai tanah, memeluk kaleng itu sambil menangis meraung.

"Lihat Pak! Lihat! Bapak lihat sendiri kan?!"

Pak Halim mematung.

Wajahnya pucat pasi.

Mbah Hamid yang tadinya mengamuk, tiba-tiba tenang kembali setelah melihat kaleng itu 'aman' di pelukan menantunya.

Dia kembali duduk sambil senyum-senyum kosong.

"Pak, buka..." isak Bu Imah.

Dengan tangan gemetar, Pak Halim membuka tutup kaleng itu.

Di dalamnya, terbungkus kain lusuh, ada gulungan uang ratusan ribu, puluhan ribu, dan beberapa cincin emas peninggalan almarhumah ibu mertua.

Harta keluarga mereka. Utuh.

"Huuu... huu..." Tangis Bu Imah pecah semakin keras.

Dia memukuli paha suaminya.

"Puas Bapak sekarang? Puas?! Uang sembilan ribu perak Bapak eman-eman, sekarang kita utang sembilan puluh sembilan ribu sama Nduk Tari Pak!"

Bu Imah menangis bukan cuma karena uangnya ketemu, tapi karena malu.

Malu pada Tari, malu pada Tuhan karena suaminya begitu angkuh.

Dan takut pada 'denda' yang dibilang bocah itu. Sembilan puluh sembilan ribu itu uang yang sangat banyak.

Pak Halim terduduk lemas.

Dia menatap tumpukan uang itu dengan tatapan kosong.

Rasa bersalah dan kikir berperang di batinnya.

"Dia... dia kan nggak tahu rumah kita di mana, Mah..." cicit Pak Halim pelan, suara setannya keluar.

"Kita nggak usah ke pasar itu lagi aja. Toh uangnya sudah ketemu. Masak anak kecil bisa bikin kita sial beneran..."

Bu Imah menatap suaminya tak percaya.

1
Lala Kusumah
😭😭😭😭😭😭
Enah Siti
suami edan pngen ku baco tu suryo 😡😡😡😡😡😡😡
gina altira
untung Abahnya Tari itu pinter, cerdas dan bijaksana
gina altira
dibikin lumpuh aja si suryo ini
gina altira
Suryo pengecut
Ebhot Dinni
ayo semangat kinar
Allea
ka Author aku boleh titip nanya ga ma Tari tolong terawang anting2 dan gelang aku keselip apa ada yg ambil soalnya raib dari tempatnya 😁
Allea: paham ka
ke 1 9,900
ke 2 99.000
ke 3 999.000 kan y 🤭
total 2 replies
Kusii Yaati
kasian keluarga kinar, mantan suami tak tahu diri itu ngusik terus.nggak ada yang belain.kirimkan pahlawan yang bisa membantu dan melindungi kinar dan keluarganya Thor 😟
Sribundanya Gifran
lanjut
Aretha Shanum
bingung ko ga kelar2 tuh si suryo ma antek2, pdhal karna udah jalan y tpi ga sadar2, malsh makin jadi, jangan stak alurnya nanti bosen🙏
Pawon Ana
pada masa lampau banyak orang2 yang Waskita karena hati mereka bersih,sekarang mencari orang benar2 berhati bersih seperti mencari jarum ditumpukan jerami 😔
Sribundanya Gifran
lanjut thor
mom SRA
baru mampir..bagus bgt ini...
Lili Aksara
Bagus sekali cerita ini, suka banget deh, udah gitu sering update.
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
membaca ceritamu sambil flashback kenangan masa lampau, dulu dibelakang rumah bapak jug nanam buah juwet yng rasnya asem2 sepet tapi kadang juga ada rasa manisnya,ada juga buah salam.✌️🤭
Pawon Ana: wayang kakak bukan walang kekek🤭
ditempatku ada yng namanya suket teki,suketnya panjang cuma satu tangkai,sama anak2 biasanya dibentuk serupa wayang buat mainn🤭✌️
total 4 replies
🌸nofa🌸
Asli ketawa ngakak🤣🤣
Lili Aksara
Tari, ancurin aja lah tuh pak Halim, udah salah juga, tapi masih bilang tapi kan dia nggak tahu rumah kita.
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut, tambah seruuuuu nih, semangat sehat ya 💪💪🙏🙏
el 10001
tapi novel nya keren semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!