(WARISAN MUTIARA HITAM SEASON 4)
Chen Kai kini telah menapakkan kaki di Sembilan Surga, namun kisahnya di Alam Bawah belum sepenuhnya usai. Ia mempercayakan Wilayah Selatan ke tangan Chen Ling, Zhuge Ming, dan Gui. Sepuluh ribu prajurit elit yang berhutang nyawa padanya kini berdiri tegak sebagai benteng yang tak tergoyahkan.
Sebuah petualangan baru telah menanti. Sembilan Surga bukanlah surga penuh kedamaian seperti bayangan orang awam; itu adalah medan perang kuno para Kaisar Agung, tempat di mana Mutiara Hitam menjadi incaran seluruh Dewa.
Di Sembilan Surga, hukum duniawi tak lagi berlaku. Di sana, yang berkuasa hanyalah Kehendak Mutlak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian di Bawah Sinar Rembulan
Cahaya matahari perak yang menyelinap di balik Sembilan Surga mulai memudar, namun ketegangan di puncak Paviliun Penyulingan Awan justru semakin memadat. Chen Kai berdiri tenang di antara para alkemis yang masih terengah-engah setelah menyerap sisa-sisa Embun Kristal Surga. Di balik jubahnya, Catatan Perak yang dicurinya memancarkan denyutan energi yang hanya bisa dirasakan oleh Mutiara Hitam.
Tetua Yun masih memperhatikannya. Tatapan wanita tua itu tajam.
"Kau tampak sangat tenang," suara Tetua Yun memecah kesunyian ritual yang baru saja berakhir. "Biasanya, seorang pendaki yang baru mencapai terobosan akan mengalami fluktuasi energi yang hebat. Tapi kau... seolah-olah seluruh Esensi Dewa di sekitarmu telah tunduk padamu."
"Saya hanya mencoba mengendalikan apa yang saya terima, Tetua," jawab Chen Kai dengan nada rendah yang penuh hormat palsu. "Lembah Hening mengajarkan saya bahwa emosi adalah musuh dari pemurnian."
Sebelum Tetua Yun sempat membalas, sebuah teriakan melengking terdengar dari arah menara belakang—area Arsip Kuali.
"PENCURIAN! SEGEL ARSIP PECAH!"
Wajah Tetua Yun berubah pucat seketika. "Apa?!"
Tanpa mempedulikan protokol, ia melesat seperti kilat menuju arsip. Chen Kai tidak membuang waktu. Ini adalah jendela pelariannya. Menggunakan kekacauan yang terjadi, ia mundur perlahan ke arah tangga luar, lalu menghilang ke dalam bayang-bayang menggunakan Langkah Hampa.
Satu Jam Kemudian - Gang Kabut Hitam.
Chen Kai mendarat dengan senyap di depan bengkel tuanya. Mo Yan dan Ah-Gou sudah menunggu dengan barang-barang yang telah dikemas.
"Tuan! Seluruh kota mulai ditutup!" bisik Ah-Gou dengan wajah panik. "Unit Penjaga Hampa telah menyebar di setiap gerbang. Mereka mencari seseorang dengan aura aneh!"
"Mereka sudah tahu," kata Chen Kai, melepaskan penyamaran Cincin Kerudung Malam sejenak untuk mengatur napas. "Mo Yan, apakah jimat pengalih sudah kau pasang?"
"Sudah, Tuan. Saya menempatkannya di saluran limbah Sektor 1. Begitu mereka mendeteksinya, mereka akan mengira Tuan lari ke arah sebaliknya," jawab Mo Yan, meskipun tangannya masih gemetar.
Chen Kai mengangguk. "Bagus. Kita tidak akan keluar lewat gerbang utama. Kita akan keluar lewat 'Luka Langit' di sisi utara pulau."
"Luka Langit?" Mo Yan terbelalak. "Tuan, itu adalah retakan dimensi yang tidak stabil! Bahkan kapal pun jarang berani lewat sana!"
"Di situlah letak keamanannya," Chen Kai menarik Pedang Meteor Hitam. Bilah pedangnya kini memancarkan cahaya ungu redup—tanda bahwa ia telah selaras dengan Tahap Menengah. "Ikuti aku. Jangan lepaskan kontak dengan auraku."
Mereka bergerak cepat melintasi atap-atap bangunan Distrik Bawah. Di atas mereka, lusinan cakram energi para penjaga berterbangan, memindai setiap sudut kota dengan cahaya pencari.
Tepat saat mereka mencapai pinggiran pulau melayang, sesosok bayangan menghalangi jalan mereka. Itu adalah seorang komandan patroli tingkat Manifestasi Dao Tahap Awal, menunggangi seekor Elang Kristal.
"Berhenti, tikus-tikus bawah!" raung komandan itu. "Identifikasi diri kalian atau jadilah pupuk bagi awan!"
Ia tidak melambat. Sebaliknya, ia melesat maju.
"Tuan, hati-hati! Dia setingkat Manifestasi!" teriak Mo Yan.
Chen Kai mengabaikan peringatan itu. Dengan kekuatan Dewa Awal Tahap Menengah, persepsinya tentang ruang telah meningkat drastis. Ia melihat aliran Esensi Dewa di tubuh sang komandan, melihat celah di mana zirah energinya paling tipis.
"Hukum Gravitasi"
Tekanan udara di sekitar Elang Kristal mendadak melonjak. Burung raksasa itu memekik saat sayapnya tiba-tiba terasa seberat gunung, memaksanya jatuh menukik ke bawah. Sang komandan terlempar dari pelananya, namun ia berhasil menyeimbangkan diri di udara.
"Berani sekali kau melawan hukum surga!" sang komandan menarik pedang cahayanya, menebas ke arah Chen Kai.
Chen Kai mengangkat tangan kirinya.
"Hukum Ruang: Pergeseran."
Tebasan cahaya yang seharusnya membelah tubuh Chen Kai tiba-tiba "tertekuk" di udara, muncul kembali di belakang sang komandan dan menghantam punggungnya sendiri.
BOOM!
Komandan itu terlempar ke arah tebing kota, pingsan seketika oleh serangannya sendiri.
Chen Kai tidak berhenti untuk melihat hasilnya. Ia menyambar pundak Mo Yan dan Ah-Gou.
"Tahan napas kalian!"
Mereka melompat dari tepi pulau melayang, terjun bebas menuju retakan dimensi yang bergolak di bawah mereka. Di saat yang sama, di pusat kota, Tetua Yun baru saja menemukan Yan yang pingsan dan menyadari bahwa Catatan Perak milik Kaisar Yao telah hilang.
Tetua Yun dengan amarah yang dingin. "Siapa pun kau sebenarnya, kau telah membangunkan murka Sekte Kuali Awan."
Namun, di tengah badai dimensi Luka Langit, Chen Kai menyeringai. Ia bisa merasakan arah baru yang berdenyut dari Catatan Perak di Dantiannya.
"Lembah Nafas Naga," gumam Chen Kai di tengah deru angin. "Aku datang untuk mengambil kembali apa yang menjadi milik guruku."
Perjalanan Sang Raja Hitam di Sembilan Surga kini benar-benar telah melampaui sekadar bertahan hidup; ia mulai memburu takdirnya.
terimakasih Thor 🙏🙏🙏
dan semoga kedepannya lebih bagus lagi
Kai.... sikat semua dewa2 palsu nya
BTW.... pasti dewa2 Asli nya jadi tahanan mereka ya ?.......... 💪💪💪💪