Seorang pembaca muak dengan novel bacaannya yang dimana para antagonis jenius dengan latar belakang tragis selalu kalah konyol oleh Long Tian, protagonis yang menang hanya bermodal "Keberuntungan Langit".
Saat bertransmigrasi ke dalam novel, dia menjadi Han Luo, NPC tanpa nama yang ditakdirkan mati di bab awal, ia menolak mengikuti naskah. Berbekal pengetahuan masa depan, Han Luo mendirikan "Aliansi Gerhana". Ia tidak memilih jalan pahlawan. Ia mengumpulkan para villain yang seharusnya mati dan mengubah mereka menjadi senjata mematikan.
Tujuannya satu: Mencuri setiap peluang, harta, dan sekutu Long Tian sebelum sang protagonis menyadarinya.
"Jika Langit bertindak tidak adil, maka kami akan menjadi Gerhana yang menelan Langit itu sendiri." Ini adalah kisah tentang strategi melawan takdir, di mana Penjahat menjadi Pahlawan bagi satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir di Kebun Herbal
DENG!
Suara gong tembaga bergetar hebat, mengirimkan gelombang kejut yang membuat debu di sekitarnya beterbangan. Long Tian berdiri dengan napas terengah-engah, tinjunya masih menempel pada permukaan gong raksasa itu. Urat-urat di lengannya menonjol, bukti dari pengerahan tenaga yang ekstrem.
Jarum indikator pada gong itu melesat naik, melewati angka 300 jin, 500 jin, dan berhenti bergetar tepat di angka 800 jin.
Keheningan melanda lapangan sesaat.
Untuk seorang pemuda berusia enam belas tahun, kekuatan fisik 800 jin adalah sesuatu yang mengerikan. Itu setara dengan kekuatan seekor kerbau jantan dewasa.
"Lumayan," komentar Tetua Penguji, nadanya sedikit melunak tapi masih dingin. "Fisikmu kuat. Sayang sekali... tanpa Akar Roh yang baik, tubuh itu hanya wadah kosong. Kau hanya akan menjadi samsak tinju yang awet di dunia kultivasi."
Han Luo, yang berdiri tak jauh dari panggung, mengangguk dalam hati. Analisis yang tepat. Di dunia ini, Qi adalah raja. Otot hanyalah pelayan.
Long Tian menarik tangannya, wajahnya penuh harap. Dia menoleh ke arah tribun VIP, tepatnya ke arah Peri Lin yang tadi memberinya kesempatan.
Peri Lin mengangguk pelan, wajahnya tetap sedingin es. "Kekuatan fisik adalah fondasi. Sekte Pedang Awan tidak kekurangan jenius sihir, tapi kita kekurangan orang yang mau bekerja keras. Masukkan dia."
Tetua Penguji membungkuk pada Peri Lin, lalu menatap Long Tian dengan pandangan meremehkan.
"Long Tian, dengar keputusanku!" suaranya menggelegar. "Meskipun Akar Rohmu sampah, karena belas kasihan Peri Lin, kau diterima! Tapi jangan bermimpi menjadi Murid Luar. Kau diterima sebagai Murid Pekerja!"
Murid Pekerja.
Kasta terendah di sekte. Lebih rendah dari Murid Luar seperti Han Luo. Mereka pada dasarnya adalah budak yang diberi sedikit teknik kultivasi dasar sebagai upah.
"Tugasmu adalah merawat Kebun Herbal Divisi Barat. Kau akan tinggal di gubuk pekerja di samping kebun. Jika ada satu tanaman mati, nyawamu gantinya!"
Wajah Long Tian sedikit kecewa, tapi dia segera mengepalkan tinju dan membungkuk dalam-dalam. "Terima kasih atas kesempatan ini, Tetua! Terima kasih, Peri Senior!"
Di matanya, api tekad masih menyala terang. Han Luo bisa membacanya: 'Tidak masalah aku mulai dari bawah. Aku akan membuktikan mereka semua salah.'
"Naif," batin Han Luo. "Kau pikir Kebun Herbal Divisi Barat adalah tempat yang aman? Itu adalah tempat buangan di mana manajer kebunnya adalah seorang sadis yang suka memotong gaji murid."
Tapi kemudian, otak Han Luo berputar.
Tunggu. Kebun Herbal Divisi Barat?
Han Luo menyipitkan mata. Ingatan ensiklopedisnya membuka halaman-halaman awal novel.
Di novel asli, Long Tian masuk sebagai Murid Luar yang bangga. Dia tidak pernah menyentuh Kebun Herbal. Kebun itu hanyalah latar belakang. Tapi Han Luo ingat ada sub-plot di Bab 70 di mana seekor Ulat Sutra Es Rohani ditemukan di kebun itu oleh seorang NPC acak, yang kemudian membuat NPC itu kaya mendadak.
Dan sekarang, Long Tian ditempatkan tepat di sana.
"Sial," umpat Han Luo pelan. "Aku mencoba menjatuhkannya ke lumpur, tapi lumpur itu ternyata berisi emas tersembunyi. Dao Langit benar-benar bekerja lembur untuk memperbiki plot yang kurusak."
Jika Han Luo membiarkan ini, Long Tian pasti akan menemukan Ulat Sutra itu dan mendapatkan modal untuk bangkit kembali.
"Aku harus ke sana," putus Han Luo. "Aku harus mengambil ulat itu sebelum Long Tian menyadari nilainya."
Sore harinya, pembagian atribut selesai.
Lapangan yang tadinya penuh sesak kini mulai sepi. Para murid baru digiring ke asrama masing-masing.
Perbedaan perlakuan itu sangat mencolok, membuat perut Han Luo mual.
Liu Feng, si jenius Akar Roh Emas, dijemput oleh seorang Tetua dengan kereta terbang yang ditarik oleh bangau raksasa. Dia diberi jubah sutra ungu, token giok, dan tempat tinggal di Puncak Awan Utama yang kaya akan Qi. Para pelayan berebut membawakan tasnya.
Sementara Long Tian?
Dia diberi jubah abu-abu kasar yang ukurannya terlalu besar, sebuah cangkul berkarat, dan diperintahkan berjalan kaki menuju kaki gunung bagian barat yang lembap dan suram. Tidak ada yang menemaninya. Bahkan gadis desa yang tadi dibantunya sekarang menjauh, takut tertular nasib buruk si "Sampah Lima Elemen".
Han Luo selesai dengan tugas jaganya. Dia mengembalikan pedang inventaris ke gudang senjata, lalu berjalan menuju area Murid Luar.
Namun, dia tidak langsung pulang ke gubuknya. Dia mengambil jalan memutar, menyusuri jalur setapak yang menuju ke arah Kebun Herbal Barat. Dia bergerak di balik pepohonan, menggunakan teknik pernapasannya untuk menyembunyikan hawa keberadaannya—kebiasaan baru yang dia pelajari dari Sutra Seribu Wajah (meski belum sempurna).
Dia melihat Long Tian sedang berdiri di depan sebuah gubuk reot di pinggir kebun herbal yang luas. Gubuk itu lebih buruk dari milik Han Luo. Atapnya bocor dan dindingnya miring.
Seorang pria gemuk dengan wajah berminyak dan gigi emas sedang membentak Long Tian sambil menunjuk-nunjuk hidungnya. Itu adalah Manajer Ma, pengawas kebun herbal yang terkenal korup.
"Dengar, bocah kampung!" bentak Manajer Ma. "Tugasmu adalah menyiram 500 hektar tanaman Rumput Roh Bulan ini setiap hari sebelum matahari terbit! Airnya harus diambil dari Mata Air Dingin di puncak tebing sana, bukan air sungai! Jika kau malas, aku akan mematahkan kakimu!"
Long Tian menunduk. "Baik, Manajer Ma."
"Dan serahkan Batu Roh jatah bulan pertamamu sebagai biaya 'keamanan'!" Manajer Ma merampas kantong kecil yang baru saja diterima Long Tian dari sekte. Isinya hanya 1 Batu Roh Rendah—gaji sebulan untuk Murid Pekerja.
Long Tian hendak protes, tapi Manajer Ma sudah meludahi tanah dan pergi dengan angkuh.
Han Luo melihat semua itu dari balik pohon besar berjarak lima puluh meter.
Di novel asli, Long Tian akan melawan penindasan seperti ini dengan gagah berani, lalu memukul wajah Manajer Ma, yang ternyata memicu kekaguman dari Tetua yang lewat.
Tapi sekarang? Long Tian diam saja. Dia tidak punya kekuatan, tidak punya dukungan Kakek Tua, dan statusnya paling rendah. Dia menelan penghinaan itu.
"Dia belajar menahan diri," analisis Han Luo. "Ini berbahaya. Musuh yang sabar lebih menakutkan daripada musuh yang meledak-ledak."
Long Tian masuk ke dalam gubuk reotnya.
Han Luo terdiam sejenak. Dia memegang dagunya, berpikir.
Lokasi Ulat Sutra Es Rohani itu ada di Sektor 3 Kebun Herbal, di bawah daun tanaman Ginseng Darah. Ulat itu hanya keluar saat bulan purnama.
"Bulan purnama..." Han Luo menatap langit sore. "Tiga hari lagi."
Dia punya waktu tiga hari untuk merumuskan rencana menyusup ke wilayah kerja Long Tian tanpa ketahuan, mengambil ulat itu, dan pergi.
Tapi ada satu masalah.
Han Luo merasakan perutnya berbunyi lagi. Masalah klasik: Sumber Daya.
Dia punya 14 Batu Roh dan Koin Resonansi Pedang. Dia butuh meningkatkan kekuatannya sebelum melakukan misi penyusupan. Jika dia tertangkap basah di Kebun Herbal malam hari, hukumannya berat.
"Paviliun Kitab Kuno," gumam Han Luo. "Aku harus menggunakan koin dari Tetua Feng malam ini. Aku butuh teknik gerakan atau teknik penyembunyian yang lebih baik daripada sekadar mengendap-ngendap."
Dia berbalik meninggalkan area Kebun Herbal, meninggalkan Long Tian yang mulai menyalakan api kecil di gubuknya yang menyedihkan.
Saat Han Luo berjalan kembali ke asrama murid luar, dia berpapasan dengan sekelompok murid yang sedang berdiskusi seru.
"Hei, kau dengar? Kakak Senior Liu Ming sedang mencari orang untuk misi 'pembersihan' di Hutan Kabut Hantu minggu depan."
"Benarkah? Hadiahnya?"
"10 Batu Roh per orang! Tapi kudengar itu berbahaya. Targetnya adalah sisa-sisa pengikut aliran sesat."
Langkah Han Luo terhenti.
Hutan Kabut Hantu.
"Waktunya pas," Han Luo menyeringai dalam kegelapan. "Aku akan menggunakan Koin Resonansi Pedang malam ini, berlatih selama tiga hari, mencuri Ulat Sutra dari Long Tian saat purnama, lalu bergabung dengan misi Liu Ming untuk bertemu calon ATM berjalanku, Fang Yu."
Rencana itu tersusun rapi di kepalanya seperti roda gigi jam.
Han Luo mempercepat langkahnya menuju Paviliun Kitab Kuno. Malam ini, dia tidak akan tidur lagi.
Paviliun Kitab Kuno, Lantai Dasar.
Bangunan itu tua dan berdebu, namun memiliki aura keagungan yang menekan. Seorang penjaga tua yang sedang tertidur di meja depan terbangun kaget saat Han Luo meletakkan koin tembaga berkarat di atas meja.
"Tiket masuk," kata Han Luo singkat.
Penjaga itu mengucek mata, hendak marah karena diberi sampah, tapi saat dia melihat ukiran pedang samar di koin itu, matanya melotot. Dia menatap Han Luo dengan curiga, lalu ke koin itu lagi.
"Dari mana kau dapat ini, Nak?"
"Hadiah menyapu," jawab Han Luo asal.
Penjaga itu tidak bertanya lagi. Koin itu otentik. Benda milik Tetua Agung. "Kau punya waktu 2 jam. Hanya Lantai Dasar. Jangan menyentuh gulungan tersegel."
Han Luo masuk ke dalam labirin rak buku. Bau kertas tua menenangkannya.
Dia tidak mencari teknik pedang. Dia sudah punya. Dia mencari sesuatu yang spesifik untuk mendukung gaya mainnya: Penyembunyian dan Melarikan Diri.
Dia melewati rak "Teknik Tinju Menghancurkan Gunung" dan "Telapak Api". Terlalu mencolok.
Akhirnya, di sudut paling berdebu di rak kategori "Pendukung", dia menemukan sebuah buku tipis bersampul biru pudar.
Langkah Hantu Tanpa Jejak. Tingkat: Kuning - Kelas Puncak.
Teknik ini tidak populer karena tidak menambah kecepatan lari secara signifikan, tapi memiliki efek khusus: Menghilangkan suara langkah kaki dan meminimalisir fluktuasi udara saat bergerak.
Sempurna untuk seorang pembunuh... atau pencuri ulat sutra.
Han Luo mengambil buku itu dan mulai membaca dengan kecepatan tinggi, memindai setiap halaman ke dalam ingatan fotografisnya.
Saat dia sedang asyik membaca, dia mendengar bisikan dari lorong sebelah.
"...Liu Feng sangat hebat. Dia sudah diberi akses ke Lantai Dua oleh Tetua."
"Tentu saja. Dia masa depan sekte."
Han Luo menutup bukunya. Dia tidak iri. Biarkan Liu Feng mengambil teknik tingkat tinggi di lantai atas. Teknik terbaik adalah teknik yang paling cocok dengan penggunanya, bukan yang levelnya paling tinggi.
Han Luo meletakkan buku itu kembali. Dia sudah menghafalnya.
"Dua jam belum habis," pikirnya. "Masih sempat mencari satu lagi. Sesuatu untuk... menutupi jejak Sutra Seribu Wajah jika ada yang memeriksa tubuhku."
Dia bergerak ke arah rak "Teknik Pernapasan".
Malam ini, perpustakaan akan menjadi saksi bisu lahirnya fondasi "Tuan Gerhana".