NovelToon NovelToon
A.M.R.A

A.M.R.A

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cerai / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.

Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.

Masih Mencinta namun tak dapat bersama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Angka Yang Menakutkan

Lima hari berlalu di RSIA Bunda seperti dalam kabut. Ritme baru terbentuk: bergantian jaga, mendengarkan penjelasan perawat tentang obat, mencatat suhu dan gejala Luna, mencoba membuatnya tertawa dengan video lucu di ponsel.

Kondisi Luna perlahan stabil. Demam mereda, ruam di pipinya memudar. Steroid mulai bekerja, meski membuat wajahnya sedikit membulat dan suasana hatinya mudah berubah-ubah.

Tapi dia masih lemas, dan mata mereka—Amara dan Rafa—selalu waspada, memindai setiap keluhan kecil yang bisa menjadi pertanda flare.

Suatu sore, saat Amara sendirian menjaga (Rafa pulang sebentar untuk mandi dan mengambil barang), Luna yang sedang setengah tidur tiba-tiba membuka mata dan menggenggam lengan Amara dengan lemah.

"Ma," bisiknya, suaranya serak oleh obat dan kelelahan.

"Apa, Sayang?" Amara membungkuk mendekat.

Luna menatapnya, matanya yang besar tampak lebih tua dari usianya, penuh dengan ketakutan yang dalam.

"Mama janji... jangan tinggalin Luna lagi."

Kalimat itu, diucapkan dengan polos namun penuh muatan, menusuk Amara lebih tajam dari jarum infus mana pun. Itu bukan permintaan, itu adalah permohonan dari jiwa kecil yang trauma.

Air mata langsung membanjiri mata Amara. Dia menekan bibirnya agar tidak terisak.

"Mama... Mama janji, Sayang. Mama di sini. Mama tidak akan ke mana-mana."

"Beneran? Nggak balik ke gunung?" tanya Luna, jarinya mencengkeram baju Amara.

"Tidak. Mama akan di Jakarta. Mama akan nemenin Luna sampai Luna sehat dan kuat lagi." Amara mencium keningnya. "Janji Mama."

Luna mengangguk pelan, lalu tertidur lagi, seolah kata-kata itu memberikannya ketenangan untuk akhirnya beristirahat dengan damai.

Tapi bagi Amara, janji itu terasa seperti batu besar yang diikat di hatinya. Itu berarti residensi di Jogja benar-benar berakhir.

Karyanya yang terbengkalai. Impian pameran tunggal. Semua harus dia tinggalkan. Dan dalam keheningan kamar rumah sakit, di bawah sorotan lampu neon, rasa kehilangan itu menyakitkan. Tapi melihat wajah Luna yang tenang, dia tahu tidak ada pilihan lain.

Keesokan harinya, setelah konsultasi dengan dr. Arini yang mengkonfirmasi Luna bisa pulang dalam dua hari namun dengan daftar obat dan jadwal kontrol yang panjang, mereka dipertemukan dengan ahli keuangan rumah sakit, Bapak Hendra, di ruang konsultasi yang sama.

Bapak Hendra adalah pria berambut perak dengan kacamata frameless dan ekspresi netral-profesional. Di depannya terbentang spreadsheet di laptop dan beberapa print-out.

"Saya akan jelaskan dengan transparan," mulainya, tanpa basa-basi. "Pengelolaan SLE membutuhkan komitmen finansial jangka panjang yang sangat signifikan."

Dia menunjuk kolom di spreadsheet.

"Pertama, obat-obatan rutin. Immunosuppressant seperti Mycophenolate, ditambah Prednison (steroid), Hydroxychloroquine, dan berbagai suplemen untuk melindungi ginjal dan tulang. Per bulan, untuk dosis awal yang tinggi, ini berkisar antara 8 hingga 12 juta rupiah."

Amara merasa napasnya sesak. Rafa duduk tegak, wajahnya pucat.

"Kedua, pemeriksaan laboratorium rutin. Setiap bulan perlu cek darah lengkap, fungsi ginjal, hati, dan kadar obat dalam darah. Ditambah urinalysis. Sekitar 2-3 juta per bulan."

"Ketiga, kunjungan ke spesialis reumatologi anak setiap 2-3 bulan. Biaya konsultasi dan administrasi."

"Keempat, yang paling tidak terduga: biaya rawat inap saat terjadi flare. Rata-rata perawatan flare sedang-berat membutuhkan rawat inap 7-14 hari. Dengan obat-obatan dan perawatan intensif, biayanya bisa mencapai 50-150 juta per kejadian, tergantung komplikasi."

Dia menjumlahkan kolom. "Estimasi konservatif untuk tahun pertama, dengan asumsi satu kali rawat inap minor, adalah sekitar 280 hingga 350 juta rupiah."

Angka itu menggantung di udara seperti racun. Ruangan terasa berputar bagi Amara. 350 juta. Hampir setengah miliar dalam setahun.

"Dan asuransi?" tanya Rafa, suaranya serak.

Bapak Hendra menggeleng.

"Asuransi kesehatan standar biasanya memiliki limit khusus untuk penyakit kronis, atau co-payment yang besar. Beberapa obat baru mungkin tidak masuk dalam formularium."

"Ibu dan Bapak perlu cek polis dengan detail. Tapi jangan berharap bisa menutup lebih dari 50-60% dari total biaya. Sisanya, out-of-pocket."

Out-of-pocket. Kata itu seperti vonis. Mereka harus mengeluarkan ratusan juta dari kantong mereka sendiri. Setiap tahun.

"Apakah ada bantuan?" tanya Amara, hampir berbisik.

"Ada program bantuan dari beberapa yayasan, tapi kuota terbatas dan prosesnya panjang. Kami bisa bantu ajukan, tapi tidak bisa diandalkan untuk biaya rutin."

Pertemuan berakhir dengan mereka menerima selembar kertas perkiraan biaya yang terasa seperti batu nisan.

Di hari Luna pulang ke apartemen Rafa (keputusan sementara karena lebih dekat dengan rumah sakit), kecemasan finansial mulai menggerogoti.

Amara membuka rekeningnya. Uang dari proyek klinik Ibu Dewi dan penjualan beberapa karya di pameran "Renewal" masih ada: sekitar 85 juta. Cukup untuk obat dan cek lab bulan pertama, plus sedikit.

Dia menelepon agen penjual rumah lama mereka di Pondok Indah. "Prosesnya masih berjalan, Bu Amara. Ada tiga calon pembeli, tapi masih tawar-menawar harga. Butuh waktu mungkin 2-3 bulan lagi sebelum deal dan dana cair."

2-3 bulan. Luna butuh obat minggu depan.

Rafa terlihat semakin pendiam, semakin tenggelam dalam pikirannya. Dia sering keluar untuk "menelepon kerja", tapi wajahnya selalu kembali lebih keruh.

Suatu pagi, saat Amara tiba di apartemen Rafa untuk giliran jaga (mereka memutuskan Luna tidak boleh sendirian sama sekali), Ibu Marni sudah ada di sana. Dia menyiapkan teh di dapur kecil. Wajahnya penuh beban.

"Amara, kita perlu bicara," katanya, suaranya rendah.

"Mengenai apa, Bu?"

"Ibu tahu kau dan Rafa sedang menghadapi kesulitan besar. Finansial." Ibu Marni menarik napas.

"Rafa... dia tidak ingin kau tahu. Tapi sebagai ibunya, aku tidak bisa diam."

"Tahu apa?" tanya Amara, jantungnya berdebar.

"Ibu lihat dokumen di kamarnya. Dia... dia sudah menjual seluruh portofolio sahamnya. Yang dia kumpulkan sejak mulai kerja. Dan mobil BMW-nya. Bahkan... dia mengajukan pencairan dana pensiun dini. Dia mengosongkan tabungan masa depannya, Amara."

Dunia berhenti sejenak bagi Amara. Menjual saham. Mobil. Pensiun dini. Rafa, yang selalu terobsesi dengan keamanan finansial, dengan rencana masa depan yang rapi, sedang merobek fondasinya sendiri.

"Kenapa... kenapa dia tidak bilang?" gumam Amara.

"Karena ego! Karena rasa bersalah! Karena dia ingin menebus sesuatu, aku tidak tahu!" Ibu Marni menghela napas, matanya berkaca-kaca.

"Tapi dia tidak bisa sendirian. Ini terlalu berat. Uang dari itu mungkin cukup untuk satu atau dua tahun, tapi lalu apa? Dan apa gunanya Luna sembuh jika ayahnya bangkrut dan tidak punya masa depan?"

Amara merasa mual. Dia berjalan ke ruang tengah. Rafa sedang duduk di sofa, menatap laptopnya dengan pandangan kosong.

"Rafa."

Dia menoleh. "Ibu bilang padamu."

"Iya. Kenapa kau lakukan itu sendiri? Kenapa tidak kita bicarakan?"

"Untuk apa?" jawab Rafa, datar. "Kau sudah punya bebanmu sendiri. Kau harus membatalkan residensi, karyamu. Ini... ini bagianku."

"Ini bukan 'bagianmu'! Ini tanggung jawab kita berdua! Dia anak kita berdua!" suara Amara meninggi. Luna di kamar tidur mungkin mendengar, tapi Amara tidak bisa menahan.

"Dan aku yang menjaganya saat dia sakit! Aku yang melewatkan tanda-tandanya! Aku yang harusnya lebih waspada!" Rafa berdiri, wajahnya memerah oleh emosi yang tertahan terlalu lama.

"Jadi biarkan aku yang menanggung ini! Biarkan aku yang menjual mobil dan saham! Kau tidak perlu menjual studio atau karya senimu yang berharga!"

"Jadi ini tentang itu? Tentang karyaku? Kau masih sakit hati tentang itu?" Amara mendekat, menatapnya langsung.

"YA! Mungkin iya! Aku tidak tahu!" Rafa berteriak, lalu menurunkan suaranya, berusaha mengendalikan diri.

"Aku marah pada diriku sendiri, pada penyakit ini, pada dunia. Dan ya, aku iri padamu yang punya dunia lain untuk melarikan diri, sementara aku... aku hanya punya ini.

Tanggung jawab yang aku gagahi jalani. Jadi biarkan aku melakukan ini. Ini caraku... untuk membersihkan kekacauan yang aku buat."

"Kau tidak membuat kekacauan ini, Rafa! Ini penyakit!"

"Tapi perasaanku mengatakan sebaliknya!" air mata akhirnya meledak dari mata Rafa. Pria yang selalu terkendali itu kini terisak di depan mantan istrinya.

"Setiap kali melihatnya lemah, aku merasa seperti ayah yang gagal. Memberikan uang... itu satu-satunya yang bisa aku lakukan sekarang. Jadi biarkan aku. Tolong."

Meledaknya emosi Rafa itu meluluhkan semua pertahanan Amara. Dia melihat bukan mantan suaminya yang arogan, tapi seorang pria yang hancur, yang mencoba mencari penebusan dengan cara satu-satunya yang dia tahu: uang.

Dia mendekat, perlahan, dan meletakkan tangannya di lengan Rafa yang gemetar.

"Rafa, dengar. Kita tidak bisa melakukan ini sendiri-sendiri. Jika kau menjual segalanya, lalu habis, lalu apa? Kita akan jatuh bersama. Kita harus berbagi beban ini."

"Tapi kau sudah kehilangan banyak," isak Rafa.

"Dan kau juga. Kita sama-sama kehilangan. Tapi kita masih punya sesuatu: kita masih punya Luna. Dan kita masih punya akal."

Amara menarik napas. "Uang dari penjualan saham dan mobilmu... itu akan sangat membantu. Terima kasih."

"Tapi izinkan aku untuk berkontribusi juga. Bukan sebagai pembayar rasa bersalah, tapi sebagai ibunya."

"Izinkan aku... untuk tetap menjadi bagian dari tim ini. Tim 'Selamatkan Luna'."

Rafa menatapnya, air matanya masih mengalir. Dia melihat ketulusan di mata Amara, dan untuk pertama kalinya sejak diagnosis, dinding defensifnya benar-benar runtuh. Dia mengangguk, pelan, lalu menarik Amara ke dalam pelukan.

Bukan pelukan romantis. Tapi pelukan dua orang yang terdampar di pulau yang sama, dikelilingi oleh badai yang sama. Mereka berpegangan erat, kedua tubuh mereka gemetar oleh kelegaan dan kesedihan yang akhirnya bisa dibagikan.

"Maaf," bisik Rafa di bahu Amara. "Aku... aku tidak bisa melakukan ini sendirian."

"Kita tidak akan sendirian," jawab Amara, suaranya juga bergetar. "Kita akan melalui ini bersama. Dengan rencana yang matang. Bukan dengan menjual segalanya dalam kepanikan."

Mereka berpisah, wajah keduanya basah. Ibu Marni mengamati dari ambang dapur, air mata juga mengalir di pipinya, tapi kali ini air mata haru melihat anaknya dan mantan menantunya akhirnya menemukan cara untuk bersatu, bukan sebagai suami istri, tapi sebagai sekutu dalam perang yang paling penting dalam hidup mereka.

Malam itu, mereka duduk di meja makan dengan spreadsheet Bapak Hendra, laptop, dan kalkulator. Mereka membuat anggaran baru. Uang dari penjualan aset Rafa akan menjadi dana darurat.

Amara akan mengontak klien-klien desain lamanya, menawarkan jasa remote. Dia juga akan berbicara dengan Edo tentang kemungkinan menjual karya-karya yang sudah ada dari studionya di Jogja secara online.

"Kita akan membuka rekening bersama khusus untuk biaya Luna," usul Rafa.

"Kita setor proporsional sesuai kemampuan."

"Setuju," kata Amara.

"Ibu juga akan kontribusi," sahut Ibu Marni dari sofa. "Jangan protes. Ini untuk cucu Ibu."

Mereka tidak lagi melihat angka 350 juta sebagai jurang yang tak teratasi. Mereka melihatnya sebagai sebuah gunung yang harus didaki, satu langkah setiap bulan, bersama-sama.

Saat Amara pulang ke apartemennya malam itu, kelelahan namun dengan sedikit kedamaian baru, dia memeriksa ponselnya. Ada pesan dari Edo:

"Amara, bagaimana kondisi Luna? Saya sudah bicara dengan yayasan seni. Karya-karyamu di residensi bisa kami pamerkan secara virtual, dan hasil penjualan 100% untukmu."

"Juga, ada yayasan filantropi yang mendukung seniman dengan beban keluarga medis. Saya sudah referensikan namamu. Mereka akan menghubungi."

Air mata lagi, tapi kali ini air mata syukur. Dia membalas: "Terima kasih, Edo. Terima kasih tidak hanya untuk ini, tapi untuk pengertianmu. Luna stabil. Kami sedang merencanakan langkah ke depan. Sulit, tapi kami bersama."

Dia memandang kota Jakarta dari balkonnya. Masih ada ketakutan. Masih ada gunung biaya yang menakutkan.

Tapi malam ini, dia tidak merasa sendirian. Ada Rafa, yang meski dengan caranya yang kacau, menunjukkan bahwa dia mau berkorban. Ada Ibu Marni yang mendukung.

Ada Edo dan Sari di luar sana. Dan yang terpenting, ada Luna di apartemen Rafa, tidur dengan lebih tenang, dengan kedua orang tuanya akhirnya berada di halaman yang sama, siap berperang untuknya.

Perang melawan lupus akan panjang dan melelahkan. Tapi pertempuran pertama—untuk menyatukan pasukan—akhirnya dimenangkan. Dengan air mata, dengan teriakan, dengan pelukan yang kikuk, tapi dimenangkan.

1
La Rue
besok vote untuk karya yang bagus ini 👍👏
Kustri
pengorbanan yg sgt besar 💪
Kustri
qu ikut prihatin🥺😭
La Rue
Kali ini benaran mewek dibuat kisah Amara ini 😭
Bp. Juenk: hehe, siap2 d bab berikutnya ya Kk. sediain tisu yg banyak.
total 1 replies
Kustri
kasian luna, msh terlalu kecil🥺
Kustri
tak tunggu UP'a
sambil ☕ thor
Bp. Juenk: siap Ka, segera di update
total 1 replies
Kustri
lanjut yaa
Kustri
wuiih... kalimat"mu luar biasa thor👍
Bp. Juenk: thanks kaka 🙏
total 1 replies
La Rue
Ruang hampa,kehilangan,cinta,kepergian dan penemuan kembali jati diri dalam hubungan dua orang dewasa yang terikat dalam pernikahan. Namun pada akhirnya hanya pengertian dan mulai belajar mencintai diri sendiri serta belajar menerima kehilangan meskipun tidak ada yang benar-benar baik-baik saja dari kehilangan. Jadi ingat lirik lagu lawas " Sometimes Love Just Ain't Enough ".
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.
La Rue: n you too. Keep it up 👍
total 2 replies
MomRea
Author ini ceritanya gak bisa di prediksi, dari bahagia sedih lagi bahagia lagi sedih lagi... lanjut Thor
MomRea
Rafa-Sari, Amara-Edo, atau Rafa-Amara. ? teka teki othor 😊
Halwah 4g
ceritamu sangat mengubek-ubek hatiku Thor 😍
MomRea
semangat Thor terimakasih banyak up nya🙏💪
Bp. Juenk: siap terimakasih dukungan nya
total 1 replies
MomRea
"Akhir sebuah bab tapi awal sebuah cerita" mantap kalimatnya Thor 😊
MomRea
gak bisa komen karna dadaku sesak banyak banget bawangnya 🥲🥲
MomRea
ikutan berdoa Thor...semoga Rafa cepat sembuh biar bisa bermain lagi dgn Luna 😊😊😊
MomRea
Semangat Amara, restart kembali pola pikir, lihat masa depan bersama Luna 🥰
Kustri
ini rumah apa apart, koq ada lift ☹️
Bp. Juenk: 🤭ada koq Ka rumah yg pake lift. di pondok indah banyak yg pake lift
total 1 replies
MomRea
bingung juga sih rumah tangga gak ada romantis romantisnya.
Bp. Juenk: 🤣 🤣🤣 bisa Bae nih ka
total 3 replies
Kustri
☕dl amara, ngecas semangat💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!