Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.
Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.
“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”
Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terasa Nyeri
"Jadi kita berpisah di sini aja ya Sha, gue ada urusan sama yang lain soalnya. Berhubung kayaknya seharian ini kita nggak bakal ketemu, jadi sampai jumpa besok aja ya." kata Auretheil sambil melambaikan tangan dan berlari ke arah kerumunan murid tanpa menunggu jawaban Shahinaz.
Shahinaz mengangguk paham. Tanpa mengorek ingatannya, dia juga tau kalau keduanya berada di kelas yang berbeda. Jadi, Shahinaz tidak masalah jika harus berjalan sendirian sekarang. Tapi Shahinaz bingung, dia memilih untuk mempersingkat jalannya dengan berjalan lurus ke depan, atau memilih jalan memutar untuk menghindari kerumunan?
Tapi melihat Auretheil yang masuk ke dalam kerumunan murid di depan sana, membuat Shahinaz memilih untuk berjalan memutar. Itu pasti salah satu jalan cerita yang sedang berlangsung kan? Shahinaz akan menghindarinya saja sekarang.
"Tunggu!" panggil seseorang dengan nada mendesak yang membuat Shahinaz membalikkan badannya. Wajahnya datar, menandakan dia ingin cepat menyelesaikan percakapan jika tidak memiliki percakapan penting.
"Lo temennya para tukang tindas itu? Bilangin gih, jangan suka nge-bully orang. Apalagi yang di-bully itu adik dari Pak Bos kita." kata orang itu dengan ketus.
Shahinaz mengangkat alis, tampak tidak terpengaruh. "Siapa yang lo maksud?"
"Leena dan kawan-kawannya lah. Karena mereka, Pak Bos gue jadi mau nggak mau harus masuk ke kerumunan itu." jawab orang itu dengan nada penuh tuduhan.
"Lo nggak lihat gue di sini dan nggak ikut campur urusan mereka. Atas dasar apa lo nyimpulin kalau gue temen-temen mereka? Buta lo?" balas Shahinaz, kali ini dengan nada tegas. Mungkin jika Anya ada di sini, dia akan memberikan empat jempol untuk ketajaman mulut Shahinaz. Bisa dikatakan mulut Shahinaz memiliki rating kepedasan yang cukup bagus!
Orang itu tampak terkejut dengan respons Shahinaz yang penuh keberanian. Dia tidak menyangka gadis di depannya akan melawan dengan tegas. Apalagi pembawaan cukup tenang, tidak terlihat terpengaruh sama sekali.
"Lo temenan dengan salah satu dari mereka, itu tandanya lo emang juga bagian dari mereka." kata orang itu lagi, berusaha mempertahankan pendiriannya.
"Lo ngelihat gue nge-bully dimana, sampai lo bikin kesimpulan kalau gue salah satu dari mereka? Lo pernah ngelihat gue bergabung sama mereka meski cuma sekali aja?" tanya Shahinaz sekali lagi. Ia merasa frustrasi, tapi tetap berusaha tenang di hadapan tiga orang yang menghalangi jalannya.
Dreven Vier Kingsley, niatnya masuk ke dalam kerumunan berniat untuk melindungi Dania, demi titah sang Kakek yang selalu mengatakan kepadanya untuk menjaga gadis itu. Namun sepertinya dia kalah cepat, sudah ada Ketua OSIS yang siap merentangkan tangannya untuk anak pungut itu. Jadi Dreven memilih untuk berbalik, tidak peduli dengan apa yang terjadi selanjutnya.
Karena titik fokusnya sekarang justru gadis lain, si gadis bunga yang kini sedang beradu mulut dengan para sahabat yang menghadangnya. Entah apa yang sedang dilakukan oleh mereka kepada gadis itu!
"Otak lo kayaknya lebih kecil dari otak udang deh. Gue mungkin temen Auretheil, tapi bukan berarti gue kenal sama temen atau kelompok yang dia punya. Semua orang punya privasi masing-masing, dan gue sama sekali nggak mau ikut campur dengan urusan mereka. Kenal bukan berarti kita memiliki karakter yang sama bukan?" tandas Shahinaz yang sudah kepalang kesal, "Ibaratnya kalau gue kenal sama Emak lo, bukan berarti gue kenal sama Bapak lo, Kakek lo, Nenek buyut lo, seluruh keluarga lo juga kan? Gue masih waras buat ikut campur urusan orang."
Shahinaz berbalik dan meninggalkan ketiga orang itu dengan wajah yang masih tampak tercengang. Dreven, yang baru saja tiba di belakang mereka, juga takjub dengan keberanian gadis itu. Dia melihat bahwa Shahinaz tidak peduli dengan status atau apapun yang menghalanginya. Jika dia merasa kesal dengan sesuatu, mungkin dia akan mengungkapkan kekesalan itu dengan ala kadarnya.
"Lihat, dia udah pergi. Sekarang kita yang malah kelihatan bego." salah satu dari mereka yang akhirnya memecahkan keheningan.
"Di sini cuma Keandra yang bego, yang lain mah nggak ikut-ikutan dari tadi," balas yang lainnya, mengalihkan perhatian dari Shahinaz yang sudah menjauh.
Keandra Arzan Latucie hanya bisa melengos saat namanya disebut. Dia sebenarnya hanya berusaha membela Dreven, tapi sekarang malah merasa dipermalukan di depan gadis yang berani itu.
"Lagian lo pada nggak ada yang ngebantuin gue debat. Arsenio yang biasanya cerewet aja, milih buat diem dan nggak ngebantuin gue," keluh Keandra kesal.
Sedangkan Arsenio Sovializa Winromanov hanya cengengesan tidak jelas, "Kan lo yang salah. Gue niatnya mau ngebantuin tadi, tapi karena omongan cewek itu ada benarnya, ya gue milih diem aja. Kalau kata Vincent, yang waras mending diem aja."
Vincent Adelardo Jexrendra, sifatnya hampir sama sebelas dua belas dengan Dreven. Dibandingkan mengikuti Dreven dan ikut bergabung diantara banyaknya kerumunan, dia memilih untuk mengikuti kedua anak ayam yang kehilangan induknya, tidak disangka-sangka mereka hendak melabrak perempuan yang sepertinya tidak ada campur dengan dengan geng penindas itu.
"Goblok jangan dipelihara makanya." sindir Vincent sambil menggelengkan kepalanya.
Dreven sendiri, masih fokus dengan siluet gadis yang kini mulai menghilang dari pandangannya. Rasanya seperti ada yang hilang dari hatinya juga, tapi entah kenapa dia sungguh tertarik dengan gadis itu padahal mereka baru pertama kali bertatap muka kemarin.
Apakah ini bisa dinamakan cinta pada pandangan pertama?
"Nama tag-nya, siapa?" tanya Dreven, memecah keheningan di antara mereka. Barangkali salah satu dari mereka ada yang melihat nama lengkap gadis itu.
Ketiganya saling berpandangan, tampak bingung sebenarnya. Namun akhirnya, Keandra menghela napas dan berkata, "Kalau nggak salah lihat, nama lengkapnya Shahinaz Zerrin Johara. Badas gila tuh cewek, gue aja sampai kalah debat."
"Shahinaz Zerrin Johara..." Dreven mengulang nama itu dalam hati, mengingatnya dengan serius. Ada sesuatu dalam diri Shahinaz yang sungguh menarik perhatiannya, meski baru pertama kali bertemu kemarin. Tentu saja, dia merasa penasaran untuk mengetahui lebih banyak tentang gadis itu. "Vincent, cari informasi soal cewek tadi."
"Imbalannya apa?" tanya Vincent sambil mengangkat alisnya.
"Lima belas menit lo dapet apa yang gue mau, mobil sport yang lo incar digarasi gue jadi milik lo." jawab Dreven dengan penuh keyakinan. Dia lalu melenggang pergi, meninggalkan teman-temannya yang kembali tercengang di tempat. Dreven serius dengan tawarannya?
Arsenio berteriak heboh, "Kalau gitu bukan Vincent doang yang mau, gue juga mau. Itu mobil cuma ada dua di dunia, ya kali gue nggak mau join cari informasi."
"Kayak lo pinter aja. Dapet matematika enam puluh aja, jawaban yang bener aja karena nyontek si Arsenio." balas Keandra dengan memutar bola matanya, sepertinya dia masih memiliki dendam terselebung kepada Arsenio yang tidak membelanya tadi.
Vincent sendiri, dia sudah melangkahkan kakinya menyusul Dreven yang sudah jauh dari jaraknya berada sekarang. Dia tersenyum puas, sebentar lagi mobil sport incarannya itu akan menjadi miliknya!
Dilain sisi, Shahinaz sudah masuk ke dalam kelasnya. Dia menggerutu, dia baru sadar jika sejak kemarin, yang berurusan dengannya adalah Dreven Vier Kingsley. Antagonis utama yang harusnya tidak terlibat konflik atau sedikitpun cerita dengan dirinya.
Apalagi di jalan cerita originalnya, yang terlibat dengan dirinya harusnya sang tokoh utama cerita, Naveen Salvaris Argyle. Itupun karena Naveen yang memesan banyak bunga untuk acara sekolah. Tapi kenapa kemarin dia berakhir cekcok dengan Dreven?
"Harusnya gue jadi cewek lemah lembut dan anggun aja, bukan jadi diri sendiri kayak gini. Baru dua hari tinggal di dunia ini aja, gue udah banyak cekcok sama orang." kata Shahinaz tidak habis pikir. Dia mencoba untuk mengingat cerita sebenarnya, tapi dahinya tiba-tiba berdenyut nyeri dan tidak bisa diajak kompromi. Ini kenapa sebenarnya?
"Apakah bener jika suatu saat, ingatan dua orang yang saling bertubrukan itu akan bersatu, membentuk memori baru dimana gue harus merelakan salah satunya untuk kehilangan?" tanya Shahinaz kepada dirinya sendiri lagi. Lalu dengan cepat dia menggeleng, dia tidak ingin kehilangan apapun, karena itu adalah identitas jati dirinya.
Tapi bagaimana caranya agar Shahinaz bisa memitigasi ancaman-ancaman yang berkaitan dengan memorinya? Shahinaz menjedot-jedotkan kepalanya di atas meja, berharap dia memiliki ide untuk mengatasi itu, namun ditahan oleh seseorang yang tiba-tiba datang dan duduk di sampingnya.
"Lo selain nggak bisa diajak ngobrol dan nggak bisa diajak kerja sama, ternyata juga bisa aneh ya." kata seorang perempuan yang kini duduk di samping bangkunya.
"Udah tau gue aneh, kenapa masih lo ajak ngobrol? Secara nggak langsung, ternyata lo yang lebih aneh dari gue." jawab Shahinaz sambil tersenyum miring.
Perempuan itu menatap Shahinaz tanpa kedip, sepertinya baru kali ini dia mendapatkan respon komunikasi dari teman sebangkunya. Bahkan dia berpikir, perempuan yang menjadi teman sebangkunya itu tidak bisa bicara. Jadi dia sering meledeknya cantik-cantik bisu, dan tetap saja tidak ada tanggapan dari teman sebangkunya itu.
"Lo bisa bicara?" tanya perempuan itu dengan sedikit terperangah.
Shahinaz mengangkat alis, merasa lucu dengan reaksi perempuan di sampingnya, "Kalau gue bisu, kenapa sekarang gue bisa ngomong? Mungkin karena obrolan lo kurang menarik, makanya gue lebih milih diem aja."
Perempuan itu, yang ternyata bernama Lynie, tampak agak tersentil dengan ledekan Shahinaz sebenarnya, "Ya, gue cuma denger dari orang-orang kalau lo itu nggak pernah bicara atau basa-basi sama siapapun. Makanya, gue pikir lo nggak bisa ngomong."
Shahinaz memandang Lynie dengan ekspresi setengah tertawa, "Lo lucu, tapi sayangnya lo bukan tipe temen yang gue mau."
Lynie syok di tempat, dia memegangi dadanya yang terasa nyeri, merasa tidak menyangka ada yang lebih bermulut pedas dari dirinya rupanya.
Dan dia terkena mental sekarang!