Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.
Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Dua Naga
Angin menderu di puncak Menara Sinyal, membawa aroma tembaga dan kabel yang terpanggang. Menara itu miring tiga puluh derajat, berderit memilukan setiap kali badai petir statis menghantam kerangka bajanya. Li Wei berdiri di tepi platform yang licin, zirah putihnya kini kusam oleh jelaga dan noda darah dari luka bahu yang didapatnya saat menembus barisan parit di bawah. Di depannya, wanita itu tetap tenang, perangkat jammer di tangannya memancarkan pendar ungu yang berdenyut selaras dengan detak jantung yang Li Wei rasakan di ujung jemarinya.
"Kau melangkah terlalu jauh untuk seorang prajurit yang seharusnya sudah menjadi abu di bawah sana," ucap wanita itu, suaranya membelah kebisingan badai dengan ketajaman yang tidak wajar.
Li Wei menyesuaikan genggamannya pada Bailong-Jian. Cahaya biru pada bilah pedangnya bergetar hebat. "Siapa kau? Kenapa frekuensi jammer ini menggunakan protokol enkripsi yang hanya dimiliki oleh komando tinggi?"
Wanita itu sedikit memiringkan kepalanya. "Pertanyaan yang salah, Li Wei. Seharusnya kau bertanya, kenapa negaramu sendiri mematikan sistem pertahanan saat pasukannya masih berada di dalam zona dampak?"
"Aku tidak butuh pelajaran moral dari penyabot Naga Laut," geram Li Wei. Ia mengaktifkan Neural Resonance. Seketika, frekuensi sarafnya menyatu dengan mesin di zirah dan bilah pedangnya.
"Namaku Chen Xi," ucapnya sambil menarik pedang Yan-Zuo dari balik jubahnya. Bilah pedang itu tipis, melengkung, dan memancarkan pendar ungu yang dingin. "Dan aku di sini bukan untuk membunuhmu, kecuali jika kau memaksa."
"Kau mengacaukan radar orbital. Kau pengkhianat faksimu sendiri," Li Wei merangsek maju. Langkahnya berat karena luka bahu, namun Neural Overclock memaksanya bergerak melampaui batas nyeri. "Apa maumu?"
"Aku mau hidup, Li Wei. Sama sepertimu," Chen Xi menangkis tebasan pertama Li Wei dengan gerakan yang sangat efisien. Dentuman logam beradu mengirimkan percikan listrik ke udara. "Lihat ke langit. Penguncian orbital kedua sudah selesai. Satelit itu tidak peduli kau kawan atau lawan. Mereka hanya ingin meratakan Sektor 7."
"Bohong!" teriak Li Wei. Ia memutar tubuhnya, mengayunkan Bailong-Jian dalam sapuan horizontal yang mematikan. "Jenderal Zhao Kun memberikan perintah pembersihan musuh, bukan pembersihan pasukan sendiri!"
"Lalu kenapa dia melepaskan gas saraf hijau saat kau masih di parit? Kenapa dia membiarkan anak kecil itu hampir terpanggang?" Chen Xi menghindar dengan Spatial Analysis yang presisi, gerakannya seperti tarian di atas platform yang miring. "Kau memegang boneka itu di sakumu, Li Wei. Kau tahu aku benar."
Li Wei tersentak. Tangannya yang bebas secara refleks menyentuh saku taktis tempat boneka kain itu berada. Fokusnya goyah sedetik.
"Jangan lengah!" seru Chen Xi. Ia tidak menyerang, justru menarik mundur pedangnya. "Gunakan otakmu, bukan hanya chip sarafmu! Jammer-ku ini satu-satunya alasan kenapa Ion-Cannon itu belum menembus kepalamu."
"Kau pikir aku akan percaya pada musuh?" Li Wei mengatur napasnya yang tersengal. Alarm di zirahnya berbunyi merah, menandakan saturasi oksigen di otaknya menurun drastis akibat penggunaan Overclock.
"Aku bukan musuhmu saat ini. Kita adalah sisa-sisa yang tidak diinginkan oleh sistem," Chen Xi menatap tajam ke arah cakrawala yang mulai memutih. "Dengar, menara ini akan runtuh dalam hitungan menit. Kau punya Sersan Han di bawah, kan?"
Li Wei menegang. "Bagaimana kau tahu tentang Han?"
"Aku memantau semua komunikasi radio sejak kalian menginjakkan kaki di menara ini. Han terluka, Li Wei. Dia butuh dekontaminasi segera, dan satu-satunya tempat yang memiliki sistem filtrasi udara mandiri di radius lima kilometer adalah Bunker X-19," Chen Xi mendekat perlahan, menurunkan pedang Yan-Zuo miliknya.
"Bunker itu milik militer Kekaisaran. Kau tidak akan bisa masuk," balas Li Wei sinis.
"Aku punya protokol dekripsi. Kau punya otoritas biometrik," Chen Xi mengulurkan tangannya yang mungil namun kokoh. "Kerja sama, atau kita mati bersama di puncak besi tua ini."
Li Wei menatap tangan itu, lalu menatap langit yang kini memancarkan pendar putih membutakan. "Jika kau mencoba mengkhianatiku, aku akan memastikan Bailong-Jian menembus jantungmu sebelum aku mati."
"Adil," sahut Chen Xi singkat.
Tiba-tiba, getaran hebat mengguncang menara. Salah satu kabel penyangga utama di sisi utara putus, menimbulkan suara cambukan logam yang memekakkan telinga. Platform tempat mereka berdiri miring lebih ekstrem, hingga mencapai sudut empat puluh derajat.
"Pegang tanganku!" teriak Chen Xi.
Li Wei menyimpan pedangnya dan menyambar tangan Chen Xi tepat saat pilar cahaya pertama dari langit menghantam dasar menara. Energi panas yang luar biasa menyambar ke atas, melelehkan pondasi baja.
"Melompat sekarang!" Chen Xi menarik Li Wei menuju tepi platform.
Percakapan di Ambang Maut
"Kau gila! Kita akan hancur menghantam beton di bawah!" seru Li Wei di tengah deru angin.
"Aktifkan resonansi maksimal pada kakimu saat mendarat! Gunakan aku sebagai penyeimbang!" Chen Xi tidak menunggu jawaban. Ia menarik Li Wei jatuh bersamanya ke dalam jurang kegelapan yang dipenuhi uap panas.
Saat mereka melayang, Li Wei merasakan dunianya berputar. Ia melihat Sektor 7 terbakar di bawah sana—sebuah pemandangan neraka yang diciptakan oleh orang-orang yang dulu ia sumpah untuk ditaati. Dalam kejatuhan itu, ia melihat wajah Han yang bersimbah darah di bawah menara, berusaha bangkit namun gagal.
"Han!" raung Li Wei.
"Fokus, Li Wei! Aktifkan sistem bantalan sarafmu sekarang!" Chen Xi memeluk bahu Li Wei, menggunakan berat tubuh mereka berdua untuk mengarahkan lintasan jatuh menuju tumpukan beton yang lebih lunak di dekat pintu bunker.
BRAKK!
Benturan itu terasa seolah setiap tulang di tubuh Li Wei remuk. Sensor zirahnya meledak dalam peringatan kegagalan sistem. Pandangannya memudar, menyisakan warna merah dan hitam. Di sela kesadarannya yang menipis, ia merasakan tangan seseorang menyeretnya melewati lumpur dan debu semen.
"Bangun, prajurit sombong! Jangan mati di sini!" suara Chen Xi terdengar jauh, tertutup oleh dengung telinganya yang pecah.
Li Wei terbatuk, memuntahkan darah ke dalam helmnya sendiri. Ia membuka mata dan melihat pintu baja raksasa Bunker X-19 berdiri di hadapannya. Di bawah lampu darurat yang berkedip, ia melihat Han tergeletak di samping pintu, tidak sadarkan diri dengan zirah yang hangus.
"Han..." bisik Li Wei parau.
"Dia masih hidup, tapi denyut jantungnya tidak stabil. Cepat, tempelkan telapak tanganmu pada sensor biometrik itu!" Chen Xi mendesak, ia sendiri tampak pincang dengan bahu kiri yang terkulai lemas.
Li Wei menyeret tubuhnya menuju panel kontrol. Tangannya yang gemetar menyentuh layar kaca yang dingin.
"Identitas dikonfirmasi. Perwira Li Wei. Akses diberikan," suara komputer bunker terdengar dingin dan mekanis.
Pintu baja itu mengerang terbuka sedikit. Udara dingin dari dalam bunker menyembur keluar, kontras dengan panasnya ledakan di luar.
"Bantu aku mengangkatnya," kata Li Wei sambil meraih lengan Han.
"Aku tidak bisa menggunakan tangan kiriku, Li Wei. Bahuku lepas," Chen Xi meringis, namun ia tetap menggunakan tangan kanannya untuk mendorong punggung Han masuk ke dalam celah pintu.
"Tahan... sedikit lagi..." Li Wei mengerahkan sisa energinya.
Tepat saat tubuh Han berhasil ditarik masuk, suara gemuruh dari langit kembali terdengar. Satelit orbital sedang mempersiapkan tembakan pembersihan terakhir untuk memastikan tidak ada satu pun sel organik yang tersisa di permukaan Sektor 7.
"Masuk sekarang!" Chen Xi mendorong Li Wei masuk ke dalam bunker dan ia menyusul di belakang.
Li Wei menekan tombol penutup darurat dari dalam. Pintu baja itu berdentum menutup, mengunci mereka dalam kegelapan yang pengap. Detik berikutnya, ledakan dahsyat di luar membuat dinding bunker yang tebal itu bergetar hebat. Ribuan ton beton runtuh di atas mereka, menutup jalan keluar selamanya.
Kegelapan yang Berbisik
Di dalam keheningan yang menyiksa, hanya terdengar suara napas mereka yang tersengal. Li Wei terbaring di lantai logam yang dingin, menatap kegelapan tanpa ujung.
"Kita selamat?" tanya Li Wei setelah beberapa saat.
"Untuk sementara," jawab Chen Xi. Ia terdengar sedang menyandarkan tubuhnya ke dinding. "Tapi kita terkubur hidup-hidup. Dan bunker ini... aku bisa merasakan frekuensinya. Ini bukan sekadar gudang logistik."
Li Wei menyalakan pendar biru pada Bailong-Jian untuk memberikan sedikit cahaya. Cahaya itu memantul pada wajah Chen Xi yang pucat dan penuh noda hitam. Ia kemudian mengarahkan cahaya itu ke arah Han.
"Han! Han, bangun!" Li Wei mengguncang bahu sahabatnya.
Han mengerang, matanya terbuka sedikit, menatap kosong ke langit-langit. "Komandan... Sektor 7... apakah kita menang?"
Li Wei terdiam. Tenggorokannya terasa tersumbat. Bagaimana ia harus menjelaskan bahwa kemenangan yang Han cari telah berubah menjadi pengkhianatan yang mematikan?
"Istirahatlah, Han. Kita sudah di tempat aman," ucap Li Wei bohong.
"Tempat aman?" Chen Xi tertawa pahit di sudut ruangan. "Dengar itu, Li Wei? Suara di balik dinding ini?"
Li Wei menajamkan pendengarannya. Di tengah kesunyian bunker, terdengar suara dengung rendah yang konstan. Bukan suara mesin, melainkan sesuatu yang terasa lebih... organik. Seperti rintihan ribuan jiwa yang terjebak dalam getaran frekuensi rendah.
"Itu adalah suara Qi-Battery yang sedang bekerja," bisik Chen Xi dengan nada ngeri. "Mereka tidak hanya mengambil nyawa prajurit di atas sana. Mereka memanen sisa emosi terakhir untuk mengisi daya kota-kota di pusat."
Li Wei berdiri dengan susah payah, menggunakan pedangnya sebagai tongkat. "Apa maksudmu? Kekaisaran tidak menggunakan teknologi seperti itu."
"Kekaisaranmu membohongimu tentang banyak hal, Li Wei. Termasuk tentang klanmu," Chen Xi menatapnya dengan tatapan yang penuh rahasia.
"Jangan bawa-bawa klanku dalam omong kosongmu!" geram Li Wei.
"Kenapa kau pikir klan Li Wei dihancurkan dan hanya kau yang disisakan sebagai 'pion teladan'?" Chen Xi berdiri, menahan rasa sakit di bahunya. "Karena saraf klanmu memiliki resonansi paling murni untuk menjadi inang energi Qi. Kau bukan pahlawan, Li Wei. Kau adalah baterai cadangan yang sedang mereka siapkan."
Li Wei merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. Informasi itu menghantamnya lebih keras daripada ledakan orbital tadi. Ia menatap tangannya sendiri, menatap zirahnya, dan menyadari bahwa setiap inci dari dirinya mungkin hanyalah bagian dari mesin besar yang haus darah.
"Aku tidak percaya padamu," desis Li Wei, namun suaranya bergetar.
"Kau tidak perlu percaya kata-kataku. Lihat saja terminal data di depanmu itu," Chen Xi menunjuk ke sebuah layar kuno yang masih menyala redup di ujung ruangan. "Buka log proyek 'Void'. Lihat sendiri siapa yang menandatangani perintah eksekusi keluargamu."
Li Wei melangkah maju, tangannya gemetar saat mendekati terminal itu. Di sampingnya, Han mulai meracau dalam tidurnya, menyebut nama-nama yang sudah mati.
"Jangan lakukan itu jika kau belum siap kehilangan duniamu sepenuhnya," peringat Chen Xi.
"Aku sudah kehilangan duniamu sejak aku melihat gas hijau itu, Chen Xi," balas Li Wei dingin.
Konfirmasi Kiriman Pertama: Bagian pertama dari Bab 2 telah selesai dikerjakan sesuai blueprint dan protokol. Narasi mencakup duel di menara hingga mereka masuk ke dalam Bunker X-19. Emosi ditekankan pada pengkhianatan dan kebenaran pahit.
Li Wei mematung di depan terminal data yang berkedip suram. Cahaya biru dari bilah Bailong-Jian memantul di layar, menciptakan bayangan yang menari-nari di wajahnya yang kaku. Jemarinya yang terbungkus sarung tangan taktis yang koyak ragu sejenak di atas panel sensor. Di belakangnya, Chen Xi sedang berusaha mengatur kembali posisi tulang bahunya yang lepas dengan geraman tertahan, sementara Han mulai meracau lebih keras tentang hujan api di Sektor 7.
"Apa yang kau tunggu, Li Wei? Takut menghadapi kenyataan bahwa pahlawanmu adalah jagal bagi keluargamu sendiri?" tanya Chen Xi dengan nada mengejek yang dibungkus rasa sakit.
"Diamlah, Chen Xi. Kau tidak tahu apa pun tentang pengabdian klan kami," balas Li Wei tanpa menoleh.
"Aku tahu tentang protokol 'Void'. Aku tahu bahwa setiap tetes darah yang tumpah di perbatasan ini dikonversi menjadi energi untuk menghidupi lampu-lampu di istana Naga Laut dan Kekaisaran," Chen Xi berhasil mengunci kembali bahunya dengan suara klik yang mengerikan. Ia menghela napas panjang, bersandar pada dinding beton yang dingin. "Buka saja file itu. Gunakan kode dekripsi 09-Alpha-Resonance. Itu adalah tanda pengenal genetik klanmu."
Li Wei menarik napas panjang, membiarkan oksigen yang tersisa di bunker memenuhi paru-parunya. Ia memasukkan barisan kode tersebut. Layar terminal mendadak berubah merah. Barisan dokumen rahasia terbuka satu demi satu, menampilkan stempel Jenderal Zhao Kun pada setiap perintah "Ekstraksi Paksa".
"Ini tidak mungkin..." bisik Li Wei. Matanya terpaku pada sebuah grafik yang menunjukkan tingkat kecocokan emosi klan Li terhadap mesin Qi-Battery. "Mereka bukan membantai klanku karena pengkhianatan. Mereka memanen mereka."
"Mereka membutuhkan emosi murni—kemurkaan, kesedihan, keputusasaan—untuk memicu reaksi fusi pada inti baterai. Dan klanmu, dengan sejarah militer yang panjang, memiliki intensitas emosi yang paling stabil untuk itu," Chen Xi berjalan mendekat, menatap layar dengan dingin. "Kau disisakan bukan karena kau beruntung, Li Wei. Kau disisakan karena kau adalah subjek kontrol. Mereka butuh satu orang yang tetap hidup agar resonansi emosional anggota klan yang terjebak di dalam tabung tetap terjaga."
"Maksudmu... mereka masih hidup?" suara Li Wei naik satu oktav, penuh dengan harapan yang bercampur dengan kengerian.
"Dalam bentuk yang tidak ingin kau lihat," sahut Chen Xi singkat.
Li Wei menghantamkan tinjunya ke layar terminal hingga retak. "Semua ini... semua perang ini hanya untuk ini?"
"Perang adalah cara termudah untuk menghasilkan emosi dalam jumlah besar secara instan, Li Wei. Kematian di medan tempur adalah panen yang paling efisien," Chen Xi menunjuk ke arah Han yang kini mulai kejang kecil. "Lihat sahabatmu. Sinyal sarafnya mulai beresonansi dengan bunker ini. Chip di tengkuknya... itu adalah sensor panen."
Li Wei segera berlutut di samping Han. Ia memeriksa tengkuk sahabatnya dan menemukan sebuah tonjolan kecil yang berpendar merah samar di bawah kulit. "Kenapa aku tidak pernah melihat ini sebelumnya?"
"Karena itu hanya aktif saat subjek berada dalam kondisi stres ekstrem atau berada dekat dengan pusat ekstraksi," Chen Xi berjongkok di sisi lain. "Jika kita tetap di sini, Han akan kehilangan kesadarannya secara permanen. Dia akan menjadi mesin pembunuh tanpa jiwa, atau lebih buruk lagi, dia akan meledak karena kelebihan beban emosional."
"Lalu apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa membiarkannya mati seperti ini!" Li Wei mencengkeram bahu Han, mencoba memberikan kestabilan melalui resonansi sarafnya sendiri.
"Kita harus keluar dari sini. Jalur utama tertutup beton, tapi denah bunker ini menunjukkan ada saluran pembuangan limbah kimia yang menuju ke gorong-gorong kota," Chen Xi menunjukkan peta hologram kecil dari pergelangan tangannya. "Itu satu-satunya jalan. Tapi harganya mahal."
"Apa harganya?" tanya Li Wei tajam.
"Kita akan dicap sebagai hantu. Jika kita keluar melalui jalur itu, sistem akan mencatat kita sebagai 'Aset Kedaluwarsa'. Tidak ada lagi jalan kembali ke militer, tidak ada lagi nama, tidak ada lagi martabat di mata dunia," Chen Xi menatap mata Li Wei dengan dalam. "Kau siap menjadi monster demi menyelamatkan satu nyawa?"
Li Wei menatap Han yang wajahnya mulai membiru, lalu ia meraba boneka kain di sakunya. Ia teringat anak kecil di parit tadi, yang hidupnya mungkin juga akan berakhir di dalam tabung jika ia tidak melakukan sesuatu.
"Martabatku sudah mati bersama klan di dokumen itu, Chen Xi," ucap Li Wei dengan suara yang dingin dan berat. "Bantu aku mengangkat Han."
"Bagus. Selamat datang di sisi gelap, Perwira," Chen Xi membantu Li Wei memapah tubuh Han yang berat.
Mereka berjalan menuju sudut bunker yang dipenuhi pipa-pipa raksasa yang bergetar. Bau amonia dan belerang mulai menyerang indra penciuman mereka. Di depan mereka, sebuah jeruji besi besar menjadi penghalang terakhir menuju kegelapan bawah tanah.
"Berapa sisa energimu?" tanya Chen Xi saat mereka berdiri di depan jeruji.
"Cukup untuk satu kali Limit Break kecil," jawab Li Wei. Ia menarik napas dalam-dalam, memicu aliran energi sarafnya hingga ke titik maksimal. Bilah Bailong-Jian bersinar sangat terang, membelah kegelapan bunker dengan pendar biru yang menyakitkan mata.
"Lakukan sekarang!" seru Chen Xi.
Dengan satu tebasan vertikal yang sangat presisi, Li Wei memotong jeruji besi tebal itu seolah-olah hanya terbuat dari kertas. Suara logam yang jatuh berdentang di lantai semen, bergema jauh ke dalam saluran pembuangan yang gelap.
"Jalan ke depan tidak akan mudah, Li Wei," ucap Chen Xi saat mereka bersiap melangkah masuk ke dalam terowongan limbah yang licin. "Zhao Kun pasti sudah tahu kita selamat. Dia tidak akan membiarkan 'baterai cadangannya' berkeliaran bebas."
"Biarkan dia datang," balas Li Wei. Ia menatap ke dalam kegelapan terowongan dengan mata yang kini tidak lagi memancarkan keraguan. "Aku akan menjadikannya emosi pertama yang dipanen oleh pedangku sendiri."
Mereka merayap masuk ke dalam pipa pembuangan yang sempit. Udara di dalam sana terasa panas dan lembap, penuh dengan uap kimia yang membuat mata perih. Li Wei bisa merasakan getaran mesin di atas mereka mulai menjauh, digantikan oleh kesunyian bawah tanah yang mencekam. Di belakang mereka, pintu Bunker X-19 tertutup oleh timbunan reruntuhan, seolah-olah mengubur masa lalu mereka sedalam-dalamnya.
"Han, bertahanlah," bisik Li Wei di tengah kegelapan. "Kita akan menemukan jalan keluar."
"Komandan... dingin sekali..." rintih Han pelan.
"Jangan tidur, Han! Itu perintah!" bentak Li Wei, lebih untuk menyemangati dirinya sendiri daripada untuk Han.
Chen Xi memimpin di depan dengan bantuan perangkat analisis spasialnya. "Sinyal SOS Xiao Hu menguat dari arah utara. Kita harus bergerak cepat sebelum pasukan pembersih melacak residu energi dari pedangmu."
"Siapa Xiao Hu sebenarnya?" tanya Li Wei sambil terus melangkah di atas permukaan yang licin.
"Masa depan kita, atau kehancuran kita. Tergantung pada apa yang tersisa dari kemanusiaanmu saat kita menemukannya," sahut Chen Xi tanpa menoleh.
Li Wei terdiam, terus melangkah meski luka bahunya terasa seperti terbakar oleh uap kimia. Ia tahu bahwa mulai saat ini, setiap langkah yang ia ambil akan membawanya semakin jauh dari dunia yang pernah ia kenal. Ia bukan lagi naga putih dari Sektor 7; ia adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang lahir dari darah, pengkhianatan, dan rahasia yang terkubur di bawah tanah. Di luar sana, langit mungkin masih memerah oleh api orbital, namun di bawah sini, sebuah sumpah baru telah ditempa dalam diam.