NovelToon NovelToon
Bangkitnya Menantu Terhina

Bangkitnya Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: megga kaeng

Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 – Rumah yang Tak Lagi Menerima

Asap dari dapur-dapur desa melayang pelan, bercampur aroma nasi hangat dan kayu bakar. Suara pagi terdengar biasa anak-anak berlari, ayam berkokok, orang-orang bercakap tentang hal remeh. Dunia berjalan seperti biasa, seolah semalam tidak ada darah yang bergetar dan takdir yang bergeser.

Defit Karamoy melangkah masuk ke desa itu.

Beberapa orang menoleh. Ada yang berhenti bicara. Ada pula yang berbisik pelan, tatapannya cepat-cepat dialihkan seakan keberadaan Defit adalah sesuatu yang memalukan.

“Dia kembali…”

“Bukankah sudah diusir?”

“Kasihan… tapi memang tak tahu diri.”

Setiap kata sampai ke telinganya dengan jelas lebih jelas dari sebelumnya. Bukan karena pendengarannya meningkat, melainkan karena hatinya sudah berhenti berusaha menolak.

Defit berjalan tanpa menunduk. Setiap langkah terasa berat, bukan oleh rasa takut, melainkan oleh kenangan. Di jalan ini dulu ia sering membawa kayu bakar, menahan lelah demi dianggap berguna. Di rumah itu ia pernah berharap dipanggil keluarga.

Kini, yang ia rasakan hanya jarak.

Gerbang rumah besar keluarga istrinya berdiri megah, bersih, dan dingin. Pintu kayunya tertutup rapat. Defit berhenti di depannya, menatap lama seolah berharap rumah itu mengenalinya.

Ia mengetuk.

Tok.

Tok.

Tak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. Pintu terbuka sedikit. Seorang pelayan perempuan muncul, matanya membesar begitu melihat Defit.

“T-tuan Defit?” suaranya ragu. “Anda… kembali?”

“Ini rumahku,” jawab Defit pelan. “Atau setidaknya dulu begitu.”

Pelayan itu menunduk, gelisah. “Tuan besar sedang sarapan. Tapi… saya tidak tahu apakah”

“Biarkan dia masuk.”

Suara itu datang dari dalam. Dingin, berat, penuh otoritas.

Ayah mertua Defit.

Pintu dibuka lebar. Defit melangkah masuk. Ruang makan itu masih sama meja panjang, kursi kayu mengilap, dan wajah-wajah yang tak pernah benar-benar menganggapnya ada.

Ipar-iparnya menatap dengan senyum tipis. Ibunya mertua hanya melirik sekilas, lalu kembali minum teh.

Dan istrinya… duduk di ujung meja.

Defit berhenti. Dadanya bergetar.

Ia menunggu. Menunggu sesuatu tatapan, reaksi, apa pun. Namun yang ia dapat hanyalah mata kosong yang menatapnya sebentar, lalu berpaling.

Itu lebih menyakitkan dari hinaan mana pun.

“Kau kembali untuk apa?” ayah mertuanya bertanya tanpa basa-basi. “Kami sudah memberimu kesempatan. Kau memilih pergi.”

Defit tersenyum kecil. “Aku tidak pergi. Aku diusir.”

Ruangan itu senyap. Beberapa iparnya tersenyum miring.

“Kau seharusnya tahu diri,” salah satu dari mereka menyela. “Kau tidak membawa apa pun ke keluarga ini selain aib.”

Kata itu aib menggantung di udara.

Defit menatap meja kayu itu. Jarinya mengepal perlahan. Ia merasakan panas di dadanya, dorongan untuk menghancurkan segalanya di ruangan itu hanya dengan satu gerakan.

Namun ia menahannya.

“Aku tidak datang untuk bertengkar,” katanya tenang. “Aku datang untuk mengambil satu hal.”

Ayah mertuanya mengangkat alis. “Dan apa yang bisa kau ambil dari sini?”

Defit menoleh ke arah istrinya. Matanya melembut, untuk pertama kalinya sejak ia masuk.

“Kebenaran.”

Semua mata tertuju padanya.

“Istriku,” ucap Defit, suaranya bergetar tipis, “katakan pada mereka. Katakan bahwa aku tidak pernah malas. Katakan bahwa aku selalu berusaha. Katakan bahwa aku tidak pantas diperlakukan seperti ini.”

Istrinya menegang. Bibirnya bergetar. Tangannya mencengkeram kain bajunya.

Untuk sesaat, Defit melihat sesuatu di matanya keraguan, rasa bersalah… dan ketakutan.

Namun kemudian, bahunya turun.

“Aku…” suaranya lirih. “Aku tidak bisa.”

Kalimat itu menghantam Defit lebih keras dari serangan bayangan semalam.

“Kenapa?” tanyanya pelan, nyaris memohon.

Karena aku takut, kata matanya. Takut kehilangan keluarga. Takut berdiri di sampingmu.

Ayah mertuanya mendengus. “Kau dengar sendiri. Pergilah sebelum kau mempermalukan dirimu lebih jauh.”

Defit tertawa kecil. Tawa yang kering, kosong.

“Baik,” katanya. “Aku mengerti sekarang.”

Ia berbalik. Setiap langkah menuju pintu terasa seperti meninggalkan potongan dirinya sendiri di lantai itu.

Namun sebelum keluar, ia berhenti.

“Aku tidak akan kembali,” katanya tanpa menoleh. “Dan suatu hari… kalian akan menyebut namaku bukan sebagai aib, tapi sebagai peringatan.”

Ayah mertuanya mencibir. “Ancaman kosong.”

Defit membuka pintu.

Di ambang pintu, guratan hitam di lengannya menyala sesaat cukup singkat untuk dianggap ilusi, cukup lama untuk membuat pelayan di dekatnya menahan napas.

Defit melangkah keluar.

Begitu pintu tertutup, kakinya melemas. Ia bersandar di dinding luar rumah, napasnya tersengal. Matanya panas, dadanya sakit, namun ia tidak menangis.

“Ini rumah yang tak lagi menerimaku,” bisiknya.

Dari dalam tanah, sesuatu bergetar lembut seakan menjawab.

Dan jauh di bawah desa itu, sesuatu yang telah lama tertidur…

perlahan membuka mata.

1
kurnia
up thor
grandi
awal yang menarik semoga,
terus menarik ceritanya 👍
megga kaeng: trimakasih🙏
total 1 replies
grandi
jangan gantung ya thor🙏
megga kaeng: siap🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!