NovelToon NovelToon
One Piece: Legenda Spider Fruit

One Piece: Legenda Spider Fruit

Status: sedang berlangsung
Genre:One Piece / Kelahiran kembali menjadi kuat / Fantasi Isekai / Time Travel / Reinkarnasi / Transmigrasi
Popularitas:548
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Perpisahan dan Perjalanan

Fajar menyingsing di Pulau Kumo. Aku berdiri di pantai dengan tas kecil berisi beberapa pakaian ganti dan bekal makanan yang diberikan penduduk desa. Kapal Kapten Rodger sudah siap berlayar, awaknya sibuk mempersiapkan keberangkatan.

Hampir seluruh penduduk desa berkumpul untuk mengantarku. Wajah-wajah yang sudah kukenal selama setahun ini—Pak Yamada, Bu Hana pemilik kedai, Mas Takeshi si nelayan, dan anak-anak yang sering bermain denganku.

"Kak Kenji, jangan lupa sama kami ya!" teriak seorang anak perempuan kecil sambil menangis.

Aku berlutut dan mengusap kepalanya. "Tentu tidak. Aku akan selalu ingat kalian semua."

Pak Yamada maju dengan membawa sesuatu yang terbungkus kain. "Kenji, ini untukmu."

Aku membuka bungkusannya dan terkejut melihat isinya—sebuah jaket kulit hitam dengan simbol laba-laba berwarna putih di punggungnya. Jaket itu terlihat kokoh tapi fleksibel, sempurna untuk pertarungan.

"Kami membuatnya bersama-sama," kata Bu Hana tersenyum. "Kami tahu kau akan pergi suatu hari nanti, jadi kami mempersiapkan ini. Simbol laba-labanya adalah representasi dari kekuatanmu."

"Ini..." aku merasakan tenggorokanku menyesak. "Terima kasih. Terima kasih banyak."

Aku langsung memakai jaket itu. Ukurannya pas sempurna, dan bahannya sangat nyaman.

Mas Takeshi maju sambil membawa gulungan kain. "Dan ini," dia membukanya, menampilkan sebuah bendera. Bendera hitam dengan simbol laba-laba putih yang sama—tapi laba-labanya memiliki delapan mata yang menyerupai bintang. "Suatu hari nanti, kalau kau punya kru sendiri, kau bisa menggunakan ini sebagai bendera bajak lautmu."

Aku menatap bendera itu dengan mata berkaca-kaca. "Kalian... kalian sudah menyiapkan semua ini?"

"Kami percaya padamu, Kenji," Pak Yamada tersenyum. "Kami tahu kau akan menjadi seseorang yang luar biasa di luar sana. Jadi pergilah. Raih impianmu. Dan suatu hari nanti, ketika kau sudah terkenal, jangan lupa untuk mampir dan ceritakan petualanganmu."

Aku tidak bisa menahan air mata lagi. Aku memeluk Pak Yamada, lalu satu per satu memeluk penduduk desa yang sudah kujadikan keluarga.

"Aku janji," kataku dengan suara bergetar. "Aku akan kembali. Dan saat itu, aku akan menjadi seseorang yang membuat kalian bangga."

"Kami sudah bangga padamu sekarang," jawab Pak Yamada.

Kapten Rodger berteriak dari kapal. "Kenji! Saatnya berangkat! Arus sedang bagus!"

Aku mengangguk dan berjalan menuju kapal. Tapi sebelum naik, aku berbalik dan melambaikan tangan satu kali terakhir.

"SELAMAT JALAN, KEK KENJI!"

"SEMANGAT!"

"JADI BAJAK LAUT YANG HEBAT!"

Teriakan mereka mengiringi langkahku naik ke kapal. Saat kapal mulai berlayar, aku berdiri di dek, menatap Pulau Kumo yang perlahan menjauh.

Angin laut menerpa wajahku. Jaket pemberian desa berkibar. Dan untuk pertama kalinya sejak direinkarnasi, aku benar-benar merasakan—ini adalah awal dari segalanya.

Perjalanan di laut ternyata tidak setenang yang kubayangkan. Hari pertama masih menyenangkan—aku membantu awak kapal dengan pekerjaan ringan, berbincang dengan Kapten Rodger tentang dunia luar, dan berlatih di dek saat ada waktu luang.

Tapi hari kedua, cuaca berubah drastis.

Awan hitam menutupi langit. Ombak mengamuk. Angin bertiup kencang. Badai datang tanpa peringatan.

"SEMUA KE POSISI MASING-MASING!" teriak Kapten Rodger. "AMANKAN LAYAR! IKAT SEMUA KARGO!"

Awak kapal berlarian dengan panik tapi terlatih. Aku ikut membantu mengikat tali-tali yang terlepas, menggunakan jaringku untuk mengamankan barang-barang yang hampir terbang.

"KENJI!" Kapten Rodger memanggilku. "ADA YANG JATUH KE LAUT!"

Aku langsung berlari ke sisi kapal. Seorang awak muda terjatuh ke air yang berombak ganas!

Tanpa berpikir panjang, aku melompat.

"KENJI, JANGAN!" teriak seseorang, tapi aku sudah di udara.

Sesaat sebelum menyentuh air, aku menembakkan jaring ke kapal dan mengayunkan tubuhku. Aku melayang di atas permukaan air, tangan terulur menangkap awak yang tenggelam.

"Gotcha!" aku menangkap tangannya.

Spider Sense ku tiba-tiba berdering keras!

WUSH!

Ombak raksasa datang dari samping! Kalau kena, kami berdua akan tersapu!

Dengan refleks, aku menembakkan jaring ganda ke kapal dan menarik kami berdua dengan sekuat tenaga. Kami melayang kembali ke dek tepat sebelum ombak menghantam.

SPLASH!

Air laut membanjiri dek, tapi kami selamat.

"Hah... hah..." awak muda itu batuk-batuk. "Terima... terima kasih..."

"Sama-sama," jawabku sambil tersenyum. "Berpeganglah erat sekarang. Badai belum selesai."

Badai berlangsung selama tiga jam. Tiga jam yang melelahkan, menegangkan, tapi juga... mengasyikkan. Ada sesuatu tentang melawan alam, bekerja sama dengan kru, dan menggunakan kekuatanmu untuk melindungi orang lain—itu membuatku merasa hidup.

Setelah badai reda, Kapten Rodger menepuk bahuku keras. "Kerja bagus, bocah! Tanpamu, kami kehilangan Jimbo!"

Jimbo—awak muda yang kutolongkan—membungkuk berkali-kali. "Terima kasih, Kenji-san! Kau menyelamatkan nyawaku!"

"Tidak masalah," aku tersenyum. "Kita semua satu kru di kapal ini, kan?"

Kapten Rodger tertawa keras. "Haha! Kau benar! Kau punya mental seorang pelaut sejati, Kenji!"

Hari ketiga perjalanan, laut sudah tenang kembali. Aku berdiri di haluan kapal, menatap cakrawala. Kapten Rodger mendekatiku dengan dua cangkir kopi.

"Untukmu," dia menyerahkan satu cangkir.

"Terima kasih, Kapten."

Kami berdiri dalam diam sejenak, menikmati pemandangan laut yang luas.

"Kenji," Kapten Rodger akhirnya berbicara. "Kau serius ingin menjadi bajak laut?"

Aku mengangguk. "Ya. Aku ingin berlayar, menjelajahi dunia, dan menemukan kebebasan sejati."

"Kebebasan, eh?" Kapten Rodger tersenyum. "Itu yang dicari semua bajak laut. Tapi jalannya tidak mudah. Laut itu kejam. Marine akan mengejarmu. Bajak laut lain akan melawanmu. Kau akan menghadapi monster, badai, bahkan mungkin kematian."

"Aku tahu," jawabku dengan mantap. "Tapi aku tidak takut. Karena aku punya impian yang ingin kuraih."

"Impian? Apa impianmu?"

Aku terdiam sejenak, memikirkan jawabannya. Apa impianku? Dalam kehidupan lamaku, aku tidak punya impian—hanya rutinitas membosankan. Tapi sekarang, dengan kehidupan kedua ini...

"Aku ingin menjadi seseorang yang bisa melindungi teman-temanku," jawabku akhirnya. "Seseorang yang bisa berdiri di samping orang-orang hebat dan berkata, 'Aku adalah bagian dari kru ini.' Aku ingin petualangan yang membuat hidupku berarti."

Kapten Rodger menatapku lama, lalu tersenyum lebar. "Itu impian yang bagus, bocah. Sangat bagus." Dia menepuk bahuku. "Kau tahu, aku dulu juga punya impian seperti itu. Tapi aku memilih jalan yang lebih aman—menjadi pedagang. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi kadang aku bertanya-tanya... bagaimana jadinya kalau aku memilih jalan yang berbeda."

"Tidak pernah terlambat, Kapten," kataku tersenyum.

"Haha! Untuk bocah tuaku? Sudah terlambat!" Kapten Rodger tertawa. "Tapi kau masih muda. Kau punya waktu untuk mengejar impianmu. Jadi lakukan dengan sepenuh hati, Kenji. Jangan pernah menyesal."

"Aku tidak akan menyesal," jawabku dengan tekad.

Hari keempat, kami akhirnya melihat daratan.

"ITU DIA!" teriak awak di tiang pengintai. "PULAU YOTSUBA!"

Pulau Yotsuba adalah pulau perdagangan besar, hanya beberapa jam pelayaran dari Loguetown. Kapten Rodger akan berhenti di sini untuk berdagang, dan aku bisa mencari kapal lain yang menuju Loguetown.

Saat kapal berlabuh di pelabuhan, aku terkejut melihat betapa ramai dan besarnya pulau ini. Bangunan-bangunan tinggi, ratusan kapal di pelabuhan, ribuan orang berlalu lalang—ini seperti kota metropolitan!

"Selamat datang di Pulau Yotsuba," kata Kapten Rodger sambil turun dari kapal. "Salah satu pusat perdagangan terbesar di East Blue. Di sini, kau bisa menemukan apa saja—informasi, senjata, makanan, bahkan kapal."

"Luar biasa," gumamku sambil menatap sekeliling dengan mata berbinar.

"Aku akan berdagang di sini selama tiga hari," lanjut Kapten Rodger. "Gunakan waktu itu untuk mencari tahu tentang Loguetown dan Monkey D. Luffy. Bar-bar di pelabuhan biasanya punya informasi terbaru tentang bajak laut."

"Baik, Kapten. Terima kasih atas semuanya."

Kapten Rodger tersenyum dan memelukku. "Jaga dirimu, Kenji. Dan ingat—laut itu luas. Kalau kau membutuhkan bantuan, cari saja kapal dengan bendera pedagang biru. Itu jaringan pedagang kami. Kami akan membantumu."

"Aku akan mengingatnya."

Setelah berpisah dengan Kapten Rodger dan kru, aku berjalan menyusuri pelabuhan. Mataku menyapu sekeliling, mengamati semua yang kulihat.

Ada kapal-kapal besar dengan bendera berbagai negara. Ada pedagang yang berteriak menjual barang dagangan. Ada pelaut mabuk yang berkelahi di depan bar. Ada bahkan beberapa bounty hunter yang berjalan dengan gagah, poster buronan di tangan mereka.

"Ini benar-benar dunia One Piece," gumamku kagum. "Semuanya terasa begitu nyata."

Spider Sense ku tiba-tiba berdering pelan. Bukan bahaya langsung, tapi... peringatan?

Aku menoleh dan melihat sekelompok pria berbaju hitam sedang mengamatiku dari kejauhan. Mereka tidak terlihat ramah.

"Trouble," pikirku. "Mungkin aku harus menghindari mereka."

Aku berjalan ke arah yang berlawanan, menuju distrik bar seperti yang disarankan Kapten Rodger. Tapi saat melewati gang sempit, Spider Sense ku berdering keras!

Aku berhenti tepat waktu. Lima orang keluar dari bayangan, mengepungku. Mereka semua memegang senjata—pedang, pisau, dan bahkan pistol.

"Lihat-lihat siapa ini," kata salah satu dari mereka, pria botak dengan tato di wajahnya. "Bocah dengan jaket laba-laba. Kau Kenji yang mengalahkan Kuro, kan?"

Aku mengambil posisi siaga. "Dan kalau iya? Apa urusannya dengan kalian?"

"Urusan?" pria botak itu menyeringai. "Kuro adalah teman kami. Kau mempermalukannya. Jadi kami di sini untuk balas dendam—dan mengambil kepalamu. Bounty hunter akan membayar mahal untuk kepala pengguna Buah Iblis muda sepertimu."

Bounty hunter. Aku seharusnya tahu ini akan terjadi. Di dunia ini, kekuatan berarti target.

"Aku tidak punya waktu untuk ini," kataku sambil merentangkan jari. "Pergi sekarang, atau kalian akan menyesal."

"MENYESAL?!" pria botak itu tertawa. "Kau yang akan menyesal, bocah! SERANG!"

Kelima orang itu menyerang bersamaan.

Tapi aku sudah bergerak lebih dulu.

THWIP THWIP THWIP!

Tiga jaring melesat, mengikat kaki tiga penyerang. Aku menarik keras—mereka bertiga jatuh dengan wajah mencium tanah.

Dua penyerang tersisa. Salah satunya menembak dengan pistol!

Spider Sense! Aku memiringkan kepala—peluru melewati telingaku!

Dengan gerakan cepat, aku menembakkan jaring ke pistolnya dan menariknya lepas. Lalu aku mengayunkan tubuhku menggunakan jaring, menendang penembak itu tepat di wajah.

Penyerang terakhir—pria botak—mengayunkan pedangnya dengan brutal.

Aku menghindar dengan mudah, lalu menembakkan jaring berlapis ke dadanya. Jaring mengeras, membuatnya tidak bisa bergerak.

"Apa—aku tidak bisa bergerak!" teriaknya panik.

"Aku sudah memperingatkan," kataku sambil berjalan melewatinya. "Jangan ganggu aku lagi."

Aku meninggalkan mereka tergeletak di gang, menuju bar yang terlihat cukup ramai. Nama barnya "The Rusty Anchor"—Jangkar Berkarat.

Aku masuk. Suasana di dalam bising—pelaut mabuk bernyanyi, orang bertaruh di meja kartu, dan bartender sibuk melayani minuman.

Aku duduk di meja bar. Bartender—seorang pria tua dengan kumis tebal—mendekatiku.

"Mau pesan apa, nak?"

"Jus jeruk," jawabku. "Dan informasi."

Bartender mengangkat alis. "Informasi? Tentang apa?"

"Monkey D. Luffy. Kru Topi Jerami. Apakah mereka sudah sampai di Loguetown?"

Bartender menatapku lama, lalu tersenyum tipis. "Kau bukan orang pertama yang bertanya tentang mereka hari ini."

Jantungku berdebar. "Maksudmu?"

"Ada banyak orang yang mencari mereka," bartender menuangkan jus jeruk. "Marine, bounty hunter, bahkan beberapa bajak laut. Kru Topi Jerami sudah jadi terkenal setelah mengalahkan Arlong. Bounty kapten mereka naik jadi 30 juta Berry—itu angka yang sangat tinggi untuk rookie di East Blue."

"Jadi mereka di mana sekarang?"

"Menurut informasi terakhir," bartender mendekat dan berbisik. "Mereka sudah tiba di Loguetown kemarin. Tapi ada kabar Marine Captain Smoker sudah menunggu mereka di sana. Kalau kau ingin bertemu mereka, kau harus cepat. Karena kalau Smoker menangkap mereka, petualangan mereka berakhir sebelum sempat dimulai."

Smoker. Pengguna Buah Iblis Moku Moku no Mi. Marine yang kuat dan gigih.

"Aku harus segera ke Loguetown," kataku sambil berdiri.

"Tunggu," bartender menghentikanku. "Ada kapal bajak laut yang akan berangkat ke Loguetown besok pagi. Mereka mencari awak tambahan. Kalau kau tertarik, pergi ke dermaga nomor 7. Tanya Kapten Drake."

"Terima kasih," aku meninggalkan beberapa koin di meja dan bergegas keluar.

Besok pagi. Aku harus naik kapal itu dan sampai di Loguetown secepat mungkin.

Karena di sana, impianku untuk bertemu Luffy akan dimulai.

1
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!