NovelToon NovelToon
Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Pernikahan rahasia / Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.

Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.

Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dilema Sang CEO

Udara di lantai eksekutif Dirgantara Group terasa jauh lebih dingin dari biasanya, namun bagi Arash, suhu serendah apa pun tidak mampu memadamkan kegelisahan yang membakar di balik dada bidangnya. Ia duduk di kursi kebesarannya, menatap tumpukan berkas audit yang seharusnya menjadi prioritas utamanya hari ini. Namun, untuk pertama kalinya dalam karier profesionalnya, deretan angka itu tampak seperti simbol-simbol asing yang tidak memiliki arti.

Pikirannya tertinggal di apartemen. Lebih tepatnya, tertinggal di kamar utamanya, di mana seorang wanita sedang bergelung di balik selimut sutranya, berjuang melawan sisa-sisa demam yang melumpuhkan.

Tok, tok.

Pintu kayu jati itu terbuka perlahan. Maya, salah satu staf administrasi yang merupakan rekan kerja Raisa, masuk dengan langkah ragu. Ia membawa map berwarna biru tua.

"Maaf mengganggu, Pak Arash. Ini adalah berkas laporan mingguan yang seharusnya diserahkan oleh Raisa, tapi karena dia sedang—"

"Sakit," potong Arash cepat, suaranya terdengar lebih tajam dari yang ia maksudkan. Mata elangnya menghujam Maya, membuat staf wanita itu tersentak mundur satu langkah. "Saya tahu dia sakit. Letakkan saja di meja."

Maya mengangguk kaku, meletakkan map itu dengan tangan sedikit gemetar. "Baik, Pak. Kami semua di divisi mendoakan agar Raisa cepat sembuh. Dia biasanya sangat rajin, jadi terasa sepi kalau tidak ada—"

"Cukup, Maya. Keluar," perintah Arash dingin.

Begitu pintu tertutup, Arash melepaskan pulpennya hingga menggelinding di atas meja jati yang dipolish mengkilap. Ia menyandarkan punggungnya, memijat pelipisnya yang berdenyut. Suara Maya tadi seolah mengamplifikasi kekosongan di kantornya. Setiap kali seseorang menyebut nama Raisa, saraf-saraf Arash bereaksi berlebihan. Ada rasa protektif yang irasional, ia tidak suka nama wanita itu diucapkan oleh orang lain di saat ia sendiri sedang berusaha keras menghapus bayangan wajah pucat Raisa dari benaknya.

Ia meraih ponselnya, ibu jarinya berhenti di atas kontak Raisa. Ia ingin mengirim pesan, sekadar bertanya apakah suhu tubuhnya sudah turun atau apakah dia sudah memakan bubur yang ia siapkan, meski ia tahu rasanya payah. Namun, egonya menahan tangannya.

Jangan menjadi lemah, Arash. Dia hanya aset kontrak, bisik sisi gelap di kepalanya.

Namun, sisi lain hatinya—sisi yang semalam merasakan betapa panasnya dahi Raisa di bawah telapak tangannya—menolak untuk diam.

Jadwal Arash hari ini sangat padat. Pukul sepuluh pagi ada rapat pemegang saham, pukul dua siang ada peninjauan proyek, dan puncaknya adalah makan malam bisnis pukul tujuh malam dengan Mr. Tan, investor besar dari Singapura yang sangat sulit untuk dijadwalkan ulang.

Selama rapat pemegang saham, konsentrasi Arash berantakan. Saat direktur pemasaran mempresentasikan grafik penjualan, Arash justru membayangkan apakah Raisa sudah meminum obatnya. Saat salah satu paman Arash menyindir tentang kinerja staf administrasi yang "sering absen", Arash hampir saja meledak dan memaki pamannya di depan umum. Ia menjadi sangat sensitif, seolah setiap kata negatif yang dilontarkan di ruangan itu adalah serangan pribadi terhadap Raisa.

Pukul lima sore, asisten pribadinya, seorang pria paruh baya bernama Pak Beni, masuk ke ruangannya. "Pak Arash, mobil sudah siap untuk membawa Anda ke restoran tempat pertemuan dengan Mr. Tan. Kita harus berangkat sepuluh menit lagi agar tidak terjebak macet."

Arash terdiam. Ia menatap ke luar jendela besar yang memperlihatkan langit Jakarta yang mulai berubah menjadi jingga kemerahan. Pikirannya terbang kembali ke apartemen. Ia membayangkan Raisa terbangun di kamar utama yang luas itu, sendirian, mungkin merasa haus atau pusing lagi tanpa ada siapa pun yang membantu.

"Batalkan makan malamnya, Beni," ujar Arash tiba-tiba.

Pak Beni tertegun, matanya membelalak di balik kacamata.

"Maaf, Pak? Membatalkan Mr. Tan? Beliau sudah menunggu kesempatan ini selama tiga bulan. Ini tentang investasi lima puluh juta dolar, Pak."

Arash berdiri, menyambar jas hitamnya yang tersampir di kursi. "Katakan padanya saya tiba-tiba memiliki urusan darurat yang tidak bisa ditunda. Atur ulang jadwalnya untuk minggu depan. Berikan dia kompensasi apa pun, tapi aku harus pulang sekarang."

"Urusan darurat, Pak? Apakah ada masalah dengan kantor pusat?" tanya Beni khawatir.

Arash terhenti di ambang pintu. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia ingin pulang karena mencemaskan seorang staf yang ia nikahi secara kontrak. Ia berdehem kaku, memperbaiki kerah jasnya. "Ada ... ada dokumen audit penting yang tertinggal di rumah. Dokumen itu sangat rahasia dan saya tidak bisa membiarkannya tergeletak begitu saja tanpa pengawasan. Saya harus memastikannya aman."

Beni tampak bingung, namun ia tidak berani membantah nada bicara Arash yang tidak menerima penolakan. "Baik, Pak. Saya akan segera menghubungi asisten Mr. Tan."

Arash melangkah lebar menuju lift VIP. Di dalam lift, ia terus menekan tombol lobi seolah hal itu bisa mempercepat gerakan mesin. Begitu sampai di parkiran, ia mengambil alih kemudi dari sopirnya. "Aku akan menyetir sendiri. Kau pulanglah."

Perjalanan yang biasanya memakan waktu empat puluh menit, ia tempuh dalam waktu dua puluh lima menit. Arash memacu mobilnya dengan kecepatan yang membahayakan, mengabaikan klakson kendaraan lain. Di dalam kepalanya hanya ada satu tujuan, Kamar Utama.

Sesampainya di apartemen, Arash membuka pintu dengan gerakan terburu-buru. Ia melempar kunci dan jasnya ke sofa ruang tamu, lalu melangkah cepat menuju kamar mereka. Ia membuka pintu kamar dengan perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara keras.

Kamar itu remang-remang. Aroma minyak kayu putih dan jahe masih tertinggal di udara, bercampur dengan aroma parfum maskulin milik Arash. Di atas ranjang king size itu, Raisa tampak sedang mencoba untuk duduk. Wajahnya masih sangat pucat, dan ia tampak kesulitan menggapai gelas air yang ada di nakas.

"Jangan bergerak," suara Arash memecah kesunyian, lebih lembut dari biasanya namun tetap penuh otoritas.

Raisa tersentak kaget, menoleh ke arah pintu. "Arash? Kenapa kau sudah pulang? Bukankah kau ada pertemuan penting malam ini?"

Arash mengabaikan pertanyaan itu. Ia mendekati ranjang, mengambil gelas air tersebut dan membantu Raisa meminumnya. Tangan Arash menyangga punggung Raisa, merasakan betapa kecil dan rapuhnya tubuh wanita itu di balik daster satin yang ia kenakan.

"Aku hanya ... ada dokumen yang tertinggal," bohong Arash, matanya tidak berani menatap langsung ke mata Raisa yang jernih namun sayu. "Dan aku ingin memastikan kau tidak mengacaukan kamarku lebih jauh lagi."

Arash meletakkan gelas kembali, lalu tanpa sengaja tangannya menyentuh dahi Raisa untuk mengecek suhu. Panasnya sudah turun, namun kulitnya masih terasa lembap oleh keringat dingin.

"Terima kasih sudah pulang," bisik Raisa, suaranya terdengar tulus. "Aku merasa sangat takut sendirian di ruangan sebesar ini."

Kata 'takut' dan 'sendirian' itu merobek pertahanan Arash yang terakhir. Ia duduk di tepi ranjang, menatap Raisa dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara amarah pada diri sendiri dan kasih sayang yang ia sangkal mati-matian.

"Kau tidak sendirian, Raisa," ujar Arash, suaranya berat. "Selama kontrak ini masih berjalan, kau ... kau adalah tanggung jawabku."

Ia baru saja hendak menarik tangannya ketika Raisa tiba-tiba menggenggam pergelangan tangan Arash. Genggaman itu lemah, namun cukup untuk membuat Arash terpaku.

"Arash ..." panggil Raisa lirih. "Kenapa kau terlihat sangat cemas? Apakah dokumen itu benar-benar sepenting itu? Atau ... ada hal lain?"

Arash menatap genggaman tangan Raisa di kulitnya. Jantungnya berdegup kencang, sebuah sensasi yang ia benci karena ia tidak bisa mengendalikannya. Sebelum ia sempat menjawab, ponselnya di saku jas yang ia tinggalkan di ruang tamu berdering kencang. Itu adalah nada khusus yang ia atur untuk anggota keluarga besarnya.

Arash melepaskan tangan Raisa dengan perlahan. "Istirahatlah. Aku harus mengangkat telepon."

Arash keluar dari kamar dengan perasaan berkecamuk. Ia mengambil ponselnya di sofa. Nama Kakek tertera di layar. Dengan napas berat, ia menggeser tombol hijau.

"Ya, Kek?"

"Arash," suara Kakek terdengar sangat serius di seberang sana. "Kakek baru saja mendapat laporan dari Mr. Tan bahwa kau membatalkan pertemuan penting demi urusan rumah. Kakek harap 'dokumen' yang kau maksud benar-benar sebanding dengan kerugian investasi lima puluh juta dolar. Karena jika tidak, Kakek akan datang ke apartemenmu malam ini juga untuk memeriksa dokumen apa yang begitu berharga sampai cucuku berani bermain-main dengan bisnis keluarga."

Arash mematung. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Ia melirik ke arah pintu kamar utama di mana Raisa berada. Ia tahu, jika Kakek datang dalam kondisi Raisa yang sedang sakit seperti ini, kebohongan mereka tentang pernikahan yang "sempurna" akan diuji ke titik paling kritis.

"Jangan datang, Kek," ujar Arash, suaranya mencoba tetap stabil. "Aku akan mengurusnya. Semuanya di bawah kendali."

"Benarkah, Arash? Karena dari suaramu, kau terdengar seperti pria yang baru saja kehilangan kendali atas dirinya sendiri."

Denting intercom apartemen tiba-tiba berbunyi, memotong kalimat Kakek. Arash menoleh ke arah monitor di dekat pintu dengan jantung yang seolah berhenti berdetak. Di layar itu, bukan Kakek yang berdiri, melainkan seseorang yang sama sekali tidak ia duga akan muncul di sana di saat seperti ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!