Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Membuka Hati
Tiga minggu setelah Bima mengaku suka, ia mengajak Nayara jalan-jalan. Bima menghubungi Nayara melalui panggilan telepon.
Saat telepon tersambung, Bima langsung bicara.
...📞...
"Nayara, besok weekend. Kamu ada acara nggak?"
^^^"Nggak ada kok. Biasa aja di rumah. Kenapa emang?" ^^^
"Aku mau ngajak kamu sama Aldi jalan-jalan. Ke taman atau mall. Terserah kamu mau kemana."
Sejenak Nayara terdiam.
Jalan-jalan? Bertiga?
Tapi tiba-tiba suara Bimo terdengar kembali dari balik telepon.
"Gimana? Kamu mau nggak?"
^^^"Ehm, boleh sih. Tapi, Aldi masih kecil. Nanti kalo dia rewel gimana?" ^^^
"Nggak apa-apa. Aku suka anak kecil kok. Jadi, santai saja."
Setelah berpikir, Nayara akhirnya setuju.
^^^"Baiklah. Besok, jam berapa?"^^^
"Jam sepuluh aku jemput. Oke?"
^^^"Oke."^^^
Panggilan pun terputus.
Besok paginya, Nayara sibuk bantuin Aldi mandi, memakai baju yang lucu-lucu. Kaos kuning bergambar dinosaurus, celana pendek biru, sepatu kets kecil. Dan itu terlihat sangat lucu banget.
Nayara juga pakai baju yang rapi. Gamis salem, hijab putih, sepatu flat cream. Makeup tipis biar gak keliatan terlalu polos.
"Mama sudah cantik, mama mau pergi kemana?" Bu Siti bertanya sambil senyum-senyum.
"Jalan-jalan sama Bima, Bu," Nayara menjawab sambil menunduk malu.
"Ohooo. Pantesan. Semangat ya, Nak. Have fun!" Bu Siti supportive banget.
Jam sepuluh tepat, mobil Bima udah parkir di depan rumah. Mobil SUV putih yang gede dan bersih.
Bima turun dari mobil. Pake kaos polo biru navy, celana chino cream, sepatu sneakers putih. Rapi tapi santai.
"Hai!" Bima melambai sambil senyum lebar.
"Hai," Nayara balas sambil mengendong Aldi.
Bima jalan mendekat. Natap Aldi yang lagi main-main jari di gendongan mama-nya.
"Hai Aldi! Kenalin, Paman Bima," Bima sapa dengan suara lembut sambil mengelus kepala Aldi.
Aldi natap Bima dengan mata bulat. Terus tiba-tiba senyum lebar nunjukin gigi-gigi kecilnya.
"Wah dia senyum! Berarti dia suka sama aku," Bima ketawa seneng.
Mereka naik mobil. Nayara duduk di belakang sama Aldi. Bima yang nyetir.
"Kita mau kemana?" Nayara bertanya.
"Ke taman aja dulu. Biar Aldi bisa main. Abis itu makan siang. Gimana?" Bima ngasih pilihan.
"Boleh. Aldi pasti seneng di taman," Nayara setuju.
Mereka pergi ke taman kota yang luas. Ada playground buat anak-anak, danau kecil, banyak pohon rindang. Sejuk.
Bima parkir mobil. Turun terus langsung buka pintu belakang bantuin Nayara turun sambil gendong Aldi.
"Sini biar aku yang menggendong Aldi. Kamu istirahat saja," Bima mengulurkan tangan mau mengambil Aldi.
Nayara ragu sebentar. Tapi dia liat Bima senyum lembut jadi dia kasih Aldi ke Bima.
Bima gendong Aldi dengan hati-hati. Posisinya agak kaku karena dia gak biasa gendong bayi. Tapi dia berusaha.
"Aldi berat juga ya. Sehat nih," Bima bilang sambil mengayunkan Aldi pelan.
Aldi kayaknya nyaman. Gak nangis. Malah ketawa-ketawa sambil pegang hidung Bima.
"Dia suka kamu," Nayara bilang sambil senyum.
"Aku juga suka dia. Lucu banget," Bima jawab.
Mereka jalan-jalan keliling taman. Bima yang gendong Aldi. Nayara jalan di samping. Kayak keluarga kecil yang lagi jalan-jalan weekend.
Nayara ngerasa aneh. Aneh yang enak. Udah lama dia gak ngerasa kayak gini. Ngerasa lengkap. Ngerasa ada sosok cowok yang peduli sama anaknya.
Gilang gak pernah gendong Aldi waktu masih bayi. Bahkan sampe sekarang juga cuma sekali waktu minta maaf terakhir itu.
Tapi Bima? Dia baru kenal Aldi beberapa jam tapi udah gendong dengan penuh perhatian.
"Nayara, kamu mau foto?" Bima bertanya tiba-tiba.
"Foto?"
"Iya. Kita bertiga. Biar ada kenang-kenangan," Bima bilang.
Nayara ngangguk. Bima minta bantuan orang lewat buat fotoin mereka. Mereka pose di depan danau. Bima gendong Aldi, Nayara berdiri di samping. Senyum.
Klik. Foto jadi.
Nayara liat hasilnya. Bagus. Mereka keliatan kayak keluarga beneran.
Setelah puas jalan-jalan, mereka ke playground. Bima mendudukkan Aldi di ayunan bayi. Dorong pelan-pelan sambil bilang 'wiiihh' bikin Aldi ketawa kenceng.
Nayara duduk di bench deket situ. Natap Bima yang main sama Aldi. Hatinya hangat. Matanya berkaca-kaca.
Ini yang dia pengen dulu. Pengen Gilang main sama Aldi kayak gini. Tapi gak pernah kejadian. Sekarang Bima yang bukan siapa-siapa malah perhatian banget sama Aldi.
"Ayo Aldi, main perosotan yuk," Bima ngajak. Dia gendong Aldi naik tangga kecil perosotan anak-anak. Terus meluncur bareng sambil bilang 'yuhuuu!'
Aldi tertawa kenceng banget, dan Nayara ikut tertawa saat melihat mereka tengah bahagia.
Jam satu siang mereka makan di resto keluarga deket taman. Bima pesen makanan banyak. Nasi goreng, ayam goreng, jus, pudding buat Aldi.
"Kamu suka makan apa Aldi? Paman pesenin ya," Bima ngomong sama Aldi kayak Aldi bisa jawab.
Aldi cuma bilang 'aaaa' sambil tunjuk-tunjuk makanan.
"Oke, oke. Paman kasih ini ya," Bima suapin Aldi nasi tim yang dia pesen khusus buat Aldi.
Nayara natap mereka. Hatinya penuh. Penuh sama rasa syukur. Syukur karena Tuhan kirim Bima di hidupnya.
Selesai makan, mereka jalan-jalan lagi sebentar. Lewat toko mainan. Bima langsung masuk.
"Yuk kita beliin mainan buat Aldi," ajak Bima.
"Gak usah Bima. Udah banyak kok mainannya di rumah," Nayara nolak halus.
"Gak papa. Aku mau beliin. Anggap aja hadiah kenalan sama Aldi," Bima tetep ngotot.
Bima beliin mobil-mobilan warna merah yang bisa bunyi-bunyi. Aldi langsung excited. Pegang-pegang sambil bilang 'bruum bruum'.
"Dia suka! Makasih ya Paman," Nayara bilang sambil senyum.
"Sama-sama. Aku seneng lihat Aldi seneng," Bima balas senyum.
Sore-nya mereka pulang. Di mobil, Aldi ketiduran di pangkuan Nayara. Capek main seharian. Bima nyetir pelan biar Aldi gak kebangun. Sesekali ngelirik Nayara lewat kaca spion.
"Nayara," panggil Bima pelan.
"Iya?"
"Kamu tau gak, hari ini aku seneng banget. Seneng bisa ketemu Aldi. Seneng bisa liat kamu senyum-senyum," Bima mengaku.
Nayara senyum. "Aku juga seneng. Terima kasih udah ngajak jalan-jalan."
"Sama-sama. Nanti kita jalan-jalan lagi ya. Aku mau lebih kenal sama Aldi," Bima bilang.
Nayara ngangguk. Hatinya hangat.
Sampe di rumah, Bima bantu angkat Aldi yang masih tidur, lalu menidurkannya di sofa rumah dengan hati-hati.
"Terima kasih ya Bima. Buat hari ini," Nayara bilang sambil berdiri di depan pintu.
Bima natap Nayara lama. Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang serius.
"Nayara, aku mau bilang sesuatu."
"Apa?"
Bima menarik napas dalam. Tangannya masuk ke saku celana. Keluarin sesuatu. Kotak kecil beludru biru.
Jantung Nayara langsung berdegup kenceng. Gak mungkin. Gak mungkin kan?
Bima buka kotak itu. Di dalemnya ada cincin. Cincin sederhana. Bukan yang mahal-mahal. Cuma cincin perak dengan batu kecil di tengah.
"Nayara," Bima bilang sambil natap mata Nayara. "Aku ingin menikahimu."
Nayara terdiam. Napasnya berhenti. Dunia berputar pelan.
Menikah?
Bima mau nikah sama dia?
Secepat ini?
"Bima, aku," Nayara gak bisa lanjutin kata-katanya. Terlalu shock.
"Aku tau ini cepet. Aku tau kita baru ketemu lagi beberapa bulan. Tapi aku serius Nayara. Aku mau jadi suami yang baik buat kamu. Bapak yang baik buat Aldi," Bima bilang dengan mata berkaca-kaca.
Nayara nangis. Air matanya jatuh.
"Aku gak minta kamu jawab sekarang. Pikirin dulu. Aku tunggu," Bima bilang sambil tutup kotak cincinnya.
Terus dia pergi. Naik mobil. Pergi ninggalin Nayara yang berdiri di pintu sambil nangis.
Nayara masuk rumah dengan kaki gemetaran. Duduk di sofa samping Aldi yang masih tidur.
Menikah, Bima mau menikah sama dia.
Apa dia siap?
Apa dia bisa percaya lagi?
Apa dia bisa cinta lagi?
Nayara nggak tau, yang dia tau cuma satu. Hatinya mulai terbuka lagi secara perlahan, dan itu untuk Bima.
begitu lah kalau org candu judi🤭
nayara jg keras kepala ngapain takut gagal lgi emang sdh nasib jln satu2 nya lebih baik plg ke rmh ibu dari pada mati di tangan bima kasian aldi trauma seumur hidup 🤭🤣🤣🤣
langsung kabur plg ke rmh ibu nya 🤭
bima tak bakal berubah nama jg sdh kecanduan judi 🤭
nayara plg aja ke rmh ibu tinggal kan aja bima biar tau rasa 🤭