Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
Cahaya matahari pagi mulai merambat masuk, menyapu lantai kamar dan jatuh tepat di atas kelopak mataku. Aku mengerjap perlahan, merasakan tubuhku jauh lebih ringan, namun dekapan di pinggangku masih sekokoh tadi malam.
Kaelen sudah terjaga. Ia sedang bersandar pada kepala tempat tidur, menatapku dengan tatapan yang begitu teduh sambil mengusap rambutku perlahan.
"Pagi, Sayang," sapanya dengan suara bariton yang lembut.
Aku mencoba untuk duduk, tapi Kaelen segera menahan bahuku dengan lembut namun tegas. "Jangan bangun dulu. Hari ini kamu tidak boleh kuliah. Aku sudah mengirim pesan pada Salsa untuk mengizinkanmu, dan aku juga sudah meminta izin pada Profesor Haryo."
"Tapi Kael, aku sudah merasa baikan—"
"Tidak ada bantahan, Kazumi," potongnya dengan nada asisten dosennya yang mutlak, namun matanya memancarkan kekhawatiran. "Wajahmu masih sedikit pucat. Aku tidak mau kejadian kemarin terulang lagi. Biarkan aku menjagamu di sini satu hari saja."
Aku menghela napas, menyerah pada sikap protektifnya. Namun, saat suasana menjadi hening, tiba-tiba rasa sesak lain muncul di dadaku. Bukan rasa sakit fisik, melainkan rasa rindu yang tiba-tiba menyeruak begitu hebat.
"Kael..." bisikku, mataku mulai berkaca-kaca. "Aku... aku tiba-tiba kangen rumah. Aku kangen Ibu, kangen Ayah. Aku ingin pulang ke rumah orang tuaku."
Kaelen terdiam, menatapku dengan penuh empati. Ia tahu betapa besarnya arti keluarga bagiku di dunia ini.
"Aku kangen tanaman-tanaman di halaman rumah, Kael. Aku ingin menyentuh tanah, mencium aroma bunga-bunga yang kami tanam bersama. Rasanya sudah lama sekali aku tidak pulang," lanjutku dengan suara gemetar.
Kaelen menarikku kembali ke dalam pelukannya, membiarkan kepalaku bersandar di dadanya. "Aku mengerti. Maafkan aku karena terlalu egois ingin menahanmu di sini sendirian."
Ia mengecup puncak kepalaku dengan lembut. "Begini saja, setelah kamu menghabiskan sarapan yang kubuat nanti, aku akan mengantarmu pulang ke rumah orang tuamu. Aku akan mengizinkanmu 'bolos' dari sisiku selama beberapa hari agar kamu bisa melepas rindu dengan mereka dan tanaman-tanamanmu."
Aku mendongak, menatapnya tidak percaya. "Beneran, Kael? Kamu tidak keberatan?"
"Tentu saja," ia tersenyum tipis, tangannya mengusap air mata di sudut mataku. "Melihatmu bahagia dan tenang di antara tanamanmu jauh lebih penting bagiku daripada memaksamu ada di apartemen ini. Tapi dengan satu syarat..."
"Apa?"
"Aku harus ikut mengantarmu sampai depan pintu, dan aku akan menjemputmu kembali setelah kamu merasa lebih baik. Setuju?"
Aku mengangguk cepat sambil tersenyum lebar, rasa rindu itu sedikit terobati dengan pengertiannya yang luar biasa.
Kaelen tersenyum melihat binar di mataku. Ia merunduk, menangkup wajahku dengan kedua tangannya, lalu mendaratkan sebuah ciuman yang sangat lama dan dalam di keningku. Aku memejamkan mata, merasakan kehangatan bibirnya yang seolah menyalurkan seluruh ketenangan yang ia miliki ke dalam pikiranku.
"Istirahatlah sebentar lagi sementara aku menyiapkan barang-barangmu," bisiknya pelan di depan wajahku.
"Kael, tunggu," cegahku pelan sebelum ia beranjak dari sisi tempat tidur. Aku menarik ujung lengan kemejanya, membuat pria itu kembali menoleh dengan tatapan penuh perhatian. "Terima kasih banyak, ya. Kamu benar-benar memahamiku, bahkan saat aku sendiri tidak tahu kalau aku butuh pulang."
Kaelen kembali duduk di tepi kasur, mengusap punggung tanganku dengan jempolnya. "Jangan berterima kasih untuk sesuatu yang sudah menjadi kewajibanku, Kazumi. Di dunia lama, aku sering melihatmu menatap bunga-bunga Han itu dengan kerinduan yang dalam. Aku tahu, bagimu, tanaman bukan sekadar hiasan, tapi bagian dari jiwamu."
Aku tersenyum tipis. "Ayah pasti akan kaget melihat asisten dosenku tiba-tiba datang membawa koper... dan cincin ini. Dia sangat protektif, Kael. Apa kamu benar-benar tidak takut menghadapinya?"
Kaelen terkekeh rendah, sebuah suara yang sangat jarang kudengar. "Aku pernah menghadapi naga di perbatasan utara dan ribuan pasukan kegelapan tanpa gemetar sedikit pun. Tapi harus kuakui, menghadapi ayahmu demi meminta restu... itu jauh lebih menegangkan daripada perang mana pun."
"Kamu bisa saja!" aku tertawa kecil, rasa peningku perlahan menghilang digantikan rasa bahagia.
"Aku serius," lanjutnya, wajahnya kembali menatapku dengan intens. "Tapi aku akan melakukan apa saja. Jika ayahmu memintaku berkebun seharian atau membangun rumah di atas pohon untukmu, aku akan melakukannya. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk ayahmu, meragukan keseriusanku."
"Janji ya, jangan terlalu kaku saat bertemu Ayah nanti? Dia suka bercanda," pesanku.
"Aku akan mencoba, meski kamu tahu 'bercanda' bukan keahlian utamaku," ia mengecup telapak tanganku lama sekali. "Sekarang, berbaringlah. Aku akan mengepak baju-bajumu dan beberapa buku. Kita akan berangkat satu jam lagi agar tidak terlalu siang."
Aku mengangguk patuh, membiarkan tubuhku kembali tenggelam di empuknya kasur sementara mataku terus mengikuti gerak-gerik Kaelen. Pria itu benar-benar telaten; ia melipat baju-bajuku dengan rapi, memastikan tidak ada yang tertinggal, bahkan memasukkan beberapa vitamin yang sempat ia beli kemarin.
"Kael," panggilku lagi, membuat gerakannya terhenti. "Kalau nanti Ayah bertanya kapan kita akan menikah... apa yang akan kamu katakan? Kamu tahu kan, di dunia ini kita baru saja 'bertemu' secara resmi di kampus?"
Kaelen menutup koper kecilku, lalu berjalan mendekat. Ia berlutut di samping tempat tidur agar wajah kami sejajar. Sinar matahari pagi yang memantul di matanya membuatnya tampak begitu tulus.
"Aku akan mengatakan yang sebenarnya, meski mungkin sedikit disesuaikan dengan logika dunia ini," jawabnya tenang. "Aku akan bilang bahwa sejak pertama kali aku melihatmu di kelas, aku merasa seolah kita sudah terikat sejak lama. Dan bahwa aku tidak butuh waktu bertahun-tahun untuk tahu bahwa kamu adalah satu-satunya orang yang ingin kujadikan pendamping hidupku."
Ia menggenggam tanganku, mempermainkan cincin biru di jariku. "Jangan khawatirkan apa pun. Aku sudah menyiapkan jawaban untuk setiap keraguan ayahmu. Tugasmu hanyalah satu: pulang, temui orang tuamu, dan biarkan hatimu tenang di antara tanaman-tanaman itu."