Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Arsitektur Jalanan
Aroma rokok kretek dan debu gipsum adalah parfum baru Alana. Tidak ada lagi aroma *Jo Malone* atau pendingin ruangan sentral dengan penyaring udara HEPA. Di kantor CV. Bangun Jaya—sebuah ruko dua lantai di kawasan Cipete yang cat temboknya mulai mengelupas—udara terasa lembap dan berat. Kipas angin dinding berputar dengan bunyi *tek-tek-tek* yang ritmis, berusaha sia-sia mengusir hawa panas Jakarta pukul dua siang.
"Alana! Gambar potongan melintang untuk proyek laundry di Tebet sudah jadi belum?" teriak Pak Dodi dari balik meja kerjanya yang penuh tumpukan kertas dan sisa bungkus nasi padang.
Alana tidak menoleh. Matanya terpaku pada layar monitor tabung cembung yang warnanya sedikit kekuningan. Tangan kanannya menggerakkan *mouse* kabel dengan presisi, menarik garis di *AutoCAD* versi bajakan yang sering *crash* jika ia bekerja terlalu cepat.
"Sudah saya kirim ke email Bapak sepuluh menit lalu," jawab Alana datar. Suaranya serak, efek dari tidur kurang nyenyak di atas kasur busa tipis kontrakan Rini.
Pak Dodi mendengus, lalu terdengar bunyi klik *mouse* yang kasar. Hening sejenak. Alana bisa mendengar bosnya itu bergumam, lalu batuk kecil. "Hmm. Rapi juga. Kamu yakin ukuran pipanya masuk di dinding setebal ini?"
"Saya sudah cek standar dinas tata kota, Pak. Kalau pakai pipa 3 inci masih masuk, tapi harus geser kolom praktisnya sepuluh senti ke kiri supaya tidak nabrak kusen pintu," jelas Alana tanpa melihat catatan. Semua angka itu sudah ada di kepalanya.
Pak Dodi diam. Pria paruh baya itu biasanya meremehkan lulusan baru, apalagi perempuan yang terlihat "terlalu cantik" untuk kerja kasar. Tapi sejak Alana menyelamatkan proyek pagar minggu lalu, Dodi mulai sadar bahwa drafter barunya ini bukan sekadar anak manja yang butuh uang jajan.
"Ya sudah. Bagus," gumam Dodi enggan memuji. "Sekarang ikut saya. Klien yang punya ruko di Fatmawati ngamuk lagi. Dia bilang desain interiornya kayak toilet umum."
Alana menghela napas, menyimpan fail kerjanya, lalu mengambil tas kanvas kumal yang ia beli di pasar loak. "Baik, Pak."
***
Perjalanan ke Fatmawati dilakukan dengan motor bebek butut milik kantor. Alana duduk di boncengan, memegang helm yang busanya sudah kempis. Dulu, ia akan duduk di jok kulit *Mercedes-Benz* S-Class sambil mengecek Instagram. Sekarang, ia harus menyipitkan mata menahan debu knalpot Metromini yang menyembur tepat ke wajahnya.
Sampai di lokasi, seorang wanita berusia empat puluhan dengan tatanan rambut sasak tinggi sudah menunggu dengan tangan berkacak pinggang. Namanya Bu Ratna, pemilik butik kebaya yang sedang direnovasi.
"Pak Dodi! Lihat ini!" Bu Ratna menunjuk ke arah dinding yang baru dipasang keramik. "Saya minta nuansa *elegant*, nuansa *luxury*! Kenapa jadinya malah kayak dapur rumah susun begini? Ini keramik apa? Murahan sekali kelihatannya!"
Pak Dodi membuka helm, mengusap keringat di dahinya dengan lengan kemeja. "Waduh, Bu. Itu kan keramik KW 1 yang Ibu pilih dari katalog. Sesuai *budget*."
"Ya tapi saya nggak nyangka kalau dipasang jadinya norak! Pokoknya saya nggak mau bayar termin kedua kalau bentuknya begini! Bongkar!" jerit Bu Ratna.
Wajah Dodi memucat. Membongkar berarti rugi material dan tenaga kerja. Margin keuntungan proyek ini sudah tipis. "Bu, kalau bongkar, biayanya nambah..."
"Bodo amat! Kamu arsiteknya kan? Mikir dong!"
Alana berdiri di belakang Dodi, mengamati dinding yang menjadi sumber masalah. Keramik putih polos dengan *grout* (nat) semen abu-abu gelap. Memang terlihat menyedihkan. Masalahnya bukan hanya pada keramiknya, tapi pada pencahayaan dan *finishing*-nya.
Insting Alana bekerja. Selama dua puluh dua tahun, matanya dilatih untuk mengenali kualitas. Ia tahu bedanya marmer Italia dan keramik Tiongkok, tapi ia juga tahu bagaimana trik visual bekerja di hotel-hotel butik yang sering ia kunjungi dulu.
"Maaf, Bu Ratna," suara Alana memotong perdebatan. Ia maju selangkah, mengabaikan tatapan kaget Pak Dodi.
Bu Ratna menatap Alana dari ujung kaki sampai ujung kepala, menilai pakaian kemeja flanel murah dan celana jeans yang dikenakan Alana. "Siapa ini? Asisten baru?"
"Saya drafter, Bu," jawab Alana sopan tapi tegas. "Kalau boleh saran, Ibu tidak perlu membongkar semua keramik ini. Masalahnya bukan di keramiknya, tapi di nat dan pencahayaan."
"Sok tahu kamu," cibir Bu Ratna.
"Keramik putih ini terlihat murah karena nat-nya abu-abu gelap, membuat pola kotak-kotaknya terlalu tegas seperti buku matematika," jelas Alana sambil berjalan mendekati dinding. Ia menunjuk ke langit-langit. "Ditambah lagi, Bapak memasang lampu *downlight* putih (cool day light) tepat di atasnya. Cahaya putih ketemu keramik putih, jadinya dingin dan steril. Seperti rumah sakit."
Bu Ratna terdiam, alisnya terangkat sedikit. Penjelasan Alana masuk akal.
"Solusinya?" tanya Bu Ratna, nada suaranya sedikit menurun.
"Ganti nat-nya dengan warna putih bersih atau *cream* supaya menyatu dengan keramik. Jadi efeknya *seamless*, seolah-olah hamparan luas, bukan kotak-kotak," Alana menjelaskan dengan tangan bergerak luwes, membayangkan hasil akhirnya. "Lalu, ganti lampunya dengan *warm white* (kuning hangat) 3000 Kelvin. Dan di sisi kiri ini..." Alana menunjuk dinding kosong, "Pasang cermin besar dengan bingkai emas tipis. Cermin akan memantulkan cahaya hangat dan menduplikasi ruang. Dengan begitu, keramik murah ini akan terlihat *clean* dan minimalis, bukan murahan."
Pak Dodi melongo. Bu Ratna menatap dinding itu lagi, membayangkan visualisasi yang diberikan Alana.
"Kamu... yakin cuma ganti nat sama lampu bisa berubah nuansanya?" tanya Bu Ratna ragu.
"Saya jamin, Bu. Biayanya tidak sampai lima ratus ribu rupiah. Jauh lebih murah daripada membongkar tembok," kata Alana mantap.
Bu Ratna menatap Alana lekat-lekat. "Bahasa kamu... selera kamu... tidak seperti tukang bangunan biasa. Kamu belajar dari mana?"
Jantung Alana berdegup kencang. Ia tidak boleh ketahuan. Jika Bu Ratna tahu dia adalah Alana Wardhana yang digosipkan sebagai pecandu narkoba dan anak durhaka, ia akan diusir detik ini juga.
"Saya banyak baca majalah desain interior bekas di lapak senen, Bu. Hobi saja," jawab Alana, memberikan senyum tipis yang ia pelajari dari ibunya—senyum yang menyembunyikan ribuan rahasia.
Bu Ratna mendengus, tapi kali ini ada sedikit rasa hormat. Ia menoleh ke Dodi. "Dengar tuh, Pak Dodi. Anak buahmu lebih pintar. Kerjakan seperti yang dia bilang. Kalau hasilnya bagus, saya cairkan termin kedua besok."
Pak Dodi mengangguk cepat seperti boneka *bobblehead*. "Siap, Bu! Siap! Segera kami kerjakan hari ini!"
***
Sore harinya, saat mereka kembali ke kantor, Dodi melempar amplop cokelat tipis ke meja Alana. Bunyinya berdebum pelan.
"Apa ini, Pak?" tanya Alana.
"Komisi tambahan. Dua ratus ribu. Kamu nyelamatin proyek tadi. Lumayan, saya nggak jadi rugi bandar," Dodi berkata tanpa menatap mata Alana, pura-pura sibuk membereskan tasnya. "Tapi jangan besar kepala. Besok kamu harus ngawasin tukang pasang nat di sana seharian."
Alana membuka amplop itu. Dua lembar uang seratus ribuan yang lusuh. Dulu, ini hanya uang tip untuk *valet parking* di mal. Sekarang, ini berarti dia bisa makan daging ayam selama seminggu penuh dan membayar iuran listrik kontrakan Rini.
"Terima kasih, Pak," ucap Alana tulus.
Ia keluar dari kantor saat matahari mulai terbenam, mewarnai langit Jakarta dengan semburat oranye yang kotor oleh polusi. Alana berjalan kaki menuju halte busway. Di saku celananya, ponsel layar retak miliknya bergetar.
Alana merogoh saku, melihat nama 'Pak Burhan' di layar. Ia segera menepi ke warung rokok yang sepi untuk mengangkat telepon.
"Halo, Pak Burhan? Bagaimana?" tanya Alana langsung.
Suara pengacara tua itu terdengar lelah di ujung sana. "Alana, saya baru saja dari pengadilan agama mengecek status gugatan warisan ibumu. Berkasnya ditolak lagi. Administrasi kurang lengkap."
"Kurang lengkap bagaimana? Saya sudah kasih semua fotokopi sertifikat yang saya curi dulu," protes Alana, tangannya mencengkeram kain celananya erat-erat.
"Mereka minta yang asli, Alana. Atau setidaknya legalisir basah. Dan... ada kabar buruk lain. Hendra baru saja menyewa firma hukum Adisujipto & Partners untuk mengaudit semua aset atas nama ibumu. Mereka bergerak cepat untuk membalik nama semuanya menjadi aset perusahaan."
Kaki Alana lemas. Adisujipto & Partners adalah firma hukum termahal di Jakarta. Ayahnya benar-benar mengerahkan artileri berat untuk melawan putrinya sendiri yang sudah tidak punya apa-apa.
"Jadi... kita tidak bisa apa-apa, Pak?" suara Alana bergetar.
"Bisa, tapi butuh biaya operasional yang besar, Alana. Kita perlu menyewa auditor independen untuk membuktikan pencucian uang itu sebelum asetnya dipindah tangankan. Biayanya puluhan juta, belum termasuk biaya pengadilan."
Alana menatap dua lembar uang seratus ribu di tangannya. Tadi ia merasa kaya, sekarang ia kembali merasa seperti debu.
"Saya mengerti, Pak. Tolong jangan tutup kasusnya. Beri saya waktu," kata Alana.
"Alana, kamu mau cari uang dari mana? Lawanmu itu raksasa."
"Saya akan cari cara. Terima kasih, Pak."
Alana memutus sambungan telepon. Ia berdiri diam di pinggir jalan raya yang bising. Suara klakson dan teriakan kenek bus seolah menertawakannya. Kemenangan kecil di ruko Fatmawati tadi terasa tidak berarti dibandingkan gunung masalah yang harus ia daki.
Namun, saat melihat bayangannya di kaca etalase toko elektronik, Alana tidak melihat gadis manja yang menangis. Ia melihat wajah yang kotor, berminyak, tapi matanya menyala. Hari ini dia membuktikan satu hal: otaknya masih berfungsi. Seleranya masih tajam. Dan di dunia konstruksi ini, kemampuan itu adalah mata uang.
Dia tidak bisa mengalahkan Hendra dengan menjadi drafter rendahan selamanya. Dia butuh loncatan. Dia butuh sekutu yang punya uang, atau dia harus menjadi sekutu yang sangat berharga bagi seseorang yang punya uang.
Alana memasukkan uang dua ratus ribu itu ke dalam saku. Langkah pertamanya bukan menangisi nasib, tapi membeli makan malam untuk Rini. Ia berjalan menuju penjual nasi goreng di ujung jalan. Perut harus kenyang untuk bisa berpikir jernih. Perang ini baru saja dimulai, dan Alana baru saja menemukan senjata pertamanya: kompetensi.