Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga dari Sebuah Kesalahan
Kesalahan Matteo bukanlah tindakan yang gegabah.
Justru sebaliknya—ia terlalu terencana, terlalu penuh keyakinan bahwa ia masih memegang kendali.
Itulah yang membuatnya berbahaya.
—
Pagi itu, Carmela terbangun dengan perasaan tidak nyaman. Bukan mimpi buruk, bukan firasat yang jelas—hanya tekanan samar di dada, seperti sesuatu yang tidak seharusnya terjadi… sedang berjalan menuju mereka.
Matteo sudah berpakaian rapi. Jas gelap, pistol tersembunyi di balik mantel. Wajahnya tenang, tapi rahangnya mengeras—tanda yang kini mulai Carmela kenali.
“Kau mau pergi lagi,” kata Carmela.
“Sebentar,” jawab Matteo. “Aku harus menyelesaikan satu urusan.”
“Urusan apa?”
Matteo menoleh. “Yang tidak perlu kau pikirkan.”
Kalimat itu—yang dulu terasa melindungi—kini terdengar seperti tembok.
“Matteo,” kata Carmela pelan tapi tegas. “Kau berjanji tidak akan menghilang tanpa penjelasan.”
“Aku tidak menghilang,” balasnya. “Aku kembali sebelum malam.”
Ia mendekat, mencium kening Carmela. Sentuhan itu hangat, tapi terburu-buru. Seolah ia takut jika ia terlalu lama di sana, ia akan berubah pikiran.
Carmela tidak menghentikannya.
Dan itulah kesalahan pertamanya hari itu.
—
Matteo pergi dengan keyakinan bahwa Lorenzo sedang mundur.
Informasi intelijen menunjukkan pergerakan kecil—terlalu kecil untuk menjadi ancaman serius. Sebuah gudang lama di pinggiran kota, dua orang penjaga, satu pertemuan singkat.
Matteo memutuskan untuk datang sendiri, hanya dengan dua anak buah.
Ia ingin menunjukkan bahwa ia tidak takut.
Lorenzo sudah memperhitungkan itu.
—
Carmela menghabiskan siang hari dengan kegelisahan yang semakin nyata. Maria mencoba mengajaknya makan, tapi Carmela hampir tidak menyentuh makanannya.
“Ada yang salah,” gumam Carmela.
Maria menatapnya cemas. “Apa Tuan Matteo—”
“Belum memberi kabar,” potong Carmela.
Jam di dinding terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.
Ketika sore berubah menjadi senja dan senja menjadi malam, Carmela mulai berjalan mondar-mandir. Ponselnya tetap sunyi. Terlalu sunyi.
Dan kemudian—lampu mati.
Bukan padam total. Hanya redup, berkedip sesaat, lalu stabil kembali.
Namun Carmela tahu.
Ini bukan kebetulan.
—
Matteo menyadari jebakan itu terlambat.
Gudang yang ia datangi terlalu sepi. Tidak ada perlawanan, tidak ada negosiasi. Hanya ruang kosong dan bau besi tua.
Ketika pintu besi di belakangnya tertutup otomatis, Matteo langsung menarik senjatanya.
“Keluar,” katanya dingin.
Tepuk tangan terdengar dari bayangan.
“Masih sama,” suara Lorenzo muncul, tenang dan nyaris ramah. “Selalu percaya bahwa dunia akan menunggu sampai kau siap.”
“Kau menginginkanku,” kata Matteo. “Bukan dia.”
Lorenzo melangkah ke cahaya. Senyum tipis di wajahnya membuat darah Matteo mendidih.
“Aku menginginkan keseimbangan,” jawab Lorenzo. “Dan kau… terlalu berantakan untuk memimpin.”
Matteo menyerang lebih dulu.
Itulah kesalahan keduanya.
—
Di rumah danau, suara tembakan pertama terdengar samar—jauh, tapi cukup nyata.
Carmela membeku.
Maria menjerit kecil. “Tuan putri—”
“Kunci semua pintu,” perintah Carmela cepat. “Sekarang.”
Para pengawal bergerak, tapi situasinya kacau. Komunikasi terputus. Sistem keamanan tidak merespons sempurna.
Dan kemudian, ponsel Carmela bergetar.
Satu pesan masuk.
Nomor tak dikenal.
Dia membuat pilihan hari ini.
Sekarang giliranmu.
—L
Dunia seakan berhenti.
Carmela tidak menangis. Tidak berteriak. Justru ketenangan aneh menyelimutinya—ketenangan seseorang yang akhirnya memahami bahwa menunggu bukan lagi pilihan.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Maria gemetar.
Carmela menatap pintu besar rumah itu, lalu jendela, lalu ponselnya lagi.
“Kita tidak menunggu,” jawabnya.
—
Matteo berhasil keluar dari gudang—terluka, berdarah, tapi hidup. Namun ia tahu: ini bukan kemenangan.
Lorenzo membiarkannya pergi.
Dan itu jauh lebih buruk.
Ketika Matteo akhirnya berhasil menghubungi rumah danau, tidak ada jawaban.
Panik—yang jarang sekali ia rasakan—menggigit dadanya.
“Carmela,” bisiknya. “Tidak…”
—
Carmela berdiri di ruang tamu, mantel menutupi tubuhnya, rambutnya disanggul sederhana. Wajahnya pucat, tapi matanya jernih.
Ia menatap para pengawal.
“Aku tidak akan diculik,” katanya tegas. “Dan aku tidak akan melarikan diri.”
Semua terdiam.
“Lorenzo ingin aku bergerak,” lanjut Carmela. “Dan jika aku bergerak dengan caraku sendiri… aku tidak sepenuhnya berada di tangannya.”
“Itu terlalu berbahaya,” bantah salah satu pengawal.
“Diam di sini juga berbahaya,” balas Carmela. “Bedanya, itu membuatku tidak berdaya.”
Ia menghela napas dalam-dalam.
“Kalian akan membawaku ke Milan,” katanya. “Ke tempat umum. Terang. Ramai.”
Maria menatapnya dengan air mata. “Tuan putri—”
“Jika aku harus menjadi umpan,” kata Carmela pelan, “maka aku akan menjadi umpan yang memilih arah.”
—
Di dalam mobil yang melaju menuju kota, Carmela menatap lampu-lampu jalanan yang mulai menyala. Tangannya gemetar di pangkuan, tapi pikirannya tajam.
Ia tidak tahu apakah Matteo akan memaafkannya.
Ia bahkan tidak tahu apakah ia akan bertemu Matteo lagi.
Namun satu hal pasti:
Hari ini, ia berhenti menjadi benda yang dipindahkan.
Dan Lorenzo—di kejauhan—tersenyum ketika mendengar kabar itu.
“Bagus,” katanya pelan. “Sekarang permainannya dimulai.”