NovelToon NovelToon
PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Berlian zahhara

Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Kedekatan Menjadi Ancaman

Pagi datang tanpa permisi.

Cahaya matahari menyusup melalui celah tirai, jatuh di lantai kamar yang masih berantakan oleh sisa malam tadi. Udara terasa hangat, tapi dadaku justru dingin. Aku terbangun lebih dulu, menatap langit-langit sambil mendengarkan napasnya yang teratur di sampingku.

Ia masih tertidur.

Wajahnya tampak jauh berbeda saat tak sedang sadar—lebih muda, lebih tenang, lebih… manusia. Tidak ada sorot tajam yang biasa ia gunakan untuk melindungi dirinya dari dunia.

Aku menoleh sedikit, memperhatikannya diam-diam.

Ada bagian dari diriku yang takut. Takut karena aku mulai terbiasa dengan keberadaannya. Takut karena semalam bukan sekadar kesalahan atau pelampiasan. Itu adalah pilihan.

Dan pilihan selalu punya konsekuensi.

Ia bergerak, mengerang pelan, lalu membuka mata. Tatapannya langsung tertuju padaku. Seperti biasa—terlalu tajam untuk orang yang baru bangun tidur.

“Kamu nggak pergi,” katanya.

Bukan pertanyaan.

“Aku belum tahu harus ke mana,” jawabku jujur.

Ia terdiam beberapa detik, lalu duduk, menyandarkan punggung ke kepala ranjang. Tangannya mengusap wajah, jelas sedang berpikir keras. Keheningan di antara kami terasa berbeda dari malam tadi—lebih berat, lebih nyata.

“Kita nggak bisa terus begini,” ucapnya akhirnya.

Jantungku menegang. “Begini bagaimana?”

“Setengah dekat, setengah kabur,” katanya. “Aku bukan orang yang bisa main aman.”

Aku tertawa kecil, pahit. “Aku juga nggak pernah merasa aman sejak mengenalmu.”

Ia menoleh, menatapku lama. “Itu yang bikin aku khawatir.”

Aku bangkit dari ranjang, menarik selimut menutupi tubuhku, lalu berjalan ke jendela. Dari lantai atas, kota terlihat sibuk seperti biasa—orang-orang berangkat kerja, hidup mereka berjalan lurus, sederhana.

Tidak seperti hidupku sekarang.

“Aku bukan gadis yang kamu temui sekali lalu lupa,” kataku tanpa menoleh. “Dan aku juga bukan wanita yang bisa kamu simpan di sudut hidupmu.”

“Aku tahu,” jawabnya cepat.

Nada suaranya membuatku menoleh.

“Aku tahu sejak awal,” lanjutnya. “Makanya aku berusaha menjaga jarak. Kamu terlalu… nyata.”

Kata itu membuat dadaku bergetar.

Nyata.

“Apa kamu tahu rasanya,” kataku pelan, “menjadi seseorang yang selalu setengah dipilih?”

Ia berdiri. Langkahnya mendekat, berhenti tepat di belakangku. Aku bisa merasakan keberadaannya tanpa perlu menoleh—hangat, berat, menekan.

“Aku nggak setengah memilihmu,” katanya rendah. “Aku justru terlalu memilihmu. Dan itu masalahnya.”

Tangannya terangkat, ragu-ragu, lalu jatuh di sisi tubuhnya sendiri. Ia tidak menyentuhku kali ini.

“Kamu punya dunia yang belum hancur,” lanjutnya. “Sementara aku—aku hidup dari reruntuhan.”

Aku berbalik menghadapnya.

“Jangan putuskan sendiri apa yang sanggup kuterima,” kataku. “Aku bukan anak kecil.”

Matanya menggelap. Ada konflik yang jelas di sana—antara keinginan untuk menarikku masuk dan ketakutan akan menghancurkanku.

“Ada orang-orang di hidupku,” katanya akhirnya. “Masa lalu yang belum selesai. Masalah yang bisa menyeret siapa pun yang dekat denganku.”

Aku melangkah mendekat, jarak kami menyempit lagi.

“Dan kamu pikir aku nggak sadar dari awal?”

Ia menghela napas panjang.

“Kamu terlalu berani.”

“Atau kamu yang terlalu pengecut,” balasku, bukan untuk menyakiti, tapi jujur.

Keheningan kembali jatuh.

Lalu, tanpa aba-aba, ia menarikku ke dalam pelukan. Kali ini erat. Sangat erat. Seolah jika ia melepas, aku akan benar-benar pergi.

“Aku nggak janji ini akan indah,” bisiknya di rambutku. “Tapi aku janji ini akan jujur.”

Aku memejamkan mata, membalas pelukannya.

“Aku cuma minta kamu berhenti kabur,” jawabku lirih.

Ia tidak menjawab. Tapi pelukannya mengencang, dan itu cukup.

Siang hari, kami keluar bersama—bukan sebagai sepasang kekasih, tapi juga bukan lagi dua orang asing. Dunia di luar terasa berbeda. Setiap langkah bersamanya terasa seperti keputusan yang tak bisa ditarik kembali.

Dan aku tahu, sejak hari itu…

Kedekatan kami bukan lagi tempat aman.

Ia telah menjadi ancaman—bagi logika, bagi ketenanganku, dan bagi hidup yang selama ini kupikir kuinginkan.

Namun, anehnya…

Aku tidak ingin mundur.

1
adinda berlian zahhara
/Smile/
Elva Maizora
bagus banget ceritanya thor
adinda berlian zahhara: terimakasih 🫰❤️
total 1 replies
Bibilung 123
sangat luar biasa ceritanya tidak bertele tele tp pasti
adinda berlian zahhara: terimakasih masukannya, author sekarang sedang merevisi cerita supaya menjadi bab yang panjang🙏🙏
total 1 replies
putrie_07
hy thorrr aq suka bacanya, bgussss
putrie_07: iy Thor. iy klo bisa buat ada panas pnasnya🥵🥵🥵🥵
total 2 replies
putrie_07
♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!