NovelToon NovelToon
KELINCINYA ORION

KELINCINYA ORION

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Romantis / Cinta setelah menikah / Dark Romance / Romansa / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DUA PULUH DUA: VONIS GISELLE

Cahaya matahari pagi yang lembut mulai menyelinap masuk melalui celah-celah gorden sutra di kamar Orion, menyinari sisa-sisa badai yang terjadi semalam. Seraphina terbangun dengan rasa sakit yang luar biasa menjalar di seluruh persendiannya. Tubuhnya terasa remuk redam, seolah-olah setiap inci ototnya telah dipaksa bekerja melampaui batas. Di bawah selimut sutra yang berantakan, ia bisa merasakan sisa-sisa perlakuan Orion; rasa perih yang berdenyut di area pribadinya menjadi saksi bisu betapa brutalnya pria itu mengklaim dirinya berkali-kali hingga fajar hampir menyingsing.

Sprei yang tadinya rapi kini kusut masai, dihiasi noda-noda yang mengering sebagai jejak dari aktivitas liar mereka di atas ranjang dan meja mahoni sebelumnya. Seraphina hanya bisa menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan pandangan kosong. Air matanya sudah kering, menyisakan rasa perih di kelopak mata yang membengkak. Di sampingnya, Orion masih terlelap pulas. Lengan pria itu yang kokoh melingkar posesif di pinggang Seraphina, seolah-olah sedang mengunci mangsanya bahkan dalam tidur sekalipun. Aroma maskulin yang bercampur dengan bau keringat dan sisa-sisa gairah memenuhi indra penciuman Seraphina, membuatnya merasa semakin tercekik dalam sangkar emas ini.

Ia teringat setiap rintihan dan jeritan yang keluar dari mulutnya semalam. Bagaimana Orion menghantamnya dari belakang, bagaimana tangannya meremas payudaranya dengan kasar, dan bagaimana pria itu memaksa jiwanya untuk menyerah pada kenikmatan yang menyakitkan. Seraphina merasa kotor, merasa bahwa ia bukan lagi gadis panti asuhan yang suci, melainkan sudah berubah menjadi objek pemuas nafsu bagi sang pewaris Valentinus.

Tiba-tiba, suara pintu kamar Orion terbuka dengan hentakan pelan tanpa didahului ketukan. Seraphina tersentak hebat, seluruh tubuhnya menegang kaku. Jantungnya berpacu gila saat melihat sesosok wanita berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Giselle berdiri di sana, masih mengenakan piyama sutra ungu mewahnya. Rambutnya sedikit acak-acakan khas orang yang baru bangun tidur, namun matanya yang biasanya ceria kini membelalak lebar saat menangkap pemandangan di depannya. Ia bermaksud mencari Seraphina ke kamar tamu, namun karena tidak menemukannya, instingnya membawanya ke kamar putra tunggalnya.

Keheningan yang mematikan menyergap ruangan itu selama beberapa detik. Giselle menatap noda di sprei, menatap bahu Seraphina yang dipenuhi tanda kemerahan, dan menatap putranya yang masih bertelanjang dada di samping gadis itu. Ekspresi mengantuk di wajah Giselle seketika sirna, digantikan oleh gelombang keterkejutan yang murni, yang kemudian dengan cepat berubah menjadi sebuah kemarahan yang absurd dan dramatis.

"ORION MAXIMUS VALENTINUS! APA YANG KAU LAKUKAN PADA PUTRI KESAYANGAN MAMA?!" Giselle menjerit dengan suara melengking yang sanggup memecahkan keheningan pagi. Ia berlari masuk ke dalam kamar dengan langkah kaki yang menghentak keras di atas lantai marmer, seperti banteng yang sedang mengamuk.

Orion terkesiap bangun. Matanya yang hitam tajam langsung terbuka, menatap ibunya dengan tatapan kesal dan terganggu. "Mama! Apa-apaan sih ini? Keluar dari kamarku!"

Namun Giselle tidak peduli pada perintah putranya. Ia langsung menerjang ke arah ranjang, menarik Seraphina keluar dari dekapan Orion dengan kekuatan yang tidak terduga. Ia memeluk Seraphina erat-erat, menutupi tubuh gadis itu dengan selimut seolah ingin melindunginya dari pandangan Orion. Giselle mulai memeriksa wajah Seraphina, menangkup pipinya dengan tangan yang gemetar.

"Ya ampun, Nana! Sayangku, kamu kenapa bisa jadi begini?!" Giselle berseru dengan nada horor yang berlebihan. "Lihat matamu yang sembab! Lihat bibirmu! Dan... dan sprei kotor semua! Astaga! Pasti Orion yang berbuat onar lagi! Dia benar-benar monster yang tidak tahu malu!"

Orion mendengus pelan, ia bangkit dari ranjang dengan tenang dan mulai mengenakan celana tidurnya, seolah-olah kehadiran ibunya di sana bukanlah masalah besar. "Mama, itu bukan urusan Mama. Lagipula, dia baik-baik saja. Dia menikmati setiap detiknya."

"BAIK-BAIK SAJA?!" Giselle menoleh tajam ke arah Orion, matanya menyala-nyala penuh amarah yang konyol. "Lihat dia, Orion! Dia terlihat seperti habis dihantam badai! Kau benar-benar tidak punya perasaan! Kau sudah menodai gadis paling manis di dunia ini! Ya Tuhan, ini benar-benar skandal yang mengerikan!"

Di dalam benaknya, Orion hanya bisa mencibir drama ibunya. "Mama memang selalu dramatis. Tapi ini bagus. Biarkan dia bertingkah seolah-olah dia adalah pelindung Seraphina, padahal dia sendiri yang membawa kelinci ini ke kandang serigala."

Giselle kembali beralih ke Seraphina, mendekap kepala gadis itu di dadanya sambil mengelus rambutnya yang kusut. "Nana, jangan takut, Sayang. Mama ada di sini. Mama tidak akan membiarkan anak kurang ajar ini menyentuhmu lagi dengan cara yang tidak sopan! Kamu adalah putri Mama sekarang, dan Mama akan memastikan keselamatanmu!"

Orion menyilangkan tangan di dadanya yang bidang, mengamati tingkah laku ibunya dengan senyum sinis. "Lalu apa yang akan Mama lakukan? Mengurungnya di menara?"

"Mulai sekarang!" Giselle berdiri dengan tegak, menunjuk ke arah Orion dengan jari telunjuknya yang lentik, wajahnya tampak sangat serius namun tetap terlihat nyeleneh. "Mama akan buat aturan baru di mansion ini! Pertama, Orion dilarang keras masuk ke kamar Nana tanpa izin tertulis dari Mama! Kedua, Nana tidak boleh ditinggalkan sendirian sedetik pun denganmu! Dan ketiga... Mama akan tidur di kamar Nana setiap malam untuk menjaganya!"

Seraphina hanya bisa menatap Giselle dengan pandangan kosong dan bingung. Aturan-aturan itu terdengar sangat konyol di telinganya. Ia tahu bahwa tembok setebal apa pun tidak akan bisa menghalangi Orion jika pria itu menginginkannya.

Orion terkekeh rendah, sebuah tawa gelap yang membuat bulu kuduk Seraphina berdiri. "Mama pikir aturan kekanak-kanakan itu bisa menghentikanku? Aku bisa mengambilnya kapan pun aku mau, bahkan di depan mata Mama sekalipun."

"Oh, tidak bisa! Mama tidak akan membiarkan martabat keluarga kita hancur karena nafsu liarmu itu!" Giselle memekik, lalu tiba-tiba ia terdiam sejenak. Matanya berbinar-binar, sebuah ide yang sangat absurd dan gila seolah baru saja melintasi pikirannya. "Aha! Mama punya solusi yang paling sempurna! Karena kamu sudah merusak putri Mama seperti ini..." Giselle menunjuk Seraphina dengan gerakan dramatis. "Maka tidak ada jalan lain! Kamu harus bertanggung jawab secara jantan!"

Orion mengerutkan kening, firasatnya mulai tidak enak. "Apa maksud Mama?"

"Kamu akan menikahi Seraphina secepatnya!" Giselle berseru dengan penuh semangat, seolah baru saja memenangkan lotre. "Seorang pria sejati harus menikahi wanita yang sudah ia sentuh! Mama tidak ingin Nana menjadi bahan gosip atau merasa rendah diri. Dengan menikah, kamu bisa melakukannya sepuasmu secara sah, dan Mama bisa segera menimang cucu!"

Seraphina merasa dunianya benar-benar runtuh mendengar kata 'menikah'. Menikah dengan pria yang telah menyiksanya secara seksual? Menjadi istri dari monster yang tidak memiliki empati? Itu bukanlah pertanggungjawaban, itu adalah hukuman seumur hidup.

"Mama! Apa Mama sudah gila?" Orion berseru, meskipun di dalam hatinya, ide itu mulai terasa menarik.

"Mama tidak gila! Mama sangat cerdas!" Giselle berkacak pinggang, menatap putranya dengan tatapan menantang. "Kita akan mengadakan pesta pernikahan yang paling megah sepanjang sejarah keluarga Valentinus! Mama akan mengundang semua sosialita, semua jurnalis, dan semua musuh bisnismu agar mereka iri setengah mati melihat betapa cantiknya istrimu! Kita akan memesan gaun dari Paris, bunga dari Belanda, dan katering dari Italia!"

Giselle kemudian berlutut di depan Seraphina, memegang tangannya dengan lembut. "Nana, sayangku... bagaimana? Kamu mau kan menikah dengan Orion? Dia memang sedikit kasar dan mesum, tapi dia kaya raya dan bisa memberikanmu segalanya. Kamu akan menjadi Nyonya Besar Valentinus, ratu di rumah ini! Kamu tidak akan pernah kekurangan apa pun lagi."

Seraphina menatap mata Giselle yang berbinar penuh harapan palsu, lalu ia melirik ke arah Orion yang kini menatapnya dengan intensitas yang mengerikan. Orion seolah sedang menimbang-nimbang nilai dari "aset" baru yang akan ia miliki secara legal ini.

"Menikah, ya?" Orion bergumam, suaranya kini terdengar lebih tenang namun tetap mengancam. "Jika itu satu-satunya cara agar aku bisa memilikinya secara penuh tanpa gangguan dari siapa pun... maka aku setuju. Aku akan menikahinya."

Giselle menjerit kegirangan, melompat-lompat kecil di tengah kamar. "YEEEIIII! Akhirnya! Kita akan punya pesta besar! Nana, kamu akan jadi pengantin paling cantik di dunia! Mama sendiri yang akan mendesain setiap detailnya!"

Sementara Giselle sibuk merayakan ide gilanya, Seraphina hanya bisa menunduk dalam diam. Ia merasa seperti terjebak di antara dua badai; satu badai kemarahan Orion yang destruktif, dan satu badai kasih sayang Giselle yang manipulatif dan konyol. Pernikahan ini bukanlah awal dari kebahagiaan, melainkan pengukuhan statusnya sebagai tawanan abadi di dalam istana mewah ini.

Narasi internal Orion mencatat kemenangan ini dengan penuh kepuasan. "Istri. Kata yang manis. Itu berarti aku punya hak hukum atas setiap inci tubuhnya. Aku bisa menghancurkannya, membentuknya, dan menggunakannya kapan pun aku mau tanpa ada yang berani protes. Dia akan menjadi jalang pribadiku yang sah di mata dunia."

Giselle segera menarik Seraphina keluar dari kamar tersebut, mengabaikan fakta bahwa Seraphina hampir tidak bisa berjalan dengan benar karena rasa sakit di antara kakinya. "Ayo, Nana! Kita harus mulai melakukan perawatan kulit, memilih bahan gaun, dan menentukan menu makanan! Waktu kita tidak banyak!"

Di dalam kamar yang kini sunyi, Orion hanya menatap pintu yang tertutup dengan senyum gelap. Ia tahu, mulai hari ini, permainan ini akan menjadi jauh lebih menarik. Seraphina bukan lagi sekadar gadis panti asuhan yang ia culik, melainkan calon ratu yang akan ia tundukkan di bawah kekuasaannya selamanya.

1
lucky
tolol ini cewe. bukan polos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!