Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 33 - SANG OGRE KECIL
Gargo membuat roti dengan cara yang sangat serius.
Tubuh kecilnya berdiri di atas bangku kayu agar bisa mencapai meja. Kedua tangannya penuh tepung. Wajahnya berkerut dengan konsentrasi yang mungkin lebih cocok untuk seseorang yang sedang menjinakkan bom.
"Dua ratus... tidak boleh kurang... kalau kurang rotinya keras... Bu Hana bilang begitu... satu, dua, tiga..."
Ash berdiri di ambang pintu dapur dan memandangi pemandangan itu beberapa detik sebelum akhirnya bersuara.
"Pagi, Gargo."
Gargo tersentak. Hampir jatuh dari bangku. Adonan nyaris melayang ke udara tapi dia tangkap dengan dua tangan sambil mengeluarkan suara yang tidak dalam bahasa manusia.
"A-Ash?!" Dia menatap Ash dengan mata yang ukurannya sudah jauh melampaui batas normal. "K-kenapa ada di sini?!"
"Aku akan kembali Vairlion pagi ini untuk beberapa urusan. Tapi mampir ke sini dulu." Ash masuk ke dapur. "Mau ku bantu?"
"B-bantu?"
"Bikin roti. Kamu masih butuh berapa lagi?"
Gargo menatap baris roti di atas loyang dengan ekspresi yang sangat serius. "Masih... lima belas lagi. Bu Hana butuh tiga puluh untuk sarapan tamu."
"Oke. Ajarkan aku."
Gargo menatap Ash. Menatap adonan. Menatap Ash lagi.
"A-Ash serius?"
"Aku belum pernah bikin roti. Tapi aku jenius dalam segala hal jadi tenang saja." Ash mengambil celemek yang tergantung di dekat pintu dan mengenakannya. "Katakan saja aku harus mulai dari mana."
---
Ternyata membuat roti lebih sulit dari yang terlihat.
Ash baru menyadari ini setelah roti keempatnya malah berbentuk lonjong yang tidak bisa dijelaskan dan membuat Gargo menatapnya dengan ekspresi antara kasihan dan berusaha tidak tertawa.
"Ini... ini bagus juga," ucap Gargo dengan nada sangat berhati-hati. "Cuma... bentuknya agak... unik."
"Ini di sebut bulat di duniaku," kata Ash. Mencoba menutupi rasa malunya.
"Iya. Bulat memanjang. Tidak apa-apa. Rasanya tetap sama."
"Kau benar, itulah kenapa aku di sebut jenius."
Ekspresi Gargo berubah. Dia berusaha menunduk sambil menahan tawa namun tak berhasil.
Ash menatap roti anehnya sendiri, lalu ikut tertawa.
Mereka bekerja berdampingan setelahnya, Gargo yang memandu, Ash yang mencoba ikuti instruksi dengan tingkat keberhasilan yang lebih rendah dari nilai matematika mya di bumi dulu.
Namun satu yang Ash perhatikan, Gargo berubah ketika di dapur. Gemetar yang tadi selalu ada di tangannya perlahan hilang. Suaranya lebih pelan tapi lebih stabil. Lebih.. Tenang, mungkin inilah sifat Gargo yang sebenarnya.
Saat semua roti masuk loyang dan masuk tungku, mereka duduk di lantai dapur sambil menunggu.
"Gargo," panggil Ash. "Aku mau tanya sesuatu. Boleh?"
"B-boleh..."
"Apa kau punya cita-cita atau mimpi, atau apapun itu sebutannya."
Gargo seperti terkejut lalu tertawa kecil.
"Ashh.. Aneh.."
"Aku lebih suka di panggil jenius, jadi pernah tidak?"
Ogre kecil itu memandangi tangannya yang masih penuh sisa tepung. "Mimpi.. Pernah. Sering malah."
"Tentang apa?"
"Tentang.. Gargo yang bertualang mengelilingi dunia.."
"Itu cukup aneh. Tapi kenapa tidak melakukannya?"
"Karena takut." Jawaban itu keluar tanpa jeda, seperti sudah dihafal. "Gargo takut banyak hal. Monster di luar hutan. Orang-orang yang tidak kenal Gargo dan mungkin tidak mau kenal. Sendirian di tempat yang asing."
"Hemm.. Takut ya, tapi aku malah jadi penasaran, ceritakan soal mimpimu itu lebih banyak."
Gargo menatapnya dengan tatapan yang sedikit terkejut, seperti tidak menyangka ada yang mau bertanya ini. "Dari kecil Gargo tak pernah keluar desa, jadi Gargo selalu bermimpi bisa keliling dunia. Cicip semua makanan dari semua tempat. Cari bahan-bahan yang tidak ada di sini. Bikin masakan yang belum pernah ada sebelumnya."
Suaranya sedikit berubah saat berbicara tentang itu. Lebih hidup.
"Mimpi yang bagus," ucap Ash. "Menurutku mimpi itu bisa terwujud."
Gargo menggeleng pelan. "Ti-tidak mungkin.. Gargo itu penakut dan.. Lemah!" suaranya jadi pelan.
"Aku juga lemah, 'Walau tetap jenius' tapi aku tak sekuat itu." Ash menatap langit-langit dapur. "Saat pertama kali ketemu monster besar, aku lari. Saat pertama kali di tengah pertarungan sungguhan, aku membeku." Tangannya tanpa sadar menyentuh dadanya sendiri. "Saat pertama kali ada orang yang kubiarkan mati padahal mungkin bisa aku tolong... aku tidak tidur berminggu-minggu."
Dapur itu menjadi sunyi sebentar selain suara tungku yang terus berbunyi.
"A-ash tidak lemah," ucap Gargo pelan.
"Itu karena ada Eveline dan Razen. Mereka selalu membimbingku, selalu membukakan jalan, dan selalu di sampingku bahkan di saat tersusah." Ash menatap Gargo. "Takut itu wajar, itu membuktikan kau masih punya hati, tapi Gargo. Ketakutan akan jadi lebih ringan kalau ada yang menanggungnya bersama."
Ogre kecil itu terdiam lama.
"Kalau suatu hari kau siap," lanjut Ash, "Cobalah untuk wujudkan mimpimu itu, boleh sendiri, boleh bersama kami, atau boleh dengan siapapun itu. Tapi aku bisa pastikan satu hal, Aku, Eveline, dan Razen. Pintu kami akan selalu terbuka untukmu." Dia berdiri saat aroma roti yang matang mulai menguar dari tungku. "Dan omong-omong, aku mau berkunjung lagi besok. Harga diriku tak bisa menerima sampai aku bisa bikin roti bulat sempurna."
Gargo menatapnya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, tapi dari alasan yang berbeda dari biasanya. "I-ya.. Gargo akan tunggu."
Dan Ash pun pergi. Dengan janji. Dengan mimpi. Dan dengan harapan yang Ogre kecil itu nantikan.
Sesuatu yang baru pertama kali ia rasakan seumur hidupnya.
kalau bisa crazy up thor🤭🤭🤭