NovelToon NovelToon
Bercerai? Siapa Takut! Aku Punya 7 Kakak Sultan

Bercerai? Siapa Takut! Aku Punya 7 Kakak Sultan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Selingkuh / Balas Dendam / Pelakor / Hari Kiamat / Ruang Ajaib
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"

Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".

Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.

Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.

"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."

Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: SURAT CERAI DI TENGAH BADAI

BAB 1: SURAT CERAI DI TENGAH BADAI

Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu, seolah langit pun ikut menangis menyaksikan kehancuran hati Alana. Di ruang tamu megah bergaya minimalis itu, Alana berdiri mematung. Tangannya gemetar hebat memegang selembar kertas yang baru saja dilemparkan ke wajahnya.

"Tanda tangani. Jangan membuang waktuku lebih lama lagi," suara bariton itu terdengar sangat dingin, lebih dingin dari rintik hujan yang menyentuh kulit.

Alana menatap pria di depannya. Raka Ardiansyah. Pria yang tiga tahun lalu berlutut memohon restu untuk menikahinya, pria yang berjanji akan menjadi pelindungnya seumur hidup. Namun kini, pria yang sama menatapnya dengan tatapan jijik seolah Alana adalah sampah yang harus segera disingkirkan.

"Kenapa, Mas? Apa salahku?" suara Alana serak, tertahan oleh sesak di dada. "Selama tiga tahun ini, aku sudah menjadi istri yang baik. Aku mengurus rumah, aku melayani Ibu, aku bahkan berhenti bekerja karena kau memintaku menjadi istri penurut. Kenapa tiba-tiba ada surat cerai?"

Raka mendengus remeh. Ia menyesap kopi hitamnya tanpa dosa. "Salahmu? Salahmu adalah karena kau hanya seorang anak yatim piatu yang tidak punya apa-apa, Alana! Kau tidak punya latar belakang keluarga yang bisa membantuku naik jabatan. Kau tidak punya koneksi. Kau hanya beban!"

Pintu kamar terbuka. Seorang wanita keluar dengan gaun tidur satin yang sangat tipis, menempel di tubuhnya yang sintal. Dia adalah Siska, sahabat Alana sendiri yang beberapa bulan terakhir sering datang dengan alasan "butuh teman curhat".

Siska berjalan mendekat, lalu dengan berani melingkarkan lengannya di leher Raka di depan mata Alana.

"Sayang, sudah selesai? Aku sudah mengantuk," rengek Siska dengan suara manja yang memuakkan.

Dunia Alana seakan runtuh. "Siska? Kau... kalian?"

Siska tersenyum sinis, senyum kemenangan yang belum pernah Alana lihat sebelumnya. "Maaf ya, Al. Tapi Raka butuh wanita yang selevel dengannya. Ayahku adalah salah satu pemegang saham di perusahaannya. Dengan bersamaku, karier Raka akan melesat. Sedangkan kamu? Kamu hanya pelayan rumah tangga yang kebetulan punya buku nikah."

"Cukup!" Alana berteriak, air matanya luruh. "Kalian benar-benar tidak punya hati! Aku mencintaimu dengan tulus, Mas!"

"Cinta tidak bisa membeli saham, Alana," potong Raka kasar. "Aku sudah muak melihat wajahmu yang selalu pucat dan membosankan. Sekarang, tanda tangani kertas itu, ambil pakaianmu, dan pergi dari rumahku. Malam ini juga!"

"Tapi di luar badai, Mas! Aku harus pergi ke mana malam-malam begini?"

"Bukan urusanku. Mau kau tidur di kolong jembatan atau di pinggir jalan, aku tidak peduli. Pergi!" Raka menarik paksa tangan Alana, menyeretnya menuju pintu utama.

Siska tertawa di belakang mereka, seolah melihat tontonan komedi yang sangat menghibur. Alana berusaha memberontak, namun tenaga Raka jauh lebih kuat. Tubuh mungil Alana didorong kasar hingga tersungkur di teras rumah. Tas pakaiannya dilemparkan begitu saja hingga isinya berantakan terkena genangan air.

BRAKK!

Pintu jati besar itu tertutup rapat dan dikunci dari dalam. Alana terisak di bawah guyuran hujan. Seluruh badannya basah kuyup. Hatinya hancur berkeping-keping. Dia benar-benar sendirian. Tidak ada orang tua, tidak ada teman, tidak ada tempat bersandar. Selama ini, dunianya hanya berputar pada Raka, dan kini pusat dunianya itu baru saja membuangnya ke tempat sampah.

"Tuhan... kenapa hidupku begini?" rintihnya sambil memeluk dirinya sendiri yang menggigil.

Alana menyeret langkahnya keluar dari gerbang rumah mewah itu. Dia berjalan tanpa arah di pinggir jalan raya yang sepi. Petir menyambar di langit, menerangi wajahnya yang pucat pasi. Dia merasa nyawanya seolah sudah terbang.

Tiba-tiba, dari kejauhan, sorot lampu mobil yang sangat terang menyilaukan matanya. Bukan hanya satu, tapi belasan!

Suara deru mesin mobil-mobil mewah membelah sunyinya malam. Suara itu terdengar seperti gerombolan binatang buas yang sedang mengamuk. Alana berhenti melangkah, menutupi matanya dengan tangan.

Satu... dua... tiga... sepuluh... lima belas mobil Rolls-Royce hitam mengkilap berhenti mendadak, mengepung Alana di tengah jalan.

Tidak hanya itu, di langit yang gelap, suara baling-baling helikopter terdengar mendekat. Sorot lampu dari udara langsung mengarah tepat ke arah Alana. Suasana yang tadinya gelap gulita kini menjadi terang benderang seperti di tengah stadion.

Alana gemetar. Apakah ini akhir hidupnya? Apakah dia akan diculik?

Pintu mobil paling depan terbuka. Seorang pria keluar. Dia mengenakan setelan jas buatan Italia yang harganya mungkin setara dengan rumah Raka. Wajahnya sangat tampan, rahangnya tegas, dan matanya memancarkan otoritas yang luar biasa.

Pria itu berlari kecil menembus hujan, mengabaikan jas mahalnya yang basah. Di belakangnya, puluhan pria berbadan tegap yang tampaknya adalah pengawal, bergegas memayungi pria itu.

Namun, pria itu menepis payung tersebut. Dia langsung berlutut di depan Alana yang masih tersungkur di aspal.

"Putri Kecil..." suara pria itu bergetar, penuh dengan rasa haru dan kesedihan yang mendalam.

Alana menatap pria itu dengan bingung. "Si... siapa?"

Pria itu memegang bahu Alana dengan lembut. "Ini Kakak, Alana. Ini Kak Elvan. Kakak tertuamu."

Alana tertegun. Elvan? Nama itu terasa asing namun hangat di ingatannya. Memorinya yang terkubur sepuluh tahun lalu akibat kecelakaan saat dia remaja mulai berputar seperti film rusak.

"Akhirnya kami menemukanmu setelah sepuluh tahun, Dek," ujar pria itu lagi. Air mata pria itu jatuh, bercampur dengan air hujan. "Maafkan Kakak yang terlambat. Maafkan kami yang membiarkanmu menderita di tangan pria brengsek itu."

Dari mobil-mobil lain, enam pria lainnya turun. Semuanya memiliki wajah yang luar biasa tampan dengan aura yang berbeda-beda. Ada yang terlihat dingin seperti es, ada yang terlihat seperti model papan atas, dan ada yang terlihat sangat garang.

Salah satu dari mereka, yang terlihat paling muda namun paling atletis, maju ke depan dengan wajah memerah karena marah. Dia melihat memar di lengan Alana bekas tarikan Raka tadi.

"Siapa yang melakukannya, Dek? Siapa yang berani menyentuh kulitmu dengan kasar?!" teriak pria muda itu—Kakak ketujuh Alana, seorang atlet MMA internasional. "Katakan padaku! Aku akan merobek jantungnya sekarang juga!"

"Tenang, Gio," ujar pria lain yang mengenakan kacamata, auranya sangat jenius dan berbahaya. "Kita tidak akan hanya merobek jantungnya. Kita akan menghancurkan hidupnya, keluarganya, dan tujuh turunan bisnisnya sampai dia memohon untuk mati."

Alana menatap ketujuh pria di sekelilingnya. Mereka semua menatapnya dengan pandangan memuja, pelindung, dan penuh cinta.

"Jadi... aku punya kakak?" tanya Alana lirih.

Elvan, sang kakak tertua, melepas jasnya dan menyelimuti tubuh Alana yang menggigil. Dia mengangkat tubuh adiknya itu ke dalam gendongannya dengan sangat hati-hati, seolah Alana adalah permata yang paling rapuh di dunia.

"Kau bukan yatim piatu, Alana. Kau adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa. Pemilik tunggal tahta kekayaan yang tidak akan habis tujuh turunan," bisik Elvan tepat di telinga Alana.

Elvan menoleh ke arah rumah mewah Raka yang terlihat kecil dari kejauhan. Matanya berkilat penuh dendam.

"Hancurkan rumah itu malam ini juga. Pastikan mereka keluar merangkak tanpa membawa sepeser pun harta," perintah Elvan pada para pengawalnya.

"Baik, Tuan Besar!" jawab puluhan pengawal itu serempak, suaranya menggelegar mengalahkan suara guntur.

Alana memejamkan matanya di pelukan kakaknya. Rasa dingin yang tadi menusuk tulang perlahan menghilang, digantikan oleh rasa hangat yang luar biasa. Dia tidak lagi takut.

Raka, Siska... selamat datang di neraka yang sesungguhnya, batin Alana sebelum akhirnya dia jatuh pingsan karena kelelahan.

Malam itu, Jakarta menjadi saksi kembalinya sang Tuan Putri yang hilang. Dan bagi Raka Ardiansyah, malam itu adalah awal dari kehancuran total yang tidak pernah dia bayangkan seumur hidupnya.

1
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
keren banget ceritanya, aku suka🤗🤗😘😘😍
falea sezi
ngapain ngemis ma kenzo kayak janda gk laku aja masih banyak. laki laki Alana hadeh g usa merendahkan harga diri klo lu di buang ma kenzo ywda
merry
cinta mrkk sdg di uji sm dengan masa lalu dua klurga,, ternyta raka dam klurga semua nya penjahat pengen raka tu menyesel Dan bucin sm Alana tp gk bs milikin lgg,, sebgai pria gk pyn hati us bpk y pembunuh mm culik alna skrg raka selingkh Dan mau Alana hncur
Sari Supriyanti
Up..up...uuuup.thooor....😍👍💪💪💪
Ariany Sudjana
wah seru ini novelnya 🙏
Marsya
waduh siapa lagi nhe,bnyak x identitasnya🤔🤔🤔
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!