"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"
Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.
Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 Sang Nyonya Mengambil Kendali
Bau karbol yang tajam dan bunyi ritmis mesin pendeteksi jantung mengisi ruang tunggu VIP rumah sakit. Shena duduk terpaku di kursi besi, pakaian sutranya masih menyisakan noda darah kering yang mulai menghitam—darah Devan. Ibu Ratna, yang sudah berhasil diselamatkan dan hanya mengalami luka ringan di pergelangan tangan, duduk di sampingnya, memeluk bahu putrinya dengan erat.
"Shena, makanlah sedikit. Devan pria yang kuat, dia pasti bertahan," bisik Ibu Ratna parau.
Shena menggeleng pelan. Matanya tidak lepas dari pintu ruang operasi yang masih menyalakan lampu merah. "Dia tertusuk karena melindungiku, Bu. Dia membuang nyawanya demi aku, setelah semua kebencian yang pernah dia terima dari tanganku."
Pintu operasi akhirnya terbuka. Dokter keluar dengan wajah lelah namun memberikan anggukan kecil yang membuat Shena mampu bernapas kembali. "Operasi berjalan lancar. Luka tusukannya cukup dalam, mengenai bagian usus, namun tidak ada organ vital yang rusak permanen. Masa kritisnya belum lewat, tapi kondisinya stabil."
Shena terduduk lemas, air mata syukurnya tumpah. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Rian datang dengan wajah pucat sambil memegang tablet.
"Nyonya... maaf mengganggu di saat seperti ini, tapi keadaan di kantor sedang kacau," ujar Rian. "Berita tertusuknya Pak Devan bocor ke media. Saham Adiguna Group merosot tajam.
Para dewan komisaris mengadakan rapat darurat pagi ini untuk melengserkan Pak Devan karena dianggap tidak mampu menjaga stabilitas akibat masalah pribadi.
Dan yang paling buruk... Sarah menggunakan sisa koneksinya untuk mengeklaim posisi pelaksana tugas CEO."
Shena menghapus air matanya dengan kasar. Ia teringat kata-kata Devan: "Aku sudah mengalihkan 30% saham pribadi atas namamu."
Shena berdiri tegak. Sesuatu di dalam dirinya—bagian yang selama ini selalu mengalah dan takut—seolah-olah meledak. Ia teringat bagaimana Devan berdiri di garis depan demi dirinya di konferensi pers. Sekarang, gilirannya.
"Rian, siapkan mobil," perintah Shena. Suaranya tidak lagi bergetar. Dingin dan tegas.
"Nyonya mau ke mana?"
"Ke kantor pusat. Siapkan pakaian pengganti untukku di mobil. Aku tidak akan membiarkan bajingan-bajingan itu menyentuh kursi suamiku saat dia sedang bertaruh nyawa."
Ruang Rapat Adiguna Group
Suasana ruang rapat sangat panas. Sepuluh pria paruh baya berpakaian jas mahal sedang berdebat sengit. Sarah duduk di ujung meja, tampak sangat percaya diri meskipun wajahnya menunjukkan sisa-sisa kelelahan dari kejadian semalam.
"Sesuai anggaran dasar perusahaan, jika CEO berhalangan tetap, maka pemegang saham terbesar dari keluarga harus mengambil alih. Dan saya, sebagai kerabat dekat yang memiliki latar belakang bisnis, adalah pilihan logis," ujar Sarah dengan nada manis yang beracun.
"Kerabat dekat yang baru saja mencoba membunuh saudarinya sendiri?"
Pintu ruang rapat terbuka lebar. Shena melangkah masuk dengan gaun formal berwarna hitam pekat, rambutnya disanggul rapi, dan matanya memancarkan otoritas yang selama ini ia sembunyikan. Di belakangnya, Rian dan tim hukum Devan mengikuti seperti bayangan.
Sarah berdiri, wajahnya memerah. "Shena?! Apa yang kau lakukan di sini? Ini urusan bisnis, bukan tempat untuk pengantin pengganti yang hanya tahu cara melukis!"
Shena tidak berhenti sampai ia berada di ujung meja, tepat di depan kursi CEO milik Devan. Ia meletakkan sebuah map hitam di atas meja dengan dentuman pelan namun tegas.
"Perkenalkan diriku sekali lagi pada kalian yang lupa," Shena menatap satu per satu anggota dewan komisaris. "Namaku Shena Adiguna. Pemilik 30% saham pribadi Devan Adiguna, ditambah hak atas tanah pabrik pusat yang kalian duduki saat ini. Secara hukum, aku adalah pemegang suara terbesar di ruangan ini."
Para komisaris terdiam, saling lirik. Mereka tahu tentang berita saham itu, tapi mereka tidak menyangka Shena memiliki keberanian untuk muncul.
"Sarah Bramantyo tidak memiliki posisi hukum di sini. Dia bahkan sedang dalam status pengawasan kepolisian atas keterlibatannya dalam aksi penculikan semalam," Shena menoleh ke arah Sarah dengan tatapan menghina. "Keamanan, tolong keluarkan wanita ini. Dia mengotori udara di ruangan ini."
"Kau tidak bisa melakukan ini!" teriak Sarah histeris saat dua orang sekuriti memegang lengannya. "Kau itu anak haram! Kau tidak layak!"
"Aku mungkin anak siri di matamu, Sarah. Tapi di mata hukum perusahaan ini, aku adalah bosmu," sahut Shena tanpa ekspresi.
Setelah Sarah diseret keluar, Shena duduk di kursi Devan. Ia merasa dinginnya kursi itu, namun ia merasa kekuatan suaminya seolah mengalir ke tubuhnya.
"Sekarang, mari kita bicara tentang bagaimana cara menaikkan kembali harga saham kita dalam dua jam ke depan," ujar Shena sambil membuka berkas di depannya.
"Rian, hubungi semua mitra utama. Katakan bahwa Nyonya Adiguna yang mengambil kendali, dan siapa pun yang mencoba menarik investasi saat suamiku sakit, akan aku pastikan tidak akan pernah berbisnis dengan keluarga Adiguna selamanya."
Para komisaris tertegun. Mereka tidak melihat lagi gadis pendiam yang malang. Di depan mereka kini ada sosok wanita yang memiliki ketegasan Devan dan kelembutan yang mematikan.
Setelah rapat yang melelahkan, Shena kembali ke rumah sakit. Ia masuk ke kamar ICU tempat Devan masih terbaring lemah dengan berbagai selang. Shena mendekat, duduk di samping tempat tidur, dan menggenggam tangan Devan yang dingin.
"Mas... aku sudah melakukan bagianku," bisik Shena sambil mencium jemari Devan. "Aku menjaga tahtamu. Jadi, kumohon, bangunlah. Aku tidak mau menjadi ratu sendirian di istana ini."
Jari Devan bergerak sedikit, sebuah respon kecil yang membuat Shena tersenyum di tengah tangisnya. Misi menjadi istri yang kuat dimulai, sementara Devan terus berjuang untuk kembali ke pelukannya.
...****************...