NovelToon NovelToon
Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Karya Orisinal.

Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.

Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.

“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”

Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?

Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14 : Ratapan di Lembah yang Mati.

[PoV Ling Feng]

Fajar datang tanpa suara.

Cahaya pertama merayap pelan di ufuk timur, menjilat pucuk-pucuk pohon dengan warna jingga yang ragu. Kabut masih menggantung rendah di lembah, tapi tak lagi setebal sebelumnya, ia menipis, seperti rahasia yang mulai tak kuasa bersembunyi.

Aku terbukan bukan karena dingin.

Tapi karena tatapan.

Xiao Lu sudah duduk di tempat yang sama sejak semalam. Punggungnya tegak, matanya terbuka. Menatap lurus ke arahku, atau ke arah batu di leherku. Sulit membedakan.

“Kau tidak tidur?” tanyaku. Suaraku serak oleh malam.

“Tidur cukup untuk bertahan,” jawabnya datar. “Kau?”

“Aku tidur seperti batu.”

Dengusan pelan keluar dari hidungnya. Bisa jadi tawa, bisa jadi ejekan. Atau mungkin hanya napas biasa yang kebetulan terdengar.

Abu menggeliat di sampingku. Tubuhnya meregang, cakarnya mencengkeram tanah, lalu ia duduk. Matanya—kuning dan tajam—langsung tertuju pada Xiao Lu. Tidak menggeram. Hanya mengamati. Seperti kami berdua.

Perempuan itu membalas tatapan Abu. Untuk sesaat, ada sesuatu di matanya yang tak bisa kubaca. Bukan takut. Bukan benci. Mungkin ... pengakuan? Seperti melihat bayangan diri sendiri di makhluk lain.

“Ayo,” katanya akhirnya, berdiri. “Kita harus bergerak sebelum kabut benar-benar hilang. Jejak Xue Gou tidak akan menunggu.”

Kami berjalan sepanjang pagi.

Hutan mulai berubah. Pepohonan semakin renggang, digantikan semak-semak kering dan tanah yang retak-retak. Udara terasa berbeda, lebih panas, lebih kering, seolah kami meninggalkan dunia yang basah menuju sesuatu yang gersang.

Abu berjalan di sisiku. Kakinya masih pincang, tapi ia tak pernah mengeluh. Sesekali ia menjilat tanganku, seperti memastikan aku masih di sini. Atau mungkin ia hanya haus. Aku tak pernah benar-benar paham serigala.

"Kau tahu," kata Xiao Lu tiba-tiba, tanpa menoleh. "Dia bisa mati karena itu."

"Apa?"

“Serigalamu. Ikut kita sejauh ini dengan luka seperti itu.” Suaranya datar, seperti membaca laporan. “Kau memperlambatnya. Dan dia terlalu bodoh untuk meninggalkanmu.”

Abu menggeram pelan. Aku menepuk kepalanya.

"Dia bukan bodoh," kataku. "Dia setia, walau kami baru berteman."

Xiao Lu berhenti. Menoleh. Matanya menyipit.

"Setia." Kata itu diucapkannya seperti mencicipi makanan asing. "Kau tahu berapa banyak makhluk hidup yang mati karena setia?"

Aku tak menjawab. Karena aku tak tahu.

Ia kembali berjalan. Tapi kali ini lebih lambat, seolah memberi waktu bagi Abu untuk mengimbangi. Atau mungkin hanya karena jalannya mulai menanjak.

Menjelang siang, kami sampai di tepi tebing.

Di bawah, terbentang lembah yang asing. Sungai kecil membelahnya, airnya kecokelatan oleh lumpur. Di sepanjang tepian, bekas perkemahan tua, api unggun yang sudah mati, tiang-tiang tenda yang roboh, dan di sana-sini, sisa-sisa yang tak ingin kukenali.

Tulang.

Xiao Lu berlutut di tepi tebing, matanya memindai lembah. Tangannya bergerak cepat di atas peta, menandai sesuatu.

“Ini tempatnya,” gumamnya. “Persembunyian terakhir Xue Gou sebelum menghilang.”

Aku mencoba melihat apa yang ia lihat. Tapi mataku hanya menangkap kekacauan. Bekas pertempuran. Tapi tidak seperti pertempuran di Persimpangan Kelindang. Di sini, semuanya terasa ... selesai. Seperti sesuatu yang sudah berakhir lama.

“Ada yang aneh,” kataku.

Xiao Lu menoleh. “Apa?”

“Aku tidak tahu.” Aku mengerutkan kening. “Tapi rasanya ...”

Rasanya seperti tanah ini diam.

Bukan diam biasa. Diam yang pekat. Diam yang tak mau bicara. Di Jinglan, tanah selalu punya cerita, tentang hujan, tentang akar yang tumbuh, tentang cacing yang bergerak di bawah. Tapi di sini, tanah ini seperti mulut yang terkunci rapat.

Aku berlutut, menyentuh tanah.

Dingin. Mati.

“Aku tidak bisa merasakannya,” bisikku. “Bumi di sini ... tidak mau bicara padaku.”

Xiao Lu memandangku lama. Lalu ia berkata pelan, “Karena mungkin ia takut.”

“Takut pada apa?”

“Pada apa yang terjadi di sini.” Ia berdiri, menatap lembah. “Xue Gou tidak hanya merampas energi makhluk hidup. Ia juga merusak tanah. Menyedotnya sampai kering. Tempat-tempat seperti ini butuh waktu puluhan tahun untuk pulih, jika bisa pulih lagi.”

Dadaku sesak. Aku memandangi lembah itu lagi. Bekas perkemahan. Bekas pertempuran. Bekas kehidupan yang dirampas.

Di sampingku, Abu menggeram. Bukan pada Xiao Lu. Pada sesuatu di kejauhan. Matanya tertuju pada gundukan tanah di dekat sungai.

“Ada apa?” tanyaku.

Abu mulai berlari, tertatih, menuju gundukan itu. Aku mengikutinya. Xiao Lu di belakangku, tangannya sudah di gagang pedang.

Gundukan itu ternyata bukan gundukan biasa.

Ia adalah timbunan batu dan kayu, ditumpuk dengan sengaja. Di bawahnya, mengintip sesuatu yang hitam dan basah.

Bulu.

Aku mengenali bulu itu.

Serigala.

Bukan satu. Banyak. Tumpukan tubuh yang sudah tak berbentuk, ditindih batu seolah, seolah seseorang ingin menguburnya. Atau menyembunyikannya.

Abu berhenti. Tubuhnya kaku. Dari tenggorokannya keluar suara yang tak pernah kudengar sebelumnya. Bukan geraman. Bukan lolongan. Tapi ratapan pelan, seperti angin yang tersangkut di celah batu.

“Abu,” bisikku tanpa sadar. “Maafkan aku.”

Ia diam. Tapi tubuhnya bergetar.

Xiao Lu berdiri di belakangku. Untuk sekali ini, tak ada komentar sinis. Tak ada analisis dingin. Ia hanya diam, memberi ruang.

Lama kami berdiri di sana.

Lalu Abu berbalik. Ia berjalan meninggalkan tumpukan itu, kembali ke arahku, dan duduk di sampingku. Matanya menatap lembah, tapi tak lagi melihat apa pun.

Atau mungkin ia melihat sesuatu yang tak bisa kulihat.

Kami tidak bicara banyak setelah itu.

Kami menuruni tebing, memasuki lembah. Bekas perkemahan itu lebih mengerikan dari kejauhan. Di sana-sini, sisa-sisa perlawanan, pedang patah, perisai retak, dan lebih banyak tulang. Bukan hanya serigala. Manusia juga.

Xiao Lu memeriksa satu per satu dengan cermat. Ia memungut pecahan kain, mengamatinya, lalu membuangnya. Mengambil ranting patah, menciumnya, menggeleng. Bergerak dari satu mayat ke mayat lain tanpa ekspresi.

Aku hanya bisa berdiri, mencerna semuanya.

“Ini bukan pertempuran,” kataku akhirnya. “Ini pembantaian.”

“Ya.” Xiao Lu berdiri, mengelap tangannya yang kotor. “Xue Gou dan kelompoknya menyerang tempat ini. Tapi lihat.” Ia menunjuk ke arah mayat-mayat bersenjata. “Mereka bukan pemburu biasa. Mereka terlatih. Lihat posisi mereka ... mereka berusaha membentuk formasi bertahan sebelum kewalahan.”

“Jadi ini ... markas mereka?”

“Atau sekutu mereka.” Xiao Lu mengerutkan kening. “Yang berarti Xue Gou tidak hanya memburu makhluk liar. Ia juga memburu manusia. Kultivator, bahkan.”

Dadaku semakin sesak.

“Untuk apa?”

“Untuk mempercepat kultivasinya.” Ia menatapku. “Energi manusia lebih kaya daripada binatang. Terutama kultivator. Semakin tinggi tingkat mereka, semakin besar daya yang bisa dirampas.”

Aku teringat Wei Zhang. Kata-katanya tentang kelemahan, mimpi buruk, tentang sesuatu yang diambil. Mungkin ia tak hanya kehilangan tenaga. Mungkin ia kehilangan bagian dari dirinya sendiri, sedikit demi sedikit, setiap hari.

“Kita harus menemukannya,” kataku. "Sebelum dia melakukan ini lagi."

Xiao Lu menatapku lama. Lalu, untuk pertama kalinya, senyumnya tidak terasa seperti topeng.

“Kau benar-benar polos,” katanya. “Tapi mungkin ... itulah yang kita butuhkan.”

Menjelang senja, kami menemukan jejak.

1
anggita
like👍, bunga🌹
Life is Just an Illusion
semangat kak jadilah dewa fantim /Curse//Curse/
Gudang Garam Filter: dewa fantim mah Ucok kak /Curse//Curse/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!