Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.
Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.
Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26 : Diajeng
Ki Ageng membuka matanya, pembuluh darah layaknya garis halilintar hampir memenuhi sklera. Ia bukan saja marah, lebih dari itu. Murka.
Tukiran, Daryo, Mamik dan juga Citranti tidak bisa menutupi raut takut. Bahkan untuk menghela napas saja diusahakan sepelan mungkin, agar tidak menambah emosi sang dukun.
“Tutup mata kalian, kosongkan pikiran agar dapat melihat kejadian sebenarnya!” Mulutnya bergerak-gerak membaca mantra aksara Jawa, netranya tetap terbuka menatap keempat sosok yang sudah terpejam.
Mata batin Citranti nyaris tak percaya menyaksikan bagaimana suaminya hendak melecehkan Ainur. Berkata-kata frontal, dan sorot matanya penuh nafsu.
Kening Tukiran mengerut, rahangnya mengetat. Dia melihat sang menantu begitu berani membayar para bandit profesional demi melancarkan aksinya meniduri wanita wadal tumbal. “Brengsek!”
Daryo menonton bagaimana lima orang penjahat bayaran meniupkan tulup yang ujungnya sudah diolesi racun ke para penjaga hunian rumah. Satu persatu tumbang, mulut berbuih.
Bu Mamik mendapati penampakan yang sama. Para orang sewaan itu hendak merampok harta berharga di dalam kamarnya, tapi dihadang oleh mba Neneng. Terjadilah baku hantam, berakhir sang pelayan babak belur.
Mba Neng memanipulasi semua kejadian setelah dia menyuntikkan obat tidur berdosis tinggi ke leher Wesa. Benar, jika pria mesum itu menyewa antek yang terkenal ganas, tangguh. Tujuannya selain ingin melecehkan Ainur, juga merampok harta benda milik keluarga Tukiran.
Ketika Ainur tiba, para penjahat sudah lari tunggang langgang dikarenakan kalah tenaga, dan juga terkena bubuk racun yang membuat kulit tubuh mereka melepuh.
Begitu tiba di perbatasan hutan belantara – kesatria desa Alas Purwo menghadang, membunuh dengan mudah. Kemudian membuang para mayat ke jurang berpenghuni binatang buas pemakan bangkai maupun daging segar.
“Ndak mungkin mas Wesa seperti itu, pasti ada kesalahan!” Citranti menolak percaya.
BRAKK!
Ki Ageng tersinggung, dia membalikkan meja kecil hingga terlempar jauh. “Kamu meremehkan saya? Menuduh jika penglihatan mata batin ini hasil rekayasa, iya?!”
Bu Mamik bersimpuh, memohon ampun teruntuk sang putri. “Maafkan Citranti yang bodoh, ki Ageng. Dia terlalu naif sampai dibutakan oleh cinta pria laknat!”
“Bersujud Citra!” titah Tukiran.
Citranti bersujud, menghantukan keningnya pada lantai papan dingin. “Maafkan aku, ki Ageng.”
Pada hantaman kelima, Citranti meringis sakit, keningnya berdenyut-denyut. Dia tak berani berhenti kalau belum dipinta.
“Cukup! Sekali lagi saya dengar kamu meragukan kesaktian seorang ki Ageng – lain kali, mulutmu yang bakalan di obras!” Ki Ageng tersenyum miring, sangat puas mendapati para manusia bodoh, serakah ini tunduk. Memuja dirinya.
“Seret Bedebah itu ke ruang bawah tanah. Biarkan peliharaanku yang menyiksa dia!”
Daryo bergegas berdiri, dengan dibantu oleh dokter pria masih muda, mereka menyeret Wesa yang masih pingsan, telanjang – layaknya hewan buruan.
“Bawa kemari meja itu!” Dagunya menunjuk pada benda yang tadi terlempar.
Tukiran mengambilkan, diletakkan di hadapan sang dukun.
Ki Ageng menyusun keempat jemari tangan tak bisa diselamatkan, disatukan lagi. Mengambil senar diikat pada paku berkepala kecil, berujung lancip, tangannya kemudian menggenggam palu.
Tok! Tok! Tok!
Bu Mamik menahan ngilu pada hatinya. Tidak berani berkedip melihat jari-jari Wesa ditusuk paku, lalu benang ditarik.
“Cantik bukan?” Ki Ageng memamerkan kerajinan tangannya. “Mereka pasti suka kuberikan mainan baru ini.”
Kedua wanita tadi menelan air ludah, menyembunyikan getar takut, mengangguk tanpa mampu mengeluarkan suara.
“Tentu saja para bayi hasil dari ritual pujon akan menyukainya, Ki. Siapa yang tidak suka diberikan mainan bisa dihisap layaknya kompeng,” Tukiran tersenyum culas.
Hahaha ….
Tawa ki Ageng membahana, keempat gelang berliontin jari tangan Wesa dilemparkan ke Tukiran.
Tanpa jijik, langsung dipungut ayahnya Daryo.
“Pergilah ke ruang bawah tanah. Berikan hadiah itu, agar mereka mengenali bau darah Wesa. Supaya begitu si keparat terbangun langsung dikasih kejutan.” Ki Ageng beranjak, hendak mengobati luka mba Neng yang menempati kamar diujung berbatasan dengan dapur lebih rendah.
“Menginap lah disini, bersandiwara seperti biasanya kala Ainur siuman!”
Suara ki Ageng mengecil, jaraknya sudah sedikit jauh dari ruang utama.
Citranti merintih menahan sakit pada kening mulai membengkak. ‘Aku tetap tak percaya, bisa jadi si bodoh itu yang merayu mas Wesa.’
Sangat hati-hati dia membatin, takut terdengar oleh sang dukun kejam, tidak mengenal kata ampun jika sudah murka.
Bu Mamik membantu putrinya berdiri, mereka berjalan menuju kamar di sayap kiri pada hunian luas, megah terbuat dari kayu pilihan.
Tukiran sudah pergi ke ruang bawah tanah bersebelahan dengan dapur yang dibangun pada tanah lebih rendah berbatasan langsung dengan tebing curam.
***
“Jadi benar, putri-putriku ada disini? Di ruang bawah tanah, apa sama seperti tempat dalam mimpi hasil dari ilustrasi Kinasih?’ Ainur sudah siuman, bergeming berbaring sambil menatap langit-langit kamar asing.
Baru kali ini Ainur dibawa kesini, sebelumnya hanya tahu jika tempat tinggal ki Ageng di dekat tebing jauh dari pemukiman penduduk.
‘Apa sebaiknya kucari tahu saja? Mengendap-endap selagi nanti mereka tertidur,’ ia mulai menyusun rencana.
Ainur tetap terjaga, sedikit aneh pada pendengarannya yang jauh lebih sensitif, bahkan bisa mendengar detak jarum jam, sedangkan dikamar ini tidak ada penunjuk waktu itu.
Dia pura-pura tertidur, memejamkan mata ketika mendengar suara kaki mendekat.
Aryo masuk ke dalam kamar, memandang muak pada Ainur yang berbaring terlentang.
Cahaya temaram lampu minyak, membantu penyamaran wanita pura-pura tertidur.
Ainur mendengar suara gesekan celana Aryo saat naik ke atas ranjang. Deru napasnya sedikit nyaring, dan bau anyir seketika menusuk hidung.
Daryo tidak berganti pakaian ataupun membuka bajunya. Dia pikir Inur terlelap seperti biasanya, mirip orang mati. Kaos yang dikenakan terdapat bercak darah Wesa dari luka jari dipotong.
“Jika kamu berani macam-macam, akan kubuat nasibmu seperti kedua monster kecil itu!” ancamnya lirih sembari menatap wajah tenang Ainur. Kemudian dia berbaring, mulai memejamkan mata.
Entah berapa lama, setelah kalimat ancaman Daryo, Ainur tidak lagi mendengar suara apapun, baik disini dan diluar.
Dia benar-benar penasaran, naluri keibuannya mengambil alih. Merasa kalau kedua putrinya memang dikurung disini. Teramat pelan, Ainur turun dari ranjang. Mengendap-endap keluar dari kamar.
“Tadi aku mendengar derap langkah kaki Tukiran setelah diperintahkan membawa jari Wesa – arahnya ke belakang sana.” Ainur melangkah ringan, melewati lorong rumah bercahayakan lentera gantung.
Ternyata hunian ki Ageng lebih besar dari rumah Tukiran maupun Sugianto dan Jayadi. Jarak kamar tamu ke bagian belakang membutuhkan puluhan langkah kaki.
“Tidurlah Diajeng, kakang mau memeriksa sesuatu!”
Sayup-sayup Ainur mendengar gumaman bernada lemah lembut kala dia mau melewati sebuah kamar.
“Siapa yang dipanggil Diajeng …?”
.
.
Bersambung.
menghanguskan mu si paling pintar.
Ki Ageng dgn mbak Neneng
apa hubungan badan dgn Tukiran waktu itu di ketahui Ki Ageng ??
untung nyawamu 1 wesa
klo bisa hidup pasti di siksa smpai monster itu puass
Ki Ageng menjadikan arkadewi
istri nya ??