Shen Yu, seorang pemuda yang memikul takdir terlarang sebagai pewaris Raja Iblis Purba (Tangan Asura, Mata Iblis, dan Jantung Ketiadaan), memimpin sekelompok jenius buangan untuk melawan takdir mereka: Ye Qing sang Dewa Pedang Bintang, Su Ling pemilik Mata Iblis Surgawi, Feng Jiu sang Ratu Phoenix, dan Long Tu sang Jenderal Setengah Naga.
Setelah menghancurkan ambisi Sekte Mayat dan menolak menjadi wadah pengorbanan bagi Istana Langit Utara, Shen Yu melakukan langkah gila: ia meledakkan Jantung Iblis untuk merobek dinding realitas, membawa timnya melarikan diri ke dalam celah dimensi yang mematikan.
Tiga tahun berlalu dalam kehampaan. Kini, mereka muncul kembali di Benua Roh Abadi, sebuah dunia tingkat tinggi yang jauh lebih buas dan kuno. Dengan kekuatan yang telah berevolusi mencapai ranah Nascent Soul, Shen Yu tidak lagi berniat lari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 25
Reruntuhan Bulan Kuno - Aula Pertama.
Setelah melewati gerbang batu meteor, Shen Yu dan Su Ling tidak menemukan lorong gelap yang lembap. Sebaliknya, mereka melangkah masuk ke dalam sebuah dimensi saku yang menakjubkan.
Langit-langit gua itu tinggi tak berujung, dipenuhi oleh batu-batu bercahaya yang menyerupai rasi bintang. Di bawah kaki mereka, terhampar sebuah danau yang airnya begitu tenang hingga tidak memiliki riak sedikit pun.
Air danau itu berwarna perak cair. Saking jernihnya, ia memantulkan langit-langit gua dengan sempurna, menciptakan ilusi bahwa mereka sedang berjalan di antara bintang-bintang.
Danau Cermin Samsara (Lake of Samsara Mirror).
"Indah sekali..." bisik Su Ling. Rasa sakit di matanya sedikit mereda saat melihat cahaya lembut danau ini.
Mereka berjalan meniti jembatan batu giok putih yang membelah danau.
"Jangan melihat terlalu lama ke dalam air," peringat Shen Yu, merasakan fluktuasi Qi mental yang aneh dari danau itu. "Air ini bisa menarik jiwamu."
Namun, peringatan itu terlambat.
Su Ling secara tidak sengaja menunduk. Dia melihat bayangannya sendiri di permukaan air.
Tapi... bayangan itu tidak bergerak bersamanya.
Di dalam air, Su Ling melihat pemandangan yang berbeda.
Dia melihat dirinya sendiri, melayang di udara dengan tubuh yang perlahan memudar menjadi butiran cahaya. Wajahnya pucat, matanya buta total dan berdarah, namun bibirnya menyunggingkan senyum damai yang memilukan.
Di depan bayangan Su Ling yang memudar itu, ada Shen Yu yang berlutut, menjerit tanpa suara, mencoba menangkap cahaya yang lolos dari jari-jarinya.
Deg.
Jantung Su Ling berhenti berdetak sesaat.
"Itu... aku?" batin Su Ling. "Aku mati? Demi menyelamatkannya?"
Anehnya, dia tidak merasa takut. Dia justru merasa... rela. Sebuah perasaan deja vu yang kuat menghantam dadanya, seolah dia sudah pernah melakukan ini sebelumnya, dan akan melakukannya lagi.
Sementara itu, Shen Yu juga terpaku melihat pantulannya sendiri.
Di dalam air, Shen Yu tidak melihat dirinya yang sekarang.
Dia melihat sosok pria dengan Rambut Putih Panjang yang terurai liar. Pria itu duduk di atas gunung tengkorak yang menjulang tinggi hingga menembus awan. Jubahnya basah oleh darah yang tak kunjung kering.
Pria berambut putih itu memiliki tatapan yang paling kosong yang pernah dilihat Shen Yu. Tatapan seseorang yang telah membunuh "Hati"nya sendiri. Di sekelilingnya, dunia hancur terbakar. Tidak ada teman. Tidak ada kekasih. Hanya ada kehampaan dan pembantaian abadi.
Shen Yu mencengkeram pagar jembatan hingga retak.
"Apakah itu aku?" pikir Shen Yu. "Itukah jadinya aku jika dia tidak ada?"
"Shen Yu?" suara Su Ling membuyarkan lamunan mereka.
Mereka berdua mengangkat kepala bersamaan, saling bertatapan. Ada kilatan ketakutan tersembunyi di mata masing-masing. Mereka baru saja melihat takdir terburuk mereka: Pengorbanan dan Kegilaan.
Shen Yu segera menarik Su Ling ke dalam pelukannya, memeluknya erat seolah takut gadis itu akan memudar seperti di dalam cermin.
"Apa yang kau lihat?" tanya Shen Yu serak.
"Aku melihat... kebahagiaan," bohong Su Ling, menyembunyikan visinya agar Shen Yu tidak khawatir. "Bagaimana denganmu?"
"Aku melihat kita menguasai dunia," bohong Shen Yu, menyembunyikan visi rambut putihnya agar Su Ling tidak takut padanya.
Mereka berdua berbohong demi melindungi satu sama lain, tidak menyadari bahwa kebohongan itulah yang perlahan menuntun mereka ke arah takdir tersebut.
Mereka sampai di ujung jembatan. Di sana, terdapat sebuah altar kuno yang ditutupi tanaman rambat perak.
Di tengah altar, melayang sebuah cermin perunggu kuno yang retak sebagian.
Cermin Bulan Kuno (Ancient Moon Mirror). Artefak yang bisa menstabilkan jiwa dan meredam efek samping Mata Iblis Surgawi.
Namun, sebelum Shen Yu bisa melangkah naik ke altar, kabut dingin berkumpul.
Suhu ruangan turun drastis.
Dari dalam kabut, sesosok tubuh transparan muncul. Itu adalah Roh Wanita Tua dengan pakaian pelayan istana kuno. Wajahnya penuh kerutan kesedihan.
Roh itu melayang mendekat. Saat dia melihat Su Ling, tubuh rohnya bergetar hebat. Dia langsung menjatuhkan diri berlutut, bersujud sampai kepalanya menyentuh lantai dingin.
"Yang Mulia... Yang Mulia Permaisuri..." isak roh itu. Suaranya seperti angin yang mendesah di kuburan.
"Anda kembali... Akhirnya Anda kembali..."
Su Ling bingung. "Nenek, kau bicara padaku?"
Roh itu mendongak, menatap mata ungu-hitam Su Ling dengan penuh kerinduan.
"Mata itu... Mata yang dikutuk oleh Langit. Tidak salah lagi. Anda adalah reinkarnasi Nona Yue Yin."
Lalu roh itu menoleh pada Shen Yu. Tatapannya berubah menjadi ketakutan dan hormat.
"Dan Anda... Kaisar Malam. Anda juga kembali."
Shen Yu menatap roh itu datar. "Minggir. Aku datang untuk mengambil Cermin itu."
Mendengar kata "Cermin", wajah roh pelayan itu berubah panik. Dia merentangkan tangannya, menghalangi jalan Shen Yu.
"TIDAK! JANGAN!" teriak roh itu.
"Tuan Kaisar, tolong dengarkan pelayan tua ini! Jangan ambil Cermin Bulan itu lagi!"
"Cermin itu adalah bencana! Ribuan tahun lalu, Anda mengambilnya untuk menyembuhkan mata Nona Yue Yin. Tapi cermin itu telah dipasangi Kutukan Pemisah oleh Pengadilan Langit!"
"Setiap kali cermin itu digunakan, takdir kalian akan terpotong! Itulah yang menyebabkan kalian berpisah dan mati tragis di kehidupan lalu!"
"Jika Anda mengambilnya sekarang... sejarah akan terulang! Nona akan mati lagi! Tolong... biarkan Nona hidup, meskipun matanya sakit, asalkan kalian bersama!"
Peringatan itu bergema keras di aula sunyi itu.
Su Ling tertegun. Dia memegang lengan Shen Yu, ragu.
"Shen Yu... dia bilang cermin itu dikutuk. Mungkin... mungkin kita tidak perlu mengambilnya. Aku bisa menahan rasa sakit ini."
Shen Yu diam. Dia menatap cermin retak di atas altar itu. Lalu dia menatap Su Ling yang wajahnya pucat menahan sakit setiap kali matanya berdenyut.
Shen Yu memejamkan mata, mengingat bayangan dirinya yang berambut putih di danau tadi.
Lalu dia membuka matanya. Tatapannya tajam dan keras kepala.
"Nenek Tua," kata Shen Yu pada roh itu.
"Kau bilang Langit mengutuk cermin ini agar kami berpisah?"
"Benar, Tuan! Langit cemburu pada kekuatan gabungan kalian!"
Shen Yu tertawa dingin. Dia melangkah maju, menembus tubuh roh itu yang tak berdaya menahannya.
"Kalau begitu, biarkan Langit melihat."
"Aku tidak peduli tentang masa lalu. Aku tidak peduli tentang kutukan."
"Yang aku pedulikan adalah wanita di sampingku sedang kesakitan sekarang. Dan jika cermin ini bisa mengurangi rasa sakitnya satu detik saja..."
Shen Yu naik ke altar. Dia mengulurkan tangannya ke arah Cermin Bulan.
"...Maka aku akan mengambilnya. Jika Langit mengutuk kami, aku akan menghancurkan Langit."
"JANGAN!!" jerit roh pelayan itu.
Tangan Shen Yu menggenggam gagang cermin itu.
ZIIIIIING!
Cahaya perak meledak.
Energi dingin yang luar biasa merayap ke tangan Shen Yu. Di saat yang sama, sebuah tanda Segel Karma berbentuk rantai tak kasat mata terbentuk di udara, mengikat pergelangan tangan Shen Yu dan Su Ling sekejap, lalu menghilang masuk ke dalam kulit mereka.
Roda takdir telah berputar. Pemicu tragedi telah ditarik.
Shen Yu mengambil cermin itu, turun dari altar, dan memberikannya pada Su Ling.
"Ambil ini," kata Shen Yu lembut. "Apakah sakitnya berkurang?"
Su Ling memegang cermin itu. Energinya yang sejuk langsung mengalir ke matanya, meredakan rasa sakit yang membakar selama ini. Dia merasa lega luar biasa.
"Berkurang... Terima kasih, Shen Yu," Su Ling tersenyum, tapi di sudut hatinya, dia merasakan dingin yang aneh.
Di belakang mereka, Roh Pelayan itu menangis tersedu-sedu, perlahan memudar.
"Sudah terlambat... Sudah terlambat... Siklus dimulai lagi..."
"Air mata di bawah bulan... Darah di lembah penyegel..."
Roh itu lenyap, meninggalkan gema ramalan yang mengerikan.
Shen Yu merangkul bahu Su Ling, menuntunnya keluar dari reruntuhan. Dia tidak menoleh ke belakang. Dia yakin kekuatannya cukup untuk melawan ramalan apa pun.
10 bab sehari kek pelit bener