Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: PERNIKAHAN DI ATAS RERUNTUHAN.
"Kau gila, Paman!" teriak Valerie, suaranya melengking penuh amarah di ruang tamu yang luas itu. "Kau juga ingin menjualku demi reputasimu sendiri? Kau tidak berbeda dengan mereka!"
Wajah Arini, ibunya, memerah padam mendengar teriakan itu. Ia merasa otoritasnya sebagai orang tua diinjak-injak di depan sang Kakek. Dengan mata yang berkilat penuh kebencian, Arini bangkit dari duduknya. Langkahnya cepat dan tangannya sudah terangkat tinggi di udara, siap melayangkan tamparan keras untuk membungkam mulut putri bungsunya yang ia anggap tak tahu diri itu.
"Anak kurang ajar! Berani-beraninya kau..."
Namun, sebelum telapak tangan Arini menyentuh kulit pipi Valerie, sebuah tangan yang lebih besar dan kokoh menangkap pergelangan tangan wanita itu di udara. Revan berdiri di sana, menjadi tameng di antara Valerie dan amukan ibunya.
"Cukup, Kak," ucap Revan rendah. Suaranya tidak keras, namun mengandung kekuatan yang membuat Arini tertegun sejenak. "Memukulnya tidak akan menyelesaikan masalah yang sudah tersebar di seluruh negeri ini."
"Dia harus diberi pelajaran, Revan! Dia menghancurkan martabat kita!" bentak Arini, berusaha melepaskan tangannya.
Revan perlahan menurunkan tangan Arini, lalu ia berbalik menghadap Valerie yang napasnya masih tersengal karena emosi. Valerie menatapnya dengan pandangan penuh pengkhianatan. Bagi Valerie, dukungan Revan terhadap ide pernikahan ini adalah pengkhianatan terbesar.
Revan melangkah maju, memperpendek jarak hingga ia berdiri tepat di hadapan gadis itu. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Valerie, sebuah gerakan yang tampak seperti sedang menenangkan.
Revan membungkuk sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Valerie. Sementara orang-orang di ruangan itu hanya melihat mereka sedang berbicara serius, Revan membisikkan kata-kata yang hanya bisa didengar oleh Valerie seorang.
"Dengarkan aku baik-baik, Erie," bisik Revan, suaranya setenang air namun tajam. "Jika kau menikah denganku, aku jamin kebebasanmu sepenuhnya dari rumah ini. Aku akan mendukung hobimu, melukis atau apa pun itu, tanpa ada penghakiman. Kau tidak akan pernah lagi disebut produk gagal di bawah atapku."
Valerie mematung. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan ibunya. Kebebasan. Dukungan. Tanpa penghakiman. Tiga hal yang selama delapan belas tahun hidupnya tidak pernah ia dapatkan di rumah ini.
Ia menatap mata Revan yang berada hanya beberapa inci dari matanya. Pria itu tampak tulus, namun Valerie juga bisa melihat secercah ambisi yang tak terbaca di balik lensa kacamatanya. Apakah ini sebuah penyelamatan, atau ada hal lain yang Revan sembunyikan?
Valerie terdiam, mencerna setiap suku kata yang dibisikkan Revan. Pikirannya berperang antara rasa benci karena dipaksa menikah dan rasa haus akan kehidupan di mana ia tidak perlu lagi dibanding-bandingkan dengan Kak Adrian.
Revan kembali menegakkan tubuhnya, menatap Kakek dengan wajah yang kini kembali kaku dan formal. "Beri kami waktu sebentar untuk bicara berdua, Kek. Aku akan memastikan Valerie mengerti bahwa ini adalah jalan terbaik bagi kita semua."
Kakek mengangguk pelan, memberikan izin dengan satu ketukan tongkatnya.
Revan kemudian menarik tangan Valerie, tidak sekeras semalam, namun cukup kuat untuk menunjukkan bahwa ia tidak menerima penolakan dan membawanya menuju taman belakang yang sunyi.
Kini, Valerie berdiri di depan pria yang baru saja menawarinya sebuah "transaksi" kehidupan. Antara menjadi istri dari paman angkatnya sendiri, atau kembali menjadi sampah di mata keluarganya.
"Kenapa kau melakukan ini, Paman?" tanya Valerie lirih saat mereka sudah menjauh dari pendengaran keluarga. "Kenapa kau menawarkan kebebasan padaku sebagai ganti pernikahan?"
Revan menatap hamparan bunga mawar yang basah oleh sisa hujan. "Karena aku tahu rasanya menjadi orang asing di rumah ini, Erie. Dan aku tidak akan membiarkanmu hancur hanya karena ego mereka."
Hari pernikahan.
Suasana di dalam ruang perpustakaan rumah utama keluarga Adiwijaya terasa begitu hambar dan menyesakkan. Tidak ada dekorasi bunga-bunga cantik, tidak ada alunan musik romantis, apalagi tawa bahagia dari para tamu. Yang ada hanyalah aroma buku-buku tua yang bercampur dengan ketegangan yang nyaris bisa disentuh.
Seorang penghulu duduk di hadapan Revan dan Ayah Valerie, sementara dua orang saksi dari kerabat jauh Kakek duduk di sisi kanan dan kiri. Valerie berdiri di sudut ruangan dengan balutan kebaya putih sederhana yang entah milik siapa, mungkin saja milik salah satu sepupunya yang tertinggal. Wajahnya pucat pasi, matanya sembab, dan tangannya dingin seperti es.
"Bagaimana, saksi? Sah?"
"Sah!"
Kata itu menggema, memantul di rak-rak buku kayu jati yang tinggi. Dalam satu tarikan napas pendek, status Valerie telah berubah selamanya. Ia bukan lagi keponakan angkat yang terbuang. Ia kini adalah istri sah dari Revanza Malik.
Revan berbalik menghadap Valerie. Pria itu tampak begitu tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menukar masa lajangnya dengan sebuah skandal. Ia meraih tangan Valerie, menyelipkan sebuah cincin emas polos yang tampak baru saja dibeli secara terburu-buru ke jari manis gadis itu.
Valerie gemetar. Saat Revan mencium keningnya sebagai tanda sahnya pernikahan, Valerie memejamkan mata erat-erat. Ia merasakan bibir Revan yang hangat, namun hatinya justru merasa semakin beku. Bisikan Revan tentang "kebebasan" tadi pagi terasa seperti janji manis yang kini mulai ia ragukan.
Di sudut lain ruangan, Arini dan suaminya, Hendrawan, berdiri sambil menyesap teh mereka dengan ekspresi yang sangat kontras dengan suasana batin Valerie. Ada kelegaan yang terpancar jelas di wajah mereka.
"Akhirnya, selesai juga satu beban," bisik Arini pada suaminya, memastikan suaranya tidak terdengar oleh sang Kakek. "Setidaknya sekarang dia ada yang mengurus. Aku tidak perlu lagi pusing memikirkan mau jadi apa anak itu nanti."
He Hendrawan mengangguk pelan, menyesap tehnya dengan tenang. "Revan pria yang mapan. Dia punya harga diri dan disiplin tinggi. Dia pasti bisa 'menjinakkan' Erie. Baguslah, kita tidak perlu lagi menanggung malu kalau dia berbuat ulah lagi di luar sana. Sekarang, itu urusan Revan."
Bagi mereka, pernikahan ini bukan tentang kebahagiaan Valerie, melainkan tentang transfer tanggung jawab. Valerie adalah barang cacat yang akhirnya berhasil mereka "jual" kepada pria yang cukup kompeten untuk menyembunyikan kecacatan itu. Mereka merasa telah memenangkan sebuah kesepakatan besar, nama baik terjaga, dan si anak pembangkang sudah keluar dari daftar beban mereka.
Setelah prosesi singkat itu berakhir, Kakek mendekati Revan dan menepuk bahunya dengan berat. "Bawa dia, Revan. Didik dia menjadi wanita yang layak memakai nama belakang keluarga kita. Aku mempercayakan sisa hidupnya padamu."
Revan menunduk hormat. "Akan saya lakukan, Kek."
Revan kemudian berjalan ke arah Valerie yang masih berdiri terpaku di depan meja penghulu. Ia mengambil tas jinjing kecil berisi pakaian cadangan Valerie dan menggenggam tangan istrinya itu dengan posesif.
"Ayo, Erie. Kita pulang," ucap Revan.
Kata 'pulang' itu terdengar sangat asing bagi Valerie. Apartemen mewah Revan bukanlah rumahnya, namun rumah besar ini pun kini sudah tertutup baginya. Ia menoleh ke arah orang tuanya untuk terakhir kali, berharap ada satu tatapan sedih atau pelukan perpisahan. Namun, Ibunya hanya sibuk merapikan tatanan rambutnya sambil berbicara dengan kolega lewat telepon, seolah kehadiran Valerie di sana sudah benar-benar dihapus.
Dengan langkah gontai, Valerie mengikuti Revan keluar dari rumah itu. Saat mereka masuk ke dalam mobil, suasana kembali sunyi. Valerie menatap cincin di jarinya, lalu menatap Revan yang mulai menjalankan mobilnya.
"Kenapa kau tidak terlihat menyesal, Paman?" tanya Valerie tiba-tiba, suaranya pecah di tengah keheningan. "Kau kehilangan segalanya karena skandal ini. Kau kehilangan kebebasanmu untuk menikahi wanita yang kau cintai suatu saat nanti. Dan kau memilih menikahiku... hanya karena hutang budi pada Kakek?"
Revan tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke depan, fokus pada jalanan yang mulai gelap. "Tadi aku sudah mengatakannya, kan? Panggil aku Revan. Aku bukan pamanmu lagi."
"Kau belum menjawab pertanyaanku!" desak Valerie, air mata kembali menggenang.
Revan menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi. Ia memutar tubuhnya, menatap Valerie dengan pandangan yang membuat nyali gadis itu menciut.
"Kau ingin tahu kenapa aku tidak menyesal, Erie?" Revan mendekatkan wajahnya, membuat Valerie bisa melihat bayangan dirinya sendiri di lensa kacamata pria itu. "Karena mulai detik ini, tidak akan ada satu orang pun yang bisa membuangmu atau menghinamu lagi. Jika mereka melakukannya, mereka harus berhadapan denganku terlebih dahulu. Dan bagiku, itu bukan sebuah kerugian."
Valerie terdiam, mencoba mencari kebohongan di mata Revan, namun yang ia temukan hanyalah kegelapan yang dalam dan sesuatu yang terasa sangat mirip dengan... OBSESI.
wahh mantap Thor.. updatenya dobel-dobel 👍