Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianatan di Balik Kaca
Siang itu, Jakarta diselimuti hawa panas yang membakar kulit, namun di dalam sebuah kafe mewah di pusat kawasan bisnis Sudirman, udara terasa sejuk dan beraroma kopi arabika kelas atas. Dinding kaca besar kafe itu memperlihatkan hiruk-pikuk kota yang sibuk, namun di dalam sini, suasana begitu tenang, elegan, dan penuh dengan aura kemewahan.
Andini duduk di salah satu kursi beludru berwarna biru safir. Ia mengenakan gaun sutra berwarna pastel yang baru saja ia beli minggu lalu menggunakan uang "darurat" yang ia paksa minta dari Hilman. Wajahnya dipulas make-up sempurna, menyembunyikan kenyataan bahwa ia baru saja keluar dari sebuah rumah petak yang atapnya bocor dan dindingnya berjamur. Di atas meja, tas bermerek pemberian (yang ia kira) dari Reno tergeletak dengan angkuh.
Tak lama kemudian, seorang pria dengan setelan jas slim-fit berwarna abu-abu gelap masuk. Reno. Ia melangkah dengan penuh percaya diri, menyugar rambutnya yang tertata rapi, dan memberikan senyum yang selalu berhasil membuat lutut Andini lemas.
"Sudah lama menunggu, cantik?" tanya Reno sambil mendaratkan kecupan ringan di punggung tangan Andini.
Andini tersipu, sebuah ekspresi yang tak pernah lagi ia berikan pada Hilman dalam lima tahun terakhir. "Tidak juga, Ren. Baru saja sampai. Aku senang sekali kamu mengajakku ke sini. Tempatnya sangat... aku banget."
Reno duduk di hadapan Andini, memesan dua cangkir espresso dan sepiring macarons yang harganya setara dengan jatah makan keluarga Hilman selama seminggu. "Tentu saja. Kamu tidak pantas berada di tempat kumuh, Andini. Setiap kali aku membayangkan mu berada di rumah sempit itu bersama pria tua yang membosankan itu, hatiku rasanya sakit."
Andini menghela napas, memasang raut wajah sedih yang dibuat-buat. "Kamu benar, Ren. Mas Hilman semakin hari semakin parah. Kemarin dia bahkan cuma makan nasi garam di dapur. Bayangkan, Ren! Dia seolah ingin membuatku merasa bersalah karena aku makan enak. Dia sengaja akting menderita supaya aku tidak pergi menemui mu."
Reno tertawa kecil, suara tawa yang mengandung penghinaan. "Itu trik lama, Din. Pria yang tidak punya kemampuan finansial biasanya akan menggunakan 'rasa kasihan' sebagai senjata terakhir untuk mengikat wanitanya. Dia ingin kamu terjebak dalam kemiskinan bersamanya selamanya. Tapi kamu terlalu berharga untuk itu."
Andini mengangguk setuju. Ia menyesap kopinya, menikmati rasa pahit yang elegan, sangat berbeda dengan kopi sachet murah yang selalu diseduh kan Hilman untuknya setiap pagi. "Lalu, bagaimana dengan rencana kita, Ren? Kamu bilang mau membawaku pergi dari semua ini?"
Reno mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap mata Andini dengan intensitas yang terencana. "Itulah alasan aku mengajakmu ke sini. Proyek apartemenku di Jakarta Selatan sudah masuk tahap final. Aku hanya butuh sedikit suntikan dana tambahan untuk mengurus administrasi terakhir. Setelah itu, komisi sebesar lima miliar akan cair, dan kita bisa langsung pindah ke Bali. Aku sudah melihat-lihat sebuah villa di Uluwatu untuk kita."
Mata Andini berbinar. "Lima miliar?"
"Ya. Tapi, aku sedang ada kendala sedikit. Rekening bisnisku sedang diaudit, jadi aku tidak bisa menarik uang tunai dalam jumlah besar untuk biaya administrasi ini. Aku butuh sekitar lima puluh juta saja. Hanya untuk dua minggu, Din. Setelah itu, akan kuganti sepuluh kali lipat," Reno memberikan umpan dengan sangat halus.
Andini terdiam. Lima puluh juta adalah angka yang sangat besar baginya. Ia tahu Hilman tidak mungkin punya uang sebanyak itu—atau begitulah pikirannya. "Tapi Ren, aku tidak punya uang sebanyak itu. Kamu tahu sendiri Mas Hilman cuma buruh pabrik."
Reno tersenyum tipis, matanya berkilat licik. "Aku tahu dia tidak punya. Tapi, bukankah dia bilang dia punya 'harta karun' atau tabungan rahasia? Aku sering melihatmu mengunggah status tentang dia yang selalu lembur. Tidak mungkin dia tidak punya simpanan. Atau mungkin... kamu bisa menjaminkan perhiasanmu?"
Andini teringat akan buku tabungan yang sering dilihatnya dibawa-bawa oleh Hilman. Ia juga teringat akan celengan Syifa yang ia pecahkan minggu lalu untuk tambahan beli tas. Rasa serakah mulai merayap di hatinya, menutupi sisa-sisa nurani yang mungkin masih ada.
"Aku akan coba cari cara, Ren. Aku akan pastikan uang itu ada," ucap Andini mantap.
Di tengah percakapan mereka, ponsel Andini bergetar. Ada panggilan masuk dari "Syifa". Andini mendengus dan langsung menolak panggilan itu tanpa ragu.
"Kenapa tidak diangkat?" tanya Reno.
"Hanya anakku. Paling-paling dia mau mengadu kalau ayahnya batuk lagi atau minta dibelikan buku sekolah. Mengganggu saja," jawab Andini dingin.
Ia tidak tahu, bahwa di saat ia sedang menyesap kopi mahal itu, Syifa sedang menangis histeris di samping Hilman yang pingsan di lantai dapur setelah memaksakan diri mencuci semua pakaian kotor Andini. Syifa mencoba menelepon ibunya berkali-kali, namun setiap panggilannya selalu berakhir di kotak suara atau ditolak mentah-mentah.
"Jadi, kapan kita bisa berangkat?" tanya Andini lagi, kembali ke dunianya yang penuh khayalan.
"Segera setelah uang administrasi itu beres, Sayang. Oh ya, aku punya sesuatu untukmu," Reno mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Saat dibuka, sebuah cincin dengan batu berkilau (yang sebenarnya hanyalah zircon murah) terpampang di sana. "Ini sebagai tanda pengikat. Aku ingin kamu tahu bahwa aku serius dengan masa depan kita."
Andini menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca karena haru. Ia merasa inilah puncak kebahagiaannya. Ia merasa telah menemukan pangeran yang akan menyelamatkannya dari "monster" bernama kemiskinan yang selama ini ia kaitkan dengan Hilman.
"Terima kasih, Reno... aku tidak tahu harus bilang apa," Andini segera memakai cincin itu, memamerkannya di depan lampu kafe yang kristalnya berpendar mewah.
Mereka menghabiskan waktu dua jam di kafe itu, merencanakan masa depan di atas penderitaan pria yang saat ini sedang berjuang untuk hidupnya sendiri. Andini merasa sangat bangga berjalan di samping Reno saat mereka keluar dari kafe. Ia melihat orang-orang menatap mereka dengan kagum, dan ia merasa harga dirinya naik berlipat-lipat.
Saat Reno mengantarnya pulang ke ujung gang—Reno tidak pernah mau masuk ke gang tempat tinggal Andini dengan alasan "mobilnya terlalu rendah"—Andini turun dengan senyum kemenangan. Ia bahkan tidak peduli ketika ia melihat beberapa tetangga menatapnya dengan pandangan sinis.
"Ingat ya, lima puluh juta itu, Sayang. Semakin cepat, semakin baik," bisik Reno sebelum melesat pergi dengan mobil sewaannya.
Andini berjalan masuk ke rumahnya dengan langkah angkuh. Ia sudah menyiapkan skenario dalam kepalanya: ia akan menggeledah lemari Hilman malam ini. Ia yakin, "pria tua" itu menyembunyikan sesuatu.
Begitu ia membuka pintu rumah, bau obat-obatan dan aroma anyir menyambutnya. Ia melihat Syifa sedang duduk di lantai, tertidur sambil memeluk kaki Hilman yang terbaring di sofa dengan wajah pucat dan napas yang satu-satu.
"Astaga! Masih saja pakai acara pingsan-pingsanan!" bentak Andini, membangunkan Syifa yang langsung tersentak kaget.
"Mama! Tadi Syifa telepon Mama berkali-kali... Ayah pingsan lama sekali, Syifa takut..." isak Syifa.
"Sudahlah! Mama capek! Mama habis urusan penting buat masa depan kita! Kamu itu kerjanya cuma nangis saja!" Andini melangkah melewati mereka begitu saja menuju kamar, tanpa sedikit pun menyentuh kening suaminya atau bertanya apakah ia sudah makan.
Di dalam kamar, Andini menatap cincin di jarinya. Ia tersenyum sinis. Satu miliar, pikirnya mengingat kata-kata Hilman tempo hari soal harta karun. Kalau benar dia punya uang sebanyak itu, lima puluh juta untuk Reno bukan apa-apa. Dan sisanya... sisanya akan kubawa lari untuk hidup mewah di Bali.
Andini mulai mengobrak-abrik laci meja kerja Hilman, mencari kunci atau buku tabungan apa pun. Ia tidak sadar bahwa di ruang tamu, Hilman perlahan membuka matanya. Ia mendengar suara istrinya yang sibuk mencari sesuatu di kamar. Hilman tersenyum getir, air mata mengalir dari sudut matanya yang cekung.
Ia tahu Andini mencari apa. Dan ia tahu Andini baru saja bertemu siapa. Aroma parfum Reno yang asing namun sering ia cium di baju Andini kini kembali memenuhi ruangan.
"Dua juta lagi, Andini... satu juta lagi..." bisik Hilman lirih, suaranya nyaris hilang ditelan sunyi nya malam. "Besok... besok semuanya akan jadi milikmu."
Andini di dalam kamar bersorak pelan saat ia menemukan sebuah kunci kecil yang disembunyikan di bawah lapisan alas laci. Ia tidak tahu bahwa kunci itu adalah kunci menuju kebenaran yang akan menghancurkan hatinya berkeping-keping di kemudian hari. Ia hanya memikirkan Reno, kafe mahal, dan janji manis yang telah menjerat lehernya tanpa ia sadari.