Di jagat hiburan, nama Leonard Abelano bukan sekadar aktor, dia adalah jaminan rating. Setiap drama yang dibintanginya pasti menyentuh angka dua digit. Leo, begitu publik memanggilnya, punya segalanya: struktur wajah yang dipahat sempurna, status pewaris takhta bisnis Abelano Group, dan sebuah reputasi yang membuatnya dijuluki "Duta Kokop Nasional."
Bagi penonton, cara Leo mencium lawan mainnya adalah seni. Namun bagi Claire Odette Aimo, itu adalah ancaman kesehatan masyarakat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penguasa New York International School
Tujuh belas tahun telah berlalu, dan Sean Manuel Abelano Aimo tumbuh menjadi sosok yang jauh lebih mendominasi daripada ayahnya dulu.
Di rumah, ia tetap memanggil Leo dan Claire dengan sebutan Mommy dan Daddy, meskipun suaranya kini berat dan penuh wibawa.
Namun, di luar rumah, Sean Manuel adalah pangeran kegelapan Manhattan.
Sebagai pewaris tunggal sekolah tersebut, Sean Manuel tidak hanya sekolah, ia berkuasa. Sean memiliki watak yang sangat temperamental dan sulit disentuh. Ia berjalan di koridor dengan aura yang membuat siswa lain menepi, memberikan jalan layaknya ia sedang membelah lautan.
Ia hanya bergerak bersama kelompoknya yang setara secara kasta,
Aber, Joy, dan Nill—para putra konglomerat yang menjadikan Sean sebagai pusat gravitasi mereka.
Di sekolah, Sean Manuel adalah obsesi bagi para siswi kalangan atas. Banyak anak perempuan konglomerat yang mencoba merayunya, bahkan ada yang sengaja menjatuhkan diri atau mencoba menyentuhnya dengan provokatif.
Namun, Sean Manuel tidak punya rasa kasihan. Siapa pun yang mencoba menyentuhnya tanpa izin akan berakhir tersungkur di lantai setelah ditepis dengan kasar.
"Jangan pernah berfikir tangan kotormu setara dengan kulitku," desis Sean dengan tatapan mata elang yang mematikan.
Banyak Rumor yang mengatakan dia Setiap malam Menghabiskan malam panjang dengan Model papan atas Milik agensi Ayahnya.
Mengenai rumor ia tidur dengan model papan atas? Itu adalah strategi cerdas Sean. Ia menyuruh Nill untuk menyebarkan berita itu agar tidak ada wanita yang merasa punya kesempatan untuk menjalin hubungan serius dengannya.
Baginya, wanita hanya gangguan—kecuali Mommy-nya. Faktanya, Sean Manuel belum pernah membiarkan satu wanita pun masuk ke dalam ruang pribadinya.
Di tengah semua orang yang memuja Sean, ada satu kursi di kelas yang selalu memancarkan energi perlawanan.
Dia Eleanor Lambert Riccardo.
Eleanor berasal dari keluarga Riccardo yang terpandang, namun ia memiliki prinsip yang sangat kuat. Ia tidak membenci Sean karena persaingan bisnis keluarga, melainkan karena ia muak melihat sikap Sean yang semena-mena hanya karena kakeknya pemilik sekolah.
Suatu pagi di kelas, Sean masuk dengan menendang pintu—sebuah kebiasaannya saat sedang kesal. Suara dentuman itu membuat semua orang terlonjak, kecuali Eleanor yang tetap tenang membaca bukunya.
"Bisakah kau masuk seperti manusia normal, Sean Manuel? Atau kau lupa cara menggunakan tangan karena terlalu sering menggunakan kaki untuk menindas orang?" suara Eleanor terdengar jernih dan tenang, namun menusuk.
Satu kelas mendadak hening. Aber dan Nill saling pandang, mereka tahu Sean paling benci dikritik.
Sean menghentikan langkahnya. Ia berjalan perlahan menuju meja Eleanor, meletakkan kedua tangannya di atas meja gadis itu, lalu menunduk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
"Kau bicara padaku, Riccardo?" tanya Sean dengan suara rendah yang berbahaya.
Eleanor menutup bukunya, menatap langsung ke mata biru Sean yang dingin tanpa rasa takut sedikit pun.
"Aku bicara pada anak pemilik sekolah yang temperamennya perlu diperbaiki. Kau tidak punya kuasa atas harga diriku, Sean."
Sean Manuel menyeringai tipis, sebuah seringai yang jarang terlihat. Ada percikan aneh yang ia rasakan saat melihat keberanian di mata Eleanor.
Sesuatu yang tidak pernah ia temukan pada model-model papan atas atau gadis-gadis haus perhatian lainnya.
"Menarik," bisik Sean. "Mari kita lihat, seberapa lama kau bisa mempertahankan lidah tajammu itu sebelum aku membuatnya diam."
Sean Manuel menatap Eleanor dengan tatapan yang bisa membuat nyali pria dewasa sekalipun menciut.
Namun, Eleanor Lambert Riccardo bukan siswi kebanyakan yang akan pingsan hanya karena ditatap oleh sang pewaris Aimo-Abelano.
Sean menarik kursi di depan meja Eleanor dengan kasar, lalu duduk terbalik menghadap gadis itu.
"Lo baru aja cari masalah besar, Eleanor," desis Sean, suaranya berat dan penuh penekanan.
"Lo pikir karena keluarga Riccardo punya nama, gue bakal lepasin Lo gitu aja setelah mulut Lo berisik di depan muka gue?"
Eleanor tidak bergeming.
Ia merapikan letak kacamatanya atau mungkin hanya sekadar menunjukkan bahwa dia tidak terintimidasi. "Gue nggak peduli Lo punya sekolah ini atau bokap Lo aktor paling terkenal di dunia. Sikap Lo itu sampah, Sean. Lo masuk kelas kayak preman, dan Lo pikir itu keren?"
Aber, Joy, dan Nill yang memperhatikan dari belakang langsung menahan napas. Belum pernah ada yang berani menyebut Sean Manuel sampah tepat di depan wajahnya.
"Lo berani banget ya," Sean menyeringai, matanya menyisir wajah Eleanor dengan teliti.
"Gue bisa bikin Lo didepak dari sini dalam satu jentikan jari. Lo tahu itu, kan?"
"Lakuin aja," tantang Eleanor, ia memajukan tubuhnya hingga jarak mereka makin terkikis.
"Pecat gue dari sekolah kakek Lo ini. Dengan begitu, semua orang bakal tahu kalau Sean Manuel yang tak tersentuh ternyata cuma pengecut yang nggak tahan dikritik cewek."
Sean terdiam. Rahangnya mengeras. Ia terbiasa dengan wanita yang memujanya, wanita yang haus akan sentuhannya—yang biasanya ia tepis sampai mereka tersungkur di lantai.
Tapi Eleanor? Cewek ini justru memberikan perlawanan yang membuat adrenalin Sean terpacu.
"Rumor itu bener ya?" Eleanor tiba-tiba mengganti topik, suaranya penuh nada merendahkan. "Tentang Lo yang tiap malam tidur sama model papan atas? Gue rasa itu cuma cara Lo buat nutupin fakta kalau sebenernya nggak ada satu pun cewek yang betah sama temperamen Lo yang nggak stabil itu. Lo kesepian, Sean. Makanya Lo cari perhatian dengan cara jadi penindas."
Sean tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat dingin. "Lo nggak tahu apa-apa soal gue, Eleanor. Dan soal model-model itu... kalau gue bisa tidur sama mereka, menurut Lo apa yang bakal gue lakuin ke cewek kayak Lo kalau gue lagi bener-bener marah?"
Sean berdiri, lalu membungkuk, membisikkan sesuatu tepat di telinga Eleanor yang membuat gadis itu terpaku sejenak.
"Jangan terlalu berisik, Riccardo. Karena semakin Lo benci sama gue, semakin besar keinginan gue buat bikin Lo tunduk di bawah kaki gue. Dan saat itu terjadi, gue pastiin Lo nggak bakal bisa lepas lagi."
Sean berjalan pergi begitu saja, menabrak bahu siswa lain yang menghalangi jalannya. Aber mengikuti dari belakang sambil berbisik, "Gila, Sean. Tadi itu panas banget."
"Diem Lo, Ber," potong Sean ketus.
"Cewek itu... dia harus dapet pelajaran."
Di kursinya, Eleanor mengepalkan tangannya di bawah meja. Dia benci Sean Manuel, benci sikap semena-menanya. Tapi di sisi lain, dia tidak bisa membohongi detak jantungnya yang berpacu kencang setelah konfrontasi tadi.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰🥰🥰
keren....