Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diantara api dan harapan
Anindya meraih ponsel Yoga yang terus bergetar. Setelah mendapatkan anggukan dari suaminya, ia menggeser tombol hijau.
"Halo, Ma?" suara Anindya lembut namun tetap tenang.
"Nayla... Anindya, Sayang! Syukurlah kamu angkat," suara Ibu Kanaya terdengar parau, jelas sekali ia baru saja menangis. "Mama sangat khawatir, Nak. Mama sudah mendengar semuanya. Mama sudah menasihati Dinda berkali-kali, Mama memintanya menerima kenyataan bahwa kamu adalah kakaknya, satu darah dengannya... tapi dia buta karena dendam dan iri hati. Maafkan Mama tidak bisa mendidiknya dengan baik sampai dia tega berbuat sejauh itu padamu."
Anindya menarik napas panjang, matanya menatap Yoga yang sedang memperhatikan dengan penuh perlindungan. "Ma, Anin paham. Anin sudah memaafkan, tapi hukum tetap harus berjalan. Mama tidak perlu khawatir, Anin tidak takut dengan ancaman Dinda lagi. Selama ada Mas Yoga di samping Anin, Anin merasa aman. Mama jaga kesehatan ya."
Setelah panggilan berakhir, Anindya merasa bebannya sedikit terangkat. Ia bangkit dari sofa dan mulai merapikan pakaiannya. "Mas, aku pulang ke rumah dulu ya. Kamu masih banyak urusan, kan?"
Yoga mengangguk, lalu menggandeng tangan istrinya keluar dari ruang kerja. Mereka berjalan menyusuri koridor rumah sakit hingga sampai di lobi utama. Di sana, mobil keluarga sudah menunggu dengan Pak Udin yang sigap membukakan pintu.
"Hati-hati di jalan, Sayang. Pak Udin, jaga istri saya baik-baik," pesan Yoga tegas.
"Siap, Dokter!" jawab Pak Udin mantap. Anindya melambaikan tangan saat mobil mulai melaju meninggalkan area rumah sakit.
Begitu mobil Anindya hilang dari pandangan, raut wajah Yoga berubah seketika.
Kelembutan di matanya berganti dengan kilatan tajam yang mematikan. Ia menoleh ke arah Cakra yang sudah berdiri di belakangnya.
"Cakra, siapkan semua dokumen tambahan. Kita ke kantor polisi sekarang," perintah Yoga dingin.
Sesampainya di kantor polisi, suasana terasa sangat tegang. Di salah satu ruang tunggu, Yoga melihat Dinda sedang berbicara serius dengan seorang pria paruh baya bersetelan mahal—pengacara kelas atas yang disewanya. Dinda tampak emosional, menunjuk-nunjuk beberapa dokumen yang sedang dinegosiasikan dengan petugas untuk mengajukan penangguhan penahanan Kenzi Kaziro.
Dinda menoleh dan tersentak saat melihat Yoga datang bersama Cakra. Ia mencoba memasang wajah angkuh. "Yoga, untuk apa kamu ke sini? Aku akan mengeluarkan Kenzi hari ini juga. Kamu tidak bisa menahannya lebih lama!"
Yoga berjalan perlahan, berhenti tepat di depan Dinda dan pengacaranya tanpa rasa gentar sedikit pun. Ia melipat tangan di dada dengan gaya yang sangat mengintimidasi.
"Silakan coba, Dinda. Tapi ingat," Yoga melirik pengacara itu dengan sinis, "saya sudah menyerahkan bukti baru: rekaman audio rencana penyabotasean obat-obatan yang membahayakan nyawa pasien. Itu bukan lagi sekadar penipuan, tapi percobaan pembunuhan berencana."
Cakra maju selangkah sambil menunjukkan sebuah map hitam. "Dan kami tidak akan mundur selangkah pun, Tuan Pengacara. Jika Anda ingin karier Anda tetap bersih, saya sarankan pikirkan dua kali untuk membela parasit seperti Kenzi Kaziro di depan bukti-bukti medis yang sangat kuat ini."
Yoga menatap Dinda dengan tatapan dingin yang membuat adiknya itu menciut. "Kenzi tidak akan keluar dari sini kecuali dengan mobil tahanan menuju pengadilan. Camkan itu, Dinda."
Situasi berubah menjadi sangat mencekam. Keheningan di ruang kerja Yoga beberapa jam lalu kini berganti dengan kepanikan luar biasa.
Dinda, yang sudah kehilangan akal sehatnya, tidak peduli lagi pada hubungan darah.
Baginya, melenyapkan Anindya adalah satu-satunya cara untuk merebut kembali perhatian ayahnya dan menghancurkan kebahagiaan Yoga. Rencananya berjalan mulus di sebuah pusat perbelanjaan. Saat Anindya sedang berbicara mesra di telepon dengan Yoga, tangan kasar seorang preman membekap mulutnya.
"Nayla? Anin? Sayang, ada apa?!" teriak Yoga di seberang telepon saat mendengar suara ponsel terjatuh dan teriakan tertahan. Jantungnya serasa berhenti saat mendengar suara hantaman dan tawa kasar pria yang tidak dikenal sebelum panggilan terputus.
Yoga tiba di pusat perbelanjaan dengan wajah pucat dan napas memburu. Ia menemukan Bi Ijah menangis histeris di samping Pak Udin yang tampak sangat menyesal. Di lantai, ponsel Anindya tergeletak retak.
"Pulanglah. Jaga rumah. Biarkan aku yang mengurus ini," perintah Yoga dengan nada dingin yang menyimpan amarah gunung berapi. Begitu Pak Udin dan Bi Ijah pergi, Yoga segera menghubungi Cakra. "Cakra, lacak jam tangan Anindya sekarang! Titik GPS-nya bergerak ke arah gudang tua di pinggiran kota!"
Di dalam gudang yang mulai dijilat api, Anindya terikat di sebuah kursi kayu. Asap hitam mulai memenuhi paru-parunya. Dari kejauhan, Dinda berdiri dengan tatapan penuh kebencian.
"Mampus kamu, Anindya! Setelah ini, tidak akan ada lagi Nayla yang merebut semuanya dariku!" teriak Dinda di sela tawa histerisnya.
Ia melemparkan sejumlah uang kepada para preman itu dan menyuruh mereka pergi sebelum ia sendiri melarikan diri, membiarkan kakaknya terbakar hidup-hidup.
Namun, takdir berkata lain. Seorang pria yang kebetulan melintas mendengar suara minta tolong yang samar. Dengan keberanian luar biasa, ia mendobrak pintu gudang dan menemukan Anindya yang sudah hampir pingsan karena asap. Tanpa membuang waktu, pria itu memotong ikatan tali dan menggendong Anindya keluar lewat pintu belakang, tepat sebelum bagian depan gudang ambruk dimakan api. Ia segera melarikan diri menuju rumah sakit terdekat dengan mobilnya.
Beberapa saat kemudian, Yoga dan Cakra tiba di lokasi. Pemandangan di depan mereka sangat mengerikan; api sudah melalap seluruh struktur gudang. Suara sirine pemadam kebakaran meraung-raung di kejauhan.
"ANINDYA!!!" teriak Yoga histeris. Ia hendak menerjang masuk ke dalam kobaran api, namun Cakra menahannya.
"Bos! Terlalu berbahaya! Api sudah sangat besar!" seru Cakra.
Yoga melihat layar ponselnya, titik GPS jam tangan Anindya masih berada tepat di tengah-tengah api yang membara. Dengan kekuatan penuh, Yoga melepaskan diri dari dekapan Cakra dan berlari masuk ke dalam gudang yang penuh asap, diikuti Cakra yang terpaksa ikut untuk melindungi tuannya.
"Anin! Di mana kamu?!" Yoga berteriak sambil terbatuk-batuk hebat. Matanya perih karena asap yang sangat pekat.
Langkah Yoga terhenti saat ia melihat sesuatu yang berkilau di atas tanah yang menghitam. Ia berlutut dan memungut jam tangan Anindya yang sudah retak dan secarik kain pakaian istrinya yang telah hangus sebagian. Hancur sudah pertahanan Yoga. Ia menggenggam benda itu erat-erat ke dadanya sambil berteriak pilu di tengah deru api.
"Bos, kita harus keluar! Atapnya akan runtuh!" Cakra menarik paksa bahu Yoga.
Dengan langkah gontai dan tatapan mata yang kosong, Yoga membiarkan dirinya ditarik keluar. Di luar gudang yang kini runtuh total, Yoga terduduk di tanah yang dingin. Ia menatap jam tangan di genggamannya dengan air mata yang mulai mengalir. Ia mengira dunianya telah berakhir di dalam gudang itu, tanpa tahu bahwa di sebuah rumah sakit lain, istrinya sedang berjuang untuk hidup berkat pertolongan pria misterius.
Kesedihan yang mendalam menyelimuti kediaman Yoga. Rumah yang biasanya hangat dengan aroma masakan Anindya, kini terasa seperti makam yang dingin. Yoga berjalan terseok masuk ke dalam kamarnya, masih dengan sisa jelaga di wajah dan kemejanya.
Ia mendekap jam tangan retak itu seolah benda itu adalah nyawa Anindya yang tersisa.
Cakra berdiri di ambang pintu dengan wajah yang tak kalah muram. "Bos... Anda harus kuat. Jika Nyonya melihat Anda seperti ini, dia pasti akan sedih. Kita harus ikhlas," ucap Cakra dengan suara yang bergetar.
Yoga tidak menjawab. Ia hanya menatap hampa ke arah bantal Anindya. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya. Ia tahu kabar ini akan menghancurkan hati orang tua kandung Anindya, namun ia tak punya pilihan lain.
Di Jakarta, Dokter Reza dan Ibu Kanaya sedang duduk di ruang keluarga, membicarakan rencana untuk menjemput Anindya agar bisa tinggal lebih lama di Jakarta. Tiba-tiba ponsel Dokter Reza berdering.
"Halo, Yoga? Ada apa, Nak? Suaramu kenapa?" tanya Dokter Reza, firasat buruk mulai merayap di dadanya.
"Pa..." Yoga terisak, suara yang biasanya tegas itu kini pecah. "Anindya, Pa... Anin diculik dan dibawa ke gudang tua. Gudang itu terbakar hebat... Anin tidak selamat. Saya hanya menemukan jam tangannya yang hangus."
Prang!
Gelas di tangan Ibu Kanaya jatuh berkeping-keping. Ia langsung menjerit histeris hingga jatuh terduduk di lantai. Dokter Reza mematung, ponselnya hampir terlepas dari genggaman. Dunianya seolah runtuh untuk kedua kalinya. Putri yang baru saja ia temukan setelah 20 tahun, kini harus pergi selamanya dengan cara yang tragis.
"Tidak mungkin! Nayla-ku tidak mungkin pergi lagi! Yoga, katakan kamu berbohong!" teriak Ibu Kanaya sambil merampas ponsel suaminya.
"Saya akan mengirimkan lokasi lokasinya, Ma. Maafkan Yoga... Yoga gagal menjaga Anindya," ucap Yoga lirih sebelum mematikan sambungan telepon.
Tanpa membuang waktu, Dokter Reza dan Ibu Kanaya langsung berangkat menuju bandara. Dalam penerbangan menuju Surabaya, Ibu Kanaya terus menangis hingga sesak napas, sementara Dokter Reza hanya bisa menatap kosong ke luar jendela pesawat dengan air mata yang terus mengalir tanpa suara.
Mereka tidak tahu bahwa di balik kesedihan ini, ada Dinda yang sedang bersembunyi di sebuah hotel murah, memantau berita dengan senyum puas namun juga ketakutan.
Sementara itu, di sebuah rumah sakit kecil di pinggiran kota yang jauh dari jangkauan Yoga, pria misterius yang menyelamatkan Anindya tampak cemas menunggu di depan ruang IGD. Dokter keluar dengan wajah serius.
"Kondisinya kritis karena terlalu banyak menghirup karbon monoksida, tapi luka bakarnya tidak terlalu parah berkat tindakan cepat Anda. Siapa nama pasien ini?" tanya dokter.
Pria itu terdiam. Ia menatap Anindya yang terbaring lemah dengan alat bantu napas. "Saya tidak tahu dok, saya hanya menemukannya. Tapi saya akan menanggung semua biayanya. Tolong, selamatkan dia."