NovelToon NovelToon
Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Status: sedang berlangsung
Genre:TKP / Horror Thriller-Horror / Misteri / Detektif
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rin Arunika

Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.

Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.

Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?

Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?

🍀🍀🍀

Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Sampel Pembanding

Di lain tempat, Mahesa terlihat duduk dengan raut wajah yang tegang melihat rekan setimnya berdiri mengelilinginya.

Bagus tampak menyilangkan tangan di dada sambil terus menatap tajam ke arah Mahesa.

“Jadi, sejak kapan kamu tahu kalau semua kasus ini berhubungan?” tanya Bagus dingin.

“Sejak teman saya minta pertolongan ke saya, Pak. Katakanlah... Sejak awal,” jawab Mahesa tanpa ragu.

Situasi di ruangan itu lalu kembali hening. Sampai akhirnya kedatangan Panji menambah sedikit suara dalam keheningan itu.

“Lho? Kok malah pada diem-dieman gini?” Panji mengangkat selembar kertas berisi data diri Irvan yang memang dari tadi ia tenteng. “Saya kan suruh kalian buat cari tahu tentang orang ini.”

Tanpa diduga, Bagus berjalan mendekat ke arah Panji dengan raut wajah datar dan dingin.

“Pak...! Kok Bapak biarin dia gabung ke tim kita buat menuhin kebutuhan pribadinya dia?!” Bagus berdiri tepat di depan Panji.

Kedua alis Panji tertaut. “Kebutuhan pribadi apa, Gus...?”

“Dia,” Bagus menunjuk Mahesa yang duduk di belakangnya, “Dia sengaja minta gabung tim ini karena temennya yang minta, Pak...!”

“Lho tapi kasus mereka memang saling berkaitan, Gus...” kata Panji dengan nada bicara yang tenang. “Untuk sekarang kita coba masukin data yang Mahesa kasih ke kita. Kita pelajari dulu...”

Bagus berdecak. Ia menatap Panji dengan sorot mata yang menandakan ketidak setujuannya dengan ucapan Panji barusan.

Tak hanya Bagus, anggota timnya yang lain juga terlihat memasang raut wajah yang ketus. Sebab bagi mereka, mencampur adukkan pekerjaan dengan alasan pribadi adalah sebuah hal yang tabu. Mereka berpendapat bahwa melibatkan emosi pribadi bisa mengganggu jalannya penyelidikan.

“Semuanya, dengar...! Kita ini satu tim. Oke lah awalnya Mahesa memang tidak jujur dengan niat awalnya yang terselubung, tapi mari kita lihat situasinya sekarang. Penyelidikan kita nyaris selalu buntu sementara kita juga dikejar tenggat waktu oleh Pak Kepala. Jadi, saya minta tolong ke kalian... Tolong, ayo kita lakukan apapun yang kita bisa buat usut tuntas kasus ini. Ya...?” Panji menatap setiap anak buahnya satu persatu dengan penuh harap.

Bagus menghela nafas. “Oke. Jadi, apa yang bisa kita kerjain?”

Panji tersenyum lega. “Terima kasih, Gus.” katanya.

Pada momen yang mendadak mengharu biru itu, tiba-tiba saja telpon yang berada di meja kerja Revi berbunyi. Segera saja ia menjawab panggilan dari orang di sebrang sana.

“Hallo?”

Revi kemudian terdiam mendengarkan setiap kata yang diucapkan si penelpon.

“Baik, baik,” katanya sambil menganggukkan kepala. “Terima kasih, Pak Andika...”

“Siapa, Rev?” tanya Panji segera.

“Pak Andika, dari forensik. Katanya laporan autopsi Pak Rajiman sudah selesai.”

“Oke. Segera kamu ambil ke sana,”

“Siap, Pak.”

“Yang lain, seperti yang sudah saya bilang, kita periksa dan validasi informasi soal pria ini.”

#

Siang itu, Addam masih mengikuti rapat daring dengan rekan kerjanya. Pria itu tampak terus fokus sampai ponselnya terdengar berbunyi karena sebuah pesan masuk.

Addam lalu menyambar ponsel yang tersimpan di dekat laptop kemudian membaca pesan itu segera.

Mahesa || Dam. Lo pernah bilang kalau Pak Sugeng dirawat di Panti Sentosa?

Dahi Addam mengernyit. “Iya. Katanya Pak Sugeng dirawat di sana. Emang kenapa, Sa?” kata Addam sambil menulis pesan balasan untuk Mahesa.

Mahesa || Jadi kan tim gue abis dari sana. Dan lo tahu? Pak Sugeng udah gak di sana, Dam... Baru banget katanya tadi pagi dia dibawa pulang keluarganya.

Melihat pesan balasan Mahesa, sontak saja Addam terperangah tak percaya. Sebab seingatnya, satu-satunya keluarga yang dimiliki Pak Sugeng adalah kakak perempuannya yang tinggal di Jepang. Walaupun tidak menutup kemungkinan untuk mereka berkumpul kembali, tapi kenapa setelah sekian lama mereka baru teringat Pak Sugeng?

Tanpa buang waktu, Addam memutuskan untuk menelpon Mahesa dan meninggalkan sejenak pekerjaannya. Untungnya Mahesa cepat menjawab panggilannya.

“Sa. Lo udah pastiin siapa yang bawa pulang Pak Sugeng? Seinget gue, dia cuma punya kakak namanya Suharyani, itupun dia udah lama tinggal di Jepang...” kata Addam tanpa basa-basi.

“Suharyani? Bukan dia, Dam. Tim gue bilang keluarga yang jemput Pak Sugeng namanya Adit. Si Adit ini juga yang jadi penanggung jawabnya Pak Sugeng, semuanya, termasuk pembayarannya...” Mahesa terdengar sangat yakin dengan ucapannya.

“ADIT LO BILANG, SA?!” nada bicara Addam meninggi karena rasa terkejutnya.

“Iya, Dam. Gue curiga, dia ini orang yang sama dengan Adit yang RT Dusun Q bilang ke lo. Soalnya, pas gue cek cctv, gue gak lihat kedatangan orangnya langsung. Perawat mereka yang anter langsung Pak Sugeng ke mobil dan pengurusan dokumen diurus sama pengacara mereka...” jelas Mahesa penuh rasa curiga.

“Ini pasti ada yang gak bener, Sa...”

“Gue rasa juga gitu. Untungnya kita udah dapet sampel DNA Pak Sugeng, Dam. Gue yakin, sebentar lagi kita bakal nemuin Astrid...”

“Thank you, Sa. Eh, Sa, sorry, gue ditelpon dari kerjaan. Sekali lagi makasih banyak karena lo udah mau bantuin gue...”

“Gak apa-apa, Dam. Itu udah termasuk tugas gue. Ya udah, lo lanjut kerja lagi.”

Sambungan telpon mereka lalu berakhir. Addam kembali berkutat dengan laptopnya dan sejumlah pekerjaan yang menunggu dibereskan.

Sebenarnya, saat itu Addam cukup kesulitan untuk mengumpulkan kembali fokusnya. Tapi karena tuntutan pekerjaan, ia terpaksa mengesampingkan emosinya meskipun itu terkait langsung dengan Astrid. Saat itu Addam mempercayakan sepenuhnya pencarian Astrid pada Mahesa.

Sementara itu, Mahesa datang ke ruangan laboratorium forensik dengan tergesa sambil membawa sampel da*rah Pak Sugeng yang diambil dari lab Panti Sentosa. Kebetulan mereka masih menyimpan sisa sampel dari tes kesehatan minggu lalu.

Ketika Mahesa hendak kembali menuju mobilnya yang terparkir, saat itu dirinya bertemu dengan Arya dan Revi yang membawa sebuah botol minum yang terbungkus plastik.

“Arya, Revi...! Kalian nemu sampel DNA dia?”

“Kita dapet ini, tumbler punya Irvan yang tersimpan di lokernya. Kebetulan banget mereka belum buang karena katanya takut ada keluarganya yang cari barangnya,” jawab Arya.

Raut wajah Mahesa tampak penuh harap sekaligus dibayangi rasa cemas. “Syukurlah... Kerja bagus...”

Mahesa menatap kedua rekan setimnya itu sebentar sebelum ia beranjak memasuki mobilnya. Sementara itu Arya dan Revi tampak berjalan cepat menuju gedung forensik untuk menyerahkan sampel temuan mereka.

#

Panji, Bagus, dan timnya yang lain kini kembali berkumpul di ruangan kerja mereka. Saat itu, mereka tengah berpikir keras tentang kejadian nahas yang menimpa Pak Rajiman.

Hasil autopsi yang mereka terima mengatakan penyebab Pak Rajiman kehilangan nyawanya adalah karena kehabisan darah, sesuai dugaan awal. Luka-luka yang bersarang di tubuh korban menunjukkan bahwa korban telah dihabisi oleh orang lain dengan cara yang sangat brutal. Seluruh ujung jari Pak Rajiman bahkan dihilangkan.

“Pasti aksi penghilangan nyawa Pak Rajiman ini ada hubungannya sama laporannya soal mobil itu...” Mahesa menyilangkan tangan di dada sambil menatap layar komputernya. Tak jauh dari sana, terdapat setumpuk berkas berisi laporan penyelidikan kasus meninggalnya Pak Rajiman.

Seketika itu semua orang yang ada di sana menoleh ke arah Mahesa karena ucapannya, termasuk Panji.

“Apa kata kamu, Sa?” tanya Panji.

Sebelum menjawab ucapan Panji, Mahesa tampak berjalan mendekati Panji dan menyodorkan dokumen laporan itu.

“Ini, Pak,” kata Mahesa sambil menunjuk selembar kertas hasil cetak sebuah foto. “Gambar jejak sepatu di lokasi penemuan jasad Pak Rajiman sama dengan yang ditemukan di sekitar mobil itu...”

Panji lalu menatap dokumen yang diberikan Mahesa itu selama beberapa saat, kedua matanya semakin menyipit--seolah tengah berusaha mencari jalan masuk ke dalam gambar itu.

Setelah cukup lama memperhatikan gambar itu, Panji mengangkat wajahnya dan menatap setiap wajah anggotanya satu persatu. “Siapa lagi yang tahu kalau Pak Rajiman sempat datang melapor ke sini?”

Semua anggota tim Panji saat itu saling bertatapan. Tentu saja mereka merasa bingung sebab pasti akan banyak orang yang tahu tentang Pak Rajiman yang datang melapor. Terlebih lagi saat itu Pak Rajiman meminta secara khusus bertemu dengan Mahesa.

Tatapan Panji saat itu seperti mengatakan bahwa ada sesuatu yang ia ketahui dan akan ia beritahukan pada anak buahnya, tetapi Panji masih menunggu waktu yang tepat, bukan pada momen itu.

“Gilang, kamu nanti minta rekaman CCTV waktu Pak Rajiman datang ke sini,” perintah Panji.

Saat itu, Bagus dan rekan timnya yang lain tampak melihat gelagat aneh dari Panji. Pasti ada sesuatu hal yang Panji ketahui, apa sebenarnya yang sedang Panji lakukan, pikir mereka.

Saat itu mereka memang masih terdiam, tapi raut wajah mereka mengatakan semuanya dengan jelas.

Menyadari perubahan suasana dan raut wajah anak buahnya, Panji segera mencoba mengalihkan fokus mereka.

“Semuanya, nanti saya jelasin. Masih ada beberapa hal yang harus saya pastiin dulu,” kata Panji sambil menyodorkan kembali dokumen itu pada Mahesa.

Namun, Mahesa tak langsung kembali ke tempatnya setelah menerima dokumen itu. Pria itu terlihat membuka lembaran lain dan kembali menyerahkannya pada Panji.

“Pak, maaf. Satu lagi,” Mahesa menunjuk sebuah foto.

Gambar itu menunjukkan potret dari telapak tangan kiri Pak Rajiman. Di sana, terdapat sebuah tulisan yang ditulis dengan spidol.

“Ma?” Panji membaca tulisan yang terdapat di gambar itu. Seketika itu juga Panji tampak begitu keheranan.

1
Melissa McCarthy
sukaaaaa
nurul supiati
tegang tegang fiks sih si martin yg jdi psikopetnya 😭🤣
nurul supiati
wahhh kek nya alden deh sih menurut akuuu mah...
nurul supiati
berarti memang dia nyamar jadi beberapa orang yakkk hihihi
Flyrxn: ayooo udah mulai ketebak belum.../Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!