NovelToon NovelToon
Pernikahan Berdarah Mafia

Pernikahan Berdarah Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.

Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.

Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukuman Berat

Kami sampai di mansion dengan hening yang menakutkan. Tidak ada kata-kata sepanjang perjalanan. Hanya tangan Damian yang menggenggam leherku. Tidak mencekik. Hanya mengingatkan. Menguasai.

Mobil berhenti. Damian turun. Menyeretku keluar. Aku tidak melawan lagi. Tubuh terlalu lelah. Jiwa terlalu hancur.

Dia menyeretku masuk mansion. Melewati pelayan yang langsung menunduk. Tidak berani menatap. Melewati tangga. Tapi tidak naik ke kamar.

Turun.

Ke bawah tanah.

Jantungku langsung berdetak cepat. "Kemana kita pergi?"

Damian tidak menjawab. Hanya terus menyeretku. Menyusuri koridor beton yang dingin. Lampu redup berkelip-kelip.

Kami melewati ruang penyiksaan. Melewati ruang latihan menembak. Terus ke bagian yang lebih dalam. Bagian yang belum pernah kulihat.

Sampai di pintu besi tebal di ujung koridor. Damian membukanya. Di dalamnya gelap. Gelap total. Tidak ada jendela. Tidak ada lampu.

Hanya ruangan kosong berukuran tiga meter kali tiga meter. Dinding beton. Lantai beton dingin.

"Tidak," bisikku. "Kumohon. Jangan masukkan aku ke sana."

Tapi Damian mendorongku masuk. Aku tersandung. Jatuh ke lantai dingin yang keras.

"Damian kumohon!" aku merangkak ke arah pintu. Tapi dia sudah berdiri di ambang pintu. Siluetnya gelap dengan cahaya koridor di belakangnya.

"Seminggu," katanya. Suaranya datar. Kosong. "Seminggu kau akan di sini. Untuk belajar."

"Belajar apa?" tanyaku dengan suara bergetar.

"Belajar bahwa tidak ada yang lebih penting dari aku," jawabnya. "Belajar bahwa dunia luar tidak ada artinya. Belajar bahwa satu-satunya cahaya dalam hidupmu adalah aku."

Dia mulai menutup pintu.

"TIDAK! KUMOHON! JANGAN TINGGALKAN AKU DI SINI!"

BRAK!

Pintu tertutup. Bunyi kunci berputar. Berkali-kali. Sangat banyak kunci.

Lalu gelap total.

Gelap yang tidak pernah kualami sebelumnya. Gelap yang nyata. Padat. Seperti dinding yang menekanku dari segala arah.

Aku merasakan panik melanda. Napas jadi pendek. Cepat. Jantung berdetak sangat kencang.

"DAMIAN!" aku berteriak sambil menggedor pintu. "DAMIAN KUMOHON! AKU MINTA MAAF! KUMOHON JANGAN TINGGALKAN AKU DI SINI!"

Tidak ada jawaban. Hanya gema teriakanku sendiri di ruangan kosong. Aku terus menggedor. Sampai tangan sakit. Sampai buku-buku jari berdarah.

Tapi tidak ada yang datang.

Aku akhirnya mundur dari pintu. Mencoba mencari dinding. Tangan meraba-raba di kegelapan. Menemukan sudut. Aku duduk di sana dengan memeluk lutut.

***

Aku tidak tahu berapa lama berlalu. Tanpa cahaya, waktu menjadi tidak berarti. Bisa sepuluh menit. Bisa sepuluh jam.

Yang kutahu hanya kegelapan. Dingin. Dan ketakutan yang semakin membesar.

Aku mencoba tidur. Tapi lantai terlalu dingin. Terlalu keras. Dan setiap kali menutup mata, bayangan menghantui. Bayangan pembantaian di gudang. Damian yang berlumuran darah. Ayah yang dipukul.

Jadi aku tetap terjaga. Duduk di sudut. Gemetar dalam kegelapan. Lalu aku mendengar bunyi. Bunyi logam bergeser.

Celah kecil di bagian bawah pintu terbuka. Cahaya tipis masuk. Menyakiti mata yang sudah terbiasa dengan gelap total.

Sesuatu didorong masuk. Nampan. Dengan makanan dan air.

"Tunggu!" aku merangkak ke pintu. "Tunggu! Siapa itu? Kumohon bicara padaku!"

Tapi celah sudah ditutup lagi. Cahaya hilang. Gelap kembali. Aku merasakan nampan di depanku, roti, air, atau mungkin buah.

Tapi aku tidak lapar. Aku hanya ingin keluar. Aku menangis sambil memeluk nampan itu. Satu-satunya bukti bahwa dunia luar masih ada.

***

Waktu terus berjalan. Aku tidak tahu sudah berapa kali makanan didorong masuk. Tiga kali? Lima kali? Sepuluh kali?

Setiap kali celah terbuka, aku mencoba bicara. Memohon. Menangis.

Tapi tidak pernah ada jawaban. Hanya makanan yang didorong masuk. Lalu celah ditutup lagi.

Aku mulai kehilangan orientasi. Tidak tahu atas bawah. Tidak tahu berapa lama aku tidur. Tidak tahu bahkan apakah aku masih terjaga atau ini mimpi buruk yang panjang.

Aku mulai berbicara sendiri. Hanya untuk mendengar suara. Suara apapun selain detak jantungku sendiri.

"Satu... dua... tiga..." aku menghitung. "Empat... lima... enam..."

Lalu lupa sudah sampai berapa. Mulai lagi dari awal.

"Satu... dua... tiga..."

Terus berulang. Sampai suaraku serak. Sampai tidak ada suara lagi yang keluar.

Aku merasakan diriku mulai terlepas dari kenyataan. Pikiran mengambang. Kadang aku di kegelapan ini. Kadang aku kembali ke perpustakaan. Membaca buku. Tersenyum.

Lalu tersadar lagi di kegelapan yang dingin.

Dan aku mulai mendengar bisikan. Bisikan yang datang dari mana-mana, atau dari dalam kepalaku sendiri.

"Kau sendirian."

"Tidak ada yang akan menyelamatkanmu."

"Kau akan mati di sini."

"Dalam gelap. Sendirian. Tidak ada yang peduli."

Aku menutup telinga. Tapi bisikan tetap terdengar. Karena itu datang dari dalam.

"BERHENTI!" aku berteriak. "BERHENTI! BERHENTI!"

Tapi semakin aku teriak, semakin keras bisikan itu. Aku mulai menggaruk dinding. Kuku menggores beton. Sakit. Berdarah.

Tapi aku tidak peduli. Aku harus melakukan sesuatu. Harus merasa sesuatu selain kekosongan ini.

***

Lalu suatu saat, setelah entah berapa lama, aku mendengar bunyi yang berbeda. Bunyi kunci. Banyak kunci. Berputar satu per satu.

Aku meringkuk di sudut. Tubuh gemetar. Tidak tahu apa yang akan terjadi.

Pintu terbuka.

Cahaya menyakiti mata. Sangat menyakiti sampai aku harus menutup mata dan menutup wajah dengan tangan.

"Alexa."

Suara itu. Suara yang sudah tidak kudengar entah berapa lama.

Damian.

Aku tidak bisa melihatnya. Mata masih belum bisa menyesuaikan cahaya. Tapi aku mendengar langkah kakinya mendekat.

Lalu aku merasakan tangan menyentuh wajahku. Hangat. Sangat hangat dibanding dinginnya ruangan ini.

"Lihat aku," katanya lembut.

Aku perlahan membuka mata. Sedikit demi sedikit. Menyesuaikan dengan cahaya.

Dan aku melihatnya. Damian berjongkok di depanku. Wajahnya, ada air mata di sana. Dia menangis.

"Maafkan aku," bisiknya. Suaranya bergetar. "Maafkan aku harus melakukan ini."

Dia menarikku ke pelukannya. Pelukan yang sangat erat. Hangat. Berbeda dengan dinginnya ruangan.

Dan aku memeluknya balik. Erat. Sangat erat.

Karena dia satu-satunya hal yang nyata sekarang. Satu-satunya cahaya di kegelapan yang sudah hampir menelanku.

"Jangan pernah tinggalkan aku lagi," bisiknya sambil menangis. "Kumohon. Jangan pernah pergi lagi. Aku tidak bisa hidup tanpamu."

"Tidak akan," jawabku. Suaraku serak. Hampir tidak terdengar. "Tidak akan pergi lagi. Janji."

Dan aku bersungguh-sungguh.

Karena setelah mengalami kegelapan total itu, setelah merasakan kekosongan yang nyaris membuat aku gila...

Damian terasa seperti cahaya. Seperti kehangatan. Seperti satu-satunya hal yang membuatku masih waras.

Walau dia yang memasukkan aku ke kegelapan itu sejak awal. Walau dia yang menciptakan ketakutan yang sekarang hanya dia yang bisa redakan.

Tapi otakku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Sudah tidak bisa membedakan mana penyelamat dan mana penyiksa.

Yang kutahu hanya aku butuh dia, sangat butuh.

Dia mengangkatku. Menggendongku keluar dari ruangan gelap itu. Membawaku naik. Kembali ke dunia yang ada cahaya.

Dan aku menempel padanya. Seperti anak kecil yang takut ditinggalkan.

"Aku di sini," bisiknya sambil terus berjalan. "Aku tidak akan ke mana-mana. Aku di sini."

Dia membawaku ke kamar. Membaringkanku di tempat tidur yang lembut. Hangat. Sangat berbeda dengan lantai beton dingin tadi.

Lalu dia berbaring di sampingku. Memelukku.

"Tidak akan kutinggalkan kau lagi," bisiknya. "Dan kau tidak akan tinggalkan aku lagi. Kita akan bersama. Selamanya."

"Selamanya," ulangku. Seperti mantra. Seperti janji.

Dan aku percaya, karena setelah mengalami neraka kesendirian, dan kegelapan itu. Neraka bersama Damian terasa seperti surga.

Dan itulah yang paling menakutkan, bukan hukumannya, bukan kegelapannya, bukan juga kesepiannnya.

Tapi fakta bahwa sekarang aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa pria yang menciptakan semua itu.

Aku sudah sepenuhnya miliknya, tubuh, jiwa, bahkan pikiranku. Tidak ada lagi yang tersisa dari diriku yang dulu.

Hanya ada budak, yang bergantung total pada tuannya. Dan bagian yang paling menyedihkan, aku tidak yakin aku masih ingin bebas.

Tapi di suatu tempat di kota, ayah menatap laptop dengan video rekaman yang dia berikan pada Alexa. Video asli yang menunjukkan Damian membakar rumahnya sendiri, dua puluh tahun lalu.

Dan dia berbisik pada Marco yang duduk di seberangnya. "Satu-satunya cara menyelamatkannya sekarang, adalah dengan menghancurkan Damian sepenuhnya. Bahkan kalau itu berarti mengorbankan diriku sendiri."

Dan Marco mengangguk dengan tatapan penuh tekad, rencana terakhir sudah dimulai.

1
Thahara Maulina
suka kak serem penuh obsesion tapi nagih 🤭😍
Riyanti Bee
Jihid bingit sih Damian. 😄
Lubis Margana
posisi mu sangat sulit alexa berpihaklh sementara pada suami mu agar kau dapat cela..bisa lari dari suami mu
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
karya yang aku baca dengan menghabiskan 1/2 hari dengan fon...
Queen of Mafia: knapa lgi tuh/Shy/
total 1 replies
kesyyyy
mantep bangett
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
cerita tentang kau dan aku🎼🎶🎵
Queen of Mafia: astaga, knapa jdi kesana/Facepalm/
total 1 replies
kesyyyy
serem, tapi seruuu🤭
Queen of Mafia: mkasih kak🤭🙏
total 1 replies
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
wow!!!!!
Queen of Mafia: knapa tuh/Shy/
total 1 replies
Rahmawaty24
Ceritanya bagus
Queen of Mafia: makasih, kak☺🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!