Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12~Saat langit kembali cerah
Matahari pagi menembus tirai jendela kamarku, menyapa dengan sinar keemasan yang lembut.
Masih ada sisa embun di kaca, tapi langit tampak biru bersih — seolah semesta baru saja selesai mencuci luka-luka kecil dengan hujan semalam.
Aku menatap tanaman kecil di pot jendela, yang kini tumbuh semakin tinggi. Daunnya berwarna hijau cerah, segar, dan kuat.
Sama seperti hatiku pagi ini.
Sudah dua minggu sejak hari hujan itu — hari di mana aku dan Raka membuat janji kecil di bawah payung. Sejak itu, semuanya terasa berbeda.
Bukan lagi tentang jarak atau rindu, tapi tentang harapan.
Sabtu pagi ini, Raka menjemputku di depan kos.
Dia datang dengan sepeda lipat, bukan mobil, bukan motor. Katanya ingin berolahraga sekaligus nostalgia.
“Naik sepeda bareng kayak anak SMA dulu,” katanya sambil tersenyum.
Aku tertawa. “Kita dulu aja nggak pernah naik sepeda bareng, Raka.”
Dia pura-pura berpikir. “Oh iya juga, ya. Berarti ini pertama kali.”
Akhirnya kami berdua mengayuh sepeda pelan melewati jalan kota yang mulai ramai. Angin pagi berhembus lembut, membawa aroma kopi dari warung di pinggir jalan.
Aku duduk di sadel belakang, sementara dia mengayuh dengan mantap.
“Pelan-pelan, ya,” kataku.
“Iya, tenang aja,” jawabnya. “Aku udah hafal ritme kamu, ingat?”
Aku tersenyum kecil. Kata-kata itu terasa sederhana, tapi entah kenapa masih bikin jantungku hangat.
Kami berhenti di taman kota — tempat favorit kami.
Sekarang taman itu sudah hampir selesai direnovasi. Di salah satu sudutnya, aku melihat papan kecil bertuliskan “Taman Alya – Desain oleh Raka Arka”.
Aku terpaku. “Raka… kamu beneran bikin?”
Dia tersenyum kecil. “Iya. Proyeknya disetujui. Jadi nama kamu bakal ada di sini selamanya.”
Aku menatap papan itu lama, lalu berbalik menatapnya. “Aku nggak tahu harus ngomong apa.”
“Cukup bilang kamu suka,” katanya lembut.
Aku menatap sekeliling taman — bunga warna-warni bermekaran, air mancur kecil di tengah, dan dua bangku kayu di bawah pohon rindang.
Tempatnya persis seperti gambar yang dulu dia tunjukkan di jurnalnya.
Aku menarik napas dalam. “Aku suka banget. Bukan cuma karena namaku ada di sini, tapi karena tempat ini… kayak cerminan kita.”
Dia menatapku penasaran. “Cerminan gimana?”
“Indah, tapi butuh waktu buat tumbuh,” jawabku pelan. “Kayak hubungan kita.”
Raka terdiam sebentar, lalu tersenyum. “Dan sekarang akhirnya tumbuh, kan?”
Aku mengangguk. “Iya. Dengan kuat.”
Kami duduk di salah satu bangku taman, memandangi bunga yang bergoyang diterpa angin.
Raka membuka botol air mineral dan menawarkannya padaku. “Minum dulu. Nanti dehidrasi.”
Aku menerimanya sambil tersenyum. “Kamu tuh sekarang mirip banget Mama. Suka ngingetin hal-hal kecil.”
Dia tertawa. “Mungkin karena aku pengen jadi orang yang bikin kamu ngerasa aman, bukan cuma senang.”
Aku menatapnya — kali ini dengan perasaan yang dalam.
“Aku udah ngerasa aman dari dulu, Rak. Bahkan waktu kita jauh.”
Dia memiringkan kepala. “Kamu yakin?”
Aku mengangguk. “Iya. Karena kamu nggak pernah benar-benar pergi.”
Dia menatapku lama, lalu berkata pelan, “Aku senang kamu ngerasain itu.”
Sore mulai datang. Langit berubah warna jadi jingga lembut.
Suara tawa anak-anak kecil terdengar dari kejauhan. Semua terasa damai.
“Alya,” kata Raka tiba-tiba, “kamu udah kepikiran mau lanjut kemana nanti setelah kuliah?”
Aku menatap langit. “Aku pengen ngajar. Di sekolah, mungkin. Biar bisa cerita ke anak-anak tentang alam, tumbuhan, dan tentang tumbuhnya sesuatu yang berharga.”
Dia tersenyum. “Cocok banget sama kamu.”
“Kalau kamu?” tanyaku balik.
Dia menatap taman yang sedang kami duduki. “Aku pengen terus bikin tempat kayak gini. Taman yang bisa bikin orang bahagia cuma karena duduk di dalamnya.”
Aku mengangguk, lalu berkata pelan, “Kalau nanti kamu bikin taman baru, janji satu hal.”
“Apa?”
“Selalu sisakan satu sudut untuk kita — biar kenangan ini nggak hilang.”
Dia menatapku dan mengangguk pelan. “Janji.”
Beberapa menit kemudian, Raka berdiri dan berjalan ke arah papan kecil bertuliskan Taman Alya.
Dia menulis sesuatu di bawah tulisan itu dengan spidol perak, lalu kembali duduk di sebelahku.
“Aku nambah sedikit,” katanya.
Aku menatapnya penasaran, lalu berdiri dan membaca tulisan kecil di bawah papan itu.
Tulisan itu berbunyi:
“Untuk Alya. Karena dari setiap taman yang pernah kutanam, kamu yang paling tumbuh di hatiku.”
Mataku langsung panas lagi. “Raka… kamu bikin aku nangis terus, tahu nggak?”
Dia tertawa kecil. “Ya berarti aku berhasil.”
Aku menatapnya, setengah kesal, setengah bahagia. “Kamu tuh, serius banget.”
Dia tersenyum lembut. “Karena kali ini, aku nggak mau bercanda soal masa depan.”
Senja semakin merendah. Warna langit berubah jadi oranye keemasan.
Kami duduk berdua tanpa banyak bicara, hanya menikmati waktu yang terasa berhenti sejenak.
Raka menatapku dan berkata pelan, “Ly, aku tahu kita masih muda. Tapi kalau nanti waktunya tepat… aku pengen kamu tetap ada di sini. Di hidupku, bukan cuma di taman.”
Aku menatapnya lama.
Tidak ada musik, tidak ada tepuk tangan, tidak ada janji besar — hanya kata-kata sederhana yang membuat dunia di sekitarku terasa tenang.
Aku tersenyum kecil. “Kita nggak tahu masa depan gimana, Rak. Tapi kalau kamu terus seperti ini — sabar, tulus, dan penuh makna — aku nggak akan pergi.”
Dia menatapku lembut. “Berarti aku punya alasan buat terus tumbuh.”
Dan di bawah langit senja yang perlahan berubah warna, kami tahu — cinta yang dulu datang tak sengaja, kini telah menemukan tujuannya.
Bukan lagi sekadar perasaan remaja, tapi keyakinan yang tumbuh perlahan, kuat, dan nyata.
Langit mulai gelap, tapi di hati kami, hari baru baru saja dimulai.
✨ Bersambung ke Bab 13