Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.
Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.
Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.28
Saat Ryn Moa dan Namjoon sedang sibuk diperpustakaan dengan dunia masing-masing, seseorang mengintip dari balik rak buku. Perpustakaan sore hari selalu punya atmosfer yang aneh, terlalu tenang untuk disebut sepi, tapi terlalu hidup untuk benar-benar sunyi. Cahaya matahari yang masuk dari jendela besar membuat debu-debu halus di udara terlihat seperti partikel emas kecil yang melayang malas. Rak-rak buku menjulang tinggi, menjadi semacam labirin sunyi tempat banyak cerita diam-diam terjadi. Dan di salah satu lorong sempit di antara rak itu, seseorang berdiri terlalu lama untuk sekadar lewat.
Taehyung, Ia datang ke perpustakaan bukan untuk membaca. Ia hanya ingin mencari Jungkook yang katanya sedang mengerjakan tugas kelompok. Atau mungkin hanya ingin menenangkan pikirannya sendir, ia tidak yakin. Sejujurnya, Taehyung sendiri tidak bisa menjelaskan kenapa kakinya membawanya ke sini. Biasanya, jika ingin menenangkan pikiran, ia akan duduk di taman kampus, atau sekadar berjalan tanpa tujuan sambil mendengarkan musik keras-keras di earphone. Perpustakaan bukan tempat favoritnya karena merasa terlalu hening dan banyak ruang untuk berpikir. Dan saat ini, berpikir adalah hal terakhir yang ia butuhkan. Sebenarnya Ia tidak berniat mengintip. Ia hanya lewat, lalu berhenti, kemudian tidak bisa bergerak.
Langkahnya terhenti di antara dua rak tinggi ketika matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Ryn Moa, duduk di meja dekat jendela. Rambutnya dikuncir setengah. Ekspresinya lembut, ekspresi yang jarang ia lihat akhir-akhir ini. Taehyung mengenali ekspresi itu. Ia pernah melihatnya dulu, ketika Ryn Moa masih sering gugup setiap kali berada di ruangan yang sama dengannya. Senyum kecil yang tidak disengaja, bahu yang sedikit mengendur, mata yang terlihat lebih hangat. Dan di sampingnya ada Namjoon.
Melihat Namjoon dan Ryn Moa duduk berdampingan seperti itu membuat perutnya terasa aneh. Bukan karena pemandangan itu salah. Tidak ada yang melanggar norma. Tidak ada yang perlu dipertanyakan secara logis. Mereka hanya dua mahasiswa yang duduk bersama di perpustakaan. Namun entah kenapa, Taehyung merasa seperti sedang melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat. Mereka tidak melakukan apa-apa yang mencurigakan. Tidak ada sentuhan. Tidak ada bisikan rahasia. Tapi justru itulah yang membuat pemandangan itu terasa intim. Namjoon duduk dengan sikap tenang, membaca bukunya dengan ekspresi serius tapi santai. Ryn Moa menunduk di atas catatannya, sesekali menggigit ujung pena, lalu menulis lagi. Ada jeda-jeda kecil di mana mereka tidak melakukan apa pun, hanya diam bersama. Keheningan yang nyaman, dan Taehyung membenci fakta bahwa ia bisa merasakannya bahkan dari jarak sejauh ini.
“Kenapa aku begini?” Taehyung mengusap tengkuknya.
Ia mencoba mengalihkan pandangan, pura-pura membaca judul buku di rak depan matanya. Tapi kata-kata di sampul terasa kabur. Otaknya menolak bekerja sama.Ia mencoba melangkah maju tapi gagal. Ia mencoba melangkah mundur. Kakinya terasa berat. Ada sesuatu yang menahan matanya untuk tetap di sana. Melihat Ryn Moa tersenyum lembut pada Namjoon, membuat dadanya menghangat sekaligus terasa tidak nyaman. Hangat karena senyum itu indah, Tidak nyaman karena senyum itu bukan untuknya. Taehyung menelan ludah. Ada rasa asing yang mengendap di tenggorokannya, seperti kata-kata yang ingin keluar tapi tidak tahu bagaimana bentuknya. Ia tidak suka perasaan ini. Ia tidak suka merasa tertinggal dalam sesuatu yang bahkan belum ia sadari ingin ia miliki. Sejak kapan ia peduli? Bukankah selama ini ia baik-baik saja melihat Ryn Moa dari kejauhan? Bukankah ia terbiasa menjadi orang yang diperhatikan, bukan yang memperhatikan dengan gelisah?. Ia berbalik ingin pergi, tapi malah mendapati Jimin dan Yoongi berdiri di belakangnya. Kemunculan mereka begitu tiba-tiba sampai Taehyung hampir tersentak. Keduanya membawa buku. Jimin dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu, Yoongi dengan wajah datar khasnya. Jimin memiringkan kepala, mengikuti arah pandang Taehyung barusan. Matanya langsung membesar sedikit, lalu berubah menjadi senyum penuh arti yang sangat tidak Taehyung sukai.
“Bro,” kata Jimin. “Itu namanya cemburu.”
“Tidak!” seru Taehyung lagi-lagi.
Suaranya terlalu keras untuk ukuran perpustakaan. Beberapa kepala menoleh. Seorang pustakawan di ujung ruangan melirik tajam. Jimin buru-buru menutup mulutnya sendiri sambil tertawa tertahan, bahunya bergetar.
“Shhh! Volume, volume!” bisiknya sambil tetap tertawa.
“Tentu,” sahut Yoongi datar. “Dan aku suka salad setiap hari.”
Taehyung menatap mereka dengan tatapan ‘tolong diam’, tapi keduanya hanya cekikikan.
“Serius,” lanjut Jimin sambil menyenggol bahu Taehyung pelan. “Kalau kau tidak merasa apa-apa, harusnya kau tidak berdiri di sini kayak patung.”
Yoongi mengangguk setuju.
“Dan harusnya kau tidak melotot ke arah meja itu.”
Taehyung mendengus pelan. Ia membuka mulut, berniat membantah lagi, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Karena bagian paling menyebalkan dari semua ini adalah, mereka benar. Ia memang berdiri terlalu lama.Ia memang terlalu fokus. Dan ia memang kesal melihat Namjoon duduk di sana dengan ekspresi tenang seolah dunia baik-baik saja. Taehyung akhirnya berbalik, melangkah menjauh, meninggalkan rak buku dan dua sahabatnya yang masih tersenyum penuh arti. Namun, meski kakinya bergerak pergi, pikirannya tertinggal.Di meja dekat jendela. Di senyum Ryn Moa. Di kehadiran Namjoon yang terlalu tenang untuk diabaikan. Dan untuk pertama kalinya, Taehyung merasa terlambat satu langkah.
...⭐⭐⭐...
Di sisi lain perpustakaan, tanpa menyadari drama kecil yang baru saja terjadi di antara rak-rak buku, Ryn Moa menutup catatannya dengan napas pelan. Gadis itu melirik jam di ponselnya, lalu menatap tumpukan buku di depannya.
“Sepertinya otakku mulai protes,” gumamnya pelan.
Namjoon menoleh kearah Ryn Moa dan menatap gadis itu dengan senyuman.
“Butuh istirahat?”
Ryn Moa mengangguk kecil.
“Iya. Kalau dipaksakan, nanti malah nulis teori yang tidak masuk akal.”
“Itu bisa jadi teori baru.” Namjoon kembali tersenyum.
Ryn Moa tertawa kecil, lalu refleks menutup mulutnya, mengingat mereka masih di perpustakaan. Tanpa Ryn Moa sadari, dari sudut lain ruangan, Taehyung sempat menoleh sekali lagi sebelum benar-benar pergi. Dan pemandangan terakhir yang ia lihat adalah Ryn Moa yang tertawa kecil, lagi-lagi bukan karena dirinya, tapi karena Namjoon. Ia menghela napas panjang dan melangkah menjauh.
“Ini gawat,” gumamnya pelan.
Sementara itu, Jimin dan Yoongi saling pandang.
“Menurutmu,” bisik Jimin, “berapa lama sampai dia sadar sepenuhnya?”
Yoongi mengangkat bahu.
“Terlambat satu langkah sudah terasa menyakitkan. Tinggal tunggu dia berlari… atau menyerah.”
Jimin meringis.
“Wah, ini bakal seru.”
Di perpustakaan yang seharusnya tenang itu, benih kecemburuan, kesalahpahaman, dan perasaan yang tidak terucap mulai tumbuh pelan-pelan dan tidak satu pun dari mereka siap menghadapi kekacauan lucu yang akan menyusul.
...⭐⭐⭐...
Bersambung....