Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
JARAK YANG MEMPERKUAT CINTA
Hari Senin pagi, matahari menyinari pelabuhan Makassar dengan hangat. Khatulistiwa berdiri di dermaga bersama teman-teman sekampus, sedang mengantar kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang akan berangkat ke Desa Bontomanai, Kabupaten Gowa – sekitar dua jam perjalanan dari kota dengan kendaraan darat. Tenggara berdiri di depan barisan, mengenakan seragam KKN berwarna hijau dengan tas ransel besar di pundaknya, wajahnya bercampur antara semangat dan rasa sedih harus berpisah dengan kekasihnya
"Aku akan selalu menghubungimu setiap hari " ucap Tenggara dengan lembut saat mengusap pipi Khatulistiwa yang mata sudah mulai berkaca-kaca. "Jangan terlalu merindukanku dan jangan lupa untuk makan dengan teratur."
Khatulistiwa mengangguk perlahan sambil memegang erat tangan Tenggara. "Kamu juga ya, jangan terlalu bekerja keras di sana. Ingat bahwa aku selalu menunggumu di sini. Jangan lupa untuk memberitahu aku kabarmu setiap hari, ya?"
Tiba-tiba suara petugas mengumumkan bahwa kendaraan sudah siap berangkat. Tenggara memberikan pelukan hangat dan ciuman lembut pada dahi Khatulistiwa sebelum naik ke dalam mobil. "Aku mencintaimu lebih dari apa pun di dunia ini, Sampai jumpa dalam dua bulan lagi."
"Semoga kamu selamat dan sukses dengan KKN-mu," jawabnya dengan suara yang sedikit bergetar. "Aku juga mencintaimu dengan sepenuh hati, Tenggara."
Setelah dua hari beradaptasi dengan kehidupan desa, Tenggara akhirnya bisa menghubungi Khatulistiwa melalui panggilan video dari kantor desa yang memiliki sinyal internet yang cukup stabil. Layar ponselnya menunjukkan wajah Khatulistiwa yang sudah menunggunya dengan senyum lebar.
"Hay bee! Akhirnya bisa kamu hubungi juga," ucap Khatulistiwa dengan suara penuh kebahagiaan. "Bagaimana kondisi di sana? Apakah kamu sudah terbiasa dengan lingkungannya?"
Tenggara tersenyum melihat wajah kekasihnya. "Hai sayangku. Kondisinya cukup baik, meskipun ada beberapa hal yang perlu kita sesuaikan. Desa ini sangat cantik dengan pemandangan sawah yang luas dan udara yang sangat segar. Orang-orangnya juga sangat ramah dan menerima kita dengan hangat."
Dia kemudian mulai menceritakan tentang kegiatan KKN mereka – membantu membangun jalan kecil antar dusun, mengajar anak-anak desa belajar setelah sekolah, dan melakukan penelitian tentang sejarah dan budaya lokal yang masih banyak belum tercatat dengan baik. "Kita menemukan beberapa cerita rakyat yang sangat menarik dari para leluhur desa ini. Aku sudah mencatat semuanya dan akan membawanya pulang untuk kita pelajari bersama."
Khatulistiwa dengan penuh perhatian mendengarkan setiap kata yang diucapkan Tenggara. "Itu sangat menarik sekali! Kamu harus jaga catatan-catatan itu dengan baik ya. Kita bisa mengolahnya menjadi sebuah buku kecil tentang budaya daerah nanti."
Mereka berbicara selama hampir dua jam hingga baterai ponsel Tenggara hampir habis. Sebelum mengakhiri panggilan, Tenggara memberikan pesan yang penuh cinta. "Jangan lupa untuk merawat dirimu dengan baik ya, sayang. Aku merindukanmu setiap detiknya. Hanya dua bulan lagi kita akan bisa bertemu kembali."
"Aku juga merindukanmu, bee," jawab Khatulistiwa dengan lembut. "Semoga waktu berjalan cepat sehingga kita bisa segera bertemu lagi."
Selama bulan berikutnya, mereka menjaga komunikasi dengan tetap erat meskipun dipisahkan oleh jarak. Tenggara sering mengirimkan foto-foto pemandangan desa, aktivitas KKN mereka, dan makanan ketinggalan perkembangan usaha kukis keluarg sesuai dengan ide mereka bersama, serta cerita tentang kemajuan kuliah dan proyek kelompoknya.
Pada minggu kedua KKN, Tenggara menghadapi tantangan yang cukup berat ketika proyek pembangunan jalan kecil mereka menghadapi kesulitan akibat kondisi tanah yang lembap setelah hujan deras. Dia merasa sedikit frustasi dan ingin segera berbagi dengan Khatulistiwa. Namun sinyal internet di desa sangat buruk sehingga dia hanya bisa mengirim pesan singkat: "Sayang, aku sedang menghadapi sedikit kesulitan di sini. Rindu kamu sangat dalam."
Dalam waktu singkat, balasan datang: "Hai bee aku tahu kamu pasti bisa mengatasinya. Kamu adalah orang yang paling kuat dan pintar yang aku kenal. Ingat bahwa aku selalu ada untukmu, meskipun jauh. Semoga kamu diberi kekuatan untuk menyelesaikan semua tantangan itu. Aku mencintaimu."
Pesan tersebut memberikan semangat baru bagi Tenggara. Bersama dengan teman-teman KKN dan warga desa, mereka berhasil menemukan solusi dengan membuat drainase sementara agar air bisa mengalir dengan lancar dan pembangunan bisa dilanjutkan. Ketika dia memberitahu kabar baik itu kepada Khatulistiwa, suara kekasihnya yang penuh kegembiraan membuat hatinya terasa sangat hangat