NovelToon NovelToon
Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa / Komedi / Slice of Life / Urban
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Kopi dan Kalimat yang Tertinggal

Dalam tiga hari, kedai kopi kecil milik ayah Gia berubah total. Tidak ada cat mahal atau furnitur mewah. Rian datang setiap sore setelah pulang dari proyek—kali ini tanpa sandal jepit, ia meminjam palu dan kayu bekas palet dari tempat kerjanya. Dengan tangan cekatannya, ia membuat rak-rak gantung yang terlihat kasar namun sangat artistik.

Dinding kayu di samping mesin espresso kini tertutup oleh potongan-potongan kertas kecil yang dipaku rapi. Sesuai ide Rian, Gia menyebutnya "Dinding Cerita".

"Neng, lihat tuh. Pak Kades sampai nulis, 'Semoga asam lambungku nggak naik demi mendukung usaha anak muda.' Lucu juga ya orang-orang sini," seloroh Rian sambil memaku papan nama baru di depan kedai yang bertuliskan: "Kopi Utang: Ceritamu, Kopiku."

Gia tertawa kecil sambil mengarahkan kamera ponselnya. Ia mengambil foto estetik—seperti gaya yang sering ia lihat di Lemon8—menonjolkan uap kopi yang mengepul dengan latar belakang dinding cerita yang temaram.

"Rian, postingan kemarin dapat seratus share di grup warga dan komunitas kopi kabupaten! Hari ini ada tiga mobil dari kota yang sengaja mampir cuma buat nyobain 'Kopi Semangat' kita," ujar Gia dengan mata berbinar. Semangat yang sempat padam kini menyala kembali.

"Tuh kan, apa saya bilang. Orang itu bosen sama yang pura-pura mewah. Mereka mau yang jujur," sahut Rian. Ia duduk di bar, mengelap keringat di lehernya dengan kaus birunya yang kini sudah terkena noda cat.

Gia memberikan secangkir kopi jahe susu pada Rian. "Ini, gratis. Anggap saja gaji buat mandor renovasi gadungan."

Rian menyesapnya, matanya terpejam. "Segar. Tapi Neng, kamu harus hati-hati. Makin rame tempat ini, makin silau mata orang-orang yang nggak suka sama kamu."

Gia terdiam. Ia tahu siapa yang dimaksud Rian. Benar saja, baru saja Rian menyelesaikan kalimatnya, suara deru mesin mobil yang sangat ia kenal terdengar berhenti di depan. Namun kali ini, bukan mobil sedan hitam Niko yang datang, melainkan sebuah mobil pikap besar yang membawa beberapa orang berseragam dinas.

Seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal turun dan membawa map plastik. "Selamat siang. Benar ini pemilik kedai kopi ini?"

Gia melangkah maju dengan perasaan tidak enak. "Iya, saya sendiri. Ada apa ya, Pak?"

"Kami dari dinas perizinan dan tata kota. Kami menerima laporan bahwa bangunan ini berdiri di atas lahan hijau yang tidak boleh digunakan untuk usaha komersial secara permanen. Kami harus melakukan penyegelan sementara untuk pemeriksaan lebih lanjut," ujar pria itu tanpa ekspresi.

Gia merasa bumi di bawah kakinya berguncang. "Apa? Tapi Bapak saya sudah punya izin usaha sejak dua puluh tahun lalu! Ini tanah pribadi kami, Pak!"

"Izin yang lama sudah tidak berlaku sesuai perda terbaru, Nona. Mohon kooperatif, atau kami akan memanggil aparat," tegas pria itu. Di belakang mereka, Gia melihat sebuah mobil sedan hitam terparkir agak jauh. Kaca gelapnya tertutup rapat, tapi Gia tahu siapa yang ada di dalamnya. Niko.

Niko menggunakan relasinya di pemerintahan untuk mencekik usaha Gia sebelum benar-benar tumbuh.

"Bapak-bapak sekalian, boleh saya lihat surat tugasnya?"

Rian melangkah maju. Suaranya tidak lagi santai. Ada nada otoritas yang sangat dingin dan tajam, tipe suara yang hanya dimiliki oleh orang yang biasa memberi perintah. Ia mengambil map dari tangan pria berkacamata itu dan membacanya dengan sangat cepat—seperti orang yang sudah terbiasa memeriksa dokumen hukum yang rumit.

"Pasal 14 ayat 3 yang Bapak kutip ini berlaku untuk bangunan komersial skala besar, bukan untuk unit usaha mikro seperti ini. Lagi pula, perda yang Bapak maksud baru saja direvisi bulan lalu dan memberikan masa tenggang dua tahun untuk sosialisasi," Rian melipat dokumen itu dengan tenang dan memberikannya kembali. "Sampaikan pada orang yang membayar Bapak-bapak, kalau mau main kotor, minimal harus pintar baca aturan dulu."

Pria dinas itu tampak gugup. Ia tidak menyangka akan dihadapi oleh pria berkaus oblong yang paham hukum pertanahan sedetail itu. "Ka-kami cuma menjalankan tugas..."

"Tugas itu untuk melindungi rakyat, bukan untuk jadi centeng orang kaya," potong Rian. Ia melangkah satu langkah ke depan, membuat pria itu mundur ketakutan. "Sekarang, silakan pergi sebelum saya menelepon rekan saya di Ombudsman."

Begitu rombongan itu pergi dengan terburu-buru, mobil sedan hitam di kejauhan langsung tancap gas meninggalkan debu yang mengepul.

Gia menatap Rian dengan tatapan tidak percaya. "Rian... kamu tadi bilang apa? Ombudsman? Pasal 14? Dari mana tukang bangunan tahu semua itu?"

Rian mendesah, ia tampak menyesal karena sudah "terlalu pintar" di depan Gia. Ia kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aduh, itu... dulu saya sering dengerin siaran hukum di radio pas lagi nunggu semen kering, Neng. Hehe, pinter juga ya saya ternyata?"

Gia tidak tertawa. Ia mendekati Rian, menatap matanya dalam-dalam. "Berhenti bohong, Rian. Kamu bukan tukang bangunan. Kamu tahu hukum, kamu tahu arsitektur, kamu jago bela diri, dan kamu punya jam tangan seharga rumah. Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu ada di desa ini?"

Rian terdiam cukup lama. Suasana kedai yang tadi hangat mendadak terasa tegang. Rian menatap cangkir kopinya yang tinggal setengah, lalu beralih menatap Gia dengan sorot mata yang penuh dengan rahasia yang berat.

"Neng Gia," ujar Rian pelan. "Kadang, ada orang yang harus 'mati' di satu tempat supaya bisa tetap 'hidup' di tempat lain. Jangan tanya siapa saya yang dulu. Cukup lihat siapa saya yang sekarang. Orang yang cuma pengin minum kopi buatan kamu tanpa harus ngerasa takut sama dunia."

Rian bangkit dari kursinya. "Saya balik dulu. Kayaknya mandor beneran bakal marahin saya kalau telat terus."

Gia hanya bisa menatap punggung Rian yang menjauh. Ia tahu, Rian sedang melarikan diri dari masa lalu yang mungkin lebih gelap dari masa lalunya sendiri. Namun, satu hal yang pasti: Rian bukan lagi sekadar "tukang utang" di matanya. Pria itu adalah teka-teki paling indah yang ingin ia pecahkan.

1
Satri Eka Yandri
penasaran pov gia wktu di kota,di fitnah apa yah?
Sefna Wati: ayo baca bab selanjutnya kak
biar GK penasaran waktu gia di kota kenapa difitnah🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!