Naura adalah putri semata wayang pak Malik, memiliki paras yang cantik, dia tumbuh tampa merasakan kasih sayang seorang ibu. Pak Malik yang khawatir dengan hidup putrinya kelak ketika dia sudah tiada lagi dunia ini, meminta teman lamanya ketika mereka menuntut ilmu di pesantren dulu.
Pilihannya jatuh pada sosok pria sederhana, namanya Hasan. Pria itu sebenarnya tidak pendiam tapi dunia mereka yang berbeda membuat mereka tidak mudah untuk saling dekat.
Perasaan itu mulai tumbuh diantara keduanya tapi tidak ada yang berani memulai. Sampai akhirnya Naura tak bisa lagi menahan perasaannya, dia mencoba mengambil inisiatif dan terus berupaya memberikan signal - signal cinta. Namun Hasan yang ragu dan takut salah mengartikan isyarat itu justru menghindar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
CAPTER 35
MENYELIDIKI
Setelah membagi tugas dalam menyelidiki postingan kemarin, Ilham memulai rencananya. Dia sudah mendapat sedikit informasi mengenai Sheril. Hari ini adalah hari minggu, Sheril biasanya akan pergi ke salon kecantikan
lalu hang out dengan teman-temannya di club pada minggu malam.
Yunita telah berjanji untuk menjemput Sheril ke apartemen namun dia tidak bisa datang karena harus keluar kota untuk menyelesaikan sesuatu disana. Dia meminta Veny menjemput Sheril dan menemaninya ke salon. Veny menyetujui permintaan Yunita karena dia juga bosan hanya menghabiskan hari Minggu dikosan saja.
"Tak pikir tinggalnya diapartemen mewah, ini mah bisa dibilang flat atau rumah susun...lagaknya aja kayak orang
tajir melintir." Guman Ilham sambil menyeruput kopi yang dia pesan.
Ilham sudah standby diseberang jalan depan apartemen Sheril, dia duduk sambil minum kopi dikedai kopi pinggir jalan. Cukup lama dia duduk disana, lalu muncul sebuah mobil warna biru memasuki area flat, dan keluarlah seorang gadis muda yang mungkin umurnya hanya dua tahun lebih muda darinya. Gadis muda itu tak lain adalah Veny. Cara berpakaian Veny berbeda dengan Yunita apalagi Sheril. Dia lebih terlihat sederhana dengan riasan tipis
diwajahnya dan memiliki tinggi diatas rata-rata wanita Indonesia pada umumnya. Ilham terus mengamati Veny,
mulai dari kedatangan dan kepergiannya lagi bersama Sheril.
"Emang Yunita kemana Ven?." tanya Sheril.
"Kurang ngerti Kak cuma bilangnya keluar kota gitu." Jawab Veny sambil menyetir.
Ilham yang sudah berniat untuk mengikutinya seharian itu, langsung menstater motor hasil pinjamannya. Mengikuti
mobil biru didepan dengan menjaga jarak.
"Jadi mereka ini sekongkol." Guman Ilham.
Cukup lama mengelilingi jalan raya, mobil Veny memasuki kawasan mall. Setelah memarkirkan mobil, mereka berdua turun dan masuk ke mall. Tujuan utama Sheril yaitu pergi ke salon kecantikan langganannya.
"Kak kira-kira lama nggak?." tanya Veny yang tidak ingin menemani Sheril di salon.
"Lumayan mungkin sekita 1.5 jam...kenapa?" jawab Sheril dan balik bertanya.
"Ohhh...kalau gitu aku tungguin kakak sambil nonton film ya dibioskop." ucap Veny.
"Ok...tapi kalau entar aku selesai duluan aku telfon kamu ya." Ujar Sheril.
"Ok siap!" jawab Veny lalu keluar dari salon.
Ilham tampak bingung sesaat, mana yang harus diprioritaskan untuk diselidiki. Dia berpikir sejenak, sebelum memutuskan untuk mengikuti Veny. Alasan kenapa dia lebih memilih Veny, karena menurutnya Veny adalah pemain dibalik layar. Sementara Sheril hanyalah suruhan atau penyambung untuk melancarkan rencananya.
Veny membeli minuman dan popcorn sambil menunggu jadwal pemutaran film yang hanya beberapa menit
lagi. Tidak ingin kehilangan incarannya, Ilham juga membeli tiket untuk masuk ke bioskop dan mengintai Veny.
"Ini kan aku udah nonton." Gumannya sambil memegang tiket.
Begitu Veny masuk ke gedung bioskop, Ilham berlari. Didalam gedung bioskop, dia terus memutar matanya mencari posisi duduk Veny.
"Ohhh...disana rupanya si ular betina itu." Gumannya setelah menemukan Veny.
Film mulai diputar, ruangan juga menjadi gelap. Nyaris sama sekali tidak menonton film yang diputar, Ilham hanya fokus pada incarannya yang takut menghilang. Untuk mengusir kejenuhan dan kantuk, Ilham bermain game diponsel.
Waktu berjalan dengan lambat, membuat Ilham mulai jenuh dan mengantuk. Namun dia terus berjaga sampai
akhir. Begitu film selesai, dia pun bangkit dan sekali lagi mencari keberadaan Veny.
"Duhhh mana wes ular betina itu." Guman Ilham sambil clingak-clinguk.
Tak sengaja dia menabrak seorang wanita yang sedang berdampingan dengan pasangannya. Ilham langsung meminta maaf tapi sepertinya pacar wanita itu tidak terima. Bahkan menuduh Ilham sengaja menabrakan diri hanya untuk menyentuhnya. Tidak ingin membuat keributan, Ilham mengalah dan tidak adu mulut.
"Maaf ya mas beneran saya nggak sengaja...saya lagi buru-buru." ucap Ilham dan segera berlari keluar gedung sebelum kesalahan pahaman semakin berlanjut.
Veny sudah menjauh dari Ilham, dia kembali ke salon untuk menemui Sheril.
"Belum selesai kak?" tanya Veny
"Udah kok tinggal cuci muka aja." Jawab Sheril.
"Ohhh...." Guman Veny lalu duduk diruang tunggu depan.
Mungkin sekitar dua puluh menit lamanya, Sheril dan Veny keluar dari salon. Ilham yang mengawasi
dari jarak lumayan dekat, langsung bergerak begitu mereka melangkah pergi dari tempat itu.
Veny dan Sheril mampir sebentar dikafetarian dilantai dua mall, untuk makan siang sebelum lanjut ketempat lainnya.
"Kak habis dari sini mau kemana?!" tanya Veny.
"Janjian sama temen-temen tapi mampir dulu ke suatu tempat." jawab Sheril sambik menyantap makanan dihadapannya.
Setelah selesai makan, Veny dan Sheril kembali berjalan ke eskalator yang menuju lantai dasar mall.
Tak sengaja Veny menoleh ke Ilham, Ilham pun pura-pura menelfon. Veny memiliki firasat kalau dia melihat wajah Ilham sebelumnya. Veny terus mengingat kembali dimana dia melihat Ilham.
Otak Veny akhirnya mengingat dimana dia melihat Ilham sebelumnya, ketika tak sengaja melihat
poster artis dipajang didepan toko yang menjual produk kecantikan.
"Ohhh...dia itu kan yang dibioskop tadi...yang lagi cekcok sama orang." Guman Veny.
Tapi setidaknya sampai saat itu Veny belum menyadari kalau Ilham sedang membuntuti mereka berdua. Dengan
santai mereka berdua kembali ke mobilnya, dan keluar dari mall. Menelusuri jalanan yang cukup lengang menuju sebuah hotel.
"Mampir ke hotel x ya!" Ujar Sheril memberi arahan.
"Rasanya aku ini kok malah jadi supir pribadi." Guman Veny dihati sebelum menjawab Sheril.
"Iya kak." Jawab Veny.
Begitu tiba dihotel yang dimaksud, Sheril langsung keluar dari dalam mobil. Seorang pria berumur berjalan menghampirinya. Pria itu tersenyum pada Sheril sebelum memeluknya. Sheril menerima pelukan itu dengan suka cita dan bahkan terbilang sedikit manja padanya.
Veny yang menyaksikan adegan itu sedikit dibuat kaget, mengernyitkan alisnya dan berguman.
"Kakak ini simpanan apa wanita panggilan alias *****?!" guman Veny dari dalam mobil.
Tidak berpikir kalau harus menunggunya, Veny memberanikan diri untuk bertanya pada Sheril yang sedang merangkul manja didekapan pria berumur tadi.
"Kak ini aku tunggu apa gimana?" tanya Veny dengan nada tidak senang.
Sheril tersenyum genit sebelum menjawab pertanyaan Veny.
"Jemput nanti jam 5 sore ya disini." ucap Sheril dengan berbisik ditelinga Veny.
Veny tidak menjawab, dia memilih berjalan kembali ke mobil dan langsung masuk kedalam. Lalu menghidupkan mesin mobil dan meluncur dengan kencang meninggalkan hotel itu. Ilham yang berprofesi sebagai paparazzi, dengan sigap mengabadikan semua temuannya dengan merekam dari ponsel.
"Wawww punya senjata buat menyerang balik." gumannya sambil tersenyum lebar.
Lalu lanjut mengikuti Veny yang hendak kembali ke kosan untuk mengambil sesuatu. Veny berlari memasuki kos begitu mobil sampai disana. Membuka pintu kamar dan mengambil perlengkapan untuk renang seperti handuk dan baju renang yang dimasukkan dalam tas ransel. Dia kembali mengecek kedalam tas untuk memastikan apakah ada yang ketinggalan atau sudah lengkap.
"Kayaknya udah semua." Guman Veny
Lalu berlari keluar menuju mobil, detik berikutnya mobil itu melaju kencang menuju salah satu sport center yang ada dikota itu.
"Ngapain ular ini kesini?." Guman Ilham.
Sempat ragu sejenak sebelum bertekat untuk masuk mengikutinya. Insting Veny mengatakan padanya
kalau seseorang sedang mengikuti dibelakang. Veny berbalik badan untuk memastikan, spontan Ilham bersembunyi dibalik pot bunga besar.
"Mampus dah aku...itu ular instingnya lumayan juga." Guman Ilham sambil mengelus dadanya.
Veny tidak puas, matanya terus mengamati sekeliling mencarinya. Veny juga kembali ke pintu masuk, curiga seseorang itu sedang bersembunyi. Ilham yang mengintip menjadi waspada, matanya bergelirya mencari
tempat persembunyian yang aman. Matanya tertuju pada tempat ganti pria disebarang lalu melihat kursi panjang yang berada tak jauh dari tempat persembunyiannya saat ini. Sambil berjongkok dia berjalan ke kursi, lalu secepat
kilat melepas jaket hitam yang dipakai dan pura-pura duduk dengan santai sambil memainkan ponsel.
Veny melirik sebentar kearahnya sebelum kembali melangkah dan menghampiri satpam yang berdiri dipintu
masuk.
"Pak maaf apa seseorang yang masuk setelah saya nggak?!"
tanya Veny.
"Yang masuk banyak Mba nggak bisa saya pastikan." Jawabnya yang tampak malas dengan pertanyaan yang diajukan Veny.
Kecewa dengan respon yang diberikan oleh satpam tersebut, Veny pun meninggalkannya. Setelah mendapat kunci loker, dia segera pergi untuk berganti pakaian.
Ilham mengikutinya dengan menjaga jarak agar tidak membuat Veny curiga lagi. Dia langsung menuju tribun dan duduk diatas. Tak lama setelahnya Veny muncul dengan memakai pakaian renang lengkap dengan topi renang untuk menutupi rambut serta kacamata renang.
"Buset...dilihat dosa nggak dilihat eman wes kadung." Guman Ilham.
Seperti biasa Veny melakukan peregangan untuk otot-otot tubuhnya sebelum mencebur kedalam kolam, juga membenarkan baju renangnya.
“Haduhhhhh...iki rek!.” Guman Ilham sekali lagi dalam bahasa jawa.
Lalu mengambil persiapan untuk menceburkan tubuh ke air. Veny cukup lihai, dia berenang dengan banyak gaya, termasuk gaya kupu-kupu. Ilham terpesona melihat keluwesannya dalam berenang. Apalagi ketika Veny keluar dari kolam, lalu naik ketangga menuju papan lompat. Tanpa rasa takut, Veny melompat dari jarak yang cukup
tinggi.
"Ini ular masak atlet renang?!" Gumanya sambil terus mengamati Veny.
Veny rehat sejenak, dia berenang kepinggir kolam dan naik keatas serta melepas kaca mata renangnya. Duduk dipinggir kolam sambil memainkan kakinya di air. Ilham mengabadikannya lewat rekaman di ponsel. Tiba-tiba dari arah samping datang seorang pria dengan badan yang lumayan, dia berjalan mendekatinya. Pria itu hanya mengenakan celana renang ketat, dia tersenyum pada Veny. Namun Veny tidak membalasnya, dia justru terkesan mengabaikannya. Pria itu duduk disamping Veny, mengajaknya bicara. Awalnya Veny menjaga jarak padanya, namun pria itu lihai dalam mengendalikan suasan hati. Tidak mudah baginya untuk membuat Veny merespon dengan hangat. Tapi akhirnya usaha itu membuahkan hasil, mereka mulai dekat dan akrab. Sayang pria bercelana ketat itu kurang sabar. Dia salah memprediksi kepribadian Veny, dia mengira Veny tipikal cewek yang mudah ditangani.
Veny tidak suka dengan perlakuan intim yang dibuat, dia langsung merespon dengan mendorongnya. Pria itu mencoba meraih Veny kembali dan menjelaskan maksudnya. Sayangnya Veny yang sudah memberi
penilaian buruk langsung menamparnya dengan kuat. Lalu berdiri dan berjalan menjauhi pria mesum itu.
Tak terima diperlakukan kasar, pria itu bangkit dan mengejar Veny dibelakang. Dia meraih lengan Veny namun langsung ditepis.Belum menyerah, diakembali meraih tangan Veny, lalu mencengkramnya dengan kuat. Kemabli membujuk Veny dengan tipu muslihat. Veny sempat lengah, dan pria itu mencoba mengambil kesempatan kembali dengan menyentuh pinggang Veny. Lalu mendekatkan tubuhnya tapi mendapat penolakan dari Veny.
Kali ini dia mengunci tubuh Veny dengan melingkarkan tangannya dipinggul, Veny terus berusaha melepaskan diri.
“Dasar cowok mesum...lepasin!” teriak Veny.
Ilham yang geram langsung keluar dari persembunyiannya, dia melompat turun dan belari menghampiri keduanya.
"Mas jangan gitu dong sama cewek!." tegur Ilham sambil meraih lengannya.
Veny melotot kearah Ilham, dia merasa Ilham tidak asing buatnya. Pria bercelana ketat itu tidak terima dengan teguran Ilham. Dia hendak melayangkan tinjunya ke muka Ilham namun langsung ditepis. Detik selanjutnya tangan Ilham memutar pergelangan tangannya dan menguncinya kebelakang.
"Jangan terlalu sombong mas sama badan besarmu!." Ucap Ilham dan mendorong pria itu.
Berikutnya tangan Ilham langsung menyambar tangan Veny dan menyeretnya menjauh dari sana. Veny
terhipnotis beberapa saat sebelum dia tersadar kembali, tangannya langsung melepaskan diri dari cengkeraman Ilham. Akhirnya dia mengingat wajah Ilham yang sedari tadi tersangkut diotak.
"Hehh...kamu kan yang di bioskop itu!" Ujar Veny.
"Ngapain kamu ngikutin aku?!" LanjutVeny.
"Kamu penguntit ya?!"
"Dasar cewek ular ngapain aku nguntitin kamu?!" akhirnya bersuara.
"Terus kamu ngapain disini hah?!" Bentak Veny.
"Buset gagal dah." batin Ilham berguman.
"Ketemuan sama temen." Jawab Ilham asal.
"Modus...dasar penguntit!." Seru Veny yang tidak percaya.
"Urusan kita belum selesai...jangan kemana-mana!." Perintah Veny dan berjalan menuju ruang ganti.
"Lhu kira gua ini robot tinggal setting." Guman Ilham lalu pergi dari tempat itu.
Veny yang sudah berganti pakaian kembali ke tempat tadi, namun tidak menemukan Ilham disana. Mencari kesekitar tapi tetap tidak menemukannya. Takut Ilham menghilang, Veny segera berlari keluar.
"Dasar penguntit!" Omel Veny ketika tidak menemukan Ilham dimanapun.
----
Ditempat lain.
"Mau kemana?." tanya Naura yang melihat Hasan hendak pergi.
"Mau keluar bentar...ketemuan sama Andik dan Ilyas." Jawab Hasan sambil meraih kunci sepeda motor yang
tergeletak dimeja kerja.
"Ikut!" Ujar Naura yang tidak ingin sendirian dikamar.
"Mas naik motor Dek." Hasan menjelaskan.
"Nggak aku ikut." Tetap memaksakan diri.
"Ya udah ayo!" ucap Hasan.
Naura langsung bangkit dari kasur, dia turun dan belari ke kamar mandi untuk cuci muka.
"Dek mas tunggu dibawah ya sekalian mau manasin motor!" Teriak Hasan sebelum keluar dari kamar.
"Iya!" Jawab Naura dari dalam kamar mandi.
Begitu keluar dari kamar mandi, Naura langsung mengganti bajunya. Dia memakai rok payung warna
kuning yang panjangnya diatas lutut, atasan ketat warna hitam dengan panjang tiga perempat, juga dengan sepatu kets warna coklat milo.
"Lama banget...ganti baju apa gimana itu orang." guman Hasan yang sudah siap diatas motornya.
Naura berlari dari dalam rumah menuju ke Hasan yang sudah berada diatas motor. Hasan melotot begitu melihat Naura dengan penampilannya yang sangat cantik. Tapi ada sesuatu yang mengganjal hati Hasan. Dia berpikir sesaat lalu sadar dengan bawahan yang dikenakan istrinya.
"Adek bawahanya itu!" Seru Hasan sambil menunjuk.
"Kenapa ma bawahanku?" Balik bertanya.
"Kita naik motor sayang bukan mobil!." Hasan menjelaskan.
"Terus kenapa?!" tanya Naura sewot.
"Ya Allah...roknya itu lho Dek!"
"Kenapa ada yang salah?"
"Nggak salah Dek tapi nggak sesuai...entar pas bonceng kelihatan pahanya." Hasan memberi penjelasan
dengan hati-hati takut Naura tersinggung.
"Aku pakai celana pendek kok dalamnya!" Naura memprotes.
"Ganti dong sayang sama celana panjang." Pinta Hasan memohon.
"Nggak mau...hanya ada dua pilihan jadi keluar dengan rok ini atau kamu nggak usah kemana-mana!." Tolak Naura dan memberi pilihan.
"Ya udah kita naik mobil aja ya!." Tawar Hasan.
"Nggak mau juga!." tolak Naura ketus.
"Dek ayolah jangan gitu...."
"Sekali aku bilang nggak ya nggak!." Sentak Naura mulai emosi.
"Ya udah ayo naik." Ucap Hasan mengalah.
Sambil merengut Naura mendekat, Hasan tersenyum dan menegur Naura supaya tidak memasang wajah
kecutnya. Naura tetap tak berubah, dia diam tak bersuara. Untuk mengembalikan mood istrinya yang suka naik turun, Hasan menggenggam lengan Naura. Mencondongkan tubuhnya dan mencium kepala Naura serta mengelus ubun-ubun Naura.
"Dek...jangan mudah ngembek, coba belajar nahan emosi ya...." ucap Hasan.
Naura tidak menjawab tapi raut wajahnya langsung kembali cerah. Dia segera naik ke motor dan memeluk
Hasan dari belakang. Naura tersenyum cerah ketika menyandarkan kepalanya dipundak Hasan. Saking senangnya,
tak terasa air mata Naura jatuh terurai.
"Loh kenapa Dek?!" tanya Hasan yang kaget mendapati air mata Naura membasahi bahunya.
"Hmmm...." Guman Naura menanggapi pertanyaan Hasan.
"Adek kenapa...mas minta maaf ya Dek mas janji nggak bakal memaksa lagi kedepannya." ujar Hasan yang mengira dialah yang membuat istrinya menangis.
Naura semakin mempererat pelukannya, kepalanya juga semakin bersandar ke punggung Hasan.
"Ayo hapus dulu air matanya." Pinta Hasan.
Bukannya menghapus air mata, Naura justru sesunggukan. Hasan terpaksa membalik badan dan menghapus air
mata Naura.
”Jadi berangkat nggak?”
Naura mengangguk, dan menghentikan tangisanya. Bik Siti terharu melihat keromantisan yang ditunjukkan keduanya, air matanya juga turun tak terduga.
"Ya Allah jangan pisahkan keduanya dan berikanlah momongan segera." Bik Siti berguman.
Naura sama sekali tidak melepas pelukannya, dia justru semakin erat memeluk Hasan dan menyandarkan
kepalanya dibahu.
"Dek!" Ucap Hasan ketika dilampu merah.
"Hmmm...." Guman Naura.
"Capek Dek bahu mas...dari tadi jadi sandaran." Ucap Hasan menggoda Naura.
Alih-alih marah Naura mencubit perut Hasan.
"Awww sakit...kecil-kecil pintar juga nyubitnya kamu Dek." Imbuhnya.
Sekali lagi Naura mencubit perut Hasan, dan tertawa kecil ketikaHasan merintih kesakitan.
Veny baru saja menginjak rem mobil ketika tak sengaja melihat sepasang kekasih tengah mesra. Veny mengamatinya, begitu menyadari Nopol itu adalah motor Hasan membuatnya melek, dia juga menjadi saksi adegan itu. Dengan sigap dia memotret ketika Hasan membuka kaca helm.
"Lohhh siapa yang dibonceng sama pak Hasan?!" guman Veny yang tidak bisa melihat wajah Naura.
Lampu hijau menyala, Hasan langsung menstater motornya secepat kilat. Dan meninggalkan mobil Veny
yang berada dibelakang. Veny terus memikirkan wanita yang dibonceng Hasan. Dia sama sekali tidak berpikir kalau wanita itu adalah istrinya, bagi Veny wanita itu bukanlah tipe Hasan. Dia juga sebenarnya berpendapat kalau Yunita juga bukan tipe Hasan.
Sementara itu, untuk melanjutkan intaiannya. Ilham kembali ke hotel dimana Sheril diturunkan oleh Veny
dan masuk bersama seorang pria berumur. Agar tidak dicurigai, dia memarkir motor dipinggir jalan tepatnya dekat pedagang PKL. Lalu berjalan kesebrang jalan menuju depan hotel.
Tak begitu lama mobil yang dikendarai Veny datang, melihat mobil warna biru itu datang lagi Ilham langsung pura-pura memungut sesuatu. Begitu mobil melewati dirinya, Ilham langsung mengangkat kepala.
Selanjutnya dia mengikuti mobil Veny yang sedang mengantar Sheril kesebuah club malam. Veny sempat ragu, namun Sheril medesaknya untuk turun dan ikut bersamanya kedalam. Dengan enggan dia turun dari mobil dan berjalan disamping Sheril.
"Tadi sok jual mahal sekarang malah ketempat beginian...dasar ular suka ganti-ganti kulit." Guman Ilham.
Didalam club Sheril memperkenalkan Veny pada beberapa temannya. Veny dengan enggan menyapa mereka,
ditambah lagi suasan ramai membuatnya ingin segera keluar.
"Kak lama nggak disininya?!" Veny bertanya.
"Kenapa...yang pasti nggak bisa diprediksi." Jawab Sheril sambil mengambil rokok.
"Kalau gitu aku balik duluan ya...maaf aku bisanya sampai sini aja." Ujar Veny dan pergi meninggalkan
mereka.
Keinginan untuk segera keluar dari tempat bising dan sesak itu membuat Veny tergesa-gesa, sehingga tak sengaja menabrak seseorang yang tengah asyik menikmati irama musik yang diputar dan terlihat dalam pengaruh minuman alkohol.
"Maaf nggak sengaja." Veny meminta maaf.
Tapi ketika hendak melangkahkan kakinya, pria itu menyambar tangan Veny.
"Kenapa buru-buru cantik kita kan masih punya urusan." Ujarnya mulai berulah.
"Maaf ya tolong lepasin tanganku!." Dengan nada tinggi.
“Santai cantik malamnya kan masih panjang.”
“Lepasin!.” Bentak Veny sambil berusaha menarik tangannya.
"Aku suka sama yang sangar-sangar gini." Balasnya.
Sekali lagi Veny menarik tanganya dari pria itu dan segera pergi sebelum kembali disambar. Tampaknya si pria tertantang untuk menaklukkan Veny, dia mengejar Veny yang sudah berada diluar klub. Sekali lagi dia meraih tangan Veny dari belakang. Lalu menariknya kepelukan.
"Hadehhhh adegan jual mahal lagi...pintar juga ini cewek mancing tarifnya." Guman Ilham yang mengawasi mereka.
Veny terus berusaha memisahkan diri darinya, tapi kekuatan yang dimiliki tidak sebanding dengan kekuatan pria bertato tersebut. Pria itu mencoba menyeret Veny masuk kedalam mobil miliknya. Mendorongnya dengan kuat namun Veny tetap melawan. Dia menendang perutnya sehingga pria itu mundur, lalu secepat mungkin dia
keluar dari dalam mobil. Namun tangannya kembali ditangkap, dan dengan keras membenturkan tubuh Veny kesisi mobil. Lalu mengunci dengan merapatkan badannya, dan mencengkram kedua tangan Veny dengan kedua tangannya.
Ilham yang sedari tadi menikmati adegan yang dia kira hanyalah akting belaka, sekarang berubah manjadi siaga. Dia berlari kearah sana dimana pria itu dengan rakus mencium Veny dengan bibirnya yang berbau alkohol.
"Bruk"
Ilham melayangkan tinju ke muka pria bertato tersebut, dia pun sempat tersungkur namun segera bangkit.
"Sialan...ngapain kamu ikut campur hah!" Bentaknya dan melayangkan pukulan pada Ilham.
Ilham yang sudah berada posisi siaga, dengan mudah menghindar. Perkelahian tak terhindari lagi, mula-mula lawan masih seimbang. Tapi berikutnya teman-temannya berdatangan, dan mulai mengeroyok Ilham. Meski harus ekstra gesit dan waspada, Ilham masih bisa mengatasi mereka. Namun beberapa kali sempat terkena pukulan. Veny panik namun akhirnya terbersit diotaknya untuk berlari kepinggir jalan dan berteriak
minta tolong.
Upayanya cukup berhasil, ada beberapa orang yang rela turun dan berlari kearah Ilham yang sedang dikeroyok. Melihat beberapa orang mulaiberdatangan, pria bertato dan teman-temannya segera meloloskan diri sebelum
menjadi amukan.
"Mas nggak apa-apa?" tanyasalah satu dari mereka.
"Iya pak saya nggak apa-apa." Jawab Ilham.
Setelah beberapa orang itu pergi meninggalkan mereka berdua, Veny baru menyadari kalau yang
menyelamatkannya adalahsi penguntit.
"Kamu!" Suara Veny terkaget.
"Kamu ini beneran penguntit ya!" Lanjutnya.
"Mana ada penguntit nolongin...otak itu dipasang, dasar ular!." Respon Ilham.
"Apa kamu bilang...ular, terus kamu ngapain ngikutin ular?!." Bentak Veny.
Ilham tidak menjawab, dia memilih kembali ke motornya. Dan hilang dari hadapan Veny yang masih
mematung. Beberapa saat berikutnya Veny yang tersadar langsung masuk mobil dan kembali ke kos.
---
Ibu Dewi tengah bicara degan pegawai kasir restoran, ketikaHasan dan Naura masuk. Mereka berdua tidak melihat keberadaan ibu Dewi disana. Sebaliknya ibu Dewi langsung sumringah begitu melihat wajah ganteng Hasan yang manis.
Ibu Dewi langsung memanggil salah satu pelayan restorannya untuk segera menghampiri Hasan dan Naura, namun pelayan itu dilarang berbicara soal dirinya.
"Permisi mau pesan apa Pak?" Ucap pelayan yang diperintah sambil memberikan
daftar menu.
Hasan menerimanya namun langsung memberikan daftar menu itu pada Naura.
"Mas...tapi nanti aja ya hidanginnya soalnya saya masih nunggu yang lain." Pinta Hasan dan menyerahkan daftar menu.
"Iya Pak." Jawab pelayanan dan kembali ke belakang.
Begitu dibelakang, ibu Dewi langsung memanggilnya dengan isyarat. Pelayan itu segeradatang padanya.
"Pesan apa dia?" tanya ibu Dewi.
"Maksudnya mereka berdua Bu!." Pelayan mengoreksi.
"Iya maksud ibu mereka." Jawabnya malas.
"Istrinya pesen soto ayam terus sauminya pesen ayam taliwang sama bihun goreng jawa." Pelayan menjekaskan.
"Ok...buatkan suaminya minuman hangat ya!" Perintah ibu Dewi.
"Yang istri?." tanyapelayanan menambahkan.
"Terserah apa aja." Jawabnya asal.
Sesuai perintah ibu Dewi, pelayan itu kembali dengan membawa minuman hangat untuk Hasan dan Naura.
Hasan yang merasa tidak memesan segera menegur pelayan tersebut. Namun sambil tersenyum pelayan
mengatakan kalau minuman itu cuma-cuma dari restoran.
"Minuman ini cuma-cuma dari restoran kami Pak." Ucapnya lalu kembali kebelakang.
Perasaan Naura mulai tak tenang, dia bahkan tidak menyentuh sama sekali minuman tersebut. Berbeda
dengan Hasan yang langsung menyeruputnya.
"Kok nggak diminum Dek?!" tanya Hasan yang melirik istrinya.
"Hmm..." Jawab Naura berguman.
"Ada apa Sayang?!" kembali bertanya.
"Entahlah...." Jawab Naura yang bingung dengan perasaannya sendiri.
Tak lama setelahnya, Andik dan Ilyas datang. Mereka berdua segera bergabung dengan Hasan dan Naura.
"Maaf Mas lama sek mampir ke temen soalnya." Ilyas menjelaskan.
Hasan mengangguk, lalu dia memanggil pelayan untuk memberikan mereka daftar menu.
Andik dan Ilyas memesan bebek sinjay, dia juga memesankan Ilham menu yang sama. Tak butuh waktu
lama, makanan yang mereka pesan pun datang.
"Mas akun yang dibuat memposting itu akun baru...kayaknya dibuat sebelum
ngeposting juga aku nggak bisa ngirim pertemanan." Ilyas mulai menyampaikan perkembangannya.
"Ohhh gitu...berati jelas kalau dari awal dia memang sengaja, mula-mula datang buat beli terus
datang lagi buat keributan lalu posting dimedsos dengan tujuan bikin citranya istri mas buruk." UjarHasan.
"Mas kenapa nggak kita unggah rekaman yang kita punya itu lalu tandai juga teman-temannya...kalau mas setuju entar aku posting juga." Tambah Ilyas.
"Entar aku posting juga Mas diberandaku...biar jadi viral." Andik menyambung.
"Jangan dulu...kita lihat kelanjutannya, kalau dia memang merasa kita melakukan penipuan harusnya kan
langsung lapor polisi nggak perlu posting gitu...bukannya dia juga bilang mau laporin kita, tapi sampek detik ini nggak ada kelanjutannya kan!." imbuh Hasan menjelaskan.
"Iya bukannya dia koar-koar mau nuntut sebelumnya!" Imbuh Andik.
"Jelas karena dia itu takut kalau sampai lapor polisi dianya yang bakal kena...makanya dia cuma berani di media
sosial aja."
"Kok kalian cuma berdua?." tanya Naura tiba-tiba.
"Masih dalam perjalanan Mba ketua kita." Jawan Andik.
"Ohhh...." Guman Naura.
Baru diomongin ternyata Ilham muncul dengan muka lecet. Dia langsung menarik kursi dan bersiap
untuk melapor.
"Loh kenapa sama mukamu Ham?!" tanya Hasan yang kaget melihat lecet dimuka Ilham.
Begitu juga yang lainnya, mereka serius menatap ke wajah Ilham.
"Biasa anak cowok ya gini." Jawab Ilham acuh.
" Yang benar lho Ham...jangan bikin mas kepikiran." Hasan meminta kejelasan.
"Habis dikeroyok orang Mas." Jawabnya santai.
"Dikeroyok...siapa yang ngeroyok kamu?!" tanya Hasan dengan nada tinggi.
"Biasa lah mas orang klub...ohh iya mas aku punya video bagus buat senjata kita." tiba-tiba teringat dengan hasil
rekamannya.
Seketika tangan Ilham mengambil ponsel dari saku celana, dan memutar video yang dia rekam. Juga menunjukkan beberapa foto hasil jepretannya. Hasan terharu dengan semua perhatian yang diberikan oleh ketiga juniornya itu. Bahkan matanya berkaca-kaca ketika berkata pada ketiganya.
"Simpan dulu video itu...kita gunakan diwaktu yang tepat. Jangan diawal biar nggak kalah." ujar Hasan dengan suara bergetar.
Naura melirik suaminya, melihat matanya yang berkaca-kaca. Dia langsung menggengam telapak tangan Hasan. Dan juga mengusap bahu suaminya.
Hasan menoleh, dia tersenyum dan secara naluriah dia memberikan kecupan hangat dikepala Naura. Jiwa jomblo tiga kunyuk menjerit menyaksikan kemesraan yang dibuat oleh mereka berdua.
Bukan cuma tiga kunyuk, jiwa janda ibu Dewi juga menjerit dibuatnya. Berharap Hasan membagi
perhatian itu juga padanya. Bahkan hasrat yang memuncak, tak sadar membuatnya kehilangan kendali dan rasa malu.
Ibu Dewi berjalan kearah meraka yang sedang menikmati makanannya bersama. Senyumnya mengembang
penuh ketika menyapa Hasan.
"Mas Hasan!." Suaranya manis.
Jantung Naura terasa mahu copot ketika mendengar suara itu memanggil suaminya. Tiga kunyuk juga
dibuat terkaget bahkan sang empunya nama juga terkaget. Seketika dia mendongak dan menoleh ke sumber suara.
"Loh ibu Dewi ..nggak nyangka ya bisa ketemu disini." Ujar Hasan berusaha bersikap sopan.
Emosi Naura terbakar ketika mendapati Hasan bersikap baik pada ibu Dewi. Dia bahkan hendak bangkit dari kursinya, namun Hasan dengan sigap menahan.
"Adek...." Gumannya pada Naura.
Tiga kunyuk mencium aura permusuhan diantara kedua wanita itu. Mereka juga turut menjadi pasukan
Naura dalam melawan ibu Dewi, jika janda itu mulai bertingkah. Naura menahan kekesalannya yang sudah diubun-ubun. Dia duduk dengan wajah penuh siaga dan siap menerkam
kapan saja.
"Hai mba Naura." Sapa ibu Dewi.
"Hai juga Bu...nggak nyangka ya bakal ketemu lagi." Seru Naura.
"Saya yang nggak nyangka kalo mas Hasan sama mba Naura bakal makan di restoran saya." Ucap ibu Dewi membakar api kemarahan.
"Ohhhh jadi ini usaha Ibu...ibu pinter juga ya mengelola bisnis." Ucap Naura yang sebenarnya sudah malas
melihatnya.
"Mba Naura bisa aja...saya cuma nerusin aja Mba,wanita itu harus pintar segalanya lho Mba." Goda ibu Dewi.
"Ohhh harus itu...bukan cuma urusan rumah, bisnis juga iya apalagi soal urusan ranjang...harus piawai bikin suami
greget biar lengket terus." Ujar Naura semakin manasin jiwa jablay ibu Dewi.
Tiga kunyuk nyaris tidak bisa menahan tawa, mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Naura.
Sementara Hasan hanya bisa tertunduk sambil tersenyum geli mendengar perkataan istrinya yang semakin memanas.
"Adek udah makannya?!" tanya Hasan mengambil alih situasi.
"Udah dari tadi." Guman Naura padanya.
"Mas bayar dulu ya." ucap Hasan lalu bangkit dan berjalan menuju kasir.
Ibu Dewi yang sudah kehilangan urat malunya, pergi dari meja Naura dan mengikuti Hasan. Naura hendak melangkah untuk menyusulnya tapi tiga kunyuk menyarankan untuk tetap disana.
"Duduk aja mba Naura... inshaallah mas Hasan nggak ngaruh,
dia pasti punya cara untuk membuatnya jauh." Ilham berkata.
"Tapi janda oversize itu orangnya nggak tahu malu dan juga nekat." Tutur Naura dengan nada kesal.
Tiga kunyuk tertawa mendengar sebutan yang diberikan Naura pada ibu Dewi.
Ibu Dewi tidak memperbolehkan Hasan membayar makanan yang mereka pesan, namun dengan tegas
Hasan menolaknya. Dan langsung pergi meninggalkan ibu Dewi yang masih melihatnya dengan penuh perhatian.
"Aku harus memikirkan cara buat ibu ini menghilang." Batin Hasan berguman.
Mereka langsung keluar dari restoran, dan Naura langsung berjalan dengan cepat dan sudah berada jauh didepan. Dia berjalan tanpa menoleh dan terus fokus kedepan sampai mencapai motor Hasan.
"Ayo cepat jalannya...jangan lelet keburu hujan nih!." Teriak Naura dengan nada kesal dan muka kecut.
Tiga kunyuk tertawa melihat Hasan dimarahi oleh Naura, mereka juga menggoda Hasan.
“Makanya Mas jangan asal baik sama orang apalagi sama kaum hawa!.” Ledek Ilham.
"Kalian tinggal nunggu waktu aja sampai mengalami apa yang mas alami." Guman Hasan pada mereka bertiga.
Hasan mempercepat langkahnya dan begitu berdiri dihadapan Naura. Dia langsung mengambil helm dan membantu Naura memasang helm itu.
"Jangan cepet marah dong Dek...kayaknya belum satu hari mas yang ngasih tahu sekarang uda ilang."
Tutur Hasan.
"Kamu itu nggak bisa ngira-ngira kapan harus baik sama orang...itu jadinya kalau kebaikan nggak mengenal
tempat." Tegur Naura kesal.
"Iya mas bakal merubahnya."
"Telat!" Ujar Naura sambil naik ke motor.
Sebelum meninggalkan tiga kunyuk, Hasan pamit pada mereka. Disepanjang jalan Naura terus mengomel pada Hasan. Dengan patuh Hasan mendengarkan tanpa menyela sedikitpun.
Begitu Hasan memarkir sepeda motor digarasi, Naura segera turun. Dia berjalan dengan cepat melewati
taman samping rumah dan mengabaikan panggilan Hasan dibelakang. Hasan segera berlari menyusulnya, meraih pergelangan tangan Naura dan memintanya berbalik badan.
“Adek coba lihat ke mas dulu.” Pinta Hasan memohon.
“Lepasin.” Ucap Naura datar.
Lalu menarik tangannya dari genggaman Hasan dan kembali melangkah namun segera ditahan. Hujan turun begitu tangan Hasan meraih kembali tangan Naura. Mereka terdiam sesaat dan saling menatap sebelum Hasan menarik Naura pada dirinya. Lalu melingkarkan tangan kanannya dipinggang Naura, matanya menatap mata Naura
lekat-lekat.
“Jangan pergi...biarkan hujan turun.” Kata Hasan pelan.
“Tapi kita bakal kehujanan.” Seru Naura.
“bukankah ini jarang terjadi...malah mas menginginkannya.”
Naura tertunduk tak suara lagi, tangan Hasan segera mengangkat dagu Naura. Tersenyum lembut dan mulai bergerak mendekat. Naura menutup matanya ketika bibir Hasan nyaris tak berjarak, lalu mendarat dengan lembut dibibirnya yang telah basah oleh air hujan. Naura melingkarkan tangannya dileher Hasan sambil berjinjit untuk menyambutnya.
Keduanya terus saling menyatu dibawah derasnya air hujan yang membasahi tubuh mereka,
sementara dingin tubuhnya seolah memberi hasrat lebih.