NovelToon NovelToon
Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Anak Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:110.8k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang

Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.

Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Hanya Tentang Kekuatan

Lan Suya menepuk meja ringan, seolah baru saja mengambil keputusan penting.

“Baik,” katanya sambil berdiri. “Makan siang dulu. Kalau tidak, kau ini bisa pingsan di dalam restoran.”

Gao Rui terkekeh kecil.

“Bibi berlebihan…”

“Tidak berlebihan,” potong Lan Suya cepat. “Aku tahu betul bagaimana Tetua Peng Bei melatihmu. Kalau kau belum makan, perutmu pasti sudah berteriak sejak tadi.”

Ia bertepuk tangan dua kali. Tidak lama kemudian, pintu ruangan terbuka dan seorang pelayan masuk dengan sikap hormat.

“Siapkan makan siang,” perintah Lan Suya. “Menu ringan tapi bergizi. Sup hangat, daging kukus, dan sayuran segar. Tambahkan bubur hangat juga.”

“Baik, Nyonya Ya.”

Pelayan itu mundur dengan cepat. Gao Rui duduk di kursi yang ditarikkan Lan Suya, kakinya menggantung ringan karena kursi itu masih sedikit terlalu tinggi untuk tubuhnya. Ia menoleh ke sekeliling, melirik tumpukan kertas yang hampir menutupi separuh ruangan.

“Bibi… pekerjaanmu banyak sekali,” gumamnya.

Lan Suya melirik gunungan dokumen itu, lalu mendengus kecil.

“Kalau tidak ada yang mengurus Harta Langit, gurumu bisa marah nantinya.”

Ia lalu duduk berhadapan dengan Gao Rui. Untuk beberapa saat, keheningan ringan menyelimuti mereka, hanya diisi suara samar dari luar restoran.

Tak lama kemudian, makanan dihidangkan. Aroma sup hangat langsung memenuhi ruangan. Gao Rui menatap meja dengan mata berbinar.

“Wah…”

“Makan,” kata Lan Suya singkat, tapi nadanya lembut.

Mereka pun mulai makan siang bersama. Awalnya hanya suara sendok dan mangkuk yang terdengar. Namun setelah beberapa suapan, Lan Suya melirik Gao Rui dari balik mangkuknya.

“Jadi,” katanya santai, “bagaimana latihanmu kemarin?”

Mata Gao Rui langsung berbinar lebih terang. Ia menelan makanannya lebih dulu sebelum mulai bercerita.

“Kemarin aku tidak berlatih Bibi. Aku pergi ke Kota Yanjing. Kota itu besar sekali, Bibi. Jalannya lebar, tokonya banyak, dan orang-orangnya… ramai sekali. Aku sampai bingung harus melihat ke mana dulu.”

Lan Suya tersenyum tipis.

“Oh jadi kau pergi ke sana. Itu pertama kalinya kau ke kota besar ya?”

Gao Rui mengangguk cepat. Ia lalu mulai menceritakan pengalamannya. Tentang suasana kota, tentang makanan khas yang ia cicipi, tentang keramaian pasar, dan betapa berbeda rasanya dibanding wilayah sekte yang lebih tenang. Lan Suya mendengarkan dengan tenang, sesekali mengangguk atau tersenyum kecil.

Namun di tengah cerita itu, ekspresi Gao Rui tiba-tiba berubah sedikit ragu. Ia meletakkan sendoknya, lalu menunduk sedikit.

“Bibi…” katanya pelan.

Lan Suya langsung menyadari perubahan itu.

“Hm?”

“Aku… mau minta maaf,” lanjut Gao Rui. “Waktu di Yanjing, aku mengambil persediaan ginseng hitam di cabang Toko Harta Langit di sana. Saat itu aku benar-benar membutuhkannya.”

Ia mengangkat kepala, wajahnya terlihat sungguh-sungguh.

“Aku tahu itu barang penting. Tapi....”

Untuk sesaat, Lan Suya terdiam. Lalu… ia tertawa kecil.

“Hahaha…”

Gao Rui terkejut.

“Eh?”

Lan Suya menutup mulutnya dengan punggung tangan, tawanya ringan namun tulus.

“Rui’er, kau ini… memikirkan hal sekecil itu?”

Ia menggeleng pelan.

“Tidak masalah. Sama sekali bukan masalah besar.”

“Benarkah?” tanya Gao Rui ragu.

“Bahkan jika kau mengambil semua persediaan ginseng di toko itu,” lanjut Lan Suya santai, “aku juga tidak akan mempermasalahkannya.”

Gao Rui membelalak.

“S-semuanya?”

Lan Suya mengangguk ringan.

“Lagipula,” katanya sambil menatapnya dengan senyum bermakna, “kau juga salah satu pemilik Harta Langit. Itu jelas hanya urusan kecil.”

Gao Rui terdiam, lalu tersenyum malu-malu.

“…Terima kasih Bibi.”

“Jangan lupa,” kata Lan Suya sambil mendengus kecil. “Kau harus juga mengingat hal-hal seperti kekayaan dan kepemilikan.”

Mereka kembali makan dengan suasana yang jauh lebih santai. Setelah beberapa saat, Lan Suya kembali membuka percakapan.

“Oh ya,” katanya, “bagaimana kabar gurumu?”

Gao Rui mengangkat kepala.

“Entahlah. Tapi…” ia menggeleng pelan. “Aku tidak tahu kapan ia akan kembali. Ia pergi tanpa mengatakan waktunya.”

Lan Suya mengangguk pelan.

“Begitu ya…”

Nada suaranya datar, namun ada sedikit pemikiran di baliknya. Ia tidak bertanya lebih jauh. Sebagai pengelola Harta Langit, ia tahu bahwa beberapa orang memang tidak bisa dijadwalkan kepulangannya.

Percakapan mereka kemudian mengalir ringan. Tentang makanan, tentang restoran, tentang hal-hal sepele yang membuat waktu berlalu tanpa terasa.

Setelah makan siang selesai, Gao Rui mengeluarkan sebuah bungkusan dari cincin ruangnya.

“Bibi,” katanya sambil menyodorkannya. “Ini oleh-oleh dari Kota Yanjing.”

Lan Suya tampak terkejut.

“Oleh-oleh?”

“Iya,” jawab Gao Rui sambil tersenyum. “Makanan ringan khas sana. Aku pikir… Bibi mungkin suka.”

Lan Suya menerima bungkusan itu dengan kedua tangan. Ia membukanya sedikit, mencium aromanya, lalu tersenyum lebar.

“Terima kasih,” katanya tulus. “Aku senang.”

Melihat ekspresi itu, Gao Rui ikut tersenyum puas.

Tak lama kemudian, Gao Rui berdiri dari kursinya.

“Kalau begitu… aku pulang dulu, Bibi.”

Lan Suya mengangguk.

“Hati-hati di jalan.”

Namun saat Gao Rui melangkah menuju pintu, Lan Suya tiba-tiba memanggilnya.

“Tunggu.”

Ia berdiri dan berjalan ke arah samping ruangan. Tak lama kemudian, ia kembali dengan sebuah kotak makanan yang terikat rapi.

“Ini,” katanya sambil menyodorkannya. “Bekal makan malammu.”

Gao Rui terkejut.

“Eh? Tidak perlu, Bibi. Aku bisa memasak di rumah.”

“Ambil,” kata Lan Suya tegas.

“Benar-benar tidak...”

“Aku bilang ambil.”

Nada suaranya tidak keras, tapi tidak memberi ruang penolakan. Gao Rui pun akhirnya menerima kotak itu dengan kedua tangan.

“…Terima kasih,” katanya kecil.

Lan Suya tersenyum puas.

“Pergilah. Hati-hati di jalan.”

Gao Rui mengangguk, lalu melangkah pergi dengan wajah cerah, membawa bekal makan malam dan kehangatan yang tidak tertulis di wajahnya.

Di balik pintu yang tertutup, Lan Suya menatap sesaat ke arah tempat bocah itu menghilang.

“…Ternyata dia benar-benar masih bocah,” gumamnya pelan.

Namun senyum di bibirnya belum juga hilang.

...*******...

Malam akhirnya tiba dengan tenang. Langit di atas wilayah sekte telah berubah gelap, hanya menyisakan taburan bintang yang berkilau redup. Angin malam bertiup pelan, membawa aroma tanah dan dedaunan basah. Di dalam kamar sederhana miliknya, Gao Rui telah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur kayu, selimut tipis menutupi separuh badannya.

Kotak bekal dari Lan Suya sudah kosong. Perutnya terasa hangat dan nyaman.

Ia menatap langit-langit kamar dengan mata terbuka, belum juga ingin terpejam. Keheningan malam justru membuat pikirannya berkelana.

Ingatan beberapa hari terakhir terlintas satu per satu, seolah diputar ulang tanpa diminta. Perjalanan ke Kota Yanjing.

Keramaian jalanan, suara pedagang yang saling bersahutan, aroma makanan yang asing namun menggoda. Wajah-wajah orang yang tak ia kenal, tapi masing-masing sibuk dengan hidup mereka sendiri. Untuk pertama kalinya, ia merasa dunia begitu luas. Jauh lebih luas dari halaman latihan sekte dan jalur gunung yang biasa ia lalui.

Lalu teringat saat ia menolong orang-orang sakit. Wajah pucat yang semula penuh rasa sakit, berubah menjadi lega setelah pengobatan. Tatapan penuh terima kasih. Ada perasaan hangat yang aneh di dadanya saat itu, perasaan yang tidak pernah ia rasakan ketika berhasil menyempurnakan satu jurus atau menembus satu tingkat kultivasi.

Kemudian oleh-oleh. Ia teringat ekspresi terkejut tetua dan patriak, juga senyum Lan Suya saat menerima bungkusan darinya. Itu bukan harta berharga, bukan pil langka atau senjata kuat, hanya makanan ringan dari kota lain. Namun reaksi mereka membuat Gao Rui merasa… puas. Benar-benar puas.

“Hmm…” gumamnya pelan.

Tangannya diletakkan di atas dada, merasakan napasnya sendiri yang teratur. Selama ini, hidupnya dipenuhi latihan, disiplin, dan tujuan yang jelas, menjadi kuat. Menjadi pendekar yang tidak kalah oleh siapa pun. Membawa nama sekte ke puncak kejayaan.

Namun beberapa hari ini memberinya perasaan yang berbeda. Ia mulai berpikir… mungkin hidup tidak melulu tentang bertarung dan membunuh. Bukan hanya tentang siapa yang lebih kuat, siapa yang lebih cepat, siapa yang bertahan hingga akhir.

Ada juga hal-hal kecil. Makan siang bersama seseorang tanpa membicarakan latihan. Mendengarkan cerita, lalu menceritakan pengalaman sendiri. Memberi sesuatu, meski nilainya sederhana, dan melihat orang lain tersenyum karenanya. Menyenangkan diri sendiri dan… menyenangkan orang lain.

Pikiran itu terasa aneh, bahkan sedikit bertentangan dengan ajaran keras yang selama ini ia terima. Namun anehnya, Gao Rui tidak merasa salah memikirkannya. Ia justru merasa… tenang.

“Guru…” gumamnya lirih di kegelapan.

Ia tidak tahu kapan gurunya akan kembali. Tidak tahu apa yang akan menantinya setelah ini. Jalan hidupnya masih panjang, dan pertarungan pasti masih akan datang. Lebih keras, lebih kejam. Namun malam ini, untuk sesaat saja, ia merasa hidupnya bukan hanya tentang darah dan pedang.

Kelopak matanya perlahan menjadi berat. Dengan napas yang kian teratur, Gao Rui akhirnya terlelap, membawa serta pikiran-pikiran sederhana namun hangat itu ke dalam mimpinya. sebuah malam tenang sebelum jalan panjang yang akan kembali menuntutnya.

1
Zainal Arifin
joooooooosssss 💪💪💪
Kadek Erdiyasa
semangat thor💪💪 perbanyak lgi upnya mkin seru critanya ni
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagi 🔁🔁
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Eko Lana
mantap ayooo tunjukkan kemampuan mu Gao Rui
Andi Heryadi
ayo Gao Rui basmi semua siluman,biar mereka tahu kehebatanmu.
Tosari Agung
persis seperti gurunya chang er muridmu berkembang
Mamat Stone
🐲💥
Mamat Stone
Pria sejati 😈💥
Mamat Stone
🔪💥
Mamat Stone
👊💥
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Tongue/
Mamat Stone
/Drool/
Mamat Stone
💥
Mamat Stone
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!