NovelToon NovelToon
TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Psikopat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: PATUH YANG MENIPU

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden sutra yang mahal, namun Ghea merasakannya sebagai jeruji cahaya yang dingin. Ia terbangun masih dalam posisi yang sama seperti semalam; terkurung di antara lengan kekar Adrian. Pria itu sudah terjaga, menatapnya dengan binar kepemilikan yang membuat Ghea ingin berteriak, namun ia menahannya.

Ghea menarik napas panjang. Kejadian semalam, di mana jantungnya berkhianat, memberinya pelajaran berharga. Melawan Adrian dengan emosi hanya akan membuatnya semakin terjepit. Jika ia ingin menang, ia harus menjadi aktris yang lebih baik daripada pria ini.

"Selamat pagi, Sayang," bisik Adrian. Suaranya serak khas orang bangun tidur, terdengar sangat intim.

Ghea tidak menjauh. Ia justru memaksakan sebuah senyuman tipis—senyuman pertama yang ia berikan pada Adrian sejak ia terbangun dari koma. "Pagi, Adrian."

Adrian tampak sedikit terkejut. Matanya menyipit, mencoba mencari kebohongan di wajah Ghea, namun Ghea tetap menjaga ekspresinya tetap tenang dan sayu.

"Kau tampak lebih tenang hari ini," ujar Adrian sambil mengusap pipi Ghea.

"Aku pikir... tidak ada gunanya aku terus marah," ucap Ghea pelan, suaranya sengaja dibuat terdengar pasrah. "Kau benar. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Jika dunia menganggapku mati, maka hanya kau yang aku miliki. Aku hanya ingin mencoba... beradaptasi."

Adrian terdiam sejenak, lalu tawa kecil yang puas keluar dari bibirnya. Ia menarik Ghea lebih dekat dan mencium keningnya lama. "Keputusan yang sangat cerdas, Ghea. Aku tahu detektifku ini akan segera memahami posisinya."

Dua jam kemudian, Ghea sudah duduk di kursi roda di ruang tengah. Adrian sedang sibuk dengan laptopnya di meja kerja tak jauh dari sana. Ghea menyadari bahwa ini adalah saat yang tepat untuk melancarkan taktik pertamanya.

"Adrian?" panggil Ghea.

Pria itu mendongak. "Iya, Sayang?"

"Aku bosan jika hanya diam dan menatap dinding. Bisakah aku mendapatkan sesuatu untuk dibaca? Kepalaku butuh sesuatu untuk dipikirkan agar ingatanku mungkin bisa terangsang kembali," pinta Ghea dengan nada memohon yang lembut.

Adrian menutup laptopnya. Ia tampak menimbang-nimbang. "Tentu. Aku punya perpustakaan pribadi yang cukup lengkap. Apa yang ingin kau baca? Novel romantis? Atau mungkin sejarah?"

Ghea menggeleng. "Aku ingin tahu siapa diriku dulu. Kau bilang aku detektif. Mungkin buku tentang kriminologi atau psikologi bisa membantuku mengingat cara kerjaku dulu."

Sebuah seringai aneh muncul di wajah Adrian. Ia bangkit dan berjalan menuju rak buku besar yang menutupi satu sisi dinding ruang tengah. Ia mengambil beberapa buku tebal dan meletakkannya di pangkuan Ghea.

"Ini," ucap Adrian.

Ghea melihat judul-judul buku itu: Anatomi Pikiran Psikopat, Psikologi Kriminalitas, dan Seni Manipulasi.

"Kau ingin ingat cara kerjamu dulu? Bacalah ini," Adrian berbisik, wajahnya sejajar dengan Ghea. "Buku-buku ini akan mengajarimu bagaimana seorang monster berpikir. Dulu, kau sangat terobsesi menangkap orang-orang seperti yang ada di buku ini. Tapi sekarang, aku ingin kau membacanya agar kau tahu betapa sia-sianya usahamu dulu."

Ghea merasakan sindiran tajam di balik kata-kata itu. Adrian sedang mengejeknya. Dia memberinya buku tentang penjahat seolah ingin mengatakan: Inilah aku, dan kau tidak akan pernah bisa menangkapku.

"Terima kasih," jawab Ghea singkat, menyembunyikan amarahnya di balik tundukan kepala.

Sepanjang siang, Ghea tenggelam dalam buku-buku itu. Namun, ia tidak benar-benar membacanya untuk belajar psikologi. Ia menggunakan buku-buku tebal itu sebagai tameng. Di balik lembaran buku, matanya terus bergerak memantau pergerakan Adrian dan Bi Inah.

Ia mencatat pola waktu Adrian. Jam 10 pagi, Adrian biasanya menerima telepon rahasia di balkon. Jam 12 siang, Adrian akan makan bersama Ghea. Dan yang paling penting, jam 2 siang, Adrian akan masuk ke ruang kerjanya yang terkunci rapat selama satu jam.

Ghea mulai membolak-balik halaman buku Psikologi Kriminal. Di sana, ia menemukan coretan tangan di pinggir halaman. Tulisan tangannya sangat rapi, namun isinya mengerikan.

‘Keadilan bukan ditemukan di ruang sidang, tapi di ujung belati yang tepat.’

Ghea yakin itu adalah tulisan tangan Adrian. Pria ini bukan sekadar pembunuh; dia adalah seseorang yang merasa dirinya adalah hakim. Insting detektif Ghea berdenyut kencang. Ia mulai menyadari bahwa kasus yang ia tangani dulu kemungkinan besar adalah kasus pembunuhan vigilante—seseorang yang membunuh penjahat lain.

Saat Ghea sedang asyik meneliti buku, Adrian mendekat dan duduk di lengan kursi rodanya.

"Bagaimana bukunya? Menarik?"

"Sangat," jawab Ghea. Ia mendongak, menatap Adrian dengan tatapan yang sengaja dibuat kagum. "Aku tidak menyangka kau punya koleksi seperti ini. Kau tampak sangat memahami sisi gelap manusia."

Adrian mengusap leher Ghea, jarinya menelusuri urat nadi Ghea yang berdenyut. "Aku harus memahami kegelapan untuk bisa melindungi cahayaku, Ghea. Dan cahayaku adalah kau."

Ghea memaksakan diri untuk tidak bergidik. "Adrian, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Apa saja."

"Kenapa kau begitu yakin aku tidak akan pernah bisa mengingat semuanya sendirian? Kau seolah... sangat tenang melihatku mencari tahu tentang masa laluku."

Adrian tersenyum misterius. Ia mengambil buku dari tangan Ghea dan meletakkannya kembali di meja. "Karena ingatan adalah hal yang rapuh, Ghea. Aku bisa memberimu seribu bukti bahwa kita saling mencintai, dan otakmu yang kosong itu akan terpaksa menerimanya sebagai kebenaran. Kau tidak sedang mencari ingatanmu, kau sedang membangun ingatan baru denganku. Dan aku pastikan, ingatan baru itu akan jauh lebih indah daripada kenyataan pahit yang kau miliki dulu."

Ghea terdiam. Kalimat Adrian adalah ancaman terselubung. Pria ini sedang melakukan gaslighting—mencoba membuat Ghea meragukan instingnya sendiri.

"Aku lelah," ucap Ghea tiba-tiba. "Aku ingin minum teh di taman belakang. Bolehkah?"

Adrian melihat jam tangannya. "Aku ada urusan sebentar di ruang kerja. Aku akan minta Bi Inah mengantarmu ke teras belakang. Tapi ingat, Ghea... jangan mencoba bicara hal yang aneh-aneh padanya. Aku bisa melihatmu dari sini," Adrian menunjuk matanya sendiri, lalu menunjuk ke arah kamera CCTV di sudut ruangan.

"Aku hanya ingin menghirup udara segar," jawab Ghea pelan.

Saat Adrian masuk ke ruang kerjanya dan terdengar suara kunci yang berputar, Ghea mengembuskan napas lega. Ia melihat Bi Inah keluar dari dapur dengan nampan teh.

Ini adalah kesempatannya.

Bi Inah mendekat dengan wajah yang masih kaku karena ketakutan. Saat wanita tua itu meletakkan cangkir teh di meja kecil di samping Ghea, Ghea sengaja menyenggol cangkir itu hingga teh panas tumpah mengenai tangan Bi Inah dan lantai.

"Astaga! Maafkan aku, Bi!" seru Ghea dengan suara yang cukup keras agar terdengar di CCTV, seolah itu murni kecelakaan.

Ghea segera meraih serbet dan memegang tangan Bi Inah, berpura-pura membersihkannya. Di bawah meja, tersembunyi dari sudut pandang kamera, Ghea meremas tangan Bi Inah dengan kuat, menatap matanya dengan tajam.

"Bi, tolong aku," bisik Ghea sangat lirih, nyaris hanya gerakan bibir. "Satu kata saja. Di mana dia menyimpan barang-udangku?"

Bi Inah gemetar hebat. Matanya melirik ke arah kamera CCTV di atas mereka, lalu ke arah pintu ruang kerja Adrian. Ia tampak sangat bimbang antara rasa kasihan dan rasa takut akan nyawanya sendiri.

Ghea terus menatapnya, memberikan tekanan pada tangannya. "Tolong..."

Bibir Bi Inah bergetar. Dengan suara yang sangat halus, seperti desiran angin, ia mengucapkan satu kata sebelum menarik tangannya dengan kasar.

"...Gudang."

Setelah itu, Bi Inah bergegas pergi membawa nampan yang kotor, meninggalkan Ghea yang terpaku di kursinya.

Gudang.

Ghea menatap cangkir tehnya yang kosong. Targetnya sekarang jelas. Di gudang itu, ia yakin Adrian menyembunyikan sisa-sisa kehidupannya yang lama. Sepatu botnya, tasnya, atau mungkin bukti yang bisa memulihkan ingatannya sepenuhnya.

Ia melirik ke arah kamera CCTV dan tersenyum tipis—sebuah senyum yang nampak manis untuk pengawasan Adrian, namun di dalamnya tersimpan belati yang siap menusuk.

Permainan baru saja dimulai, Adrian. Dan kali ini, sang detektif mulai berjalan di dalam gelap.

1
sun
sinopsisnya bagus thor,tapi kalau untuk penulisannya kurang bagus,karena banyak kata yang hilang dan tidak nyambung.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....
Leebit: makasih ya atas komentarnya. sya usahakan bab 2 lebih baik lagi😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!