Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.
Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.
Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.
"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: PERMULAAN YANG SALAH
Detik itu terasa panjang. Sangat panjang. Aku bisa mendengar suara jam dinding berdetak, suara Kinan yang masih mengunyah dengan tenang, dan suara napasku sendiri yang tiba-tiba jadi berat.
Maya masih berdiri di pintu, tangannya masih memegang gagang pintu seperti butuh penyangga. Tas kerjanya jatuh dengan suara "blup" ke lantai, tapi dia tidak peduli. Matanya tetap menatapku atau tepatnya, menembusku dengan campuran rasa tidak percaya dan sesuatu yang lebih pahit.
"Ma, ini Om Raka," kata Kinan dengan polos, menghancurkan ketegangan yang hampir bisa diraba di udara. "Dia masakin Adek makan."
Maya menoleh ke Kinan, dan untuk sepersekian detik, wajahnya melunak. Tapi ketika kembali menatapku, dinding itu kembali berdiri. "Kinan, masuk kamar dulu. Ganti baju, nanti Mama mandiin."
"Tapi Adek belum habis..."
"Sekarang, Kinan."
Nada suaranya tidak tinggi, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat Kinan menurut tanpa protes. Anak itu melirikku sekali lagi sebelum berjalan ke kamar, meninggalkan kami berdua di ruang tamu yang tiba-tiba terasa sempit.
Setelah pintu kamar tertutup, Maya mengambil napas dalam-dalam. Aku melihat tangannya gemetar sedikit sebelum dia menyembunyikannya di belakang punggung.
"Kenapa?" satu kata itu diucapkan dengan suara datar, tapi aku bisa mendengar seribu pertanyaan di baliknya. Kenapa sekarang? Kenapa setelah delapan tahun? Kenapa tanpa kabar? Kenapa ketika segalanya sudah berantakan?
"Aku..." aku mencari kata-kata, tapi otakku kosong. "Aku dengar... tentang kamu. Dari Ibu."
"Dengar apa?" dia melangkah mendekat, tapi bukan mendekat dalam arti ingin memeluk. Ini seperti pendekatan investigatif. "Dengar kalau aku cerai? Dengar kalau aku berantakan? Dengar kalau hidupku sekarang jadi bahan obrolan keluarga?"
"Bukan begitu, Maya"
"Lalu bagaimana?" potongnya, suaranya mulai retak. "Kamu hilang delapan tahun, Ra. Delapan tahun tanpa satu telepon pun. Tanpa pesan. Tanpa kabar. Dan tiba-tiba kamu muncul di rumahku, masakin anakku, bertingkah seperti... seperti..."
Dia berhenti, seperti kehabisan kata. Aku melihat matanya berkaca-kaca, tapi dia mengedip-ngedipkannya dengan cepat.
"Seperti keluarga?" aku menyelesaikan kalimatnya dengan suara pelan.
Maya tertawa, tapi itu tawa tanpa kebahagiaan. "Keluarga? Kamu pikir kita masih keluarga? Kamu pikir setelah delapan tahun diam, kita masih bisa seperti dulu?"
Aku ingin membantah. Ingin mengatakan bahwa bagiku, dia selalu keluarga. Bahwa lima tahun itu tidak mengubah apa pun di hatiku. Tapi kata-kata itu terasa palsu bahkan di pikiranku sendiri. Karena kalau memang tidak berubah, kenapa aku butuh waktu lima tahun untuk kembali?
"Maaf," itulah yang akhirnya keluar dari mulutku. Dua kata yang terlalu sederhana untuk mengatasi lima tahun kepergian.
Maya memandangiku lama. Lalu dia menoleh ke meja makan, ke piring berisi anggur yang masih terbungkus plastik. Ekspresinya berubah dari marah menjadi sesuatu yang mirip dengan kesedihan yang dalam.
"Anggur," ucapnya pelan. "Kamu masih ingat."
"Tentu saja aku ingat."
"Kamu ingat aku benci anggur."
"Bukan benci. Menurutmu anggur rasanya seperti telur ikan yang ketuaan," koreksiku, dan untuk pertama kalinya sejak tadi, aku melihat sudut bibirnya berkedut seperti ingin tersenyum tapi tidak punya energi.
Dia menghela napas, lalu berjalan ke sofa dan duduk. Tubuhnya seperti boneka yang talinya putus. "Duduk."
Aku menurut. Duduk di kursi di seberangnya, menjaga jarak yang aku rasa dia butuhkan.
"Berapa lama kamu di sini?" tanyanya tanpa menatapku, matanya melihat ke dinding kosong.
"Belum tentu. Tergantung..."
"Tergantung apa?"
Aku. Aku hampir mengatakannya. Tergantung apakah kamu mau aku di sini. Tergantung apakah kamu butuh bantuan. Tergantung apakah kita bisa memperbaiki apa yang sudah rusak.
"Tergantung situasi," akhirnya aku berkata diplomatis.
Maya mengangguk pelan, seperti menerima jawaban itu tanpa benar-benar mempercayainya. "Kamu lihat sendiri 'situasi'-nya," ucapnya dengan nada datar. "Aku kerja dari pagi sampai sore. Kinan kadang ditinggal sama tetangga, kadang sendirian kalau Bima pulang lebih awal. Rangga... suamiku, mantan suamiku... dia di Jakarta. Katanya cari kerja. Tapi sudah delapan bulan tidak kirim uang, tidak telepon, tidak kabar."
Delapan bulan. Lebih lama dari yang kudengar dari Ibu.
"Kenapa tidak...?"
"Lapor polisi? Minta cerai resmi?" Maya menyelesaikan kalimatku. "Sudah. Prosesnya masih berjalan. Tapi hukum di negara ini tidak ramah pada perempuan cerai dengan dua anak, Raka. Terutama ketika suaminya tidak punya aset jelas."
Dia menatap tangannya sendiri. Aku melihat ada lingkaran hitam di bawah kukunya bekas tinta yang tidak hilang. "Aku kerja di percetakan sekarang. Bukan guru TK lagi. Gajinya cukup untuk bayar listrik, air, dan makan sehari-hari. Tidak cukup untuk bayar pengacara yang bagus."
"Kamu bisa minta bantuan keluarga"
"Jangan," potongnya tajam. "Jangan mulai dengan keluarga. Kamu tahu bagaimana keluargaku, keluarga kita memandang perceraian. Menurut mereka, aku yang gagal. Aku yang tidak bisa mempertahankan rumah tangga. Aku yang..."
Dia berhenti, menelan ludah. "Sudah. Aku tidak butuh belas kasihan mereka. Apalagi dari kamu."
Kalimat terakhir itu seperti tamparan. Tapi aku tahu dia tidak bermaksud kejam. Dia hanya terluka. Dan orang terluka sering menyakiti agar tidak disakiti lagi.
"Kinan bilang kamu capek," kataku, mengubah topik.
Maya tertawa pendek. "Capek? Itu kata yang terlalu ringan. Tapi iya, aku capek. Capek bangun jam empat pagi, menyiapkan sarapan untuk Bima, menyiapkan bekal untuk Kinan yang dititipkan ke tetangga, kerja dari jam tujuh sampai jam empat, pulang, ambil Kinan, masak, cuci baju, temani anak-anak belajar, tidur jam sebelas... lalu ulang lagi besoknya."
Dia menatapku langsung untuk pertama kalinya sejak percakapan ini dimulai. "Dan di tengah semua itu, aku harus berurusan dengan perasaan bersalah karena tidak bisa menjadi ibu yang cukup baik, istri yang cukup baik, anak yang cukup baik."
"Aku bisa bantu," kata-kata itu keluar sebelum sempat kupikirkan.
Maya memandangiku dengan ekspresi aneh antara terharu dan tidak percaya. "Bantu? Kamu? Raka, kamu tidak pernah bisa memasak air tanpa membakar panci. Kamu lupa bawa kunci sendiri. Kamu..."
"Orang bisa berubah, Maya," potongku. "Delapan tahun itu cukup lama untuk belajar banyak hal. Aku bisa masak sekarang tadi Kinan bilang enak. Aku bisa urus rumah. Aku punya tabungan, aku bisa bantu secara finansial"
"Tidak."
"Tapi"
"Tidak, Raka." Dia berdiri, mendekatiku. "Aku tidak butuh belas kasihanmu. Aku tidak butuh penyelamat. Aku hanya butuh... waktu. Dan ketenangan."
"Dan siapa yang memberimu ketenangan ketika anakmu menangis di malam hari? Siapa yang membantumu ketika kamu sakit? Siapa yang"
"BERHENTI!"
Suaranya tiba-tiba meledak, menggelegar di ruangan sunyi itu. Aku terkejut, terdiam.
Maya menutup mata, tangannya mengepal. "Aku sudah lima tahun mengurus semuanya sendiri. Sejak Rangga mulai sering pergi, sejak dia berubah, sejak dia akhirnya pergi untuk selamanya. Aku sudah terbiasa. Aku tidak butuh pahlawan yang tiba-tiba muncul setelah lima tahun absen."
"Aku bukan mau jadi pahlawan"
"Lalu apa?!" matanya terbuka, dan sekarang aku melihat air mata yang akhirnya meluap. "Kamu mau apa, Raka? Mau main-main sebentar di sini, merasa jadi orang baik, lalu pergi lagi seperti dulu? Atau mau melihat betapa berantakannya hidupku dan merasa lebih baik karena hidupmu di Singapura lebih sempurna?"
"Aku tida"
"KELUAR."
Satu kata. Dua suku kata. Tapi dampaknya seperti pukulan di dada.
"Keluarlah dari rumahku, Raka. Sekarang."
Aku berdiri, lutut terasa lemas. "Maya, tolong"
"AKU BILANG KELUAR!"
Suaranya pecah, dan sekarang dia benar-benar menangis. Tangis yang tertekan, dari dalam dada, seperti orang yang sudah terlalu lama menahan segalanya.
Aku ingin memeluknya. Ingin mengatakan bahwa aku mengerti. Tapi kakiku sudah bergerak ke pintu. Otakku berkata: dia butuh ruang. Dia butuh waktu. Dia butuh untuk tidak melihatku sekarang.
Di depan pintu, aku berbalik. Maya masih berdiri di tengah ruangan, tubuhnya gemetar, tangannya menutup wajah.
"Aku menginap di hotel dekat sini," kataku pelan. "Namanya Hotel Bahari. Kamar 304. Kalau kamu butuh apa pun... telepon aku."
Dia tidak menanggapi. Hanya tangis yang semakin keras.
Aku membuka pintu, melangkah keluar. Udara sore yang masih panas menyambutku, tapi tubuhku terasa dingin.
Pintu tertutup di belakangku dengan suara lembut. Terlalu lembut untuk sesuatu yang terasa seperti akhir.
Aku berdiri di depan rumah itu, melihatnya melalui pagar. Rumah yang dulu penuh tawa, rumah di mana kami dulu sering bermain, rumah di mana Maya dan aku pernah berjanji akan selalu menjadi sahabat—tidak peduli seberapa sering kami bertengkar.
Sekarang rumah itu terasa seperti benteng. Dan aku baru saja dikeluarkan dari dalamnya.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore ketika aku tiba di hotel. Kamar 304 kecil tapi bersih. Aku melemparkan koper ke lantai, tubuhku jatuh ke kasur.
Pikiranku berputar-putar. Ekspresi Maya. Tangisannya. Kata-katanya yang menyakitkan tapi benar.
Kamu mau apa, Raka?
Itu pertanyaan yang belum bisa kujawab. Aku datang karena rindu? Karena rasa bersalah? Karena ingin membantu? Atau karena... karena perasaan yang selama ini kusimpan jauh di dalam hati, perasaan yang bahkan tidak berani aku akui pada diriku sendiri?
Telepon berdering. Aku melompat, berharap itu Maya. Tapi nomor di layar menunjukkan Ibu.
"Halo, Bu?"
"Raka! Kamu sudah sampai?" suara Ibu riang.
"Sudah, Bu."
"Bertemu Maya belum? Bagaimana keadaannya?"
Aku mendesah. "Bertemu. Keadaannya... berat, Bu."
"Ya ampun, kasihan sekali anak itu. Ditinggal suami, dua anak masih kecil... Kamu harus bantu dia, Ra. Dia keluarga."
"Ia mencoba, Bu. Tapi..." aku berhenti, tidak tahu bagaimana menjelaskan pertengkaran tadi.
"Tapi apa?"
"Dia marah, Bu. Marah karena aku pergi delapan tahun tanpa kabar. Marah karena aku datang tiba-tiba."
Ibu diam sejenak. "Ya, wajar. Maya itu keras kepala seperti mamanya dulu. Tapi di dalam, dia baik. Dia hanya terluka. Kamu harus sabar, Nak."
"Seberapa sabar, Bu?"
"Sebisa mungkin. Sampai dia percaya lagi bahwa kamu tidak akan pergi lagi."
Perkataan Ibu itu menggantung di udara seperti janji. Tidak akan pergi lagi. Tapi bisakah aku berjanji seperti itu? Bisakah aku meninggalkan kehidupan di Singapura? Karir? Segala yang sudah kubangun?
"Raka," suara Ibu pelan, serius. "Ada sesuatu yang harus kamu tahu tentang Maya."
Aku duduk tegak. "Apa, Bu?"
"Waktu kamu pergi ke Singapura delapan tahun lalu... itu bukan kebetulan, kan? Kamu pergi karena... karena pernikahan Maya."
Dadaku terasa sesak. "Bagaimana Ibu tahu?"
"Kamu anakku, Raka. Aku tahu perasaanmu pada Maya. Dan aku tahu kenapa tiba-tiba kamu mau kerja di Singapura padahal sebelumnya menolak."
Aku diam. Selama ini kupikir rahasiaku aman. Kupikir tidak ada yang tahu bahwa aku pergi karena tidak tahan melihat Maya menikah dengan orang lain.
"Ibu tidak marah," lanjut Ibu. "Cinta itu kompleks. Tapi sekarang, dengan keadaan seperti ini... hati-hati, ya. Jangan sakiti dia lebih dalam. Dan jangan sakiti dirimu sendiri."
Percakapan berakhir tak lama kemudian. Aku berbaring di kasur, menatap langit-langit kamar.
Ibu benar. Aku pergi karena Maya. Karena melihatnya memakai gaun pengantin putih, berdiri di samping pria yang bukan aku, adalah siksaan yang tidak ku kuatkan. Aku lari. Seperti pengecut.
Dan sekarang aku kembali. Tapi apakah ini bentuk keberanian? Atau bentuk lain dari pelarian dari kehidupan di Singapura yang kosong, dari kesendirian yang mulai membunuhku perlahan?
Telepon berdering lagi. Kali ini bukan Ibu.
Bukan Maya juga.
Tapi nomor yang tidak kukenal.
"Halo?"
"Om Raka?" suara kecil anak perempuan di seberang sana.
"Kinan?"
"Iya, Om," bisiknya. "Mama nangis. Terus dia masuk kamar, dikunci dari dalam. Adek takut."
Jantungku berdebar kencang. "Kinan, Bima sudah pulang belum?"
"Belum, Om. Kakak biasanya pulang jam setengah enam."
"Oke, dengarkan baik-baik. Om akan ke sana. Kamu tunggu di depan ya. Tapi jangan bilang Mama."
"Tapi kalau Mama marah"
"Dia tidak akan marah pada kamu. Janji."
Aku mematikan telepon, mengambil kunci kamar, dan berlari keluar. Pikiranku hanya satu: Maya. Dia sendirian. Dia menangis. Dia mengunci diri.
Dan aku telah menyebabkan semuanya.
Delapan tahun lalu, aku lari dari rasa sakitku. Sekarang, aku tidak akan lari lagi.
Tidak dari rasa sakitku. Dan tidak dari rasa sakitnya.