NovelToon NovelToon
Takdir Paranormal Gadungan

Takdir Paranormal Gadungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Mata Batin / Iblis / Anak Yatim Piatu / Roh Supernatural
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Princss Halu

Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
​Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
​Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
​Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
​Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan ke Utara

Freen dan Nam duduk bersila di lantai ruang tamu, dikelilingi oleh buku-buku catatan dan laptop Nam. Energi dari es teh dan istirahat singkat membuat mereka fokus. Di luar, malam semakin larut.

"Baik, Nam. Mari kita pecahkan teka-teki hutan ini," ujar Freen, memegang handphone-nya yang menampilkan alamat misterius itu.

"Kota pegunungan, 'Hilang', 'Hutan'. Kita mulai dengan mencari berita-berita tentang orang atau objek yang hilang baru-baru ini di area tersebut."

Nam segera mengetikkan kata kunci: "Orang Hilang Gunung [Nama Kota] Thailand"

Hasil pertama yang muncul segera menarik perhatian mereka.

"Freen, lihat ini!" seru Nam, menunjuk ke layar. "Ada laporan tentang hilangnya seorang arkeolog terkenal bernama Profesor Jirapat dari Universitas Ibu Kota. Dia hilang di hutan sekitar tiga hari yang lalu, tepat di area yang kita tuju! Dia sedang melakukan ekspedisi tunggal untuk mencari reruntuhan kuil kuno."

Freen mendekat, membaca artikel itu dengan cepat. "Arkeolog, ekspedisi tunggal, reruntuhan kuil kuno. Ini bukan kasus kriminal biasa, Nam. Ini kasus yang menarik perhatian Mae Nakha."

"Dan ada yang lebih aneh lagi," kata Nam, mencari artikel lain.

"Profesor Jirapat dikenal terobsesi dengan legenda lokal tentang 'Kunci Emas' atau 'Permata Hutan' yang konon tersimpan di reruntuhan kuil itu. Dia percaya jika kunci itu ditemukan, dia bisa membuka pengetahuan tersembunyi."

Freen merasakan hawa dingin familiar dari Mustika Merah Delima di lehernya. Permata, kunci, reruntuhan kuno... ini semua berbau spiritual dan memiliki nilai historis yang tinggi.

"Mae Nakha sudah memberi tahu kita. Yang 'hilang' adalah Profesor Jirapat, dan mungkin juga 'Kunci Emas' yang dia cari. Kita harus mencari tahu kenapa Mae Nakha ingin kita terlibat dalam hal ini. Apakah Profesor itu hidup, atau sudah menjadi arwah?"

Nam mengubah kueri pencarian: "Legenda Kunci Emas Kuil Kuno Gunung [Nama Kota]"

Informasi yang mereka temukan mulai mengerucut. Legenda lokal mengatakan bahwa 'Kunci Emas' itu adalah artefak kuno yang berfungsi sebagai segel.

"Freen, legenda bilang Kunci Emas itu bukan untuk membuka pengetahuan, tapi untuk menyegel entitas jahat yang terperangkap di bawah reruntuhan kuil!" Nam membaca, matanya melebar.

"Dikatakan bahwa kuil itu dibangun ribuan tahun lalu untuk mengurung Roh Penjaga Kuno yang Haus Darah—entitas yang sangat berbahaya yang bisa menyebabkan kekacauan besar jika dilepaskan."

Freen menelan ludah. Kasus ini jauh lebih besar daripada Roh Leluhur yang marah. Ini adalah kasus menyegel iblis.

"Profesor Jirapat kemungkinan besar menemukan kuil itu dan secara tidak sengaja mengaktifkan atau bahkan memindahkan Kunci Emas. Itu sebabnya dia 'hilang'," duga Freen.

"Jika segelnya terlepas, Roh Kuno itu bisa bebas. Dan itu akan menjadi masalah besar bagi seluruh area pegunungan."

Freen memejamkan mata sejenak, berbicara ke batinnya. "Mae Nakha, ini terlalu besar. Aku tidak mau berhadapan dengan Roh Penjaga Kuno!"

Respon Mae Nakha datang dengan cepat, menusuk pikiran Freen: "Aku tidak mengirimmu untuk melawan, Gadungan. Aku mengirimmu untuk mengembalikan. Kunci Emas itu adalah alat yang harus ada pada tempatnya. Takdirmu adalah menjadi pengembalinya. Kau punya mustika, dan kau punya Nam. Pergi. Cari Profesor itu, dan kembalikan segelnya!"

Freen membuka mata, tekadnya kembali. Ia melihat Nam yang wajahnya sudah pucat karena membaca legenda seram itu.

"Nam, kita harus berangkat besok pagi. Tapi kita tidak bisa datang sebagai paranormal. Kita harus datang sebagai tim pencari, atau asisten penelitian Profesor Jirapat. Kita butuh alasan yang logis untuk masuk ke hutan terlarang itu," kata Freen, menyusun strategi.

"Baik. Aku akan menyiapkan kartu identitas palsu dan merancang peta yang meyakinkan. Kita harus terlihat seperti tim peneliti resmi," jawab Nam, meskipun suaranya sedikit bergetar.

Malam itu, mereka berdua tidur dengan gelisah, diselimuti kegelapan di luar rumah dan bayangan Roh Penjaga Kuno yang menunggu di dalam reruntuhan kuil yang jauh.

****

Malam berlalu dengan cepat, diiringi suara ketikan Nam yang sibuk menyiapkan identitas palsu dan peta detail. Fajar menyingsing, dan Freen Sarocha, yang kini mengenakan pakaian hiking yang dibeli kilat, sudah siap di ambang pintu, dengan Mustika Merah Delima tersembunyi di balik syal lehernya.

"Semua siap, Freen," kata Nam, menyerahkan sebuah dompet berisi kartu identitas palsu yang tampak meyakinkan.

"Kita adalah 'Asisten Peneliti Lapangan' yang dikirim oleh Universitas Ibu Kota untuk mencari Profesor Jirapat dan melanjutkan ekspedisinya."

Freen mengambil kartu itu. "Bagus. Sekarang, kita harus bertindak cepat. Semakin lama segel itu terbuka, semakin besar potensi masalah spiritual di sana."

Mereka menyewa mobil dan berangkat menuju kota pegunungan yang dituju. Perjalanan itu memakan waktu beberapa jam, melewati jalanan berliku yang menanjak, dengan pemandangan hutan yang semakin lebat dan mencekam.

Setibanya di kota kecil di kaki gunung, suasana terasa sunyi dan tegang. Mereka langsung menuju kantor polisi setempat, yang menangani kasus hilangnya Profesor Jirapat.

Freen dan Nam, dengan wajah serius dan wibawa palsu dari kartu identitas mereka, berhadapan dengan kepala kepolisian yang terlihat lelah.

"Selamat pagi, Komandan," sapa Freen dengan nada resmi.

"Kami dikirim langsung dari Universitas Ibu Kota. Kami adalah tim cadangan Profesor Jirapat. Kami datang untuk melanjutkan pencarian dan ekspedisi."

Kepala kepolisian itu tampak lega melihat ada bantuan dari kota besar. "Terima kasih, Nona dan Tuan. Kami sudah mencari selama tiga hari dengan tim SAR, tetapi hasilnya nihil. Profesor itu tampaknya menghilang tanpa jejak. Kami berasumsi dia tersesat atau mengalami kecelakaan di medan yang sulit."

"Kami perlu tahu persis di mana titik terakhir Profesor Jirapat terlihat, dan kami akan memasuki hutan dari sana," pinta Freen.

Setelah mendapatkan detail lokasi dan izin masuk, Freen dan Nam segera menuju titik awal ekspedisi Profesor Jirapat.

Mereka tiba di pinggiran hutan yang lebat, yang ditandai dengan mobil Profesor Jirapat yang diparkir dan garis polisi yang mengelilingi area itu. Udara di sana dingin, lembap, dan terasa berat—aura spiritualnya sangat nyata.

Begitu Freen melangkah melintasi garis polisi, mata batinnya langsung diserang. Seluruh hutan itu memancarkan aura kegelapan yang pekat, jauh lebih buruk daripada aura kemarahan di makam kuno. Aura itu berputar, seolah ada pusat energi jahat yang mengalirkan kegelapan ke sekeliling.

"Nam, ini gila. Energi di sini sangat buruk," bisik Freen. "Roh Kuno itu pasti sudah aktif."

Nam terlihat gugup, tetapi ia memegang erat ranselnya. "Fokus, Freen. Kita harus cari jejak Profesor Jirapat. Dia pasti membawa Kunci Emas itu."

Mereka mulai mengikuti jejak Profesor Jirapat, sebuah jalur setapak yang ditandai dengan tali plastik tipis yang diikatkan pada pohon. Setelah berjalan sekitar satu jam, mereka tiba di sebuah area yang paling gelap.

Tiba-tiba, Freen melihatnya. Di tengah jalur itu, tergeletak tas ransel usang, dan di sampingnya... sesosok pria, tergeletak di tanah.

Freen dan Nam bergegas mendekat. Itu adalah Profesor Jirapat. Pria itu masih hidup, tetapi matanya terbuka lebar dan kosong, seolah jiwanya sudah melayang. Tubuhnya dingin, dan ia tampak beku dalam ketakutan yang ekstrem.

"Profesor Jirapat!" seru Freen, memeriksa nadinya. Pria itu masih bernapas, tetapi sangat lemah.

Di tangan Profesor Jirapat yang kaku, Freen melihatnya: sebuah ukiran logam kecil, berwarna emas kusam, berbentuk kunci yang rumit. Kunci Emas.

Namun, begitu Freen menyentuh kunci itu, Profesor Jirapat tiba-tiba berteriak dengan suara yang bukan miliknya—suara yang dalam, bergemuruh, dan penuh kebencian.

"Kau datang untuk mengembalikannya?! Segel ini tidak akan kembali!"

Kekuatan spiritual yang luar biasa mendorong Freen ke belakang. Freen tahu: Roh Kuno itu telah merasuki Profesor Jirapat dan menggunakan tubuhnya sebagai boneka.

"Nam! Mundur!" teriak Freen, bangkit berdiri dan menarik Mustika Merah Delima dari balik syalnya. "Kita tidak mencari Profesor! Kita mencari segel! Dan dia sudah dirasuki!"

Pertarungan spiritual Freen Sarocha di hutan lebat telah dimulai, dan kali ini, ia berhadapan langsung dengan entitas yang jauh lebih kuat dari apa pun yang pernah ia bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!