Nara adalah seorang gadis yang baru saja pindah ke apartemen baru setelah putus cinta. Sialnya, tetangga sebelah unitnya adalah Rian, cowok paling menyebalkan, sombong, dan perfectionist yang pernah Nara temui.
Mereka berdua terlibat dalam sebuah insiden konyol (seperti kunci tertinggal atau salah kirim paket) yang membuat mereka harus sering berinteraksi. Karena sering berisik dan saling komplain ke pengelola apartemen, mereka akhirnya membuat "Kontrak Damai". Salah satu aturannya adalah: Dilarang keras baper (jatuh cinta) satu sama lain.
Tapi, kita semua tahu, aturan dibuat untuk dilanggar, kan? 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konser Metal di Penthouse dan CEO Anti-Mainstream
Malam itu, nasib Satya bener-bener di ujung tanduk—bukan karena dikepung musuh, tapi karena permintaan "ibu negara" yang lebih horor dari granat meledak. Di ruang tamu penthouse yang mewah itu, Satya berdiri tegak, tangannya mengepal di samping, tapi keringat dingin ngucur dari jidatnya.
Di depannya, Nara duduk manis di sofa sambil megang toples kerupuk, sementara Rian duduk di sampingnya sambil nutup muka pake bantal—malu tapi nggak bisa nolak istri.
"Ayo Bang Satya! Katanya loyal! Masa nyanyi 'Balonku' versi metal aja nggak bisa?" tagih Nara sambil goyang-goyangin kakinya.
Satya narik napas dalem banget, seolah-olah lagi nyiapin paru-parunya buat terjun payung. Dia ngelihat ke arah Rian, berharap ada keajaiban atau perintah pembatalan. Tapi Rian cuma bisik pelan, "Lakuin aja Sat, biar saya bisa tidur tenang."
Akhirnya, Satya ngebuka mulutnya. Suaranya yang ngebass berubah jadi growl yang berat banget.
"BALONKUUUU... ADA LIMA...!!! DORRR!!! MELETUSSSS BALON HIJAUUU... ARGHHHH!!!" 🤘🏻🎸🔥
Gila, Bro! Kaca jendela penthouse sampe kayak getar. Nara langsung tepuk tangan heboh, "WAHAHA! KEREN BANGET! Dedek bayinya langsung headbang nih di dalem perut!"
Satya langsung nunduk, mukanya yang kaku mendadak merah padam. "Izin Mbak, saya kembali ke pos penjagaan sekarang." Dia jalan cepet banget keluar ruangan, kayaknya mau langsung meditasi buat ngilangin trauma harga dirinya yang jatuh di depan lagu anak-anak.
Rian cuma bisa geleng-geleng. "Puas, Sayang?"
"Puas banget, Mas! Sekarang saya bisa tidur nyenyak."
Besok paginya adalah hari pertama Ardiansyah Creative House resmi beroperasi. Gedung kantor pusat Ardiansyah Group yang biasanya isinya orang-orang pake jas formal dan muka serius, mendadak berubah jadi warna-warni.
Nara dateng pake daster satin premium motif abstrak warna emas, dipadukan sama sepatu sneakers putih yang harganya setara motor matic. Di belakangnya, ada tim kreatif yang dia pilih sendiri—isinya anak-anak muda "nyeleneh" yang dulu sering diremehin orang.
"Selamat pagi semuanya!" sapa Nara pas masuk ke lantai barunya.
Seorang manajer senior dari divisi lama nyamperin Nara dengan muka sinis. "Maaf Bu Nara, ini kantor pusat, bukan pasar malam. Pakaian Ibu sangat tidak sesuai dengan standar operasional prosedur kami."
Nara berhenti jalan, dia ngelihatin manajer itu dari atas sampai bawah. "Oh, Pak Bambang ya? Bapak tahu nggak, baju yang Bapak pake itu kainnya dari supplier mana?"
Pak Bambang bingung. "Tentu saja dari kain wol impor Inggris terbaik."
"Salah!" Nara maju selangkah. "Itu kain poliester campuran yang panas banget di kulit. Dan desain kerah Bapak itu ketinggalan zaman sekitar sepuluh tahun. Di divisi saya, SOP-nya cuma satu: KREATIF DAN NYAMAN. Kalau Bapak nggak nyaman, gimana mau dapet ide? Makanya muka Bapak ditekuk terus kayak kertas gorengan."
Semua staf muda di sana langsung nahan tawa. Rian yang lagi ngawasin dari balkon lantai atas cuma bisa senyum bangga. Dia nggak perlu turun tangan, istrinya udah jago "nge-smash" orang-orang kaku.
Hari pertama jadi CEO, Nara langsung bikin gebrakan. Dia nggak duduk di ruangannya yang mewah. Dia malah lesehan di karpet bareng tim desainnya buat bahas proyek "Daster Global".
"Gue mau kita bikin daster yang bisa dipake ke pesta, ke kantor, sampe ke pemakaman tanpa kelihatan aneh! Bahannya harus anti-gerah tapi kelihatan mewah!" seru Nara penuh semangat.
Tiba-tiba, Bima masuk ke ruangan dengan terburu-buru. "Nara, Rian! Ada masalah di lobby bawah!"
Nara dan Rian langsung turun. Di lobby, ternyata ada segerombolan ibu-ibu sosialita—mantan temen-temen Karin—yang lagi demo. Mereka bawa spanduk bertuliskan: "KAMI MENOLAK DASTER MASUK KANTOR PUSAT! JAGA MARTABAT ARDIANSYAH!"
"Wah, ini pasti kerjaan provokator nih," bisik Nara ke Rian.
Rian mau manggil keamanan, tapi Nara nahan tangannya. "Biar saya yang urus, Mas. Ibu-ibu kalau dilawan pake otot malah makin galak. Kita harus lawan pake hati... dan kain."
Nara jalan nyamperin gerombolan itu. "Selamat siang, Ibu-ibu cantik. Wah, bajunya bagus-bagus ya, tapi kok mukanya pada keringetan gitu? Pasti bajunya sempit dan panas ya?"
Salah satu ibu yang pake sanggul tinggi melotot. "Jangan sok tahu kamu! Ini desain Paris!"
"Paris atau Tanah Abang, kalau bikin Ibu sesek napas itu namanya penyiksaan," Nara nyuruh asistennya bawa satu box daster koleksi terbarunya. "Ini, coba Ibu pegang kainnya. Ini serat bambu alami dicampur sutra. Dingin banget. Coba satu deh, gratis buat Ibu-ibu sebagai tanda perkenalan."
Melihat barang gratisan dengan kualitas premium, pertahanan ibu-ibu itu langsung runtuh. Mereka yang tadinya mau demo malah jadi sibuk rebutan daster dan nanyain ukuran.
"Eh, neng... yang motif bunga ini ada ukuran XL nggak?" tanya si ibu sanggul tinggi yang tadi paling galak.
Nara nyengir ke arah Rian. "Mas, lihat kan? Kekuatan daster itu nggak ada lawan!"
Sore harinya, pas suasana udah tenang, Rian ngajak Nara ke ruangan pribadinya. Dia ngelihatin sebuah peta dunia di layar monitornya.
"Nara, bulan depan ada fashion show besar di Paris. Saya sudah daftarkan Ardiansyah Creative House buat tampil di sana. Kamu siap bawa daster ke panggung internasional?"
Nara melongo. "Paris?! Mas, ini beneran?!"
"Iya. Saya mau seluruh dunia tahu kalau istri saya adalah ratu daster paling jenius."
Nara langsung meluk Rian kenceng banget. "Mas! Mas beneran suami paling gacor sedunia!"
Tapi, di tengah momen romantis itu, Satya masuk lagi. Kali ini mukanya bener-bener serius, jauh lebih serius dari biasanya.
"Izin Pak Rian, Ibu Nara. Ada kiriman paket anonim dari Swiss. Pengirimnya cuma tertulis inisial... 'S'."
Rian ngerutin dahi. "Swiss? Inisial S? Kakek Wijaya masih di sini kan?"
Pas paket itu dibuka, isinya adalah sebuah jam saku tua yang kacanya pecah. Dan di dalemnya ada foto kecil... foto Ayah Nara, Pak Surya, lagi ngerangkul seorang pria yang mukanya ditutupin tinta hitam.
Di balik foto itu ada tulisan: "Hutang nyawa ayahmu belum lunas, Nara. Masih ada satu nyawa lagi yang harus diambil sebagai penggantinya. Sampai jumpa di Paris."
Nara langsung lemes. "Mas... siapa lagi ini? Kenapa masa lalu Ayah saya terus-terusan muncul?"
Rian ngeremes foto itu sampai hancur. "Ini bukan lagi soal harta atau saham, Nara. Ini soal dendam pribadi yang jauh lebih tua dari kita. Tapi siapapun 'S' ini, dia bikin kesalahan besar dengan ngancem kita di tanah saya."
Rian nengok ke Satya. "Satya, siapkan tim keberangkatan ke Paris. Kita nggak cuma mau fashion show. Kita mau berburu."
Nara megang perutnya yang mulai sedikit buncit. Dia ngerasa perjalanan ke Paris nanti nggak bakal cuma soal daster cantik di atas panggung, tapi soal pertaruhan nyawa buat nyelesein teka-teki keluarganya untuk selamanya.