Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjelang Fajar di Plumbon
Setelah Abimanyu memuji Sekar Arum, suasana menjadi sedikit canggung. Mereka berdua terdiam sejenak, lalu Abimanyu menyadari bahwa langit sudah mulai menunjukkan semburat warna ungu, tanda fajar akan segera tiba. Ia mengantarkan Sekar Arum sampai depan rumah, mengucapkan selamat pagi, dan berpamitan.
"Makasih ya, Abimanyu, sudah mau nganterin aku pulang... dan mau menemani aku sampai hampir pagi," ucap Sekar Arum dengan senyum tulus, memecah keheningan di antara mereka. Lampu teras rumahnya yang temaram membuat wajah Abimanyu terlihat lebih teduh, meskipun sedikit lelah.
"Sama-sama, Sekar. Aku seneng kok bisa nemenin kamu," jawab Abimanyu, berusaha membalas senyum Sekar Arum. Ia merasa sedikit gugup, namun juga lega karena akhirnya bisa menemani Sekar Arum hingga selamat sampai rumah. "Kamu langsung istirahat aja ya. Sebentar lagi juga udah subuh."
"Iya, kamu juga hati-hati pulangnya. Jangan lupa istirahat," pesan Sekar Arum. Ia masih berdiri di depan pintu, seolah enggan untuk segera masuk. Ia merasa ada sesuatu yang masih ingin ia katakan, namun ia tidak tahu apa.
Abimanyu mengangguk. "Pasti. Oh ya, Sekar..." Abimanyu tampak ragu sejenak sebelum melanjutkan, "Kalau ada wayang lagi di sekitar sini, aku kabarin kamu ya?"
Tawaran Abimanyu membuat hati Sekar Arum menghangat. "Boleh banget! Aku pasti mau," jawab Sekar Arum dengan antusias.
Abimanyu tersenyum lega mendengar jawaban Sekar Arum. "Oke deh. Ya udah, aku pamit ya. Selamat pagi, Sekar."
"Selamat pagi, Abimanyu," balas Sekar Arum.
Abimanyu berbalik dan mulai melangkah menjauh dari rumah Sekar Arum. Sekar Arum memperhatikannya sampai sosok Abimanyu menghilang di antara pepohonan yang mulai diterangi cahaya fajar. Ia kemudian menghela napas panjang, memegang dadanya, dan merasakan jantungnya masih berdebar lebih cepat dari biasanya.
"Ada apa dengan aku ini?" gumam Sekar Arum dalam hati sambil tersenyum kecil.
Ia kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Ibunya sudah bangun dan sedang menyiapkan sarapan di dapur.
"Lho, baru pulang, Nduk? Ya ampun, dari semalam?" tanya ibunya dengan nada kaget namun lembut.
"Iya, Bu! Hehe," jawab Sekar Arum sambil cengengesan. "Wayangnya seru banget, Bu!"
"Seru sampai lupa waktu gitu? Terus, itu tadi siapa yang nganterin kamu? Kok kayaknya Ibu baru lihat," tanya ibunya dengan nada menggoda.
Seketika, wajah Sekar Arum memerah. Ia merasa malu dan bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan ibunya. "Itu... itu temen, Bu," jawab Sekar Arum dengan nada gugup. "Temen SMA."
Ibunya tersenyum semakin lebar. "Temen apa temen?" goda ibunya. "Kok kayaknya Ibu lihat kalian akrab banget."
"Ah, Ibu apaan sih," elak Sekar Arum sambil mencubit lengan ibunya. "Udah ah, aku mau tidur dulu. Besok kan sekolah."
Sekar Arum kemudian bergegas menuju kamarnya, meninggalkan ibunya yang masih tersenyum-senyum di dapur. Sesampainya di kamar, Sekar Arum langsung merebahkan diri di tempat tidur. Ia memejamkan matanya dan membayangkan kembali momen-momen yang ia lewati bersama Abimanyu.
Ia teringat dengan percakapan mereka tentang wayang dan kepemimpinan, langit Plumbon yang bertaburan bintang, dan senyum tulus Abimanyu saat mengucapkan selamat pagi. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya setelah bertemu dengan Abimanyu. Ia merasa ada perasaan hangat dan menyenangkan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Apa mungkin... aku suka sama Abimanyu?" tanya Sekar Arum pada dirinya sendiri.
Ia kemudian membuka matanya dan menatap langit-langit kamarnya yang mulai diterangi cahaya kemerahan.
Ia kemudian membuka matanya dan menatap langit-langit kamarnya yang mulai diterangi cahaya fajar. Ia masih belum bisa menjawab pertanyaan itu. Ia masih bingung dengan perasaannya sendiri. Namun, satu hal yang pasti, ia ingin bertemu lagi dengan Abimanyu. Ia ingin mengenal Abimanyu lebih dekat. Ia ingin tahu lebih banyak tentang cowok pendiam dan baik hati yang ternyata memiliki minat yang sama dengannya terhadap seni dan budaya Jawa.
Sambil tersenyum, Sekar Arum meraih ponselnya dan membuka aplikasi pesan. Ia mencari nama Abimanyu di daftar kontaknya. Ia ragu sejenak sebelum akhirnya mengetik sebuah pesan:
"Selamat pagi, Abimanyu. Makasih ya buat semalam. Semoga hari ini menyenangkan!"
Setelah mengirim pesan tersebut, Sekar Arum merasa lebih tenang. Ia memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur. Namun, pikirannya masih terus melayang-layang pada Abimanyu. Ia terus membayangkan senyumnya, suaranya, dan tatapan matanya.
Akhirnya, dengan senyum kecil di bibirnya, Sekar Arum terlelap dalam tidurnya. Ia bermimpi tentang wayang, bintang, dan seorang cowok bernama Abimanyu yang menemaninya berjalan di bawah taburan bintang di langit Plumbon.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*