Darren adalah anak yatim piatu yang diangkat anak oleh Jhon Meyer, Owner XpostOne. Prestasinya sangat gemilang sehingga dia sering di perintahkan oleh Jhon Meyer untuk bertugas di daerah konflik.
Umurnya sudah dua puluh delapan tahun dan belum menikah. Ia berjanji sebelum bisa membalaskan sakit hatinya kepada keluarga Blossom, ia tak mau menikah. Dulu saat berumur sepuluh tahun orang tua dan kakaknya di bakar hidup-hidup oleh keluarga Blossom.
Suatu hari ia di perintahkan oleh Jhon Meyer untuk menyelamatkan tiga orang gadis yang terperangkap didesa Beduwi. Dengan berat hati ia pergi ke Bali, tapi apa yang dia temukan di desa itu? Ilmu hitam atau Le-ak. Sangat mengerikan dan hampir saja ia menjadi tumbal.
Saat mengetahui salah satu dari ke tiga gadis itu adalah putri keluarga Blossom, ia pun membuat rencana jahat untuk menyiksa gadis itu.
Apakah yang direncanakan oleh Darren? silahkan baca sampai tamat.
Trimakasih, jangan lupa like, coment***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB.13. DU-KUN LE-AK
Turun dari mobil Darren gegas menuju rumah du-kun, kebetulan tidak ada orang, perasaannya jadi lega. Jro du-kun sendiri yang menyambut kedatangannya.
"Silahkan duduk..." ucap Jro du-kun ramah.
Darren memberi salam, kemudian ikut duduk di bale-bale. Ia lebih leluasa tanya jawab dengan Jro du-kun karena tidak ada orang. Banyak yang dia tanyakan tentang desa Beduwi yang melegenda.
"Kamu sempat kesana?" tanya Jro du-kun menatap Darren dengan seksama.
Menurut perasaan Jro du-kun, Darren bukan orang sembarangan. Makanya ia menahan diri tidak mau lancang bertanya, apalagi anak muda itu tidak mengobral indetitas diri.
Jro menunggu permintaan Darren supaya ikut membasmi Le-ak di Beduwi. Seperti pejabat atau aparat sebelumnya, mereka sering minta tolong padanya dan Jro akan mematok harga tinggi, lumayan untuk biaya hidup.
Walaupun ia tidak melakukan apapun dan semuanya bohong, tapi tetap saja orang mencarinya. Tragedi desa Beduwi seperti buah simalakama, kalau warga desa di basmi ia tidak mungkin dapat uang dari ke-ke-jaman warga Beduwi, tapi kalau tidak di basmi sudah banyak korban yang Jatuh dan rakyat sengsara.
"Saya cuma mendengar cerita orang. Dulu pernah ingin kesana tapi tidak jadi karena ada teman menghilang." bohong Darren.
"Kalau bisa jangan kesana, banyak orang dijadikan tumbal, mereka sadis. Warga disana psikopat semua. Tapi kalau ingin menyerang mereka, saya bisa menolong asal bayarannya sesuai." Jro mulai memberi umpan tapi di tolak Darren.
"Tidak usah itu urusan pemerintah, kalau membicarakan desa Beduwi saya jadi merinding. Biarkan saja."
"Oh begitu, saya kira kamu polisi, seperti aparat wajahnya. Jadi tujuannya kesini apa?" tanya Jro du-kun kecewa.
"Pak Jro, apakah ilmu Le-ak di tubuh saya sudah hilang?"
"Pertumbuhan ilmu sangat lambat seolah tubuhmu menolak menerimanya. Asalkan ada uang lima juta ilmu itu pasti musnah."
"Kalau begitu saya tambah uangnya asal saya bebas dari Le-ak." sahut Darren.
Jro du-kun langsung nyengir kuda, ia berdoa dalam hati supaya masalah desa Beduwi tambah mendunia. Sudah tak terhitung uang masuk ke sakunya semenjak tragedi desa Beduwi.
"Silahkan memakai qris untuk transfernya saya sekarang tidak mau tunai. Setelah uang masuk baru saya buang ilmunya."
Walaupun merasa dimanfaatkan oleh Jro du-kun Darren tak peduli, asal Le-aknya hilang. Tentu ia ingin pernikahannya tidak ada kendala dengan Aluna. Semoga pernikahannya berjalan mulus tanpa ada incident. Bathinnya.
Darren mentransfer nominal yang diminta Jro du-kun, ia tidak peduli berapa uang keluar yang penting selamat dari ilmu Le-ak. Sedangkan Jro du-kun sendiri tak menjamin kalau ilmu Darren bisa hilang. Ia tak mau ambil pusing masalah itu yang penting di bayar.
"Duduk bersila saya mau mencabut ilmu itu!" perintah Jro du-kun bergaya sakti.
Ia memang sempat belajar per-du-kunan, tapi kalau di suruh malawan Le-ak belum ada kemampuan. Dia terkenal gara-gara sosial media bukan karena kesaktiannya.
Darren duduk bersila di hadapan du-kun, kemudian Jro berdiri dan mengelilingi tubuh Darren sambil mengumandangkan mantra ghaib serta di iringi suara genta.
Suasana mistis tercipta, saat itulah Jro mengetukan tongkat ularnya ke punggung Darren tiga kali. Ntah karena terbawa perasaan, perut Darren hadi mual tanpa sebab.
Untung ritual cepat selesai dan Darren jadi lega, ia akhirnya mohon diri dan kembali ke mobil.
DESA BEDUWI
Keadaan desa Beduwi pasca tragedi di kuburan, yang menewaskan ratusan Le-ak itu nyata dan buktinya ada. Warga sedang berk*bung massal ditinggal suami atau istrinya, ada juga ditinggal nenek dan kakeknya.
Kenapa tiba-tiba m*yat Le-ak yang di bunbun Darren semua hilang saat Darren melihatnya di kuburan. Ada hal ghaib yang terjadi saat tubuh mer*gang ny*wa. Ternyata Le-ak kembali ke rumah secepat pikiran.
Tak ada sedetik! setelah Le-ak ditembak oleh Darren Le-ak mer*gang dan jas*dnya sirna lalu pulang ke rumahnya. Warga di desa Beduwi sudah terbiasa menghadapi masalah itu, tidak aneh. Mereka semua menin66al di atas kasur dalam keadaan tidur.
Semua warga berkumpul membicarakan kesaktian Darren yang bisa membunbun seratus orang Le-ak. Mereka tidak tau kalau Darren men*mbak dengan pistol, bukan karena dia sakti. Mungkin karena di tubuh mereka yang meninggal tidak ada tanda pen*mbakan.
Seluruh warga desa menangis, mereka sedih ditinggal istri, suami, kakek, nenek. Mereka yang di tinggalkan menyesal dan merasa mendapat karna buruk dari sikap dan perbuatannya selama ini. Mereka tidak menyangka ini terjadi.
"Sudah kalian buang kedua gadis yang terikat itu?" tanya pak Ketut yang kemarin luput dari kem*tian karena sedang keluar desa. Ia mendadak ada keperluan untuk mengurus pernikahan saudaranya.
"Maaf pak Ketut, sebenarnya yang lagi satu masih hidup, apa dibuang juga?" sahut Made tenang, hanya dia yang tidak menangis. Air matanya sudah mengering setahun yang lalu.
Kini ia hidup sebatang kara dan semua menin66al gara-gara pertempuran ma-ut perebutan tahta perLe-akan.
Perasaan jenuh tinggal di Beduwi sering menghinggapi sanubarinya, tapi ia tidak berani pergi dari sini. Tidak akan ada orang yang mau menampungnya karena dia dari desa Beduwi.
"Buang saja ke dua gadis itu, Ratu Le-ak sudah kabur ntah kemana, betul-betul tidak bertanggung jawab. Seharusnya dia menyuruh anak buah mundur kalau ada serangan orang sakti." ucap pak ketut kesal.
"Sekarang bagaimana pak Ketut, apa kita kremasi atau di ku-bur saja secepatnya." tanya ibu Nyoman seraya menghapus air matanya.
"Ibu Nyoman, kita semua Le-ak tapi tetap kita lakukan kremasi sesuai adat kita. Cari hari baik untuk kremasi, jangan putus asa dan merasa rendah baru bisa nge-Le-ak."
"Baik pak ketut, saya ikut saja." ucap ibu Nyoman pasrah dan yang lain juga ikut mengangguk.
Semua mengikuti aturan pak Ketut karena tidak ada lagi orang tua yang berani dan pintar. Maklum warga disini pendidikan kurang dan desanya tertinggal jauh dari desa sebelah.
Yang paling dekat Loloan desa yang di pimpin oleh Pak Komang. Warga disini sudah ada yang bersekolah ke kota dan ada juga sampai berlayar ke luar negeri.
"Pak Ketut saya mendengar orang sakti itu dari desa Loloan, ada yang melihat orang itu keluar dari runah pak Lurah."
"Apa itu benar? Kalau begitu kita bunbun saja pak Lurah itu, tidak boleh ada yang menyembunyikan orang luar." pak Ketut enosi.
"Jangan buru-buru mengambil tindakan, pak Komang lurah disana, biasanya orang kesana mengurus surat-surat dan tidak mungkin pak lurah menyembunyikan orang asing."
"Benar juga. Kita lupakan saja, tidak usah mengurus orang lain atau apa yang terjadi di sana, sekarang kita fokus pada kremasi dan sarana ritualnya."
"Pak Ketut sebaiknya kita kubur saja semua m*yat ke desa Terunyan. Jadi kita tidak repot mengurus apa-apa lagi." saran pak Wayan.
****
".