Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.
Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.
Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bencana Panitia Acara
Aula Besar Universitas Nusantara adalah sebuah bangunan peninggalan era kolonial yang megah, dengan langit-langit setinggi sepuluh meter dan jendela-jendela patri yang membiarkan cahaya matahari masuk dalam garis-garis dramatis. Namun, bagi Rara pagi ini, tempat itu tidak lebih dari sebuah oven raksasa yang penuh dengan debu dan kepanikan.
Tiga puluh menit menjelang upacara pembukaan Orientasi Mahasiswa Baru, suasana di belakang panggung sudah menyerupai medan perang.
Rara berlutut di lantai panggung yang dingin, jari-jarinya yang gemetar mencoba mengurai gulungan kabel XLR yang seolah sengaja membelit diri mereka sendiri menjadi simpul yang mustahil. Keringat menetes dari ujung hidungnya, jatuh tepat ke atas lakban hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. Di sekelilingnya, panitia lain berlarian dengan wajah pucat, berteriak melalui handy-talky tentang kursi yang kurang, spanduk yang miring, atau konsumsi yang belum sampai.
"Ra! Mic podium nomor dua belum ada sinyal! Cek sekarang!" Suara melengking dari HT di pundaknya membuat Rara berjengit.
"Iya, sebentar! Masih diusahakan!" balas Rara, suaranya parau karena debu yang menyumbat tenggorokannya.
Ia mencoba memasukkan ujung kabel ke soket di bawah podium dengan tangan yang kotor karena oli dan debu lantai. Dadanya sesak. Kurangnya tidur dan tekanan waktu membuat setiap suara langkah kaki di atas panggung terdengar seperti dentuman jam kiamat di kepalanya. Di dalam benaknya, ia hanya ingin satu hal: duduk di Silver Stream bersama Paladin_Z, diam seribu bahasa, mendengarkan suara air terjun virtual yang menenangkan.
Tepat saat Rara berhasil mencolokkan kabel terakhir, sebuah bencana terjadi.
SKREEEEEEEEEEEEEEEECH!
Suara feedback yang melengking tajam meledak dari deretan speaker gantung di langit-langit aula. Suara itu begitu nyaring dan menyakitkan hingga ribuan mahasiswa baru yang sudah mulai mengisi kursi di bawah sana serentak menutup telinga dan berteriak kaget. Rara terlonjak, kepalanya membentur pinggiran podium kayu yang keras.
"Aduh!" rintihnya, memegangi ubun-ubunnya yang berdenyut.
Namun, rasa sakit di kepalanya tidak seberapa dibandingkan rasa takut yang tiba-tiba menyergap saat ia melihat sesosok wanita berjalan cepat ke arahnya dari arah sayap kiri panggung.
Itu adalah Kania, Wakil Presiden Mahasiswa. Dia cantik, dengan rambut yang dikuncir kuda sangat rapi dan riasan wajah yang tajam. Namun saat ini, wajah cantik itu memerah padam karena amarah. Sepatu hak tingginya berdentum keras di atas lantai kayu panggung, seirama dengan detak jantung Rara yang mulai tak beraturan.
"Siapa yang pegang audio?!" teriak Kania, suaranya bahkan hampir mengalahkan sisa dengingan speaker.
Rara berdiri dengan canggung, mencoba menyembunyikan tangannya yang kotor di balik kaos panitia. "Sa-saya, Kak. Tadi ada lonjakan arus di kabel podium..."
Kania berhenti tepat di depan Rara, jaraknya begitu dekat hingga Rara bisa mencium aroma parfum mawarnya yang menyengat. Mata Kania menyalak tajam.
"Kamu punya otak nggak sih?" hardik Kania. Dia tidak peduli bahwa saat itu ada beberapa mahasiswa baru dan panitia lain yang menonton. "Acara mulai dua puluh menit lagi, dan kamu malah bikin ribuan orang budek? Kamu tahu nggak kalau ada petinggi rektorat di depan? Kalau acara ini gagal gara-gara hal sepele kayak gini, kamu mau tanggung jawab?!"
Rara menunduk, menatap ujung sepatunya yang kusam. "Maaf, Kak. Saya akan segera perbaiki—"
"Segera perbaiki? Dari tadi kamu ngapain aja?!" Kania mendorong bahu Rara sedikit, membuat Rara nyaris kehilangan keseimbangan. "Anak jurnalis kayak kamu harusnya tahu cara kerja alat dasar kayak gini! Jangan cuma bisa main HP di pojokan!"
Rara merasa matanya mulai panas. Bukan karena dia sedih, tapi karena rasa malu dan lelah yang memuncak. Diperlakukan seperti sampah di depan umum adalah batas kemampuannya pagi ini.
"Ada apa ini?"
Sebuah suara bariton yang berat dan tenang memotong makian Kania. Seketika, atmosfer di atas panggung berubah. Kania yang tadinya tampak seperti naga yang siap menyemburkan api, mendadak melunak. Bahunya merileks, dan ekspresi wajahnya berubah dalam sekejap menjadi sosok yang nampak elegan dan khawatir.
Genta berjalan mendekat. Dia masih memakai jas almamater biru tuanya yang sempurna. Tidak ada setitik pun debu yang berani menempel di pundaknya, sangat kontras dengan Rara yang nampak seperti baru saja merangkak keluar dari gudang bawah tanah.
"Genta..." Kania mendesah, suaranya berubah lembut dan sedikit manja. "Ini lho, anak logistiknya ceroboh banget. Hampir aja speaker-nya jebol. Aku cuma lagi kasih arahan supaya dia lebih serius."
Genta tidak langsung membalas ucapan Kania. Dia berdiri di antara Kania dan Rara, menciptakan jarak pelindung yang tak kasat mata. Untuk sesaat, mata gelap Genta menatap Rara. Tatapannya dingin, datar, dan sangat sulit dibaca. Rara merasa seperti sedang dipindai oleh sinar X. Ia merasa sangat kecil, kotor, dan tidak berarti di bawah tatapan itu.
Genta tidak bicara pada Rara. Dia justru berlutut di tempat Rara tadi berada. Tanpa memedulikan jas mahalnya yang mungkin kotor, dia memeriksa sambungan kabel di bawah podium dengan gerakan yang sangat efisien.
"Gain di mixer terlalu tinggi," ucap Genta tanpa menoleh. "Dan kabel ini tidak dipasang dengan benar ke soket pengaman. Kania, panggil operator pusat. Suruh mereka turunkan master volume lima desibel."
Kania nampak sedikit terkejut karena diperintah, tapi dia segera mengangguk patuh. "Oke, aku telepon sekarang."
Genta bangkit berdiri. Dia membersihkan sedikit debu di telapak tangannya dengan sapu tangan putih yang keluar dari sakunya. Dia kembali menatap Rara. Kali ini, tatapannya terasa lebih mengintimidasi karena jarak mereka yang dekat.
"Siapa namamu?" tanya Genta. Suaranya datar, tanpa ada nada simpati maupun marah.
"Ra... Rara, Kak," jawab Rara pelan, hampir berbisik.
"Rara," ulang Genta, seolah sedang mencatat nama itu di dalam folder memori komputer di kepalanya. "Logistik bukan tempat untuk mencoba-coba. Jika kamu merasa tidak mampu menangani peralatan teknis, lapor pada koordinator di awal. Jangan menunggu sampai terjadi bencana baru bergerak."
Rara hanya bisa terdiam. Ia ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa ia sudah bekerja sejak jam empat pagi tanpa henti, tapi tenggorokannya terasa tersumbat.
"Ambil lakban di bawah sana," perintah Genta lagi, menunjuk ke arah gulungan lakban yang tadi Rara gunakan. "Rekatkan semua kabel di sepanjang lantai panggung. Pastikan tidak ada yang bisa tersandung. Aku tidak mau melihat ada kesalahan sekecil apa pun lagi saat aku naik ke atas sini untuk pidato nanti. Paham?"
"Paham, Kak," jawab Rara ketus, meski ia mencoba menyembunyikan kekesalannya.
Genta mengangguk singkat, lalu berbalik pergi tanpa mengucapkan terima kasih atau kata penyemangat lainnya. Dia berjalan dengan wibawa yang sama seperti di gerbang tadi pagi, seolah-olah dia baru saja menyelesaikan tugas kecil yang remeh sebelum kembali ke urusan kerajaannya.
Rara menatap punggung Genta dengan tangan mengepal.
Benar-benar robot, batin Rara sinis. Nggak punya perasaan. Nggak punya simpati.
Pria itu benar-benar tipe orang yang hanya peduli pada hasil akhir dan kesempurnaan. Dia tidak peduli jika orang-orang di bawahnya kelelahan atau tertekan, selama "acaranya" berjalan sukses. Genta adalah definisi dari efisiensi yang mengerikan.
Rara memungut lakban dengan kasar dan mulai menempelkan kabel ke lantai. Ia membayangkan Genta sebagai naga Obsidian yang baru saja ia lawan semalam. Bedanya, naga di game itu jauh lebih jujur karena dia langsung menyerang untuk membunuh. Sedangkan Genta? Dia membunuhmu pelan-pelan dengan tatapan dingin dan kata-kata tajam yang membuatmu merasa seperti kegagalan berjalan.
Dunia ini benar-benar gila, pikir Rara sambil menempelkan lakban dengan kuat hingga suaranya berderit nyaring. Di satu sisi ada Paladin yang lembut dan rapuh, di sisi lain ada Genta yang terbuat dari es dan besi. Kenapa semesta membiarkan kedua orang ini ada di planet yang sama?
Rara bersumpah dalam hati, setelah orientasi ini berakhir, dia tidak akan pernah mau berurusan lagi dengan Genta.