NovelToon NovelToon
SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: PERTARUHAN DI UJUNG DERMAGA

​Malam ini, mansion Dirgantara terasa seperti peti mati yang sangat mewah. Dingin dan sunyi. Alana berdiri di depan jendela kamarnya, menatap gerimis yang membasahi kaca, sementara di belakangnya, Arkano tertidur—atau setidaknya pria itu terlihat seperti sedang tidur. Napas Arkano yang teratur biasanya memberikan rasa aman, namun setelah menemukan buku catatan biru di perpustakaan tadi siang, setiap tarikan napas pria itu terdengar seperti kebohongan yang berirama bagi Alana.

​Alana melirik jam digital di atas nakas. Pukul 21.15. Ia hanya punya waktu empat puluh lima menit untuk sampai ke Dermaga Tua.

​Dengan gerakan yang sangat halus, Alana menyelinap keluar dari balik selimut. Ia telah menyiapkan pakaian serba hitam—jaket taktis dan celana kargo yang ia sembunyikan di balik lemari. Ia tidak memakai perhiasan apa pun, termasuk cincin berlian hitam pemberian Arkano. Benda itu terasa terlalu berat di jarinya, seolah-olah berlian itu memiliki mata yang terus melaporkan keberadaannya pada sang tuan.

​"Maafkan aku, Arkano. Tapi aku harus tahu siapa aku di matamu," bisik Alana dalam hati.

​Ia keluar melalui balkon kamar, menggunakan tali pengait kecil yang ia rakit dari kabel tirai—kemampuan yang ia asah di akademi kepolisian dan kini ia gunakan untuk mengelabui suaminya sendiri. Alana meluncur turun dengan senyap, mendarat di atas rumput basah, lalu bergerak lincah menghindari sorotan lampu sensor di taman belakang.

​Beruntung baginya, Arkano telah memberikan akses biometrik penuh pada gerbang samping. Dengan satu sentuhan jari, pintu kecil di balik rimbunnya pohon willow terbuka. Alana keluar dan segera menghilang di balik kegelapan hutan kecil yang membatasi area mansion dengan jalan raya.

​Dermaga Tua tampak seperti hantu di bawah siraman cahaya bulan yang pucat. Aroma garam laut dan kayu busuk menyengat hidung Alana saat ia melangkah menyusuri jalan setapak yang licin. Kapal kargo The Serpent masih bersandar di sana, saksi bisu pertempuran berdarah beberapa malam lalu, kini tampak kosong dan mengerikan dengan garis polisi yang sudah robek tertiup angin.

​"Aku sudah di sini! Keluar!" teriak Alana. Suaranya bergema di antara kontainer-kontainer kosong.

​Tangan Alana meraba saku jaketnya, menggenggam gagang pisau keramik yang selalu ia bawa. Ia tidak membawa pistol; ia tidak ingin memicu suara tembakan yang bisa menarik perhatian anak buah Arkano yang mungkin berpatroli di sekitar area ini.

​Sebuah langkah kaki terdengar dari balik bayangan kontainer merah. Seorang pria muncul dengan jubah bertudung yang menutupi wajahnya. Ia berjalan perlahan, tidak menunjukkan gestur menyerang, namun auranya terasa sangat akrab bagi Alana.

​"Kau datang sendirian. Berani sekali, Agen Alana... atau haruskah kupanggil Nyonya Dirgantara?" suara pria itu parau dan dalam.

​"Berhenti basa-basi! Siapa kau? Dan apa maksud pesanmu tentang kontrak kepemilikanku?" Alana menodongkan pisaunya ke depan.

​Pria itu perlahan membuka tudungnya. Alana terbelalak, pisaunya hampir jatuh dari tangannya. Jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa sesak napas.

​"Rian?" bisik Alana tidak percaya.

​Rian, sahabatnya yang seharusnya sudah aman di luar kota, kini berdiri di depannya dengan wajah yang penuh luka memar dan mata yang memerah karena amarah. "Kau pikir Arkano benar-benar melepaskanku karena dia peduli padamu? Tidak, Alana. Dia melepaskanku agar aku bisa menjadi umpan untuk melihat sejauh mana loyalitasmu padanya."

​"Apa maksudmu?" Alana melangkah maju, ingin menyentuh wajah sahabatnya, namun Rian menghindar dengan kasar.

​"Hendra memang kotor, tapi Arkano jauh lebih licik!" Rian mengeluarkan selembar dokumen yang sudah lecek dari balik jaketnya. "Ini adalah salinan dokumen asli dari unit rahasia kepolisian yang aku curi sebelum aku melarikan diri. Baca bagian akhirnya, Alana."

​Alana menyambar dokumen itu. Di bawah sorotan lampu senter ponselnya, ia membaca baris demi baris. Dokumen itu bukan tentang kematian orang tuanya, melainkan tentang "Operasi Sangkar Emas".

​Di sana tertulis dengan jelas: Target Agen Alana akan 'dikorbankan' ke dalam klan Dirgantara melalui skenario pernikahan paksa untuk memastikan stabilitas antara pemerintah dan mafia. Pihak klan Dirgantara telah membayar biaya 'akuisisi' sebesar 50 juta dolar kepada Komisaris Hendra sebagai jaminan bahwa Agen Alana akan tetap berada di bawah kendali Arkano Dirgantara secara permanen.

​Alana merasa dunia di sekelilingnya berputar. Jadi, pernikahan ini bukan sekadar kecelakaan? Arkano tidak "menyelamatkannya" dari Hendra. Arkano membelinya. Sejak awal, ia adalah komoditas yang diperjualbelikan antara dua monster yang berpura-pura saling membenci.

​"Dia mencintaimu? Jangan naif, Alana!" suara Rian meninggi. "Kau hanyalah alat negosiasi. Dia menginginkan kemampuan intelijenmu untuk membersihkan bisnisnya, dan Hendra menginginkan uangnya. Kau dikhianati oleh kedua belah pihak!"

​"Tidak... Arkano bilang dia mencintaiku... dia bilang dia butuh rekan..." suara Alana melemah, air mata jatuh membasahi dokumen di tangannya.

​"Cinta mafia adalah obsesi, bukan kasih sayang!" Rian mencengkeram bahu Alana. "Ikut aku sekarang. Kita lari. Aku punya kontak di luar negeri yang bisa menyembunyikan kita. Kita hancurkan mereka berdua dari luar!"

​Alana terpaku. Pikirannya bimbang. Semua kenangan manis, ciuman di balkon, dan janji perlindungan Arkano kini terasa seperti racun yang manis. Namun, sebelum ia bisa menjawab, sebuah lampu sorot yang sangat terang tiba-tiba menyala dari arah dek kapal, menyinari mereka berdua.

​"Adegan reuni yang sangat menyentuh," suara dingin itu membelah malam.

​Alana dan Rian menoleh serentak. Di atas dek kapal, Arkano berdiri dengan tangan di saku celana, dikelilingi oleh puluhan anak buahnya yang sudah menodongkan senjata. Wajah Arkano tampak tenang, namun matanya memancarkan amarah yang bisa menghanguskan apa pun.

​"Arkano!" Alana berteriak, suaranya parau.

​Arkano berjalan turun dari tangga kapal dengan langkah yang pelan dan berwibawa. Setiap langkahnya membuat Rian semakin mengeratkan pegangannya pada Alana. Arkano berhenti tepat lima meter di depan mereka.

​"Kau pikir aku tidak tahu kau menyelinap keluar, Alana?" Arkano menatap Alana dengan kekecewaan yang mendalam. "Aku memberimu kebebasan, aku memberimu takhta, tapi kau justru memilih untuk menemui tikus kecil ini di tempat kotor seperti ini?"

​"Kau membeliku, Arkano!" Alana mengangkat dokumen itu dengan tangan bergetar. "Kau membayar Hendra untuk memilikiku! Kau berbohong padaku sejak awal!"

​Arkano menatap dokumen di tangan Alana, lalu beralih menatap Rian dengan sinis. "Kau mencuri dokumen yang tidak lengkap, Rian. Ya, aku membayar Hendra. Tapi aku membayarnya agar dia tidak membunuhmu dan Alana saat operasi itu gagal. Aku membelimu agar aku bisa melindungimu dengan caraku sendiri, Alana!"

​"Melindungiku atau memenjarakanku dalam kebohongan?!" teriak Alana.

​Arkano melangkah maju satu langkah, mengabaikan pistol Rian yang kini mengarah ke dadanya. "Dunia ini tidak akan pernah membiarkanmu hidup tenang sebagai polisi jujur, Alana. Aku menarikmu ke duniaku karena hanya di sinilah kau aman. Sekarang, lepaskan dia dan kembalilah padaku. Aku akan memaafkan pengkhianatan kecilmu malam ini."

​"Jangan dengarkan dia, Alana! Dia akan membunuh kita berdua!" teriak Rian.

​Suasana menjadi sangat tegang. Alana berdiri di tengah, di antara sahabat yang menawarkan pelarian dan suami yang menawarkan penjara berlapis emas. Di sekeliling mereka, desingan peluru terasa tinggal menunggu satu perintah.

​"Alana, kemarilah," suara Arkano melunak, ia menjulurkan tangannya. "Jangan paksa aku melakukan hal yang akan kita sesali. Kau adalah istriku. Kau adalah bagian dari Dirgantara."

​Alana menatap tangan Arkano yang terjulur, lalu menatap Rian yang tampak ketakutan. Ia menyadari satu hal pahit: Di dunia ini, tidak ada lagi tempat baginya untuk bersembunyi. Ia sudah hancur.

​"Aku bukan milik siapa-siapa," bisik Alana.

​Tiba-tiba, suara sirene polisi terdengar dari kejauhan. Bukan satu atau dua mobil, tapi puluhan. Hendra mungkin sudah jatuh, tapi faksi lawan di kepolisian yang merasa terancam oleh rekaman Alana kini bergerak untuk melenyapkan semua saksi kunci—termasuk Alana dan Arkano.

​"Sial! Marco, posisi!" Arkano berteriak ke earpiece-nya.

​"Kita harus pergi sekarang!" Arkano menarik tangan Alana dengan paksa. "Rian, jika kau ingin hidup, lari!"

​Tembakan pertama meletus dari arah kegelapan hutan. Bukan dari anak buah Arkano, tapi dari penembak jitu polisi yang sudah mengepung mereka. Peluru itu mengenai bahu Rian, membuatnya terjerembap.

​"RIAN!" Alana menjerit.

​Arkano segera menarik Alana ke balik kontainer, melindunginya dengan tubuhnya sendiri. "Dengarkan aku, Alana! Jika kau ingin hidup untuk menuntut balas pada mereka semua, kau harus ikut denganku sekarang! Kita akan menghilang, dan kita akan kembali untuk membakar mereka semua!"

​Di tengah hujan peluru dan suara sirene yang semakin dekat, Alana menatap mata Arkano. Kebencian, cinta, dan pengkhianatan melebur menjadi satu. Ia meraih tangan Arkano dengan kuat.

​"Bawa aku pergi, Arkano. Dan pastikan kau tidak pernah menyesal telah menjadikanku istrimu," desis Alana.

​Arkano menyeringai di tengah bahaya, lalu menggendong Alana dan berlari menuju kapal cepat yang sudah disiapkan Marco di sisi lain dermaga. Di belakang mereka, dermaga itu mulai terbakar oleh ledakan granat asap kepolisian.

​Malam itu, Alana tidak hanya meninggalkan kepolisian. Ia meninggalkan kemanusiaannya. Ia memilih untuk menjadi permaisuri dari sang iblis, demi membalaskan dendam pada dunia yang telah menjualnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!