NovelToon NovelToon
Giok Purba: Multiplikasi Abadi

Giok Purba: Multiplikasi Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sci-Fi
Popularitas:267
Nilai: 5
Nama Author: aryaa_v2

Di ambang kematian setelah dikhianati dan dikubur hidup-hidup, Leo Akira secara tidak sengaja meneteskan darahnya pada sepotong giok kuno yang ternyata menyimpan kekuatan primordial: Multiplikasi 1000× dan Ruang Penyimpanan Abadi. Apa pun yang dia sentuh dapat digandakan seribu kali lipat ke dalam ruang tak terbatas; siapa pun yang dia targetkan akan membuat Leo mendapatkan kemampuan orang itu—dengan kekuatan seribu kali lebih hebat.

Dari titik terendah, Leo bangkit dengan satu tujuan sederhana: menghancurkan orang yang menjatuhkannya dan menjadi orang terkaya di dunia. Tapi takdir membawanya lebih jauh. Dia tak hanya mengubah nasibnya, tetapi juga mengangkat peradaban manusia dari level teknologi rendah menuju Tingkat 1 Skala Kardashev, bahkan melampaui alam semesta yang dikenal.

Inilah kisah tentang seorang manusia yang menjadi entitas tak terkalahkan, penjaga umat manusia, dan pengembara di antara bintang-bintang dimulai dari satu tetes darah dan sepotong giok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aryaa_v2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Parasit Logam dan Pengetahuan yang Menggigit

Malam itu, Leo tidak tidur. Ia duduk bersila di lantai kamar losmen, seluruh kesadarannya tertuju ke dalam Vault, pada benda yang salah itu. Batang tembaga salinan ke-473.

Benda itu tidak seharusnya berbeda. Setiap salinan adalah duplikat atomic sempurna dari benda asli. Tapi yang ini, di antara seribu lainnya, memiliki kualitas… kehadiran. Seperti sebuah lukisan yang matanya mengikuti Anda ke mana pun Anda pergi.

Dia mengeluarkannya. Dengan tangan yang hampir tidak gemetar, ia meletakkannya di lantai. Dingin, seperti tembaga pada umumnya. Tetapi saat cahaya lampu neon redup menyentuhnya, warnanya tidak memantulkan cahaya dengan cara yang sama. Warnanya merah tua yang suram, seperti darah kering, bukan kemilau logam kemerahan.

Leo menyentuhnya dengan jari kirinya yang tidak bermarka. Dingin. Lalu dengan hati-hati, dengan ujung jari kanan tempat marka giok berpendar.

Sensasi yang ia rasakan bukanlah sentuhan pada logam. Itu adalah tarikan.

Lemah, hampir tak terdeteksi, seperti gravitasi miniatur. Seolah-olah batang tembaga itu adalah magnet satu kutub, dan marka gioknya adalah kutub yang berlawanan. Dan tarikan itu bukan fisik. Itu adalah rasa lapar. Rasa lapar yang sama yang ia rasakan setelah menggunakan kekuatannya, tetapi sekarang terproyeksikan keluar, berasal dari benda mati di depannya.

Jantungnya berdebar kencang. Apakah ini efek samping? Atau… konsekuensi?

Dia mengembalikan batang tembaga yang aneh itu ke dalam Vault, mengisolasi dalam sebuah "ruang" mental terpisah. Dia memindai seluruh isi Vault-nya. Emas, uang tunai, makanan, data digital, ribuan batang tembaga normal lainnya. Tidak ada yang lain seperti itu. Hanya salinan ke-473.

Percobaan tak terduga telah menciptakan anomali. Dan anomali itu terhubung dengan kekuatannya.

Keesokan paginya, selain rasa lapar biasa yang harus ia penuhi dengan sarapan monster (empat telur dadar, nasi setengah kilogram, dan daging asap), ada kelelahan mental baru. Seperti ada kebocoran daya di suatu tempat. Pikiran bawah sadarnya terus tertarik ke arah Vault, ke arah benda aneh itu, seolah-olah benda itu secara pasif menyedot perhatiannya.

Ia harus mengabaikannya untuk sementara. Ada urusan yang lebih mendesak.

Dr. Arif mengirim pesan terenkripsi: "Butuh bertemu. Masalah baru. Bukan pendanaan."

Pertemuan diatur di sebuah warung kopi tua di Menteng, jauh dari keramaian SCBD. Dr. Arif terlihat lebih keriput dari dua hari lalu, matanya dikelilingi lingkaran hitam.

"Mereka tahu," katanya, suaranya rendah dan datar.

"Siapa yang tahu?" tanya Leo, meski ia sudah bisa menebak.

"Orang-orang Wijaya. Atau lebih tepatnya, departemen 'pengamanan aset' mereka. Mereka menyadari ada yang mengakses server proyek lama saya. Mereka melacak download-nya. Mereka tidak tahu ke siapa, tapi mereka tahu datanya bocor." Dr. Arif menatap cangkir kopinya. "Mereka memberi saya ultimatum. Serahkan data dan semua salinannya, atau…" Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi gerakannya meremas tangan kosongnya berbicara banyak.

Leo mendengarkan, darahnya berdesir dingin. Ini bergerak lebih cepat dari perkiraannya. Rafael tidak main-main. Departemen "pengamanan aset" itu adalah eufemisme untuk preman korporat yang ia dengar ceritanya—orang-orang yang mungkin mengenal penyekop yang menguburnya.

"Apakah mereka mengawasi Anda sekarang?" tanya Leo, matanya menyapu ruangan dengan cepat.

"Tidak di sini. Saya… mengambil rute berbelit." Dr. Arif menarik napas dalam-dalam. "Tuan Dharma, atau siapa pun Anda, saya rasa ini terlalu berisiko. Saya punya keluarga. Saya tidak bisa—"

"Apakah data itu berhasil?" potong Leo. "Proyek Prometheus. Secara teori, apakah itu bisa bekerja?"

Pertanyaan itu seolah menyentuh saklar di dalam diri ilmuwan itu. Keraguan di matanya digantikan oleh cahaya fanatisme yang redup. "Secara teori? Ya. Desain magnet saya… itu elegan. Jika kita bisa mendapatkan bahan superkonduktor yang tepat, dan presisi fabrikasi pada tingkat nanometer…" Dia menghela napas. "Tapi itu membutuhkan fasilitas yang tidak dimiliki Indonesia. Butuh miliaran dolar. Dan sekarang, butuh perlindungan yang tidak saya miliki."

Leo mengangguk pelan. Pikirannya bekerja dengan cepat, menghubungkan titik-titik. Ia memiliki kekuatan untuk menggandakan benda. Tapi ia tidak memiliki pengetahuan untuk membuat benda yang benar. Dr. Arif memiliki pengetahuan, tetapi tidak memiliki sumber daya atau perlindungan. Dan di suatu tempat di Vault-nya, ada benda aneh yang mungkin merupakan kunci untuk memahami asal-usul kekuatannya—atau kutukannya.

"Dr. Arif," kata Leo, suaranya tenang tapi penuh wibawa baru. "Apa pendapat Anda tentang hukum kekekalan massa-energi?"

Ilmuwan itu mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Itu hukum dasar. Massa tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, hanya—"

"Bagaimana jika saya katakan, saya bisa melanggarnya?" Leo menatapnya langsung. "Bagaimana jika saya bisa menciptakan massa dari ketiadaan? Atau setidaknya, dari sumber energi yang tidak Anda pahami?"

Dr. Arif tertawa pendek, tanpa humor. "Kamu akan membicarakan free energy pseudosains? Sekarang bukan waktunya—"

Leo mengangkat tangan kanannya. Di bawah cahaya remang-remang warung, dia dengan hati-hati menarik sarung tangan kulit tipis yang selalu ia pakai. Marka giok di telapak tangannya terpapar, berpendar dengan cahaya hijau internal yang lembut.

Dr. Arif terdiam. Matanya membelalak, bukan karena takut, tapi karena penasaran ilmiah yang membara. Itu adalah ekspresi yang Leo harapkan.

"Ini bukan trik sulap," kata Leo. "Dan saya tidak akan mendemonstrasikannya di sini. Tapi ini nyata. Dan ini terkait dengan… kebocoran energi. Rasa lapar yang aneh. Dan baru-baru ini, dengan benda yang saya gandakan yang menjadi tidak normal." Dia tidak menyebutkan Vault, tetapi intinya jelas.

"Anomali materi?" Dr. Arif berbisik, bersandar ke depan, semua ketakutannya terlupakan untuk sesaat. "Kamu memiliki sampelnya?"

"Ya."

"Dan kamu ingin saya… menganalisisnya?"

"Lebih dari itu," kata Leo. "Saya ingin Anda membantu saya memahami kekuatan ini. Fisikanya. Batasannya. Bahayanya. Sebagai imbalan, saya akan melindungi Anda. Dan saya akan menyediakan sumber daya yang Anda butuhkan untuk membangun Prometheus." Dia berhenti sejenak. "Tetapi Anda harus menghilang. Keluarga Anda juga. Identitas baru, kehidupan baru."

Dr. Arif memandangi marka giok itu, lalu ke wajah Leo. Dia sedang menimbang kegilaan dengan kemungkinan. Untuk seorang ilmuwan yang terkucilkan, yang melihat karyanya dihancurkan oleh birokrasi dan keserakahan, tawaran itu adalah buah terlarang yang tak tertahankan.

"Akses tidak terbatas?" tanyanya, suaranya serak.

"Akses terkontrol," koreksi Leo. "Demi keselamatan kita berdua. Tapi ya, Anda akan melihat sesuatu yang tidak ada fisikawan lain di planet ini yang pernah lihat."

Dr. Arif mengangguk, sekali, tegas. "Kalau begitu kita perlu laboratorium. Kecil, pribadi, terpencil. Dan kita perlu memindahkan keluarga saya dengan aman."

Rencana mulai terbentuk. Leo akan menggunakan jaringan bawah tanahnya yang baru dan uang kriptonya untuk membuat tempat persembunyian. Dr. Arif akan menjadi otak ilmiahnya. Dan bersama-sama, mereka akan mengungkap misteri giok dan, mungkin, menemukan cara untuk mengamankannya—untuk memajukan peradaban, bukan hanya mengisi kantongnya.

Saat mereka berpisah, Leo merasa sedikit lega. Dia tidak lagi sendirian. Tapi ketika ia berjalan menyusuri jalan, perasaan aneh itu kembali. Rasa lapar dari Vault. Bukan dari dirinya, tapi dari sana.

Dia mengalihkan perhatian ke dalam. Ke ruang isolasi tempat batang tembaga aneh itu disimpan.

Dan ia melihatnya.

Batang tembaga itu tidak lagi sendirian.

Di sebelahnya, sebuah salinan batang emas ke-892 juga mulai berubah warna, menjadi kuning pucat yang tidak wajar. Dan dari keduanya, memancarkan benang energi tipis yang tak terlihat, menghubungkannya dengan marka giok di tangannya, seperti umbilikus yang tak terputus.

Kekuatannya tidak hanya mengambil energi darinya. Kekuatannya menciptakan jembatan. Dan di seberang jembatan itu, sesuatu perlahan-lahan mulai memperhatikan.

1
Arya Saputra
jangan-jangan ada identitas tersembunyi nih dari batu akiknya, jadi penasaran🤔
Arya Saputra
yok lah bisa otw ke peradaban tipe 1 nih
Arya Saputra
Jujur ini cerita yang layak masuk rekomendasi sih, perkembangan karakter Leo yang signifikan dari diinjak-injak bahkan dikubur lalu bangkit dengan identitas berbeda dan merubah sikap 180°, sistem kekuatan giok juga logis dibarengi cerita sains.
Arya Saputra
saya suka nih kalo ada cerita bertemakan sains🤩
Arya Saputra
awal yang lumayan bagus👏🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!