Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Gesekan yang Membakar
Gáířáħ di dalam kamar mandi itu sudah mencapai titik didih. Arlan tidak bisa lagi menahan desakan hebat di bawah sana setelah menerima perlakuan dari múľúť Amara. Dengan napas yang menderu kasar, ia menarik tubuh Amara dari wastafel dan membawanya ke dalam dekapan posesif.
Arlan melangkah menuju area toilet, ia menurunkan tutup closet yang mewah itu dan duduk di sana dengan Amara yang berada dalam pangkuannya. Posisi mereka kini saling berhadapan, dengan kaki Amara yang terbuka lebar melingkari pinggang kokoh Arlan. Karena daster Amara sudah tersingkap hingga ke pinggang dan Arlan belum mengenakan celananya, kulit śéñśíťíf mereka kini bertemu secara langsung tanpa penghalang.
"Nngghhh... Tuan..." Amara melenguh saat merasakan báťáñg keras dan panas milik Arlan menempel tepat di belahan kéwáñíťááññýá yang baru saja ďíćúķúř mulus.
"Geraklah, Amara... buat kéjáñťáñáñķú báśáħ oleh ćáířáñmú," bisik Arlan serak, suaranya terdengar seperti perintah yang tak terbantahkan di telinga Amara. Tangannya mencengkeram pinggul Amara, memberikan dorongan agar gadis itu mulai bergerak.
Amara, yang sudah benar-benar tenggelam dalam lautan gáířáħ, mulai menggerakkan pinggulnya maju dan mundur secara perlahan. Gesekan antara báťáñg béřúřáť Arlan dan líáñg kéwáñíťááññýá yang sangat báśáħ menciptakan suara becek yang memenuhi ruangan. Sensasi kulit bertemu kulit itu terasa begitu elektrik, mengirimkan gelombang kenikmatan yang membuat Amara kehilangan kesadarannya.
"Ahhh... enak sekali Tuan... hhh... di sana..." Amara meracau, kepalanya terdongak dengan mata terpejam rapat. Setiap gesekan membuat rasa geli yang luar biasa menyebar ke seluruh tubuhnya.
Melihat páýúďářá béśář Amara yang bergoyang mengikuti irama gerakannya, Arlan tidak bisa tinggal diam. Ia memajukan wajahnya dengan rakus, kembali melahap salah satu púťíñg yang menegang itu ke dalam mulutnya. Ia menghisapnya dengan kuat, menarik sari kehidupan Amara sementara di bawah sana, báťáñg kéjáñťáñáññýá terus bergesekan dengan ķľíťóříś Amara yang śéñśíťíf.
"Mmpphhh... ahhh!" Amara semakin liar bergerak. Meskipun tidak ada penetrasi, gesekan di sepanjang báťáñg keras itu sudah cukup untuk membuatnya merasa gila.
Arlan memacu gerakan pinggulnya sendiri dari bawah, menekan kéjáñťáñáññýá agar terus menggesek seluruh permukaan kéwáñíťááñ Amara. ćáířáñ áśmářá yang meluap dari tubuh Amara kini melumasi seluruh báťáñg milik Arlan, membuatnya berkilat dan semakin ľíćíñ.
"Terus, Amara... jangan berhenti," geram Arlan di sela-sela íśápáññýá pada ďáďá Amara. "Kau sangat sempit dan panas... ahhh!"
Dapur yang tadi dingin kini terlupakan sepenuhnya. Di atas closet itu, keduanya terombang-ambing dalam badai ñáfśú. Amara terus mendesah-desah memanggil nama tuannya, merasakan bagaimana kéjáñťáñáñ Arlan yang béřďéñýúť seolah ingin menembus pertahanannya, namun Arlan sengaja menahannya, membiarkan siksaan nikmat dari gesekan itu berlangsung selama mungkin hingga mereka berdua benar-benar mencapai púñćáķ yang méléďáķ-léďáķ.
Suasana yang tadinya penuh dengan suara desahan dan gesekan kulit yang memabukkan tiba-tiba pecah berantakan. Suara tangisan kencang Kenzo menggema melalui baby monitor dan menembus dinding kamar, membelah keheningan malam yang panas.
Oeeekkk! Oeeekkk!
Keduanya tersentak hebat. Amara seolah tersadar dari hipnotis gáířáħ yang menyelimutinya. Ia langsung menghentikan gerakan pinggulnya yang tadi sedang memburu púñćáķ, napasnya tersengal-sengal dengan wajah yang masih memerah padam.
"T-Tuan... Tuan Muda Kenzo menangis," bisik Amara panik. Ia mencoba turun dari pangkuan Arlan, namun kakinya terasa begitu lemas seperti jeli. "Dia pasti terbangun... saya harus menemuinya."
Arlan mengerang frustrasi, kepalanya terdongak ke langit-langit kamar mandi dengan rahang yang mengeras. kéjáñťáñáññýá yang sudah berada di ujung tanduk terasa béřďéñýúť menyakitkan karena pélépáśáñ tertunda secara mendadak. Ada rasa tidak rela yang amat sangat, namun naluri kebapakannya jauh lebih kuat. Ia tidak ingin putranya menangis terlalu lama atau terjadi sesuatu pada Kenzo.
"Sial," umpat Arlan rendah. Dengan tangan yang masih gemetar karena gáířáħ, ia membantu membetulkan daster murahan Amara yang sudah melorot. "Pergilah. Temui putraku. Tenangkan dia."
Amara segera membenahi pakaiannya dengan terburu-buru, bahkan tidak sempat mencari celana dalamnya yang tertinggal di dapur tadi. Ia memberikan pandangan sekilas yang penuh rasa bersalah dan keinginan yang belum tuntas kepada Arlan, sebelum akhirnya berlari keluar dari kamar mandi menuju kamar bayi.
Setelah pintu tertutup, Arlan masih terduduk di atas closet yang tertutup. Ia menunduk, menatap kéjáñťáñáññýá yang masih berdiri tegak, besar, dan sangat tegang. Seluruh báťáñgnya báśáħ ķúýúp oleh ćáířáñ Amara yang ľíćíñ dan beraroma manis yang menggoda. úřáť-úřáť di sana méñóñjól hebat, menuntut pélépáśáñ yang gagal diberikan oleh sang pengasuh.
"Sabarlah," gumam Arlan pada dirinya sendiri, suaranya serak dan berat. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. "Mungkin untuk sekarang, kau harus keluar dengan ťáñgáñķú dulu."
Arlan melingkarkan jemarinya yang besar pada pangkal kéjáñťáñáññýá. Ia mulai méñgóćóķ miliknya dengan gerakan yang cepat dan kuat, membayangkan kembali bagaimana rasanya gesekan panas di antara paha Amara tadi. Setiap gerakan tangannya menimbulkan suara becek karena ćáířáñ Amara masih melumasi báťáñgñýá dengan sempurna.
"Ahhh... Amara..." Arlan mendesah keras, memejamkan mata rapat-rapat saat bayangan páýúďářá Amara yang mémbáľ di depan wajahnya tadi kembali muncul.
Tangannya bergerak semakin liar, memacu ritme seiring dengan bayang-bayang kepolosan Amara yang pasrah di bawah kuasanya. Di tengah kesunyian kamar mandi itu, Arlan akhirnya mencapai púñćáķñýá sendiri, menyemburkan ćáířáññýá dengan deras ke lantai marmer, memberikan kelegaan sementara bagi tubuhnya yang terbakar dahaga akan sosok gadis desa tersebut.