fiksi sejarah Kisah Para Pemimpin sebuah Pulau bernama The Horn Land. cerita dalam rentang waktu 110 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sutrisno Ungko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Master Sorush
Ruang pertemuan pribadi Maester Sorush merupakan ruangan kecil diatas aula besar, lebih cocok untuk perbincangan akrab. Owen duduk dikursi tinggi, meletakan pedangnya diatas meja, sementara Jhuma meminta dibawakan anggur pada Theon.
Aragon memenuhi telinga Angurey dengan seluruh cerita masa lalunya. Baru setelah Theon datang dan pergi lagi, Maester Sorush muncul dan berkata ;
“Mereka sudah tiba yang mulia. ” Kata Maester Sorush.
Ia memberitahukan pada Owen dan Jhuma di dalam ruangan ini. Bahwa 27 kesatria perwakilan keluarga suku Adara dan suku Yulara juga komunitas Shia (Suku Adara yang beragama Morgana) sudah berada di tempat ini. Wajah Owen dan Jhuma terlihat senang.
“Terima kasih Master. ” Kata Owen , sambil beranjak dari tempat duduknya.
“Bagaimana kondisi Regen?” Tanya Jhuma.
“Ia sedang dalam pengobatan. Ia ternyata terlibat pertarungan sengit dengan komandan Kastel dan 12 orang pengawalnya. semuanya tewas.” kata Sorush.
“Luar biasa di usianya yang sudah 40an tahun dan tak ada luka berarti…”
Mereka kemudian keluar dari ruangan itu. Terlihat Lauren Lamalurra, Angurey Wayn, Aragon Balyn dan Oliver Pho-bela yang masih terlihat lemah sudah berdiri di pendopo. Menjemput mereka bertiga.
****
Di halaman para perwakilan keluarga berdiri sigap. Menatap mereka yang keluar ruangan satu persatu..
“Tuan-tuan, selamat datang. Terima kasih sudah datang ditempat ini. Kalian sedang berhadapan dengan Lord Owen Ghie. Calon pemimpin kita..” Kata Jhuma. Dengan suara yang ditinggikan agar bisa terdengar oleh semua hadirin yang ada.
Jhuma kemudian menambahkan cerita tentang Owen garis keturunannya dan perjuangannya selama ini semasa di Lemuria baik sebagai kesatria maupun sebagai politisi dan mimpinya untuk membebaskan The Horn Land menjadi satu negara merdeka.
Total ada 27 perwakilan keluarga di tempat ini. Semua adalah mantan kesatria bebas dan kesatria Kastel. Beberapa adalah veteran perang kekaisaran atau pernah bertugas baik di The Horn Land maupun Lemuria. Juga di pulau Selatan. Ada juga yang bertipikal begundal keluarga yang kini di kirim untuk mewakili keluarganya. Yang sebelumnya bukanlah prajuirit namun hanya seorang petarung. Beberapa yang lain juga sudah seusia Jhuma dan Owen yang mendekati usia 60 tahun. Diantaranya adalah Atiila Worch dari Keluarga Worch, Rugilla Loaun dari Keluarga Loaun, Thor Mayanna dari keluarga Mayanna dan Mago Queen dari keluarga Queen. Yang lain berusia 40 dan 30 tahun..
“Selamat datang di tanah kita tercinta yang mulia.” kata Rugilla Loaun. Pria paru baya berusia 54 tahun. Ia tuan tanah di Kaitaia. Pemimpin keluarga besar Loaun.
“Kami berharap kita punya semangat yang sama untuk membebaskan semua penindasan ini Ser.” kata Atilla Worch. Ia seusia Rugilla, pria bertubuh gendut dengan tinggi tak sampai 170 cm.
“Apakah anda layak memimpin kami?” kata seorang pemuda yang berdiri agak jauh. Ia bernama Uon Morthon. Ia menatap jauh Owen dengan posisi berdiri yang tanpa rasa hormat. Pertanyaannya itu memancing yang lain menatapnya. Sebagian sudah memahami pria berusia 33 tahun yang terkenal pemberontak itu, ia adalah seorang petarung. dipecat hanya setahun setelah diterima sebagai prajurit kekaisaran karena membangkang pada perintah atasannya.
“Jaga perkataanmu pemuda.” Hardik Lauren
“Apakah aku salah menanyakan hal mendasar bagi perjuangan kita?” bantah Uon. Sambil melihat kearah Lauren.
“Ini soal kelayakannya memimpin perlawanan, Lawan kita tak mudah, sebuah Kekaisaran, dan kita di pimpin olehnya yang sudah berusia 60 tahun. Aku mengira, perwira seberang lautan yang kalian janjikan itu adalah pria gagah. Penuh semangat…” kata Uon yang seketika terhenti berkata-kata karena Regen Manollion sudah dihadapannya dengan pedang sudah di cabut dari sarungnya… tatapannya tajam. Uon bahkan tak bisa mundur lagi karena ancama didepannya.
“Aku tak mengenalmu anak muda. Namun jika kau melanjutkan lagi keraguanmu, aku menantangmu saat ini dalam duel.” kata Regen. sorot matanya menatap tajam Uon. Ada pancaran hawa pembunuh dimata itu. Uon menunduk dan mundur.
“Berhenti. pertemuan akan kita mulai. Tak baik memulainya dengan perselisihan.” kata Sorush menenangkan.
Seketika hadirin terdiam, dan kembali memalingkan perhatian pada Sorush.
“Hadirin pemimpin kita Owen Ghie. Ia punya kecintaan yang sama seperti kita yang ingin membebaskan negeri kita dari belenggu penindasan kekaisaran. yang penuh darah dan ketidakadilan. Ia punya mimpi yang sama tentang pembebasan yang kita impikan... beliau akan kita jadikan pemimpin pemersatu bagi kita semua.” kata Sorush membuka pidato.
Setelah itu Owen maju dan memperkenalkan diri, serta menyampaikan hal-hal mendasar tentang arah perjuangan mereka. Mendegarkan semua apa yang disampaikannya, para kesatria perwakilan keluarga tergugah dan kini tahu bahwa dari orang inilah semua harapan mereka disandarkan.
“Berjuanglah bersamaku, kita akan satukan kekuatan, meskipun tak mudah. Namun jika kita bersama, setapak demi setapak tanah The Horn Land ini akan menjadi milik kita kembali, selamanya.” kata Owen .
Hadirin terpesona dengan sosok dihadapan mereka ini. Matanya memperlihatkan kesungguhan, caranya berdiri dan menatap mereka memperlihatkan semangat yang nyata. Cara ia berkata-kata adalah inpirasi yang dicari selama ini. Sebagian besar meyakini ; inilah pemimpin yang mereka cari. seketika semua keraguan tentangnya memudar.
***
Malam itu, disepakati tim kecil akan berembug untuk mengatur langkah selanjutnya. disamping 7 kesatria utama yakni Owen, Jhuma, Regen, Lauren, Aragon, Angurey dan Oliver. Juga master Sorush sebagai tuan rumah. Dan 4 orang dari perwakilan keluarga ; Rugila Loaun, Thor Mayanna, Charles Kaemon dan seorang lagi yakni Berin Balyn, nama terakhir ini adalah anak tertua dari Aragon Balyn datang mewakili keluarga ayahnya. Usianya baru 28 tahun. Bergabungnya Beryn mendatangkan kecemburuan dari beberapa keluarga yang tidak diajak masuk membahas strategi. salah satu yang mempermasalahkan itu adalah Uon Morthon
“Bocah ingusan itu diajak Serta. Kita tidak. hanya karena ayahnya ikut menjemput Ser Owen . Ini tidak adil..” kata Uon memprovokasi yang lain.
Beberapa tentu terpengaruh oleh pendapat Uon.
Di dalam ruangan, pembahasan soal strategi awal gerakan dimulai. Awalnya semua hadirin mendengarkan pemaparan Master Sorush ;
“The Horn Land saat ini terdiri dari 30 Kastel, baik yang besar maupun kota kecil. Juga ratusan Desa. Wilayah ini kepalai oleh satu gubernur yang berada di Kota Iver yang jauh di pulau selatan dan dua adipati yang masing-masing memimpin Pulau utara dan Pulau Selatan. Pulau Utara ber-ibukota di Nymeria dan Pulau Selatan dengan ibu kotanya The Crom. Masing-masing kota di pimpin oleh seorang Earl dan seorang panglima setempat. Untuk kota-kota kecil seperti Kaitaia, Dimana kita berada saat ini, hanya dipimpin seorang Earl dan satu perwira tinggi. Disini perwiranya bernama Baleth. Sementara para jenderal berada di kota-kota besar seperti ; Stromland, Dorne, Chruch di Selatan, dan kota-kota yang dipimpin para adipati dan gubernur. Untuk kota kecil, pihak kekaisaran mempunyai kekuatan militer antara 1000 sampai 2500 pasukan, sementara untuk kota besar ada diangka 5000 sampai 15.000 pasukan. Saat ini kekuatan kekaisaran diseluruh The Horn Land mencapai 25.000 sampai 30.000 pasukan. Itu terdiri dari banyak etnis termasuk suku Adara sendiri yang bergabung di ketentaraan. kemungkinan lebih dari 8000 orang suku kita mengabdi untuk pemerintah. Dengan kekuasaan sekuat saat ini, tentu kita tak punya cukup pasukan untuk membuat perlawanan secara langsung. Karena kekuatan keluarga yang bergabung saat ini mungkin hanya lebih dari 3000 orang, itupun belum sepenuhnya mendukung perjuangan. Sisanya yang lain masih mencoba mengobarkan perjuangan mereka dengan cara Masing-masing. Mungkin jika kita benar-benar memperlihatkan gerakan yang sungguh-sungguh para pejuang lain akan secara penuh bergabung dengan kita. Ditambah lagi di dalam penjara setiap Kastel ada warga suku kita yang ditahan sebagai tahanan politik. Bisa jadi kita ajak mereka dalam perjuangan ini..”
Owen berpendapat bahwa gerakan mereka harus dilakukan secara damai dengan mengunjungi Kastel Kaitaia terlebih dahulu. Merebutnya lewat negosiasi dan mendeklarasikan berdirinya negara baru di tanah The Horn Land.
“Bisa juga usulan dari tuan. Namun aku ragu jika penguasa Kaitaia, akan menyerahkan kekuasaan secara sukarela seperti itu. Perlu diingat Perwira tinggi kota ini tergolong kejam. Ia tentu akan memberikan perlawanan” kata Sorush.
“Kita akan mencobanya. Dengan bergerak tanpa pasukan dulu, menuju Kastel. Menemui Earl dan mengajaknya bergabung. Dan kita jadikan Kaitaia sebagai pijakan awal kekuasaan negara yang akan kita bangun.” kata Owen lagi.
Meskipun ragu, semua hadirin tak menyatakan penolakan.
“Kami semua tentu menunggu perintah yang mulia.” kata Rugila Loaun.
“Kapan kita akan bergerak?” tanya Thor Mayanna.
“Kita akan menunggu laporan dari mata-mata kita di Kastel, aku telah mengirim dua perwakilan keluarga untuk memantau situasi dan kekuatan Earl Kaitaia.” kata Jhuma. setelah lebih dari satu jam.
Rapat berakhir.…
***